
Episode 117
Haaaaarg. Terlihat seekor ular di depan mataku itu. Aku sempat tak memperhatikan Mugo. Nampaknya, anak itu masih di sana.
Tanganku gentar takut. Aku melihat gambar ular itu di sebuah bukit yang pernah aku baca. Tentu saja, buku itu aku baca bersama dengan Mugo. Mugo sendiri yang mendapatkan buku itu dari sebuah perpustakaan di dalam akademi sihir kita.
Warna ular itu sama dengan batu yang menjadi sisik monster tersebut. Nampaknya itu merupakan warna batuan keras yang pernah ada.
Goarrrrg!
Suaranya nampak seperti monster-monster yang biaa kami hadapi. Namun, walaupun begitu. Monster ini nampak punya kekuatan yang kuat. Jika dilihat dari ukuran dan tubuhnya itu. Dari posisinya yang melilit sebuah tempat yang melingkupi lubang guanya.
Aku sekujur tubuhku. Gemetar hebat. Melihat menandang dan merasakan apa yang monster itu keluarkan bersama suaranya.
Angin itu nampak sangat dingin sekali. Dari jarak yang amat jauh saja. Tampak, terlihat juga batu-batuan biasa yang berada di dekat anag ular itu. Memutih berubah warna lebih cerah dan pucat dari warna yang sma sebelumnya.
Aku kaget. Lalu, mencoba melihat Mugo. Namun, anak itu ternyata masih diam di sana. Aku pun khawatir. Apa jangan-jangan Mugo itu terkena gelombang dingin itu.
Aku mencoba mendekatinya. Lalu, membekap dirinya untuk melindungi dari sebuah nafas dari sang ular yang besar dan nampak berbahaya jika kita bergerak mendekat kepadanya.
Haaarg!
Nafasnya sangat dingin. Dari jarak berpuluh kilometer dari kita. Itu terasa menusuk sampai ke jantung kami. Aku membekap anak itu. Saat aku raba bagian dadanya.
Aku terkejut.
"Mugo!"
Aku tak merasakan hangat tubuh di sana. Tubuhnya nampak melemah dari biasanya. Lalu, aku pun mencoba menggendongnya. Membawa ia menjauh dari ular itu.
Tap tap tap tap tap!
Aku pun sampai dan sudah sangat jauh dan akan keluar dari hutan menantikan itu. Kini aku mencoba mendudukkan adikku di sebuah batang pohon yang lumayan besar.
Tap!
Aku melihat wajahnya nampak membiru. Aku bingung. Mendeteksi bahwa dia mungkin dalam bahaya. Namun, kami terlalu jauh dengan apa pun yang bisa membantu kami.
Aku panik. Lalu, dalam kepanikan itu. Tiba-tiba Mugo bergerak. Aku mencoba memegang dirinya agar dia tetap aman. Terlihat ia masih lemas.
Matanya nampak membuka. Lenguhan pertama kali ia keluarkan.
"Ke-kenapa kita menjauh?" ujarnya lemah.
Brak!
Seketika itu juga. Dia pun sepenuhnya tak sadarkan diri.
Kini Mugo nampak sadar di sana. Kami masih di sana. Karena aku sendiri tak tahu harus ke mana. Hanya Mugo yang tahu harus ke mana kita saat ini.
Untuk kembali pulang atau melanjutkan perjalanan. Aku sama sekali tidak tahu. Mugo pun melihatku. Aku nampak menanyakan keadaannya. Dia hanya berakta dia sudah baikkan.
Saat itu untungnya tidak ada monster apa pun. Aneh memang. Tapi, aku dan Mugo masih di sana sampai pagi tiba.
Di paginya. Aku terbangun karena kelewat tidur menjaga Mugo. Lalu, saat mataku mulai membuka.
Byaaaar!
Saat ini. Aku terkena sesuatu yang tuba-tiba diriku sesuatu dingin.
Byaaar!
Aku pun membelalak dan langsung sadar. Lalu, ternyata diriku sudah ada di sebuah tempat yang berbeda dari yang semalam. Namun, aku masih bersama dengan Mugo yang aku dapati sedang melakukan sesuatu.
"Mugo!"
Aku memanggil anak itu. Yang kini dia sedang bertarung dengan seekor monster. Di depan ku ini adalah sebuah danau yang luas. Nampak luas sekali dan terlihat banyak sekali monster yang berada di sana.
Mugo sedang memburu mereka. Sepertinya untuk makanan pagi kita.
"Aku sudah bangun! Bantu aku yang melamun saja!" teriak Mugo.
Aku pun bersiaga akan bantunya.
"Baiklah!"
Blaaar!
Setelah itu. Aku dan Mugo nampak memasak daging itu. Dengan gaya asalan. Karena kami semua masih belum tahu sihir apa yang bisa digunakan untuk membuat makanan yang enak.
Tapi, menurutku itu sudah enak. Nampak Mugo juga lahap memakan daging yang hitam setelah dibakar dengan api yang menyapa terang. Siang itu. Kami mencoba keluar dari sana.
"Mugo! Apa yang harus kita lakukan? Apakah ayah mencari kita?" tanyaku khawatir.
Mugo nampak menatap ke arah lain. Dia juga sepertinya baru teringat akan hal itu. Namun, aku segera mengajaknya untuk melanjutkan perjalanan saja. Terserah dia mau ke mana.
Mugo mengangguk senang. Setelah aku mengizinkan kita untuk kembali berpetualang di sini. Rencananya kita di sini akan melakukan sesuatu. Mugo berakta dia ingin tempat untuk menyimpan barang-barang yang bagus. Lalu, tidak diketahui oleh orang dewasa.
Jadi, dengan kata lain. Mugo memilih untuk membuat tempat rahasia dengan cara kemari. Kita akan membuatnya di sini. Akan tetapi di tempat yang Mugo sudah keluarkan tadi.
Nampaknya ada monster yang ada di tempat itu. Aku dan Mugo membaut sebuah perahu. Lalu, kami mengarungi danau itu. Mencoba ke arah ujung danau lain.
Aku dan Mugo melihat ke kanan dan samping. Atas dan dalam air itu. Kami berdua mengangguk bersamaan. Melihat air itu yang jernih kosong itu.
Saat akan sore matahari menjadi berwarna merah. Air-air itu memantulkan cahaya yang sama dengan sang matahari. Mugo senang melihatnya.
Hingga aku menunjukkan suatu cara yang menyenangkan untuk membuat diri kita melaju lebih kencang ke arah sana.
"Oh tidak! Aku tidak mau!"
"Hahahahaha!"
Wuuush!
Saat malam sudah menjelang. Aku dan Mugo menapakkan kaki di daratan yang kami tuju. Di sana nampak becek. Tidak seperti di bagian danau yang lain.
Aku dan Mugo melangkah perlahan menuruni sampan. Aku dan Mugo pun masuki sebuah hutan yang terlihat jelas di depan tepat.
Tap tap tap tap!
Keadaan sangat hening. Ada beberapa hal yang mungkin hanyalah seekor hewan kecil biasa. Lalu, aku dan Mugo dengan memberanikan diri.
Maju dengan cepat lebih ke dalam hutan. Malam tiba membuat keadaan semakin hening saja. Lalu, di sebuah tempat nampak ada beberapa pohon yang tumbang juga.
Kami biasa dengan alam. Kami yakin itu hanyalah monster-monster di sini. Kami pun terus melanjutkan perjalanan.
Kini, aku dan Mugo pun sampai di sebuah tempat yang lebih becek dari tempat pinggir danau itu. Di sana ada genangan. Mugo dengan sihir cahayanya itu menyorot ke sekitar sana.
Mugo nampak lihat banyak hal dengan cahayanya itu.
Grrrrr!
Aku juga merasakannya. Bahwa di sini juga ada mahkluk lain selain kami.
"Mugo! Apa kau tahu kita ada di mana?" tanyaku setengah berteriak. Sebab aku mendengar sebuah suara erangan lirih yang terdengar amat misterius di sana.
Mugo masih melihat ke arah samping sana entah apa yang dia lihat. Namun, dia masih belum menjawabku. Aku pun mencoba mendekatkan badan menuju dirinya.
Lalu, saat itu juga.
Blaaaar!
Dari bawah sana. Tanah itu naik ke arah kami tepat. Kami berdua terpelanting ke atas sana. Namun, kami semua bisa mendarat dengan selamat di sebuah ranting pohon yang besar.
Kami, berdua untungnya masih bersama saat itu. Mungkin karena salah satu dari kami sangat ahli dalam sihir. Kami, pun bisa mengantisipasinya.
Lalu, Mugo nampak menyilangkan tangan di depan tubuhku.
"Jangan bergerak! Diam saja!" ujarnya dengan suara yang kecil. Aku hanya bisa mengangguk pasrah.
Lalu, hanya ada gelap yang aku lihat. Namun, Mugo sendiri sepertinya termangu memperhatikan sebuah arah di mana kau juga mendengar sesuatu yang keras keluar tiba-tiba itu.
Groaaaarg!
Juga kami merasakan sebuah getaran imbas dari sesuatu yang terjadi di depan sana. Mataku melotot ingin tahu. Namun, aku tak bisa melihatnya. Cahaya rembulan entah kenapa tidak bersinar.
Aku juga mengabaikan hal itu. Karena kau sangat penasaran dan suara di sana sangat mengerikan.
Groaaaarg!
Groaaarg!
Suara itu sepertinya ada dua tipe dan saling bersahutan. Namun, masih dalam arah yang sama.
'Apa yang ada di sana?' Batinku penasaran. Namun, Mugo tetap di sana dengan tenang.
Setelah itu juga. Sebuah suara seperti gebukan dan hentakan kita dengar dari tempat yang sama.
Blaaar blaaar blaaar!
Groaaarg!
Bersama dengan suara mengerikan itu yang kini bersuara acak dan macam-macam jenis. Aku dibuat tambah bingung. Mugo tetap diam. Aku tak mengerti.
Setelah itu. Sebuah suara debum besar. Lalu, suara seperti hal besar yang jatuh ke arah entah ke mana terdengar. Lalu, setelah itu.
Semuanya hening. Terakhir aku dengar suara mengerikan itu yang bersuara pelan. Setelah itu aku tak mendengar apa pun lagi.
Aku dan Mugo masih di sana. Mugo menyuruhku tetap tenang dan terus menyembunyikan aura dan energi sihir kita. Aku dan Mugo bisa melakukan itu.
Aku masih di sana. Mugo di sampingku. Aku masih melihat ke sekitar yang nampak kudengar ada suara juga.
Saat itu Mugo mengajakku untuk ke atas. Menuju ke tempat yang paling tinggi. Lalu, aku pun menurutinya. Kami, melompat dan dengan cepat sudah di bagian atas.
Pohon yang kami pijaki adalah yang tertinggi dan terbesar rupanya. Lalu, saat di atas. Aku merasakan ada yang datang. Banyak langkah bermacam-macam dengan suara yang besar.
Aku mengetahui itu adalah monster. Aku khawatir jika kita akan diserang. Apalagi jumlah mereka ada banyak dan saat ini kita berada di tempat yang tidak menguntungkan.
Namun, Mugo menyuruhku untuk tetap tinggal. Tidak melakukan apa pun dan lebih menyembunyikan diri kita di tempat.
Aku hanya bisa menurutinya. Lalu, aku merasa banyak yang melewati pohon yang kami pijaki. Kami bersembunyi ditutupi dengan daun-daun pohon.
Itu cukup besar untuk tubuh kami. Lalu, semua monster yang lewat itu entah kenapa menuju ke arah suara yang tadi.
Saat itu juga. Mugo mencoba memerhatikan ke arah itu. Lalu, terlihat suara-suara yang mengerikan kami dengar.
Nampak, sangat acak. Teriakan dan geraman. Lalu, suara yang seperti debum keras. Itu berlangsung selama beberapa jam. Hingga kini semuanya pun diam. Hanya menyisakan satu suara monster yang nampak melenguh. Namun, setelah itu ada suara yang aneh.
Jraaak!
Membuat suara monster memekik keras.
Bersambung.