Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Kekacauan lagi!



Episode 40


Tampak. Keadaan hening kembali tercipta. Hanya suara gemerisik air dari kakinya yang paling bisa di dengar pada malam itu.


Suara hewan-hewan pengerat dan serangga-serangga malam tampak terdengar. Namun, sosok Sato masih terlihat mengawasi dan fokus di daerah perairan itu.


Sedikit melirik beberapa kali. Namun, Sato belum temukan satu hal apa pun.


Pedang besarnya itu, nampak bersinar kebiruan.


Tap tap tap tap!


Sato mencoba mundur. Sembari melihat ke sekitarnya. Dia melangkahi mayat monster sebelum ini.


Lalu tiba-tiba ....


Sato rasakan tangan monster itu memegangnya.


Dia lalu menebas ke bawah.


Groaaaarg!


Ternyata monster lain. Monster itu membuat lubang di daratan dangkal dari rawa ini.


Melompat ganas sekali.


Groaaaarg!


Sato tampak menahannya. Nampak, terlihat wajahnya terus mendekat ingin menggigit Sato.


"Sato kau di mana?!"


Seru beberapa orang dengan santer di sana.


Sato mendengarnya namun, dia sedikit kerepotan. Karena monster ini menahan sekaligus menempel di badan pedangnya.


"Ugh."


Dia melenguh kesulitan.


"Sial!"


Sato mencoba mundur. Lalu tiba-tiba.


Krasssh!


Monster itu melemah dan jatuh dari pedangnya.


Brak!


Terlihat, seseorang dan cahaya sudah menyinarinya.


"Oh, kau sampai ke sini Sato?" ujar seseorang.


Sato tampak kesilauan. Dia menutup sinar santer itu. Sepertinya yang datang beberapa rekannya yang lain.


Kini, Sato melihat bahwa yang ada di dekatnya adalah megamu.


Megamu, terlihat menyimpan pedangnya ke sarungnya itu. Karena, tampak cahaya biru panjang yang dia pegang bergerak dan lenyap seperti dimakan sesuatu.


"Aaaah, silau!" teriak Sato.


"Hahahahaha, ayo Nak. Kita kembali," seru sang guru mereka. Chintya.


Setelah malam itu, Sato dan yang lainnya terus mencari semua manusia serigala yang tersisa. Mereka beberapanya ada yang kabur dan bersembunyi.


Kini, Sato sudah berada di sebuah kediaman. Mungkin, mereka akan menginap di tempat itu.


Lalu, tampak Sato dan yang lainnya. Kini dalam proses belajar mengajar.


"Jadi, semua orang yang bisa dikatakan adalah pembasmi monster yang umum. Yakni, destroyer. Para destroyer beberapanya punya senjata dan kekuatan unik masing-masing," jelas Chintya mengajar mereka.


"Ooooh."


"Sebagai contoh, Billy punya jam tangan serba guna."


Tampak Sato menunjukkan jam tangan Billy yang kini, merubah jadi jam alarm biasa. Setelah mendengar penjelasan Chintya.


"Lalu, kekuatan memanggil benda dari dimensi lain seperti Bernard."


"Lalu, kekuatanmu itu apa guru?" tanya Sayugo polos.


Chintya tampak menatap satu gelangnya itu.


"Ini adalah kekuatan yang kudapatkan dari perasaan senang, susah mau pun sedih," jawab Chintya.


"Maksud guru?" tanya Sayugo kembali.


"Aku mendapatkan 4 kekuatan secara berkala dalam perjalanan hidupku sebagai destroyer."


"Oooooh."


Sato nampak berpikir. Namun, sesuatu tiba-tiba berbunyi dari dering jam wekernya itu.


Kriiiing!


"Sato malas! Sati malas!" bunyi deringnya.


Membuat sontak mereka selain Sato menertawakannya.


"Hahahahahahaha."


"Jam itu sangat jujur!"


"Yah, tidak diragukan lagi. Ahahahahahaha!"


Sato memandang guru dan rekannya dengan mata tidak sukanya. Lalu, melihat jam itu dam memencet tombol off-nya.


"Huft."


Dia menghela nafasnya. Lalu, saat dia akan beranjak!


"Kriiiiiing! Sato bodoh! Sato bodoh!"


Jam itu berbunyi lagi.


"Pffffft. Ahahahahahahaha." Fernie dan Sayugo tertawa terpingkal pingkal.


Sato pun kesal pada jam itu.


"Aaaaah, kenapa harus menjadi jam weker serba guna seperti ini sih!" teriaknya frustrasi.


Esok tiba.


Mereka kembali ke markas.


Kini, kembali beristirahat di markas itu. Bersama Billy dan guru mereka.


"Apa misi kalian berjalan mulus?" tanya Billy. Mereka tampak dalam acara makan siang bersama.


Sato menghela nafas bosan. Lalu .....


"Kriiiiiiiing! Sato malas! Sato malas!"


Sontak Billy pun tertawa terkejut.


"Whahahahahahaha, sepertinya alatku itu malah menjadi jam weker yang nampaknya berguna untuk kepribadianmu Sato," ucap Billy.


Semuanya juga tertawa sambil makan. Sayugo bahkan tersedak.


Saat dia meminta air kepada Sato. Sato lalu menyiramkannya padanya. Membuat tawa meriah di tempat itu.


Beberapa orang tak mempermasalahkan mereka. Karena, mereka satu-satunya remaja atau yang paling muda di organisasi ini.


Setelah itu. Sato kembali belajar. Selain belajar tentang semua hal yang berkaitan monster dan ***** bengeknya.


Sato lalu diharuskan belajar tentang akademik umum juga. Sama halnya saat dia harus bersekolah di akademi sihir.


Bedanya, Sato tak perlu berangkat bergantian dari satu sekolah ke sekolah lain tiap beberapa hari atau minggu itu.


Sato kemudian menghela nafas bosannya. Tampak, alarmnya juga berdering lagi.


Dia pun memilih ke kamar tidurnya. Akan tetapi, jam itu bisa bergerak mengikutinya.


"Sialan!"


Sato lalu berbaring dengan ditutupi bantal olehnya sendiri. Namun, beberapa jam berlalu jam itu masih berdering menyebalkan.


Hingga, hampir pagi hari. Akhirnya Sato bisa tidur dengan nyenyak.


Esok harinya.


Tap tap tap tap!


Sato tampak berlari ke kelas. Dia sepertinya terlambat.


Brak!


Beberapa temannya tampak tak ada di kelas. Membuatnya sangat penasaran.


Namun, keadaan di sekitar kelasnya begitu sangat sepi.


"Apa sesuatu terjadi lagi?" tanya Sato terlonjak.


Di suatu kota.


Tampak, ada suatu helikopter yang terbang di atasnya.


Lalu helikopter itu tampak merekam sesuatu. Bertuliskan 'One tv'


"Pemirsa yang budiman. Kali ini, kita disalurkan pada kamera milik pemerintah pertahanan."


"Tampak puing-puing bangunan besar di pusat kota ini tampak mulai runtuh."


"Oh, tidak!"


Seru seseorang melihat detik-detik ambruknya suatu gedung itu. Semua orang di tempat lain. Memandang layar tv besar di sisi gedung itu.


Menampilkan berita besar saat ini yang menggemparkan semua orang.


"Serangan di pusat kita langsung. Pelakunya masih misteri!" ucap seseorang yang berada di dalam helikopter yang baru saja tiba ke lokasi yang dimaksudkan.


Tampak di dalamnya. Sayugo dan Fernie. Sayugo lalu melongok keluar helikopter.


Dia melihat runtuhnya bangunan tinggi itu.


"Luar biasa!" ucapnya spontan.


Dia juga sepertinya melihat sesuatu dari atas sana. Setelah gedung itu runtuh.


"Itu!" Tunjuknya. Menarik perhatian orang-orang di dalam sana.


Tampak, ada satu orang yang sepertinya sangat kekar. Dia hanya memakai celana pendek seperti monster hijau di film-film itu.


"Hulk! Ada Hulk!" seru Sayugo tak masuk akal.


Fernie lalu melihat layar yang ditampilkan oleh saluran tv itu. Terlihat jelas sosok itu. Tampak megamu langsung mengambil alih.


"Orang itu adalah musuh yang sangat kuat. Sebanding dengan yang kemarin," ucapnya.


"Terlebih lagi ..." ucap seseorang yang sudah bersiap terjun dari atas sana. Karena terlihat dia memasang parasut yang masih terlipat ke punggungnya.


Dialah Chintya.  Menatap ke bawah. Sebelum itu dia mengatakan sesuatu.


"Dia adalah pembunuh Liam!"


Wuuush!


Tampak kini Chintya sudah turun dari ketinggian lebih dari 100 kaki.


Wuuuushhh!


Dia terus turun. Lalu, di jarak tertentu yang sudah dia pahami.


Srrak!


Dia menarik tali pembuka parasut itu.


Brak!


Parasut pun mulai membuatnya melayang  dengan perlahan di udara itu.


Tampak, dia sudah mulai turun secara perlahan bersama parasut itu.


Tap!


Dia turun di sekitar monster manusia itu. Dialah Shimun.


Flasback.


"Sago sepertinya tumbang. Jago, Shimun," ucap Mugo.


Jago dan Shimun yang tengah bersandar itu. Kaget. Mereka membulatkan matanya itu.


"Ya, nampaknya dia dikalahkan oleh para manusia-manusia dari dunia lain," jawabnya lagi memperjelas.


"Aku tidak peduli!" ucap kasar seorang berkacamata yang kemudian berlalu pergi dari tempat yang hanya disinari beberapa obor lilin.


Namun, semuanya nampak tak peduli juga padanya.


Shimun nampak sedikit ratapi kematian temannya itu. Mugo yang berambut biru tampak ingin pergi lagi dari tempat keduanya.


"Rencana kita harus berhasil. Anggap saja tumbangnya sago adalah jalan untuk memperlancar rencana matang kita!"


Muga pun pergi.


Setelah dia pergi. Tampak jago kesal.


Dia menggebrak lantai itu, menunjukkan rasa kesalnya itu. Sementara satu rekan lainnya. Shimun nampak diam.


Lalu, dia mengingat suatu perkataan dari sago.


"Tubuh naturallymu, bisa membuatmu bertahan lebih lama di dunia itu."


Setelah  mengingatnya. Dia lalu mengambil sebuah botol yang sudah lama ia simpan di semuanya itu.


Itu botol sihir yang bisa membuat monster dunia lain sepertinya bertahan dalam waktu 10 detik di bawah sinar matahari.


Lalu dia sepertinya sudah memutuskan sesuatu.


Flasback off.


Shimun,  kini sudah berada di negara Albania. Tempat tumbangnya Sago.


Setelah dia menumbangkan salah satu gedung tertinggi di kota ini.


Kini, dia dihadapkan pada seorang manusia yang sepertinya sangat marah padanya. Namun, Shimun tak peduli lagi. Dia hanya fokus pada tugasnya saja.


Tap tap tap tap!


Chintya nampak sudah bersiap dan memasang gelang di sekujur tubuhnya. Di kedua tangan, kaki, pinggang dan, leher.


Dia lalu berjalan ke arah Shimun yang kini sudah menyadarinya.


Chintya berjalan dengan tatapan amarah yang masih dia tahan sepenuhnya.


Kini, dia sudah berjarak sekitar 5 meter dengan Shimun yang masih dalam mode awalnya. Shimun menatap wanita itu.


"Kini, aku akan menunjukkan sesuatu kepadamu,"  ungkap Chintya.


"Grey 5!"


Namun ....


Jduuuuum!


Suatu robot tiba-tiba hadir di tengah-tengah mereka.


"Bombamen?!" seru Chintya.


Tampak robot itu mengangguk pada wanita 20 tahunan itu.


Robot itu jauh lebuh besar dari Shimun. Shimun pun bersiap-siap.


Shimun tampak kini antusias. Karena musuhnya jauh lebih besar darinya. Dia menepukan telapak tangan dan tinjunya.


Terlihat bersiap dan tidak sabar.


Keduanya maju. Chintya menjauh dari keduanya.


Lalu, pertarungan mereka sepertinya tak di sorot oleh media. Karena rahasia organisasi ini harus dijaga.


Shimun tak sabar. Dia bersiap sedikit menunduk.


Robot itu dengan datar menatapnya.


Lalu .....


Grak grak!


Keduanya maju.


Jduuuuam!


Meereka adu dorong.


"Hyaaaa!"


Sepertinya seimbang.


Duaaaar!


Gelombang sedikit mereka hasilkan dari kekuatan besar itu.


Lalu, kini tampak di dalam satu helikopter. Ada satu laki-laki yang merupakan orang kuat, lalu satu wanita cantik yang juga sama.


Wanita itu berambut sedikit keriting panjang dan mengkilat warna hitam. Dia sepertinya masih muda. Mungkin 18 atau 19 tahunan.


Laki-laki itu melihat ke arah pertarungan.


"Sudah ada Bombamen yang ada disana!" ucap laki-laki yang juga sepertinya baru 17 atau 18 tahun itu. Dia seperti para pekerja biasa. Hanya saja pakaiannya agak pendek dan berwarna putih. Tatapan tajamnya sangat tajam. Dia setinggi Sato walau dia lebih tua darinya.


Tampak wanita tadi sedang mengucir rambut panjangnya. Dan sedang mengenakan satu pita di kunciran rambutnya itu.


"Yah, padahal aku sudah berdandan rapi," ucapnya kecewa.


Bersambung.