
Episode 42
Tampak Sato masih melihat pertarungan sengit antara Bombamen melawan Shimun.
Lalu, di luar sana. Beberapa orang berkumpul dengan tegang. Menunggu-nunggu kejadian setelah semua orang mengungsi dari negara Albania. Bahkan satu negara itu kini sudah sepi dari peradaban.
Ada Chintya dan dua murid serta beberapa orang berjas dari organisasi rahasia mereka. Chintya tampak santai, perempuan itu meminum sesuatu dari kaleng yang dia pegang.
Sayugo nampak khawatir saat ini. Bahkan, sampai tak menyadari satu teman lainnya tak ada di tempat itu.
Fernie yang dalam kesadaran roh putri Pegasus, megamu. Tampak berdiam duduk saja.
Semuanya tampak membatin dan entah apa yang mereka semua pikirkan saat ini.
Tempat lain.
Terlihat, Bernard di suatu tempat. Tentunya masih bersama haik.
Mereka berjalan di pinggir jalan umum sepertinya. Dengan pakaian formal. Keduanya jalan-jalan di tempat yang sudah disediakan.
Bernard dengan rambut hijaunya itu. Meminum minuman kaleng seperti Chintya di tempatnya itu.
Sementara orang lain di sampingnya. Dia tidak seperti Bernard. Dia hanya berjalan tanpa apa pun di tangannya.
Mereka berdua berjalan mengikuti jalur itu. Bernard meminum minuman kalengnya itu. Sembari, dia melihat ke arah sekitarnya.
Setelah mereka berpapasan dengan sebuah ember besar yang terletak di pinggir sana. Dengan sigap. Secara mengejutkan Bernard pun membuang kaleng kosong itu ke arah lubang ember besar yang bertuliskan "Tempat sampah organik".
Haik sama sekali tak peduli. Terus berjalan sambil beberapa kali melihat layar yang muncul di jam tangannya.
Tap tap tap tap tap!
Keduanya berjalan di jalan trotoar itu. Matahari tepat di atas keduanya. Lalu, dari bangunan-bangunan yang amat tinggi. Serta suasana kotanya yang sedikit berbeda dari tempat-tempat lainnya.
Sepertinya mereka berada di salah satu negara di Asia tengah. Bernard melihat masyarakat yang sepertinya tengah berkumpul di sana.
Tampak, ada suatu mobil Box besar yang ada di depan semuanya. Lalu, beberapa orang membagikan sesuatu yang diambil dari dalam mobil Box besar itu.
Bernard sedikit kagum. Sepertinya mobil itu tampak membagikan makanan untuk sesuatu.
"Apa ada promo pizza lagi? Asyik!"
Kata-kata Bernard yang kekanakan membuat haik geleng kepala sejenak.
Lalu kejadian yang sudah diduganya pun terjadi.
Mereka berdua ikut mengantre di belakang semua orang itu.
Tempat lain.
Kini, di suatu tempat. Ada satu orang kuat lagi dari organisasi yang tampak berada di dalam tempat yang sepertinya berada di atas bukit yang curam.
Bahkan, tepat di samping ruangannya saat ini. Tak terlihat dataran apa pun. Seperti jurang, namun sangatlah tinggi sekali.
Orang itu yang beberapa kali mengobrol dengan Bernard dan Manda di markas setelah kalahnya salah satu musuh kuat mereka. Sago.
Orang itu, terlihat sudah sangat berumur. Mungkin lebih dari 40 tahunan. Ada bekas luka di wajahnya.
Dia tampak mengotak atik sesuatu dari tadi. Dia sibuk mengurusi urusan itu.
Tak tak tak tak tak!
Dia dengan cermat melakukan pekerjaannya saat ini. Tampak matanya tak teralihkan dari arah depannya.
Dia terus mengutak atiknya. Hingga tak banyak dia melihat ke arah sekitarnya. Padahal, jendelanya terbuka dan menampilkan pemandangan sore hari yang cukup indah untuk dinikmati.
Tak tak tak tak drrrrt!
Terlihat, kini dia seperti membuat atau memperbaiki sesuatu yang berbentuk seperti mesin atau robot.
Beberapa kali, saat tangannya menyentuhkan jarinya ke mesin yang dia kerjakan. Beberapa ornamen seperti kabel-kabel kecil dan sesuatu yang panjang yang menjulur dari dalam tubuh mesin.
Tampak, bergetar-getar. Orang itu terus melakukan pekerjaan itu.
Tak tak tak tak!
Sudah entah beberapa menit dia berkutat. Namun, kini dia tampak membasuh keringat yang baru menetes di mukanya itu.
Dia sedikit bergumam mungkin karena lelah. Kemudian, dia terus melanjutkan pekerjaannya yang tertunda beberapa menit.
"Huft."
Tak tak tak tak.
Drrrt! Drrrrrt!
Bunyi-bunyi itu selalu terdengar di seluruh penjuru ruangan miliknya yang berada di tempat yang amat tinggi sekali bahkan terlihat jelas jurang curam di jendela miliknya yang serang terbuka dan lebar ini.
Tak tak tak tak tak.
Orang itu masih bekerja untuk beberapa menit. Di kamarnya itu. Terlihat ada beberapa pajangan. Namun, tak terlalu spesial.
Karena, semuanya seperti hanya bagian-bagian untuk urusan pekerjaan mesinnya. Seperti alat dan mungkin barang hasil kerjanya yang dia taruhkan di tempat itu.
Tak tak tak tak!
Namun, sepertinya ada atau benda yang amat berarti terpajang di belakang punggungnya.
Di belakangnya. Tampak, ada sebuah meja kecil tanpa kursi. Meja itu sepertinya dibuat dari campuran besi dan kayu.
Terlihat terlalu mengkilat. Lalu, tampak di atas meja. Terdapat sesuatu yang mungkin terlihat sangat berharga untuk orang itu.
Tak tak tak tak tak!
Sementara orang itu terus sibuk. Namun, wajah di belakangnya nampak sangat bahagia sekali. Orang itu juga terlihat mengabaikannya.
Tak tak tak!
Terlihat, wajah orang di belakangnya itu yang tersenyum senang. Namun, dia tak sendirian. Karena ada beberapa orang yang tampak tersenyum senang dalam ruangan itu tanpa suara sedikit pun.
Mungkin, takut membuat orang yang sedang sibuk bekerja ini terganggu. Orang itu terus bekerja dan beberapa kali berjeda untuk membersihkan keringat.
"Huft."
Kini, dia mengambil jeda sedikit agak lama. Setelah itu terdengar sesuatu dari mesin yang kini ternyata sudah lengkap lagi.
"Nging!"
Bunyi itu berseru dalam suara sedang. Namun, orang itu tak terkejut atau apa pun lagi. Dia, sepertinya lelah.
Keringat masih mengucur. Jendela itu sepertinya tak mampu menghilangkan panas dari dalam ruangan itu.
Tak tak tak tak!
Orang berambut cokelat itu terus bekerja. Walau dia sudah agak tua. Sepertinya semangatnya masih besar sama halnya seperti para pemuda.
Tak tak tak tak!
"Haaaah."
Dia membuang nafas beberapa saat. Namun tangannya itu masih setia bergerak di sana. Untuk bekerja terus saat ini.
Kini, setelah beberapa jam dia bangkit dari duduknya. Kemudian mesin itu yang berwarna hitam tampak melayang ke atas.
Sedikit mengejutkan. Namun, pria itu tak nampak kaget. Mungkin dia ternyata sedang membuat sesuatu yang sangat luar biasa.
Lalu, orang itu menyentuh benda terbang yang kini sudah nampak seperti punya alat optik dan beberapa hal di bawahnya.
Dia lalu sedikit memoles badan mesin kecilnya itu. Terlihat ada debu yang terkesiap. Kini, dia pun mengambil kain pembersih yang dicairi oleh sesuatu.
Kemudian, dia sepertinya berniat membersihkan mesin terbang itu.
Srak srak Srak srak srak!
Setelah itu, tampak mesin itu tampak sudah bersih dan sangat mengkilap. Beberapa hal di tubuhnya dapat dilihat dengan jelas.
"Genm Corparation."
Tampak, ada suatu lambang sesuatu di badan mesin yang melayang itu. Mungkin, sesuatu yang penting.
Lalu, orang itu menunjukkan rasa puas pada hasil kerjanya.
Kemudian, dia tiba-tiba berjalan ke arah jendela. Setelah itu, berdiri di pinggir jendela itu.
Dia akhirnya memandang keluar serelah sekian lama waktunya itu dihabiskan untuk bekerja. Pada saat itu, sore sudah hampir pudar.
Sepertinya, orang itu mencoba menikmati pemandangan sore di kediamannya ini.
Lalu, tak terduga juga. Tampak, mesin tadi terbang melewatinya tak terlalu cepat.
Lalu, benda itu tampak keluar dari ruangan itu. Orang itu menyadarinya dan tak terlihat rasa terganggu apa pun.
Orang itu masih tenang bahkan menatap biasa mesin terbang yang tiba-tiba hidup itu.
"Pergilah dan cari informasi," ucap pria itu tanpa intonasi.
Wuuuush!
Setelah itu, tampak kini seperti tahu apa maksud bicaranya manusia paruh baya itu.
Sang mesin tampak berdengung. Sepertinya terjadi sesuatu padanya.
Nguuung!
Bunyi itu masih terdengar lalu, suatu cahaya biru keluar dari sebuah lubang yang mengarah ke arah bawah dari mesin itu.
Beberapa ornamen seperti mata itu. Tampak sudah bersinar dari sebelum ini semua.
Nguuuuung!
Tampak, kemudian. Lubang itu terlihat sudah terisi cahaya biru penuh.
Kemudian ....
Brrrrrrs!
Seperti pendorong mesin. Saat cahaya itu berubah menjadi api yang mengobar berwarna biru.
Kini, mesin itu meluncur ke atas. Orang itu melihatinya kemudian.
"Hehe."
Senyumnya terukir. Melihat mesin tadi kini sudah menjauh ke arah sana setelah cukup tinggi dia terbang tadi.
Kini, orang itu masih menatap sisa waktu di sore hari itu. Sebelum menuju kepada kegelapan pada hari ini.
Tempat Bernard.
Malam itu, dia dan haik tampak duduk-duduk di suatu tempat yang lumayan meriah dan ramai.
Keduanya tampak seperti habis memakan sesuatu dan sampahnya masih mereka simpan di tempat itu.
Bernard duduk santai. Kaki panjangnya itu dia luruskan.
Haik, di sampingnya tepat.
"Di tempat ini, sepertinya sangat damai," ucap pria berkulit hitam itu.
Bernard yang kini berambut merah. Mengangguk setuju.
Dia terus memandangi masyarakat sekitar yang sepertinya tengah rekreasi di tempat.
Mereka membawa tikar sendiri. Lalu, beberapa buah hati mereka juga ada di sekitarnya.
Melihat ke depan. Keduanya mau tak mau menikmati suasana di tempat ini.
Mata haik dan Bernard terus terpaku memandang semua orang dan hal-hal damai di tempat ini.
Lalu, mata keduanya kini memancarkan sesuatu yang lain. Sepertinya mereka curiga.
Keduanya memandang ke satu objek itu.
"Bom? Jangan bercanda," ucap Bernard dengan nada bercanda itu.
Lalu, haik mengangguk. Tampak, di depan sana. Yang tampak kebingungan. Dengan jas dan koper besar hitamnya.
Bernard dan haik tampak memperhatikan dengan wajah datar. Seperti tak menyadari orang itu. Dengan kacamata hitam yang dipakai keduanya.
Kedua orang itu masih duduk di tempat umum itu.
Di sana. Tampak pria itu tiba-tiba pria itu membuka kopernya yang beris bom. Lalu, kemudian secara mengejutkan. Orang itu tampak menyandera satu orang di dekatnya.
Dengan bersenjatakan pistol dan bom itu. Dia sukses membuat semua warga histeris dan kini berhamburan dari tempatnya.
Orang itu tampak menembakkan pistolnya ke atas. Membuat semua orang jadi takut dan histeris. Semua anak-anak pun banyak yang terlantar.
Bersambung.