
Episode 113
Wuuuush!
Mata Sato membelalak saat melirik ke arah belakang. Asap panjang terlihat di sana. Menutupi beberapa hal. Sato masih kaget akan sesuatu.
Terlihat, kini asap mulai menipis sedikit. Terlihat, asap itu mulai menghilang. Kini, asap pun mulai terurai seakan berubah menjadi udara sekitar. Di dunia Arconde ini.
Mata Sato kini melihat jelas sosok di belakangnya. Ia sampai melirik ke arah sana. Di sana sendiri berdiri satu sosok yang juga membelakanginya.
Sato nampak melihat orang itu. Nampak, sosok itu berdiri biasa saja. Tak terlihat sepeti Sato sendiri yang gentar dan melirik dengan perasaan yang menggebu.
"Sialan!"
Sato bersuara sembari membalikkan dirinya ke arah belakangnya. Menemui punggungnya. Melihat ke arah itu. Sosok itu nampak tegap. Ada beberapa cahaya aneh di atas kepalanya. Cahaya tidak berpendar. Cahaya itu seakan menyatu dengan cahaya yang ada.
Sosok itu nampak membelakangi Sato. Sato nampak geram.
"Sialan! Apa yang sudah kau lakukan!" teriak Sato.
Sosok itu kini nampak tersenyum mendengar itu. Gigi-gigi panjang di tempat yang tidak semestinya itu. Terlihat mengeluarkan darah yang mengucur. Gigi-gigi yang tepatnya ada di sebuah lubang layaknya mulut di bagian leher orang itu di posisi menengah antara dagunya.
Nampak, darah berwarna itu meleleh dan keluar dari sana. Kini satu cairan panjang itu nampak terus meleleh hingga sampai kaki sosok itu. Sosok yang kulitnya pun seperti melepuh. Ada beberapa hal di kulitnya dalam efek yang mengesankan dikira dia orang yang berpenyakitan atau tidak normal. Kita pikir itu pasti manusia setengah monster.
Sato sendiri masih melihatnya tegang.
'Ini semua tidak berhasil' batin Sato. Dia membatin namun, suatu suara menjawab batinan itu.
'Sepertinya serangan tadi kurang kuat.'
Sato menyadari suara itu. Seakan dia sudah tahu dan tidak aneh pada hal ini. Sato mengangguk lembut. Masih bersiap.
Lalu, sosok di depan sana. Nampak, darah yang dia keluarkan dari mulut di lehernya itu kini seperti meresap ke dalam tubuh selain sumbernya. Darah yang keluar juga semakin bertambah.
Orang itu yang merupakan adalah Astorra. Dia adalah vampir. Dia nampak merasakan suatu gejolak hingga membuat dirinya terlihat menatap ke bawah. Menemukan tubuhnya itu berdenyut-denyut. Wajahnya tampak tenang.
Sato masih melihat orang itu.
'Sekarang apa yang harus aku lakukan?' batin Sato.
Kali ini si suara itu tidak menjawabnya. Sato juga masih bersama dengan hewan yang ada di punggungnya itu. Hewan dengan bentuk kadal bersayap.
Tampak hewan itu merangkak menuju bagian atas Sato. Nampak, dirinya penasaran akan apa yang terjadi di depan sana. Tempat di mana Sato terpaku pada hal itu.
Naga itu nampak tak bersuara apa pun. Bayi naga itu kini menatap penuh waspada sama halnya dengan orang yang dia jadikan alas.
Sato masih hati-hati. Sato bersiap saat orang itu mulai membalikkan badannya.
Wuush!
Nampak, mulut milik Astorra sang vampir. Membuka mulut agak lebar. Pada saat itu juga. Entah kenapa kulit-kulit Astorra yang seperti mengelupas dan hilang di udara. Kini, kembali ke bentuk awalnya.
"Apa?!"
Sato pun kaget.
"Sepertinya benar dugaanku, dia punya sesuatu hal yang bisa menahan kekuatan Karma!" ucap seorang yang sosoknya tak ada di tempat itu. Namun, dia sebenarnya ada di dalam tubuh Sato. Bergabung bersama dengan kekuatan karma milik Sato.
"Heh!"
Nampak, Astorra tersenyum menjengkelkan. Sato pun mulai waspada dan sedikit mundur. Di belakangnya, sang bayi naga sudah mentransferkan kekuatan miliknya pada Sato. Membuat kekuatan Sato meningkat jauh. Naga itu nampak mengerahkan semua tenaganya.
Sato menatap tajam pada Astorra.
"Astorra, kau!" geram Sato. Dia nampak akan bersiap untuk bertarung.
"Heh!"
Astorra tersenyum menjengkelkan di depannya. Sato nampak muak padanya. Astorra kembali memunculkan pedang hitamnya. Kali ini dia menggunakan pedang yang lebih panjang dan bentukannya tampak punya hiasan cabang di bagian atasnya.
"Sato! Aku jadi teringat tentang kekuatanmu yang dulu," ucap Astorra sembari dia menyilangkan benda panjang itu menutupi area di depan wajahnya.
Sato hanya diam menyimak. Sato juga membungkuk. Mengupayakan diri dan bereaksi siaga.
'Sialan, ini tak mudah' batin Sato.
Astorra tersenyum sinis lagi.
"Tapi, nampaknya kekuatanmu itu tak akan bisa digunakan ya? Nampaknya ini adalah akhir bagimu," ujar Astorra dengan meremehkannya. Sato tidak emosi.
Wuush!
Sosok Astorra rampak maju ke arahnya dengan membawa pedangnya itu.
"Aku akan kalahkanmu dengan saru serangan! Matilah Sato!" teriak Astorra seraya dia menebas musuhnya itu.
Blum!
Tebasan itu menghasilkan debuman lumayan keras.
Asap membumbung.
Wuuush!
Tap!
Satu sosok keluar dari kepulan.
"Baguslah jika kau bisa bertahan. Maaf, aku masih belum bisa membantumu tadi," ucap Magi memberi tahu Sato.
Sato mengangguk. Sato yang melayang lambat di atas. Kini menapak.
Tap!
"Saat ini, kita harus bisa melawannya bukan?" tanya Sato. Dia tertuju pada Magi.
Magi hanya mengiyakannya.
'Jadi, kita tak bisa kabur. Jadi begitu, kekuatan Astorra masih sama seperti yang waktu itu ya' batin Sato mengernyit.
Asap nampak pudar. Astorra pun nampak kaget melihat soak Sato di sana.
"Kau bertahan rupanya. Tadi itu jurus Tamplexs loh," ucap Astorra. Nampak dia seperti tidak serius dengan ucapannya itu.
"Cih!"
"Naga kecil itu lumayan kuat. Dia sangat berguna untuk merepotkan Astorra," ucap Magi.
Sato kini sampai. Lalu, meninju sembari dia menerjang sang musuh. Astorra nampak menghindar terbang.
"Hahahahaha!"
Tampak, Astorra tertawa. Lalu, dia menyerang Sato dari jarak jauh dengan tebasan yang lumayan kuat.
Blaaar!
Sato menyilangkan tangannya.
Blaaar!
Asap tercipta di bawah sana. Astorra turun. Dia nampak melihat ke arah depan. Dirasa Sato berada di sana tengah jatuh sekarat.
Akan tetapi sesuatu datang menerjang dari titik yang tidak dia duganya.
Sato menyerangnya!
Sato menggunakan pukulan yang diperkuat dengan kekuatan dari naga itu yang terus mengirimkan energi pada tubuhnya.
Wuuush!
Namun, Astorra bisa menghindarinya.
"Sialan!" gumam Sato dan Magi kesal. Astorra nampak tersenyum. Lalu, dia pun membungkuk kemudian mencoba menyerang Sato dengan serangan fisik pula.
"Jangan remehkan aku dengan hanya gunakan pukulan saja saat melawanku!" seru Astorra menendang Sato.
"Uaaaagh!"
Sato mental terkena tinjuan itu. Walau tangannya tadi menahan. Dia tetap saja merasa sakit. Lalu, menggores tanah saat jatuh dari tendangan Astorra.
Blaaar!
Astorra masih bisa lihat Sato. Asap yang dihasilkan dari kejadian itu. Tidak terlalu bisa menghalangi dirinya dari tubuh Sato.
Sato pun mengusap luka lecet itu. Kembali berdiri.
"Ini tak akan mudah!" seru Sato dan menguatkan satu tangan miliknya.
'Dia merencanakan sesuatu dengan memfokuskan kekuatan pada satu kepalannya ini' batin Magi memerhatikan di sebuah tempat yang ada di alam pikiran yang dipenuhi warna karma dan juga bentuk khas sihir itu sendiri.
Sato melihat kecepatan Astorra bertambah satu kali lipat. Tapi, Sato tampak masih bisa melihatnya.
Astorra lurus dan mencoba meninjunya. Saat ini Astorra sendiri pun sudah tak gunakan pedangnya itu. Itu seakan meremehkan Sato yang dia anggap tidak akan bisa membunuhnya.
Sato terlihat menahan dengan satu tangannya itu. Lalu, saat itu juga dia lakukan manuver yang mengejutkan Magi dan musuhnya.
"Apa!"
Sato sudah menendang balik Astorra saat itu.
Blaaar!
Kini Astorra nampak terseret beberapa centi. Dia seperti tak merasakan sakit. Namun, dirinya nampak berekspresi tidak terima.
'Sialan kau!' Batin orang itu nampak marah.
Sato kini menapak di tanah setelah menerjangkan kaki kuatnya itu.
Magi melihatnya.
'Tadi, dia menguatkan tangannya itu. Dibuat sebagai titik beban dari dirinya sendiri. Saat Astorra meninju lurus menuju perutnya. Dia membuat tolakan menggunakan tinjunya itu. Membuat dirinya terlontar, lalu dibantu dengan kerja sama yang bagus dengan peran sang naga yang bisa memperkuat terus dirinya. Anak ini membalikkan dirinya ke arah belakang Astorra. Astorra yang tidak sadar membuat waktu yang cukup hingga anak itu mengisi kekuatannya pada temoat serangannya itu' baton Magi serius.
Astorra terlihat kesal sekali.
Tap tap tap tap tap tap!
Brak brak brak brak!
Sosok berkaca mata yang bernama Sephij kini sampai di sebuah tempat lain yang hampir sama dengan yang tadi.
'Ini tidak terduga. Bagaimana bisa para penyihir itu tahu tentang kita di sini' batin Sephij. Dia masih heran pada kedatangan Magi.
'Ada sesuatu yang tak beres' batinnya lagi sebal. Dia lalu kemudian memulai dari awal lagi di sana. Mungkin untuk menciptakan monster lainnya selain Astorra atau Vampire.
Dia menciptakan bulatan tanda sihir berwarna merah muda di telapak tangannya yang ada di atas bola sihir khasnya itu.
Di kota Valloshwa.
Terlihat, beberapa orang di sana. Seperti kehilangan sesuatu. Beberapa murid dan guru itu kini melapor pada pimpinan di sana.
Tap tap tap tap!
Lalu, terlihat Sayugo pun yang sedang jalan sendirian di ruangan luas itu. Melihatnya. Dia juga mendengar semua yang dikatakan orang-orang yang sedang buru-buru ke tempat kepala akademi sihir Valloshwa.
Sayugo heran. Dia langsung bergegas keluar.
Tap!
Menemui dua rekan lainnya yang ada di sebuah tempat yang damai. Kedua rekannya itu menoleh pada Sayugo yang datang.
Kini di tempat itu pun kembali berkumpul orang-orang penting. Termasuk Sayugo, Chintya, dan megamu.
Mereka membicarakan tentang magi.
"Tuan Magi! Dia nampaknya terjebak sesuatu," ucap satu orang yang masih muda itu. Mungkin siswa akademi sihir itu.
"Apa yang terjadi sebenarnya. Bagaimana dia tak kembali?" tanya salah satu petinggi di sana.
"Kami semua di laboratorium sihir. Meneliti tentang parasit pengendali itu. Tuan Magi berhasil membedahnya tanpa hambatan, akan tetapi ada suatu hal yang hanya bisa ditangani dengan suatu obat. Tuan magi keluar untuk mencari beberapa hal di luar untuk membuat obat itu," jawab pemuda itu.
"Memang obat apa yang dia cari itu? Apakah semua itu tak ada bahan mentahnya di sini?" tanya guru lain penasaran.
"Obat yang dicarinya itu. Adalah sebuah sihir. Itu adalah sihir legenda dan paling atas daripada sihir penghancur yang ada."
Semua orang tercengang. Lalu, Megamu terlihat sama. Dia sepertinya tahu. Sementara dua temannya nampak kebingungan.
Bersambung.