
Episode 78
Tampak, Marra memandang Sato yang memandang ke arah suatu tempat. Kemudian Marra berbalik ke arah tatapan sang pemuda di sana.
Wuuush!
Angin seakan menunjukkan hal yang dipandang mereka. Tampak, itu adalah kediaman utama milik keluarga Onpipan.
Marra pun paham. Sedikit mendesah dengan ucapannya itu.
“Dia benar-benar serius ya.”
Serelah itu. Sato pun kembali. Dia sudah paham beberapa hal. Kini Sato pun bergegas ke arah rumahnya. Sepeda sudah dia naiki itu.
Grak!
Sato pun melenggang dengan cepat menggunakan sepeda. Beberapa orang menatapnya. Karena dia terkesan terburu-buru.
‘Baiklah’ batin Sato sembari kayuh sepeda terus.
Krak!
Kini, tampak Fernie dan Sayugo. Melihat sekeliling tempat itu. Tempat yang masih misterius. Sayugo mengerjap di sana.
Seorang lain juga bersama keduanya. Fernie pun menoleh ke arahnya itu.
“Sato, bisa kau jelaskan tempat ini?” tanya Fernie.
“Ya benar. Aku mulai merinding nih!” seru Sayugo dengan gelagatnya yang berdasar pada ucapannya barusan. Menggosok badannya yang gemetar hebat.
“Heh.”
Sato hanya tersenyum.
Tempat Sato.
Tap!
Sato sudah sampai. Dia pun bergegas ke ruangan yang berisikan komputer. Sepertinya ruangan di perpustkaan bawah tanah itu juga.
Tap!
Sato duduk di kursi itu.
“Baiklah, ayo kita mulai!” seru Sato dengan menggosokkan tangan mulai bersiap.
Tap!
Sato pun mulai mencari sesuatu di sana. Anak muda itu mulai menyalakan komputer. Suatu logo komputer pun dia lihatnya. Pertama kali.
Cling!
Kini, dia pun sibuk dengan itu semua. Peluh dia keluarkan. Sato terus menerus menggunakan alat itu di sana.
Tak tak tak tak tak!
Kini, dia tampak keletihan. Namun, jarinya masih bergoyang. Menggoyang, mengeklik dan sebagainya. Kegiatan alat-alat canggih.
Tak tak tak tak tak tak!
Sato terus menerus sibuk di sana. Kemudian dia pun tampak berbahagia. Saat bar panjang itu sudah terisi penuh hingga mencapai maksimalnya.
Sato pun membukanya. Tanpa basa basi lagi.
Klik!
Lalu terbelalak.
“Apa?!”
“Fernie dan Sayugo terculik?!”
Kejadian tak terduga. Nampaknya terjadi. Sato pun bergegas cepat keluar dari sana. Setelah melihat suatu hal yang membuatnya khawatir.
Suatu itu tampak tampil dii layar miliknya itu. Hape miliknya menampilkan informasi itu. Berdengung beberapa kali tadi saat berada di ruangan komputer.
Tampak, Sato menelepon di sana.
“Apa!” kaget Sato yang menelepon itu.
“Ya!” jawab suara serak dari dalam androidnya itu.
‘Dia’ batin Sato dan dia pum mempercepat kayuhan sepedanya.
Wuuush!
Malam tiba. Sato terus mengayuh. Dia menuruni banyak jalan berkelok juga. Sedikit terjal. Lalu anehnya di sini sangat sepi sekali. Tidak bahkan saat pertama kali Sato keluar rumah.
Sato tampak masih terus mengayuh di sana. Masih melihat ke sekitarnya. Tidak, saat ini Sato hanya fokus pada teman-temannya itu. Wajahnya memanas.
‘Sialan’ batinnya merutuki hal ini.
Wuuush!
Sato tampak masih bersepeda si jalanan itu. Dia terus mengayuh dengan benar. Terus menerus maju ke sana.
Wuuush!
Terus mengayuh dengan cermat. Sato tak peduli pada beberapa hal. Dia melompati pagar pendek. Menyebrang lampu merah. Dia tak peduli.
Kini, Sato pun tampak sudah sampai sepertinya.
Dia berhenti. Mengerem dengan keras.
Ckiiit!
Peluh terus mengucur deras.
Sato menatap ke depan berusaha keras untuk tegap. Menyembunyikan rasa lelahnya saat ini.
Wuuush!
Sekelompok orang di sana. Mereka tak terlalu nampak. Karena ada kegelapan di sana. Lampu jalanan tampaknya hanya sebatas posisi Sato saja. Itu juga agak aneh.
“Haah haaah haaah!” lenguh Sato.
Tap tap tap tap tap!
“Heeh!”
Suara kekehan dan langkah itu. Membuat Sato terperanjat sedikit. Dia waspada. Tampaknya dia dimintai ke sini setelah mendengar temannya terculik.
Tap!
Sato menatap orang itu. Terlihat orang yang maju itu. Badannya besar. Dia memakai pakaian hitam dan topi hitam semuanya serba hitam.
Sato menatapnya nyalang. Orang itu tak ditampilkan. Hanya suaranya saja yang besar.
“Di mana?” ucap Sato di sana.
“Heh!” orang itu tampak terkekeh geli. Sato menatap tak percaya padanya.
“Jawab aku bajingan-“
“Kami adalah orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Onpipan!” ucap orang itu. Memotong kata Sato.
Sato kaget.
‘Ja-jadi, merekalah orangnya’ batin Sato terkejut.
Tap tap tap tap tap tap!
Seseorang maju. Dia tak kalah misteriusnya. Wajah mereka tak bisa terkenali Sato.
‘Sialan’ batin Sato.
“Kami akan hancurkan keluarga itu. Apa pun yang terjadi,” ucap orang yang baru saja datang.
Sato tampak menatap keduanya dengan mata kesalnya itu.
“Jadi apa hubungannya dengan teman-temanku yang kalian culik haah?” tanya Sato dengan nada yang khas.
Dua orang itu menatap penuh arti pada lawan bicaranya.
“Kami tak ada maksud pada mereka,” ucap orang yang besar itu. Yang awal bicara pada Sato.
“Lalu, apa?”
Orang itu maju sedikit. Membuat Sato sedikit terperanjat. Matanya tampak menatap Sato tajam. Mata besarnya itu.
Lalu, orang itu tampak mengangkat tangannya. Sato terkejut. Melihat gerakan pelan tapi tegas itu.
Orang itu menunjuknya.
“Jangan pura-pura tidak tahu!”
“Kau anak muda. Sudah salah langkah dengan berusaha menghalangi jalan kami!” ucap orang itu.
“Apa?!” Sato tak menyangkanya.
“Sementara, kita berpisah dulu!”
Wuuush!
Tampak, mereka semua tiba-tiba tak ada. Sato pun merasa heran dan mencari mereka. Lampu di posisi mereka tadi. Tampak menyala bergantian sampai ujung yang Sato belum jelajahi.
“Apa?!”
Esok harinya.
Sato pun mendengar bunyi.
Drrrt drrrt drrrt!
“Ugh.” Saro tampak hanya melenguh di tempat.
Drrrt drrrt drrrt!
Sato masih abaikan bunyi itu.
Lalu perlahan suara itu pun semakin jelas.
“Sato Kazumi!”
“Sato Kazumi!”
Sato terbelalak dari tidurnya. Mungkin.
“Sato Kazumi!”
“Sato Kazumi!”
Sato menatap tak percaya pada hal itu.
“Kau!” ucapnya tak menyangka.
Terlihat, ada seorang wanita berambut merah muda panjang. Dia menggunakan gaun berwarna senada dengan mahkotanya itu. Bibirnya tampak dipoles berwarna cerah.
Dia menatap Sato.
“Sato Kazumi! Tolong segera-“
Sring!
Sato membuka matanya. Kini dia benar-benar bangun mungkin tadi itu mimpi. Dia mencoba bangkit. Dia pun mematikan pnselnya yang bergetar dari tadi. Membangunkannya.
Dia mengelus kepalanya itu. Tampak Sato pun masih linglung dan belum tahu apa-apa.
‘Apa itu tadi?’ batin Sato bertanya-tanya.
Sato pun bergegas. Dia kini mulai ingat kejadian malam tadi. Dia sepertinya dibuat pingsan oleh seseorang.
Flasback.
Setelah melihat kumpulan itu tak ada. Kemudian Sato merasakan sesuatu. Entah kenapa tiba-tiba dia bisa melakukan sesuatu.
Sato melihat suatu energi yang sangat panjang. Berwarna bermacam dan gabungan itu. Mata Sato tak percaya.
‘Kenapa ini? Kenapa aku bisa melihat jejak sihir mereka?’ batin Sato tak mengerti.
Sato melihat cahaya itu tampak panjang dan sepertinya berasal dari kumpulan orang tadi. Posisi sumbernya Pass di tempat mereka tadi. Bahkan ada yang ada di depan Sato dekat.
‘Apa ini jejak orang-orang itu?’ Batin Sato.
‘Tak salah lagi. Kemungkinan mereka semua adalah penyihir, kumpulan energi ini. Iru adalah energi posistif manusia yang mereka olah menjadi kekuatan’ batin Sato.
“Baiklah, kalau beg-“
Flasback off.
Hanya tu yang dia ingat. Kini, Sato pun merasa aneh. Dia tahu di mana itu. Dia sempat tahu arah akhir garis itu.
Itu sudah merupakan bukti kuat. Kemungkinan orang-orang itu ada di sana.
“Baiklah,” ucap Sato yang sudah berada di atas sepedanya itu.
Wuush!
Dia melesat.
‘Tunggu aku Sayugo Fernie’ batin Sato bersemangat.
Wuuush!
Sato melewati jalanan itu lagi. Kini, keadaan sudah normal tak aneh semalam tadi. Sato keluar setelah jam 18.00 tepat.
Waktu itu harusnya masih ramai di kota ini. Namun, keadaan sangat sepi. Sepertinya itu adalah ulah semua orang itu.
Wuuush!
Sato terus meluncur ke depan sana. Tampak, dia mengayuh keras. Membuat dia sangat cepat ke tempat yang kemarin malam.
‘Sialan.’
Sato terus melaju.
Cklak!
Kini Sato tampaknya menuju ke suatu tempat. Melewati gang sempit jalanan sempit nan sepi itu.
Cklak!
Dan kini Sato tampak berhenti.
Deg!
‘Ada yang membuatku berhenti tadi’ batin Sato. Sebelumnya Sato merasakan sesuatu. Dia merasakan kekuatan yang membuatnya merasakan bayak orang di sana.
Tap!
‘Sekitar 50 orang. Sebenarnya ada 90 orang. Tapi sisanya baru saja pergi dari sana. Ke markas mereka di dimensi sihir’ batin Sato berpikir serius.
Entah dari mana Sato dapat mengetahuinya. Sato pun mulai untuk bergerak. Namun, tiba-tiba ada mobil yang lewat. Sepertinya berasal dari tempat itu.
Untunglah mobil itu lewat saja. Mereka sepertinya mengabaikan atau mungkin tak melihat Sato yang berdiri tadi. Sato bahkan sedikit menghalangi jalan sempit itu. Membuat Sato bergerak cepat.
Namun, noda cipratan debu dari gesekan roda mobil itu. Menempel di tubuhnya. Sato mengabaikan itu.
’25 orang keluar dari sana. Jadi di dalam sana tinggal setengahnya saja’ batin Sato. Dia pun mengangguk memantapkan diri.
“Baiklah,” gumamnya semangat.
Sato pun mulai maju perlahan. Mengendap endap di jalanan itu. Tampak di sini sepi. Sato terus ke sana.
Tap tap tap tap tap.
Sato pun melihat bangunan itu. Dia berada tak jauh. Masih di jalanan sempit. Dia mengintip di balik bangunan kecil itu.
‘Sepertinya aman ya’ batin Sato.
‘Tidak, mereka itu sepertinya penyihir’ batin Sato.
Sato pun melanjutkan perjalanannya ke depan sana.
Tap tap tap tap tap tapt pa!
Sato terus berjalan pelan. Pura-pura sebagai masyarakat atau orang biasa. Dia memakai topi hitam yang bisa menutupi wajahnya dari beberapa kamera pengawas di sana.
Tap tap tap tap-tap tap tap tap!
Sato sedikit menyendat perjalannya itu. Tembok putih dan nampak tak terlalu dijaga ketat. Beberapa bangunan lain juga kosong. Hanya bangunan itu yang Sato hampiri. Mungkin bangunan itulah.
Tap tap tap tap tap tap!
Sato kemudian menaiki tangga itu. Dia terus menaiki tangga yang tak terlalu banyak dan tinggi itu.
Tap tap tap tap tap!
Sato lalu melihat di sana. Hanya ada ubin dari material sederhana dan berkapur. Lalu, Sato pun mulai membuka pintu besar nan hitam itu.
Cklak!
Tampak, pintu itu sangat keras dan besar untuk di geser. Sato bersusah payah di sana.
“Ugh!” lenguhnya keras.
Bersambung.