Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Surat Perang!



Episode 50


Di tempat Sato.


Dia sendiri masih melihat ke arah moneter bersama orang lain. Forg.


Entah bagaimana. Namun, keduanya tak mempertanyakannya.


Forg dan Sato tampak memandang serius nan tegang. Ke arah monitor di depan keduanya.


Melihat dengan tatapan yang sangat antusias nan penasaran. Sato dan Forg sudah beberapa jam ini tidak pernah mengedipkan mata keduanya.


Kini di tempat lain.


Tampak berjalan seseorang menggunakan pakaian sihir itu. Dia berjalan sangat sopan dan tak mengundang sesuatu yang merusak moral.


Tap tap tap tap tap.


Dia melangkah sopan di sebuah tempat yang mungkin sepi. Karena sepertinya suasana baru pagi menjelang siang.


Orang itu menggunakan pakaian khas para penyihir. Semua orang menyebutnya rompi penyihir.


Tap.


Dia lalu berhenti. Masih di lorong ruangan itu. Mungkin tujuannya akan ke suatu ruangan di dalam bangunan ini.


Matanya memandang ke depan. Tepatnya ke arah sedikit ke bawah dari lututnya. Orang itu tampak mengernyit.


Dia berambut biru dan nampaknya adalah Mugo. Pria itu memandang lantai lorong di depannya. Yang mana itu sama persis dengan ingatan Eldorick yang saat itu.


Kemudian, dia pun melihat sesuatu sosok yang terbang melintasi bangunan itu. Terlihat dari suatu kaca besar di atasnya.


Dia tambah tersenyum tampak dia tergoda dengan itu. Terlihat, dia yang terbang menggunakan sayap yang sangat lebar.


Sayap itu seperti milik hewan kelelawar. Namun, begitu sangat besar sekali. Lalu, nampaknya yang terbang itu seseorang penyihir yang baru Mugo pikirkan.


'Eldorick, kasihan sekali kau masih mengingat-ingat aku terus' batin Mugo.


Lalu, di atas sana. Eldorick dengan sayap kelelawar lebarnya itu. Terbang menuju angkasa setelah dia melewati banyak bangunan.


Dia lalu melihat banyak orang lalu lalang dan melihatnya juga. Beberapa warga sipil dari negeri yang dia pimpin itu.


Eldorick mengangguk kepada semua yang menyapanya itu. Dia terus terbang dari atas sana. Entah untuk ke mana Eldorick terbang saat itu.


Wuuuush!


Masih di dunia sihir.


Kini, kita ke akademi Ploenativu. Di mana sekarang. Ada seseorang dari klan Kazumi datang ke tempat itu. Tak lain adalah Marco Kazumi.


Dia datang tentunya untuk melihat anak perempuan kecilnya. Mega Kazumi.


Marco tampak memakai pakaian sihir yang umum. Pakai besar dan panjang. Berwarna hitam. Namun, dia tak sendirian di sana.


Tap tap tap tap!


Lalu, Marco dan beberapa orang itu masuk ke suatu ruangan di tempat itu. Lalu, Marco tampak duduk di tempat yang sepetinya disediakan di sana.


Puk!


Marco duduk di tempatnya itu. Dia melihat ke samping dan samping lainnya. Tersenyum ramah pada beberapa orang di sana.


Mereka saling berbincang. Namun, Marco hanya beberapa kali berbicara dan hanya sapa dan balik sapa yang dia lontarkan.


Kini ternyata ada semacam panggung di depan mereka semua. Marco dan lainnya lantas terdiam setelah ada seorang muncul di panggung itu.


Mereka lalu melihat ke depan fikus.


"Ya, kita di sini untuk membicarakan tentang segala hal yang sepertinya sangat pentung," ucap orang itu. Dia sedikit besar. Dialah si kepala sekolah itu.


Semuanya pun mengangguk setelah mendengarnya.


Kini, orang itu yang berdiri di atas panggung. Nampak membuka sesuatu dari sebuah sihir miliknya.


Trass!


Tampak kertas panjang melayang dan menyilang-nyilang karena saking panjangnya.


Beberapa orang antusias. Entah apa yang akan terjadi.


"Jadi, beberapa hari lalu. Kita mendapat sebuah pesan yang tidak diketahui siapa pengirimnya. Namun, isinya lain dari sang pengirim yang tidak jelas itu."


"Dikatakan dalam surat itu, tak lain adalah isyarat perang besar!"


Semua mendengarnya tampak terkejut. Di mana di dunia sihir. Tentu saja untuk berperang. Mereka harus lakukan suatu hal agar perang itu tak melanggar dan menghancurkan beberapa hal yang sudah dijaga oleh Godwitcher dan Godklannad.


"Oooh, jadi seperti itu."


"Jadi ada kemungkinan kita berhadapan dengan musuh yang sama."


"Atau dengan yavin?"


"Diamlah saudara-saudara!" seru satu orang yang sepertinya para pengawas acara ini.


Semuanya lalu diam. Hening tercipta begitu cepat.


Lalu, datang seseorang dari arah pinggir sana. Dia berjalan naik ke arah si kepala sekolah tadi.


Tap tap tap tap tap tap!


Ada 5 orang ternyata. Mereka berjalan begitu rapi dan sangat berwibawa sekali.


Tap tap tap tap tap!


Lalu, tampak satu orang berambut panjang dan wajahnya seram. Namun, dialah sang kepala sekolah akademi Saintov.


Orang itu berjalan di paling kiri dan depan. Lainnya adalah semua kepala sekolah kemungkinan. Semua orang yang menghadiri acara itu. Nampak kagum dan tak percaya pada apa yang mereka lihat ini.


Tap tap tap tap!


Kini, kelima orang itu sudah berdiri menghadap para hadirin di tempat luas dan megah itu. Lalu, tampak pria berambut panjang itu.


Kini, keluarkan sihir dari tangannya lalu seperti halnya kepala sekolah Ploenativu. Dia menjulurkan kertas.


Namun, kertas itu tak panjang sekali dan sampai menyilang-nyilang begitu. Karena isi di dalamnya sebenarnya masih banyak yang harus disampaikan.


Brrrrrrrss!


"Woaaaah!" semuanya berseru melihatnya.


Tampak kertas panjang itu. Kini, mengeluarkan api yang berkobar berwarna merah tua kehitaman. Lalu, dari api itu muncul beberapa tulisan-tulisan sihir yang melayang dan beterbangan di sekitar mereka.


Lalu, semua tulisan itu kini menempel di dinding-dinding ruangan itu.


"Inilah surat ajakan perang dari mereka, di mana mereka menyebutkan aturan menang dan kalahnya, kalian bisa baca sendiri dengan sihir Kaliogratro!" seru si rambut panjang itu.


Semua kepala sekolah di sekitarnya nampak melihat surat itu. Mungkin untuk kedua kalinya. Beberapa orang termasuk Marco tampak kaget juga.


Mereka membaca seluruhnya. Hingga semua tulisan itu tiba-tiba masuk ke dalam surat tadi. Kemudian, surat itu disimpan dengan cepat oleh si kepala sekolah itu.


"Jadi, siapa yang menang akan mendapat kekuasaan di Hompir dan tempat-tempat di sekitarnya. Lalu yang kalah akan diusir dari wilayah-wilayah yang dikuasai sang pemenang!"


"Jadi akan ada perang ya," ucap beberapa orang yang duduk di kursi itu. Mereka berpikir di kursi itu. Beberapanya lagi tampak berseru dan berbincang.


Perang besar itu juga. Tak akan melibatkan Eldorick. Karena, walau bagaimanapun. Kerajaan Hompir tak akan bisa dikuasai oleh orang luar.


Maksud dari surat itu adalah. Mereka saling berebut wilayah yang didiami akademi mereka. Dengan kata lain musuh ingin merebut kawasan itu dengan mempertaruhkan kawasan atau lahan lain yang mungkin markas dari musuh ini.


Marco tampak melamun untuk berpikir. Dia sebenarnya agak kurang mengerti tentang hal-hal yang tadi dijelaskan.


Namun, dia sepertinya tahu. Bahwasanya akan terjadi keributan besar di waktu yang akan datang.


"Hmmm, apa aku juga harus memberitahu Sato dan kawannya ya?" gumam bapak Sato sendirian.


Setelah itu.


Marco kembali ke ke rumahnya. Lalu, dia dengan cepat memberitahukan pada istri, anak dan semua klan Kazumi.


Mugiwa juga kaget. Setelah sekian abad. Perang sihir kembali terulang. Mega pun tahu. Dia belajar banyak sejarah sihir tentu saja. Apalagi dia seorang tropolog di sekolahnya. Walau dia sendiri yang melakukannya.


Tempat lain.


Kini, karena kebijakan sebelum perang. Kedua belah pihak tak akan boleh mengacau. Jika tidak mereka akan dihukum tentu saja.


Tampak, Mugo kini berjalan. Dia menggunakan pakaian yang sama. Melihat ke sekitarnya yang banyak orang. Mungkin tengah di pasar.


Tap tap tap tap!


Lalu, dia pun berhenti karena seseorang. Tak lain si putri itu beserta satu orang lain yang mungkin ada kaitannya.


"Jadi kau Mugo, yang mengirim surat perang kepada kita," ucap salah seorang itu. Tak lain dan bukan merupakan kepala sekolah akademi di bagian daerah terdingin di dimensi ini.


Mugo hanya tersenyum mendengarnya. Dia membuat ekspresi yang menjelaskan dialah memang yang melakukannya.


Mugo masih menatap keduanya. Dalam diam. Kini,  mata Eldorick terus menatap Mugo di depannya itu.


Dengan mata yang tajam. Setajam pedang. Eldorick  tampak tak suka pada kehadiran Mugo yang sudah lama sekali tidak dia jumpai lagi di  Hompir.


Lalu .....


Mugiwa tampak tergesa-gesa di rumahnya. Dia mencoba hubungi Sato saat itu. Namun, handphone Sato dia tinggal di tasnya.


Tidak ada orang yang mengangkatnya. Sato tidak pernah menyentuh hapenya serelah itu. Lalu, Mugiwa pun mengirim pesan pendek saja. Itu yang disarankan oleh putri mereka.


Kemudian, nampak mereka semua akan pergi dari rumah itu.


Di depan sana datang mobil hitam yang khas. Lalu, ketiga orang itu keluar bersama. Dan masuk ke dalam mobil hitam itu.


Brrrrrrrrrm!


Mobil tampak melaju kencang.


Lalu, dari suatu tempat.  Tepatnya di sebuah CCTV itu.   Sepertinya ada yang mengintai keluarga itu.  Namun, belum jelas siapa mereka.


Di tempat lain.


Kini, Sayugo nampak bermain game itu lagi. Dia sudah sadar dari tidurnya beberapa jam.


Lalu, dia pun ulangi semua stage itu. Namun .....


Tap tap tap tap!


Datang seseorang dari luar.


"Hey, Sayugo kau masih bangun?" tanya orang itu. Sepertinya Fernie.


"Ya, ada apa?" tanya balik Sayugo.


"Kita akan mulai makan malam," jawab orang itu.


"Ya, baiklah. Aku akan segera menyusul," sahut Sayugo kepadanya.


Kini, Sayugo matikan konsolnya. Lalu, pergi mandi dan bersiap untuk makan malam.


Tap tap tap tap!


Sato nampak paling akhir hadir serelah Sayugo. Bahkan, Forg sudah menghabiskan jatah makannya.


"Maaf, aku terlambat," ucap Sato.


Namun, semuanya tak mempermasalahkannya. Semua orang dapat bagian masing-masing untuk makan. Hanya saja. Mereka sering makan bersama. Chintya sudah mengantuk berat serelah tadi bergumul dengan bocah-bocah itu.


"Rapikan semuanya anak-anak, aku akan tidur hoaaaam."


Lalu, Sato pun ikut rapikan gelas dan meja yang terceceran.


Esok tiba.


Sayugo tampak bangun. Alarmnya berbunyi dan dia matikan bersamaan duduk di ranjangnya. Dia mengusap matanya. Menghilangkan kotoran setelah dia lama beristirahat.


Lalu menguap lebar.


Tidak jauh berbeda dari Sayugo. Fernie juga tampak mematikan alarm yang berasal dari ponselnya itu.


Lalu, entah kenapa dia menguap begitu lebar dan sepertinya sangat senang akan hari ini.


"Akhirnya, aku sedikit bisa kuasai kesad-"


Tuuut!


Bersambung.