
Episode 82
Sang Onpipan itu kaget mendengar mereka. Mendengar tawa itu. Semua orang yang berpakaian hitam itu. Tampak sedikit memperlihatkan wajah mereka dari tudung mereka.
Sang Onpipan terlihat marah. Mengeraskan kepala tangannya. Dia tampak tak terima.
“Hahahahahahahaha!” tawa mereka semua.
“Hahahahahahahaha!”
Sang Onpipan itu pun kesal.
“Kalian sudah mengkhianati kami!”
“Kurang ajar!”
Tampak, sang Onpipan itu maju. Sepertinya akan gunakan kekuatan sihirnya itu. Melesat ke arah kumpulan itu.
Wuuush!
“Kalian semua! Rasakan-“
Namun, Onpipan itu kaget akan sesuatu.
Blaaaaar!
Ledakan terjadi. Namun, pesawat itu tampak melenggang bebas seperti tak terjadi apa-apa.
Tap!
Seorang Onpipan itu tampak terluka. Lalu, sedikit-demi sedikit dia sadar. Lalu, membelalak saat melihat sekitarnya.
Dia bukan di dalam pesawat lagi. Beberapa saat kemudian dia pun kembali berjalan tertatih dengan memikirkan kejadian yang baru dia alami.
‘Sial’ batinnya.
Reggie tampak masih di kantornya. Meluhat monitor dan layar laptop kerjanya itu. Beberapa orang juga sepertinya. Bekerja dan lakukan hal-hal manajemen lainnya.
Lalu, tampak dia sedikit terkejut. Di latar miliknya tersiar lagi. Video tentang kegiatan perusahaanya itu.
“Saat ini, Onpipan terlihat sibuk. Namun, semua itu palsu. Uang dibuang untuk bisnis namun, menyogok semua orang agar tutup mulut.”
Caption video itu. Membuatnya agak geram. Namun, dia tetap tenang. Meelihat ke bawah. Serasa menyesal dengan sesuatu.
Serelah itu di tempat lain. Tampak Sayfull kini berjalan pulang dari sebuah tempat. Membuka mobilnya dan mengarungi jalan dengan kendaraan mewah itu.
Tampak, mobilnya itu sedikit penyok. Karena terserempet dengan sesuatu. Sayfull tampak kesal dengan itu. Menatap kendaraan yang lebih besar dari miliknya itu.
Lalu, tak sampai situ. Nampaknya kini mobilnya seperti dilempari sesuatu.
Brak! Brak! Brak!
Tampak, hal itu membuat banyak sekali penyok di badan mobil mewahnya itu.
Tampak marah. Namun, Sayfull berhasil menahannya. Dia bahkan melihat semua orang yang ada di jalan menatap mobilnya itu dengan tatapan hina.
‘Dia’ batin Sayfull.
Brrrrrrrrm!
Lalu, tampak kini Marylin. Terlihat puas berdiri di atas sebuah dataran tinggi itu. Melihat ke hutan itu. Entah ada di mana dia. Dunia sihir atau dunia lain.
Matanya tampak puas. Namun, sebenarnya dia tak sendirian. Terlihat ada seorang tak kasat mata di sampingnya. Namun, sebenarnya tak terlihat juga. Karena dia tak terlihat.
Marylin menatap ke dasar sana.
“Persiapan kita akan dimulai!” ucap sosok tak kasat mata itu.
“Benar!” tanggap Marylin. Dia menatap ke bawah. Dengan hanya satu mata yang terbuka. Sisanya tertutupi tudung hitam kemerahan miliknya itu.
Lalu, tampak dia pun hilang dari sana dan mungkin sosok itu juga sudah tiada.
Tap tap tap tap tap tap!
Sayfull pulang ke rumahnya. Namun, ada banyak orang yang berada di gerbang masuk. Mungkin itu para pembenci.
Sayfull lalu melihat kedatangan mobil mewah lainnya. Yang juga terhalangi oleh kumpulan itu. Melirik dan dia tahu mobil apa itu.
Brrrrrrrm!
Tampak seseorang keluar dari sana. Berambut kuning dengan pakaian kantor yang rapi dan mewah. Reggie Onpipan.
Sayfull mencoba bertahan dari kerumunan di dalam. Melihat ayahnya yang keluar untuk memberi arahan pada semua orang ini.
Beberapa media meliput di sana.
“Ya, pemirsa. Terjadi kericuhan di depan rumah kediaman kepala klan Onpipan. Usut punya usut—“
“Sialan!” ucap keras Sayfull di dalam.
Lalu, terlihat ayahnya itu mencoba menjelaskan semuanya. Namun, mereka tak percaya. Semua masyarakat sudah tak percaya lagi pada keluarga Onpipan.
Reggie tampak kesal. Dia menggeratakkan giginya di sana.
“Tidak ada hal lain lagi!” teriak satu orang itu.
“Kami sudah banyak bukti!”
“Bisnis kalian harus ditutup lalu keluarga kalian harus dipenjara!”
“Ya benar!”
“Ya, benar!”
Setelah beberapa saat kesulitan. Akhirnya mereka bisa masuk ke dalam sana. Ada beberapa aparat kepolisian yang mencoba menenangkan warga.
“Ini sudah sangat keterlaluan pak!” ucap satu polisi itu.
Reggie hanya diam membisu. Masuk ke dalam rumahnya itu.
Setelah itu malam berlalu.
Reggie meengajak semuanya untuk pindah dari dunia ini. Namun, Sayfull putranya berujar.
“Ayah, tidak mungkin!” ucap anaknya itu.
Dengan menatap tajam. Sang ayah pun menanyakan maksud dari putranya.
“Apa maksudmu? Sayfull?”
“Ayah, di sana aku temukan beberapa berkas-berkas sihir. Semuanya menyangkut semua informasi kita ini!” jawab Sayfull lantang. Memberanikan diri menatap ayahnya itu.
“Jadi begitu!”
Tampak Reggie kini berjalan ke arah sesuatu.
“Sepertinya kuta harus bertindak,” ujar seseorang lainnya.
Reggie tampak setuju.
“Yah benar, kita harus bertindak secepat mungkin mulai dari sekarang!” ucap Reggie dengan marahnya yang sudah sampai di ubun-ubun.
Mereka pun cuma hanya bisa di dalam kediaman utama. Reggie tampak memimpin rapat seperti biasanya. Bersama dengan tengkorak-tengkorak itu. Yang mereka panggil ketua atau ayah.
“Reggie, tak ada waktu lagi! Kita harus melawan balik!” ujar satu tetua.
Reggie tampak berpikir keras.
Semua orang juga setuju dengan itu.
“Kita harus melakukan perlawanan jika tak ingin seperti ini,” ujar satu orang di sana.
Reggie masih bimbang. Berpikir keras di sana.
“Setelah terjadi angin itu. Mereka mungkin bermaksud untuk melakukan ini semua. Semuanya tampak sia-sia karena kekuatan itu hanya bisa kita gunakan, Onpipan!” ucap satu tengkorak lain.
Reggie pun menghela nafas kasar. Dia lalu melihat ke atas. Semuanya tampak mulai berubah untuknya mulai saat ini.
“Ya, aku setuju. Kita harus menyerang orang-orang itu!” ucap Reggie akhirnya.
Lalu, Reggie dan kelompoknya itu. Kini muaki bersiap dengan pakaian sihirnya itu. Mereka sepertinya akan membunuh orang-orang itu.
Tampak, kini sang tetua-tetua itu. Rapalkan sebuah mantra yang sangat panjang. Setelah itu.
Blaaaaar!
Tampak, sebuah pusaran tercipta. Pusaran angin merah itu seperti melubangi langit di atas sana. Lalu, ada sedikit muncul petir yang menggelegar.
Jdaaar! Jdaaaar!
Lalu, tampak setelah itu. Mata semua tetua pun mulai bersinar. Setelah itu datang semua orang ke arah itu. Termasuk Marylin.
Tap tap tap tap!
Mereka berdiri di halaman sana.
“Hahahahaha!” tawa seseorang berjubah hutam dengan wajah tertutupi kain itu. Badannya besar sekali.
Marylin juga sudah siap di sana. Menggunakan pedang sihirnya itu. Yang besar.
“Heeh!”
Wuuush!
Gelombang kekuatan sihir dari atas sana. Tak terlalu berpengaruh pada mereka. Namun, untuk semua orang di seluruh dunia. Itu sangat memabukkan. Bahkan, membuat mereka tak sadarkan diri.
Wuuush!
Lalu di atas sana muncul tengkorak-tengkorak iru. Mereka ada 20 kepala tengkorak.
Marylin dan yang lainnya mulai antusias. Lalu, muncul Reggiie dan semua klan Onpipan di depan semua tengkorak itu.
“Kita semua sudah impas! Kalian gunakan sihir angin selatan dan barat untuk membuat kami kebingungan. Sebaliknya kami gunakan sihir angin yang sama untuk membuat kalian semua mebsdatangi kami!” ucap satu tengkorak di sana.
“Heh!” Marylin tampak tersenyum.
Terlihat di dalam ruangan tadi banyak sekali darah berceceran. Lalu, ratusan mayat dari keluarga Onpipan. Semuanya mungkin berhubungan dengan kekuatan sihir angin selatan dan barat ini.
“Bailalh kalau begitu, selanjutnya!” ucap sang pemimpin dari kubu lainnya tu. Dia mengangkat tangannya. Tampak sesuatu muncul di atas sana. Bola besar yang tampak menghalangi matahari.
‘Dengan begini, sihir kita akan meningkat’ batin orang itu.
“Kita akan selesaikan misi kita di sini!”
“Ya!”
Lalu, tampak kini puluhan orang dengan pakaian hitam itu. Berdatangan dari arah belakang mereka. Tampak bersiap tempur di sana.
‘Sialan’ batin Sayfull kesal.
“Jadi mereka juga ikut dengan orang-orang ini ya!” ucap kesal ayah Sayfull. Diammelihat banyak orang-orang seram yang membawa senjata tajam yang sangat sadis.
“Heh!”
Lalu tampak lubang itu makin besar. Setelah itu. Lubang angin itu menghempaskan gelombang besar ke mana-mana.
“Hahahahahaha!” tawa satu tengkorak di sana.
Wuuush! Wuuush! Wuuush!
Itu sihir yang bisa menghambat pertarungan musuh mereka. Karena bagi pihak Onpipan. Mereka tak masalah dengan gelombang angin yang kuat ini.
Wuuuush!
Gelombang itu bergerak sangat acak dan ke segala penjuru.
Setelah itu!
“Hyaaaaaa!”
Pertempuran besar pun terjadi.
Marylin bersiap dengan pedangnya itu. Semua orang lari mendahuluinya.
“Aku akan membasmi kalian! Onpipan!” teriaknya kesal. Bahkan tudungnya kini terbuka penuh.
“Hyaaaaaaaa!”
Tampak pertempuran itu mulai kini.
Semuanya mulai gunakan semuanya.
Krassh Jrasssh jrassh!
Darah bercucuran dari tebasan pedang itu. Semua pihak mendapatkan luka-luka yang serius.
“Aaaah!”
Tampak, Sayfull gunakan Rognoins itu. Membantu semua klan yang ada di dekatnya.
“Ayo jangan lengah!” ucapnya memimpin.
Reggie tampak sedang membantai dengan kekuatan fisiknya saja. Namun, itu sangat efektif.
Duaaag jduaaagh hduaaafh!
Satu orang coba memukulnya dari belakang. Namun, dia memukul lebuh dulu dengan mudah ke arah belakang itu.
“Cih!”
Lalu, datang dua orang dari depan. Dia pun menahan dua pedang sihir itu. Menatapnya nanar.
Lalu, menendang keduanya sembari melompat. Untuk mengenai keduanya bersamaan.
“Heh!”
Datang beberapa orang lagi. Dia dengan lihai membantai semua orang di sana.
Jduaagh jduaagh jduagh jduaaagh!
Pukulan dan tendangannya sangat fatal. Mereka tampak seperti patah tulang di sana. Semua korbannya tampak tak bisa berdiri setelahnya.
Serelah itu tampak memukul orang terakhir. Membuatnya mengeluarkan darah dari mulutnya.
Brak!
Tap tap!
Datanglah dua orang berpakaian hitam yang mungkin lebih kuat dari yang pernah ia lawan beberapa detik yang lalu.
Sang Onpipan itu menatap dua orang itu yang sudah keluarkan tongkat sihir biru itu.
“Beraninya kalian menggunakan sihir milik kami!” ucap marah Onpipan itu.
Namun, dua orang itu tetap diam waspada. Tampak ayah Sayfull yang masih berseragam kantor itu. Mulai mengacak-acak kerahnya. Sepertinya mulai serius.
Dia menggerakkan lehernya itu. Ada sesuatu yang tersembunyi tersentuh olehnya.
“Heh!” dia tersenyum miring.
Lalu, majulah dua orang itu.
Dua orang itu memukul bergantian dengan tongkat mereka. Ada yang panjang ada pula yang ada sesuatu bentuk lain di ujung tingkat itu.
Onpipan itu menghindarinya. Berkelit dan kecepatan mereka tampak setara.
Blaaar!
Bahkan kekuatan tongkat itu menghancurkan daratan milik kedua belah pihak.
Hap!
Tampak, Onpipan itu mendarat di atas atap sana.
Tampak dia menjilat noda darah yang menempel di bawah bibirnya itu.
Bersambung.