
Episode 100
Sato tampak masih kesal membuka banyak buku. Hari ini Syaumu si pemilik itu tampaknya belum kembali. Sato masih mencoba membuka banyak lembaran buku. Namun, tak temukan hasil. Banyak buku menumpuk karena ulahnya.
Sayugo tampak terkejut mendapati Sato.
“Sato, apa yang terjadi?” tanya Sayugo.
Sato tampak berbeda dari biasanya. Dia tampak terlalu terburu-buru. Tak seperti yang sebelumnya. Ada apa dengannya?
Lalu, dia perlahan melihat le arah Sayugo.
“Maaf,” ungkap Sato hanya dengan maaf.
Sayugo hanya bisa memakluminya saja.
Kini mereka pun rapikan itu kagi. Banyak buku yang sudah tergeletak Sato baca. Bahkan dari lembar ke lembar.
Sato bahkan membaca buku-buku yang ukurannya sangatlah besar. Itu pasti akan sangat susah untuk membuka halaman per halaman yang juga sangat berat dan banyak.
Kemudian Sato pun beristirahat. Dia tidur saja di sana. Lalu, dia pun tampak sedikit demam karena itu.
Chintya tampak mengurusnya saat ini. Karena Sayugo tak mengerti tentang cara menangani orang sakit.
Megamu tampak menatap peduli pada Sato. Beberapa saat kemudian. Syaumu kembali. Melihat Sato terbaring dan sepertinha demam.
“Hmm, dia pasti sangat kelelahan,” ucapnya.
Semuanya pun setuju.
Tampak, malam harinya. Ternyata Sato sempat-sempatnya lagi ke dunia latihan itu. Menemui karma di sana.
Karma menyapanya. Seperti biasanya.
Tap!
Dia pun tampak turun, dari atas sana. Lalu menghampiri karma.
“Aku mencari tahu tentang tandai itu. Namun, kenapa semuanha tak ada?” tanya Sato.
Orang itu lalu berpikir.
“Aneh, padahal dulu ada di semua mata pelajaran,” tiru orang itu.
Sato hanya bisa menghela nafasnya.
“Oh, iya. Kau juga sudah bertemu dengan putri megamu dan temanku itu bukan?” tanya Sato.
Lalu, dia pun mengangguk.
“Kau adalah orang yang punya karma yang kuat bukan?” tanya Sato.
“Hahahaha! Tidak juga.”
“Ck!”
Sato kesal pada sifat sungkannya itu. Dia lalu berbaring di sana.
Lalu, orang itu mengatakan sesuatu.
“Semua tanda di sini. Sepertinya juga ada tanda-tanda sihir yang baru. Mungkin aku belum mengetahuinya,” ucapnya.
“Ya! Mungkin saja!” balas Sato dan menutup matanya.
“Sepeti tanda berwarna merah. Seperti bentuk tanda sihir karma saja,” lanjutnya sembari menunjuk sebuah tanda.
Sato menatapnya dengan satu mata terbuka.
Sato yang tak tahu apa pun hanya bisa diam.
‘Di dunia ini. Semua sihir punya lambang dan tandanya sendiri. Itu juga mengaitkan dengan beberapa cara sihir itu digunakan’ batin Sato.
Karma, sihir ilusi dan pedang sihir. Semuanya ditandai dalam buku. Punya lambang tersendiri dalam pengelompokan dan penjabarannya masing-masing sihir dan sihir pecahannya.
Sato lalu tertidur. Kakek itu memandang aneh Sato yang kali ini tak menyerangnya. Dia bergumam penasaran.
Sato bangun. Dia mendapati Sayugo juga. Lalu, dia meminum teh yang sudah dibawakan pelayan itu.
“Apa keadaanmu baik sekarang Sato?” tanya seseorang yang ternyata duduk di sebrang. Orang yang memiliki istana ini.
“Ya! Aku sudah bisa kembali berlatih,” jawab Sato.
“Tak usah terlalu memaksakan diri,” nasihat Syaumu yang bijak.
“Ya, baiklah!”
Setelah itu. Syaumu pun bangkit.
“Sepertinya mumpung kau baru sembuh. Mungkin dengan kita jalan—jalan ke kota. Kau bisa dapat inspirasi.. bagaimana?” tanya sayumu.
“Apa jalan-jalan? Ayo kita mau!” ucap Sayugo yang tiba-tiba bangun saja di tengah keduanya.
Krak!
Sato menaiki kereta kuda milik istana itu. Mereka berempat bersama beberapa prajurit juga yang mengawal. Lalu, menuju ke suatu kota.
Sepertinya jaraknya agak jauh. Kota miliknya seperti pedesaan yang terpencil. Namun, bahan pangan sangat banyak. Apalagi ada unsur sihir yang pastinya sangat membantu walau kehidupan tidak serba canggih.
Sato menatap ke sekitarnya yang berada di pinggir sebuah pantai.
“Wooaaah!”
Sayugo terkagum-kagum melihat semua pemandangan elok di sekitarnya.
Sato tampak risih karena Sayugo menghalangi kepalanya melihat luaran.
Fernie kini ambil alih. Sepertinya untuk kegiatan ini. Fernie ingin menikmatinya juga.
Banyak sekali kereta kuda yang lewat. Ada beberapa perahu sihir yang ada di tengah sana. Sepertinya tengah memanen ikan.
Setelah itu. Tampak muncul sesuatu yang besar di tengah lautan. Tampak seperti hewan laut yang besar.
Hoaaaaa!
Suaranya berdengung di sana.
“Woaaah. Hewan apa itu. Besaaar!” reaksi Sayugo setelah melihatnya.
“Benar, itu besar sekali!” balas Chintya yang juga menikmati perjalanan itu.
Fernie pun begitu mereka nasih bersenang-senang menuju ke sebuah kota.
“Kita akan sampai ke sebuah kota yang juga terdapat akademi sihir di sini,” jelas Syaumu yang bersama mereka. Dia ikut senang melihat reaksi orang-orang yang dari dunia lain itu.
“Woooah!
Mereka terus berseru dengan lantang. Mengabaikan beberapa orang yang lewat itu.
“Hahahaha!” Syaumu tertawa menangani reaksi mereka semua.
Sato masih tenang.
‘Dunia ini sangat ramai. Tidaj seperti di duniaku. Akademi sihir hanya satu. Lalu, semua manusia hanya ada di dalam akademi. Manusia biasa yang keluar dari dalam akademi akan langsung disantap berbagai monster ganas yang tak akan bisa dihentikan oleh siapa pun’ batin Sato sedih.
“Kau kenapa Nak? Apakah perjalanan itu tak membuatmu senang?” tanya Syaumu heran pada Sato yang melamun.
“Ah, tidak semua ini sangat menyenangkan. Hanya saja aku masih sedikit demam sepertinya,” jawab Sato ngarang.
“Oh, begitu ya. Ahahaha!”
Sato lalu melihat lagi. Kini kereta mereka mulai masuki sebuah kota.
Gladak!
Di sana semua warganya tapak menggunakan pakaian panjang. Lalu, sepertinya adalah para penganut ajaran gereja.
Sato menatap mereka teliti. Semuanya sangat damai.
“Kota ini merupakan kota yang dulunya milik Godwitcher. Tak ada kejahatan atau apa pun di sini,” ujar Fernie dengan suara lain. Ya, dia megamu.
“Woah, luar biasa. Aku ingin tinggal di sini,” ucap Sayugo setelah mendengarnya.
“Tapi, sepertinya kau juga harus rajin melakukan suatu ibadah. Sayugo kau tak cocok dan suka bermalas-malasan,” timpal Chintya. Dia melihat orang-orang itu tampak taat dengab membawa semacam salib dan tanda salib dalam kehidupan mereka.
Syaumu tertawa.
“Hahahahha! Kain semua menakjubkan. Yah, memang ini adalah kita yang semuanya adalah penganut agama ortodoks. Di mana mereka menyembah dunia ini beserta isinya. Mereka yakin. Semuanya adalah tuhan mereka,” tutur Syaumu pada mereka semua.
“Jadi begitu. Tak heran mereka sangatlah religius,” ujar Sato berpendapat.
Lalu, mereka pun tampak berhenti. Sayugo melihat wah pada bangunan megah itu.
“Kita akan kunjungi tempat paling megah di kota ini. Yaitu gereja jam sihir terbesar!” teriak Syaumu.
Semuanya tampak senang. Tak terkecuali satu pun. Lalu, mereka pun turun. Tampak bangunan dengan jam yang ada di atasnya itu. Sangalah besar dan berkilauan walau dilihat dari mana saja.
Sato dan Sayugo tampak berjalan menuju halaman di sana. Semuanya tampak ramah menyapa mereka. Semuanya tampak persilahkan pengunjung kota mereka itu.
Tap tap tap!
Dengan senang Sayugo berjalan di sana. Melihat pemandangan dan berbagai hal di dalam bangunan besar itu.
Mereka habiskan waktu lama di dalam sana. Lalu, mereka tampak menuju ke belakang bangunan itu. Lalu, di sana. Terdapat banyak sekali orang yang sedang melakukan sesuatu yang sepertinya adalah bagian dari ibadah kaum ortodoks ini.
Semuanya tampak menghayati. Semuanya sangat serius. Sato dan yang lainnya ikut terbawa pada kegiatan mereka ini.
Lalu hingga hampir sore. Mereka pun selesai. Semua tampak bubar. Di sana juga terdapat taman yang indah.
Lalu, salah satu orang tampak tertarik pada mereka. Lalu mengajak mereka untuk kunjungi taman yang lebih indah dari ini semua. Taman itu adalah taman yang jarang pengunjung luar kunjungi. Demi keamanan. Beruntungnya mereka dapat semacam rekomendasi untuk kunjungi taman itu.
Taman Eden!
Taman itu tampaknya berada di sebuah tempat yang terhalang oleh sihir. Lalu, Sato pun memasuki sebuah lindungan itu. Mereka terkejut lindungan itu sangatlah pendek dan pelindungnya itu sangatlah seperti kita menuju ke dalam dunia lain. Bukan seperti mengecoh posisi seperti lindungan sihir milik Onpipan atau pun musuh mereka waktu itu.
“Ini kekuatan yang lebih besar dari pelindung milik klan Onpipan,” ujar Sato melihat itu.
“Tentu saja,” balas orang yang mengajak mereka.
“Apa sihir ini. Bisa dipelajari?” tanya Sato.
“Ya! Tapi ini sangatlah langka. Hanya beberapa orang yang bisa melakukan ini,” jawab orang itu ramah.
“Oh!”
Sato lalu masuk dan gerbang taman Eden pun terbuka.
Bblaaaaam!
Di dalam sana terhampar daratan yang luas.
Sayugo langsung melompat.
“Ini surrgaaaaaa!” teriaknya.
Semuanya juga senang. Chintya tampak tak menyangkanya. Semuanya tampak indah. Banyak kolam dan gurun yang seperti digambarkan oleh agama-agama dalam dunianya itu.
Pohon apel yang sangat manis. Melebihi madu. Lalu, kolam yang bisa diminum dan bisa menumbuhkan tanaman hanya dengan satu tetesan di atas tanah yang kering.
Serta, hal-hal lainnya yang sangat menakjubkan. Mereka bersenang-senang di sana.
Syamu juga memakan banyak hal yang ditanam di sana. Sato menatap semuanya. Lalu, dia pun tampak melihat suatu bangunan dengan tanda yang tak dia ketahui.
“Apa kita boleh ke bangunan itu?” tanya Sato.
Orang itu pun tampak mengangguk.
“Tentu saja!”
Sato lalu ke bangunan itu. Diantara oleh salah satu orang dari tempat itu.
Tap tap tap tap tap!
Sato membuka pintu bangunan itu. Lalu, tampak terlihat sangatlah besar dan dilapisi oleh emas. Bangunan yang tak pantas disebut kediaman. Ini adalah harta.
Namun, yang membuat Sato penasaran bukan hanya itu.
“Apa aku boleh tahu? Tentang makna dari tanda-tanda sihir itu?” tanya Sato.
Orang itu sedikit heran.
“Apa kau penyihir?” tanya orang itu.
“Tidak- aku hanya—“
“Ya, aku hanya bercanda. Tentu saja boleh. Tanyakan saja,” potong orang itu.
Lalu, Sati pun mulai bertanya tentang tanda itu. Tanda yang dia lihat di dimensi latihannya itu. Lalu, orang itu pun mengerti.
Dia lalu menunjuk ke suatu arah. Agar Sato berjalan ke sana. Sato pun berjalan. Dia menyusuri tempat yang sepertinya labirin. Lalu, Sato tampak temukan sesuatu yang mengejutkan siapa pun.
Bersambung.