
Episode 29
Di dunia sihir lagi.
Setelah membuka buku kosong itu. Mata mega tampak tiba-tiba bersinar merah. Lalu, sinar itu seakan terhisap ke dalam buku itu.
Mega sepertinya menahan sakit karenanya. Lalu, sepuluh detik kemudian. Dia menutup bukunya.
Resiko dari jadi topografi sihir adalah, banyak hal. Semuanya bisa menjadi Resiko bahkan nyawa. Maka dari itu, tidak ada yang sama sekali berminat pada hal-hal seperti ini.
Namun, mega berminat. Sudah hampir setahun menjalani kegiatan topografi yaitu, mencari tahu asal-usul dunia ini yang disebut sebagai mahkluk kuat yang tersegel. Disebut Arconde.
Setelah mengetahui tentang werewolf dan vampir. Anak itu beberapa kali memeriksanya. namun, dia tak mendapatkan apa pun.
Sepertinya alat topografi di akademinya minim sekali. Hanya beberapa hal yang mungkin masih dasar.
Itu membuat mega agak kecewa. Namun, dia sadar. Topografi bisa sangat berbahaya dengan ribuan Resiko yang dia akan dapat ke depannya.
Dengan mata kecewa itu. Mega menyudahi kegiatan membaca dan menelusurinya dengan buku topografi. Dan kembali ke kelas saat bel masuk sihir berbunyi.
Jerman, negara bagian bremen.
Sayugo di sebuah gereja. Tampak berdoa di sana. Mengikuti para peziarah yang lainnya.
Usai itu, para orang pun mulai sepi. Hanya biarawan dan pendeta yang di sana. Kemudian, Sayugo melambai ke arah suatu mobil hitam.
Setelah itu, keluarlah dua teman lainnya. Mereka berdua lalu memasuki gereja itu.
Tap tap tap tap!
Beberapa biarawan dan biarawati melihat mereka seperti biasanya. Lalu, masih ada pendeta yang berada di sana.
Mereka bertiga lalu duduk di sekitar pendeta itu yang masih berdoa dengan membaca kitabnya itu. Setelah itu, dia sedikit berhenti saat ada kehadiran tiga orang di sekitarnya.
Namun, dia tetap berdoa untuk beberapa saat lalu, menutup kitab suci agamanya itu. Menghela nafas kemudian.
"Jadi? Kalian ingin tanya apa?" tanya pendeta itu tanpa menoleh.
"Kami ingin tahu, apa anda menyadari beberapa hal aneh di gereja milik anda ini?" tanya Chintya to the point.
Alben, para masyarakat Jerman pada masa lampau percaya adanya mahkluk baik bernama ini. Mereka mengatakannya pernah ditolong bahkan ada yang bilang alben adalah sosok dari kumpulan pendeta yang alim bersatu dalam satu raga terhimpun jiwa-jiwa suci mereka yang baik. Untuk membantu hidup manusia yang baik dan dalam keadaan terdesak.
"Hmmm, begitu ya," gumam pendeta itu. Terlihat berpikir.
"Maaf sebelumnya pendeta, kami saat ini sedang dalam misi yang penting," lanjut Chintya lagi.
"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa," balasnya.
"Kalian pasti mencari sosok alben Yah. Itu sudah aku ketahui karena banyak orang yang bertanya kepadaku tentang mahkluk itu," ucap pendeta itu.
"Benar," jawab Chintya.
"Hmm, kalau begitu aku akan ceritakan kalian sebuah kisahku yang pernah bertemu dengannya. Jadi, saat itu aku masih remaja. Aku yang sudah hafal banyak kitab di usia itu. Kemudian tersandung dan terjatuh ke jurang di pegunungan alpen yang mengerikan dan tak ada siapa pun. Namun, aku di tolong oleh alben yang baik dan sampai saat ini masih hidup," ceritanya.
"Apa hanya seperti itu saja?” tanya Sayugo.
"Tidak! Kau bersatu dengan monster itu!" seru megamu tajam.
Setelah itu. Bunyi dentangan jam dinding tiba-tiba terdengar sangat kuat. Bahkan seperti membuat gempa di gereja ini.
Orang itu tiba-tiba tak ada di tempatnya. Semua biarawan dan biarawati lalu menghampiri mereka saat semua getaran dan bunyi dentangan itu berhenti seketika.
"Apa anda semua sehat?" tanya mereka semua.
Kejadian tadi sedikit membuat ketiganya shock. Namun, mereka tetap terkendali dan menjawab semua pertanyaan dengan tepat.
Sato dan Billy. Malam hari di bremen.
"Ya, aku akan ke sana dan sedikit periksa jejak yang ada di tempat kami sebelum itu," ucap Billy pada seorang wanita di teleponnya.
Sato duduk di kursi taman yang sudah sepi. Hanya beberapa pejalan kaki yang melewatinya.
Tap tap tap tap.
Pejalan kak itu melewati Sato dan yang lainnya. Kemudian, tampak mereka terus berjalan tanpa mempedulikan hal lainnya. Mungkin tak menarik batin mereka.
"Ya, ya baiklah," ujar Billy laku menutup panggilannya.
"Jadi?" tanya Sato setelah menghabiskan minuman kalengnya itu.
"Sepertinya mereka sudah tahu clue dari siapa sebenarnya mahkluk bernama alben itu. Bahkan mereka pernah tak sengaja menemukannya," jawab Billy.
"Tidak kusangka, jadi lanjutannya seperti apa?" tanya Sato lagi.
"Chintya sempat mendeteksinya, dia sepertinya kabur dari tempat itu jauh sekali. Lalu, kita sepertinya akan observasi lagi. Sambil menunggu itu, kita akan jelajah semua tempat yang belum kita singgahi tadi. Untuk memperluas informasi dan pencarian kita," jawab Billy panjang lebar.
"Baiklah!"
Di team Chintya.
Mereka masih shock, akan kejadian kemarin. Saat ini, mereka baru keluar dari ruang inap itu.
Berjalan untuk mulai misi lagi.
"Bahkan alat pendeteksi kura-kura milik diriku tak bisa melacak monster ini. Menyebalkan," kesal Chintya.
"Ya, kejadian itu sangat membuatku shock setengah mati. Aku bahkan memimpikannya tiga kali semalam. Kejadiannya selalu sama," tutur Sayugo.
"Ya. Mahkluk itu punya kekuatan magis yang bisa dia netralkan. Aku tak bisa mendeteksinya jika dia tak menceritakan awal mula dia bergabung dengan seorang manusia itu," ujar megamu menjelaskan.
"Jadi begitu."
"Yah, ceritanya memang terdengar tidak masuk akal. Semua orang tahu. Anak kecil jarang diajak ke sana. Karena jurang di sana sangat berbahaya," ujar Chintya berpikir.
"Entahlah."
"Tidak, itu karena agama Kristen masuk ke Jerman saat ada larangan seperti itu di pegunungan alpen. Jadi, dia pasti berbohong tentang cerita itu," jelas Chintya dengan terkandung emosi di dalamnya.
"Namun, kenyataan bahwa dia bergabung dengan manusia. Lalu, selama ini jarang ada kasus mengenainya. Membuat sedikit tanda tanya dalam hidup monster ini. Untuk apa dia terus berkeliaran di sekitar manusia, jika dia tidak tertarik pada semua orang ini?" ujar megamu juga dengan sedikit intonasi yang mendalam.
Malam tiba.
Kedua team lalu bertemu di ruangan rahasia milik Billy lagi.
Mereka menunggu data laporan dari markas pusat. Sayugo dan dua orang lainnya diberikan tugas sembari menunggu oleh guru dingin mereka. Chintya.
"Kerjakan beberapa soal dan selesaikan sebelum informasinya datang!"
Semua orang di tempat itu tegang. Antara menunggu informasi dan mengerjakan soal membingungkan dari Chintya yang dia buat tadi malam.
Tampak Sayugo dan dua anak lainnya juga kebingungan.
"Fokus dan kerjakan!" seru guru dingin itu.
"Iya!"
Billy yang melihatnya. Dia nampaknya sudah terbiasa dengan cara belajar mereka. Dia menyeruput kopinya di atas sofa mewah miliknya.
Masih belum ada konfirmasi. Hingga Billy kini menonton acara televisi sendirian. Sementara 4 orang itu masih belajar mengajar di sampingnya.
Billy memakan keripik yang dia ambil dari lemari pendingin. Menonton acara drama Jerman sepertinya.
Tap tap tap tap!
Tak disangka. Datang Sayugo yang bersemangat. Mungkin ujian tadi sudah mereka selesaikan.
"Hey teman," sapa Billy.
"Paman, bisa kau ganti ke Channel olahraga?" tanya Sayugo.
"Baiklah!" ucap singkat Billy menjawabnya.
Kini keduanya menonton pertandingan sepakbola Jerman yang terkenal itu.
Sato tampak sudah naik ke kamar. Megamu dan Chintya masih berbincang di ruangan tadi.
Sato melihat ke jendela kamarnya. Terlihat masih ada beberapa toko yang buka.
Dia lalu mencoba keluar dari sana. Karena terdengar kabar. Markas tengah menganalisa pergerakan aneh juga. Jadi informasinya akan sampai besok hari.
Tap tap tap tap!
Memakai jaket. Sato kemudian keluar kamar.
"Aku akan keluar untuk jalan-jalan," seru Sato. Lalu, semuanya mengiyakan.
Sato menuruni tangga. Lalu keluar dari sempitnya gedung menuju jalanan kota bremen. Salah atau bagian negara Jerman.
Dia menghirup nafas sejenak. Lalu, berlalu ke arah samping. Beberapa orang sepertinya berlalu. Mereka tak saling sapa sepertinya terlalu sibuk dengan urusan mereka.
Sato melihat mobil-mobil mewah yang biasa melintas di negara ini. Tidak seperti di negaranya. Di Jerman. Mereka banyak yang punya mobil mewah apalagi sport seperti yang dimiliki salah seorang yang Sato kenal.
Tap tap tap tap!
Sato kemudian berjalan terus. Menahan udara dingin dengan jaket milik Billy yang bersedia dia pinjam. Lalu, terus melaju hingga dia berpapasan dengan salah satu toko yang tadi membuatnya sedikit tertarik.
Melihat ke atas bangunan toko. Sato tersenyum sembari menggumam "tak kusangka. Ada satu penyihir di sini."
Sato lalu membuka toko atau sepertinya tempat satu penyihir yang berada di kota bremen. Kemudian, Sato terus masuk.
Ternyata tidak terlaku ramai. Hanya ada beberapa orang saja seperti dirinya. Pengunjung tempat ini.
Sato memperhatikan desain dan interior toko ini. Cukup umum namun, ada unsur 'penyihir' yang melekat. Seperti lambang salah satu akademi yang sama seperti di dunianya. Terpasang di dada semua pegawai itu. Walau gambarnya kecil, Sato masih bisa melihatnya.
Toko yang didatangi Sato. Merupakan toko roti dan kue terkenal di tempat ini.
Sato kemudian berjalan. Dia punya sedikit uang yang diberikan Billy saat dia ingin menukarkan dolar ke Euro.
Tap!
Sato sampai di depan sang kasir.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya orang itu dalam bahas Jerman.
"Ya, apakah tuan manajer masih ada di ruangan? Boleh saya menemuinya sebentar?" jawab Sato.
Kemudian Sato dibawa ke sebuah ruangan kantor yang begitu luas. Ternyata toko itu menyimpan ruangan mewah ini.
Tap tap tap tap!
Sato berjalan di tempat itu. Menuju ke arah si manajer yang mungkin adalah salah atau penyihir. Entah kenapa Sato ingin menemuinya.
Tap tap tap tap!
Lalu, sampai lah Sato di depan manajer di tempat duduknya itu.
"Oh, ternyata kau Sato tamu yang dimaksud, apa kau butuh bantuan paman?" tanya orang itu. Beramvut cokelat kekuningan.
"Tidak, aku hanya disuruh ibu untuk memberikan pesan tertulis ini padamu," jawab Sato sembari mengeluarkan kertas surat yang masih tersegel rapi.
Tampak tadi tulisan yang Sato lihat sebelum masuk adalah.
"Toko roti tie Kazumi Boy!"
Bersambung.