Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Latihan!



Episode 102


Sato kini tengah berburu.  Latihan itu juga demi  fisik yang kuat. Mereka memburu banyak hal. Banyak hal yang juga ingin memburu  mereka.


 


Tak ayal  itu membuat  Sato  sedikit  kewalahan. Banyak harimau besar  yang sangat menakutkan.  Bahkan membuat Sato harus  lari terpincang-pincang karena  kelelahan.


 


Sato pun  kembali  tanpa hasil  apa-apa.  Semua orang tertawa  karena itu. Sato pun kini  mulai berlatih lagi.  Tentang karmanya itu.


 


“Sekitar kurang dua bulan! Tapi aku belumm bisa menyempurnakan ini!” gumam Sato sebelum dia tertidur.


 


Sepertinya lagi-lagi Sato belum bisa sempurnakan  itu.


 


Tap tap tap tap  tap!


 


Syaumu tampak  melewati kamar mereka.  Lalu,  menutup  pintu yang lupa Sato dan Sayugo tutup  itu.


 


‘Mereka adalah harapan semua orang.  Tidak bahkan mungkin orang-orang dari semua lini masa ini.  Aku yakin sekali’ batin Syaumu dan pergi.


 


Tap tap  tap  tap!


 


Chintya bangun dan  tampaknya akan mandi malam itu. Dia pun berendam di bawah rembulan itu. Yang selalu bersinar tanpa henti.


 


‘Dunia  ini sangatlah indah. Apa aku boleh membantu lebih banyak lagi? Aku ingin dunia tidak hancur’ batinnya dan menutup mata  di bak mandi  itu.


 


Paginya.


 


Sato pun membuka matanya. Dia lalu keluar dari kamarnya itu.


 


Di sana sudah ada beberapa tentara dan Sayugo.


 


“Hey Sati! Lama sekali kau bangun!” teriak Sayugo.


 


“Haah? Memang ada apa?” Tanya Sato sembari masih  mengucek telinga dan matanya.


 


“Ini saatnya hari  persiapan perang!  Kita harus ikut berlatih juga.  Kita kan bagian dari perang!” teriak Sayugo.


 


“Lihatkah Sato! Sinar pemusnahku sudah ada di tanganku lagi!”


 


“Apa?!”


 


Semenjak itu. Sayugo menjadi berguna. Sementara Sato.


 


“Maaf Sati. Aku lupa membawamu milikmu. Karena milimu itu rusak. Tapi aku tidak lupa membawanya. Terimalah Weapon Cirhell andalanmu yang rusak ini!”


 


Sato dengan berat hati menerima Weapon Cirhell  yang hanya sebatas pedang biasa yang mengandung  magnet saja. Terlihat batu-batu akan menempel pada pedang itu.


 


“Sialan! Ini mainan anak kecil!” teriaknya tak  terima.


 


Sementara Fernie.  Tanpa  gunakan  itu  juga.  Dia masih busa gunakan Ultimate Blaze. Selama  mereka ingat akan tata caranya.


 


“Ini aku bawakan catatan kalian berdua,” ujar Chiintya sembari menyerahkan suatu catatan kecil itu. Itu adalah catatan dari tata cara yang harus Fernie bawa ke dimensinya.


 


Tap!


 


Sementara Sayugo sedang berlatih menembak. Di sana banyak sekali tentara yang mengakui kehebatan bidiknya.


 


Sementara Sato tampak suram dan dia pun terjungkal ke bawah. Semuanya tampak  heboh. Hampir aja Sato  jatuh.


 


Dia tampak kacau.


 


“Kenapa? Kenapa punyaku bisa rusak?” gumam anak itu.


 


“Itu karena sii Bernard. Dia menduduki pedangmu saat presiden infosneis berkunjung! Dia sengaja melakukan itu!”


 


“Tidaaaaak!”


 


Bernard yang sedang mencuri pandang suatu boneka modeel di mall tampak bersin.  Itu membuat orang-orang mall mencurigainya.


 


“Maaf, bukan aku yang membawa bom. Itu tadu bersin biasa,” ucap Bernard.


 


Sato tampakj kembali berlatih. Kini, dia berlatih untuk fisik saja.  Karena dia sepertinya hanya akan membantu di akhir-akhir saja. Seperti melawan bos paling sulit atau semacamnya.


 


“Sato, aku sarankan kau tetaplah dii belakang. Kau bisa jafu pelayan atau pembantu saja.”


 


“Tidak, lebih baik jika kau kadi ahli pemanah saja,” saran Syaumu.


 


Sato pun  setuju.  Serta pendapat pertama tadi adalah dari Chintya dan megamu.


 


Lalu, Sato pun berlatih dengan panah yang tersulut api itu.


 


Bwooosh!


 


Panah itu saat sudah dilesatkan. Api di ujungnya sana akan muncul.


 


Bwooosh!


 


Lalu, Sato pun berlatih memanah beberapa objek.


 


Syut syut syut!


 


Semua objek itu tampaknya hampir terkena. Sepertinya Sato belum ahli.


 


“Sial!”


 


Lalu, Sati kembali baca-baca teori tentang kepemanahan. Lalu, dia pun  kini berpose lagi dengan kaki yang lebih pas.


 


Wuuuuushh!


 


Panah membakar area di depannya. Serta membakar habis semua  objek  latihannya.


 


“Sial, tadi aku melesat saat baru memasang anak panahnya.  Kemudian jatuh dan membakar ke  depan sana,” celetuk Sato.


 


Tap  tap  tap  tap!


 


Datang Syaumu  yang  seperti biasa. Memeriksa  Sato dan memberi saran.


 


“Kau kesulitan?” tanya Syaumu sopan.


 


“Ya! Aku kesulitan memasang anak panah ini. Selalu saja meleset.”


 


Sudah seminggu lewat. Sato pun sudah bisa memasang anak panah dengab baik dan licin  serta lancar.


 


Lalu, kendalanya kali ini Sato tak bisa bidik dengan benar. Da  selalu hilang kekuatan dan panahnya akan meluncur ke sisi atas bidikannya itu.


 


“Sialan!”


 


Dia terus mencoba dengan susah payah. Hari-hari terus saja seperti ini.


 


Sato terus lakukan  itu.  Hingga dia pun kelelahan dan tertidur di ruangan latihannya sendiri.


 


Esok tiba. Sato kelaparan dan temukan makanan yang sudah disiapkan untuknya. Dia senang dan terima semua  makan itu dengan suka cita.


 


Melompat dan segalanya layaknya monster.


 


Tali dia manusia. Namun, sedang dalam keadaan yang tidak stabil. Karmanya  belum sempurna.  Ditambah dia belum bisa gunakan panah dengan baik.


 


Sato terus berusaha untuk berlatih panah terlebih dahulu.


 


Kemudian,  dia pun  sedikit membaik.  Walau tak terlalu baik juga.


 


Syaumu beserta temannya datang.  Mengajak Sato kembali ke istana untuk  mandi dan persiapan pesta.


 


Sato pun kembali. Pesta itu untuk rayakan semacam hari nasional atau kelahiran tempat itu.


 


Lalu,  Sato kembali berlatih usai itu. Semuanya tampak tak terlalu berjalan mulus. Sato menatap  ke langit ruangan itu yang sepertinya adalah bebatuan liar.


 


Sato tetap tenang menatap ke atas. Lalu,  tampak ada satu air yang kemudian menggantung lalu sedetik kemudian menetes ke arahnya.


 


Lalu,  dirinya  pun  tampak merasakan  itu. Melihat basahan  itu.  Lalu, ada tetesan lagi. Kemudian dia coba halangi  itu  dengan  tangannya.


 


Ada lagi tetesan yang akan masuk matanya. Lau dia pun  kembali  halangi itu dan sangat telat.  Padahal jatuhnya lumayan  cepat.


 


Sato kemudian punya ide. Dia  akan gunakan panah biasa. Lalu gunakan itu  untuk  mamanah air-air itu.


 


Hyaaaaa!


 


Dengan perasaan marah dan menggebu.  Dia memanah dan  mengenai semua air-air gua  yang tercipta dari  dalam batu  itu sendiri.


 


Krash  Krashh  Krashh!


 


Semuanya  tampak kenyap. Beberapa air kemudian menetes di sekitarnya. Akibat terdorongnya batu itu ke atas sana  karena panah tumpulnya.


 


Kemudian dia pun  berdiri.


 


Wuuush!


 


Srat!


 


Sesaat kemudian semua anak panah itu menyebar ke segala titik. Di mana ada banyak air-air seperti itu jatuh yang bersamaan mau pun tidak.


 


Lalu  .....


 


Sato  bangun dari mimpinya. Diq bermimpi barusan. Sepertinya teknik latihan yang baru baginya.  Kemudian dia pun melihat ke atas. Sayangnya tak ada air. Di sana terlalu lembab dan kering.


 


Sati pun kesal dan keluar membawa panahnya.


 


Sato melihat  ke sana  ke  mari. Mencari air. Kemudian dia  melihat sebatang pohon yang menghasilkan tetesan air.


 


Lalu dari jarak yang cukup dia coba memanah air-air itu.


 


Wuuush!


 


Tampak panah itu malah mengernai  hal yang ada di luar bidikannya. Panah itu melayang jauh ke atas. Lalu,  sepertinya mengenai sesuatu hingga ada suara keras dari arah jatuhnya panah itu.


 


Tap!


 


Kemudian, Sato pun kembali mencoba.  Dia memanah air-air yang menempel pada batang pohon itu. Matanya menajam. Ada bayang dirinya tercetak di dalam tetes air itu.


 


Kemudian.


 


 


Tes!


 


Air itu mengalir  ke bawah  menuju akar pohon.


 


Srat!


 


Blaaaar!


 


Tampak, panah Sato berhasil  mengenai batang itu.  Namun, tidak dengan air yang merosot tadi.


 


“Sial, hampir saja!”  teriak Sato.


 


Lalu  kembali lagi.  Hingga dia menyadari adanya Sayugo di sana.


 


“Apa yang kau  lakukan?” tanya Sayugo  tiba-tuba.


 


Membuat panahnya itu melesat dan Jleb.


 


Mengenai tepat.  Padahal Sato terlihat meleset dari bidikannya  itu.


 


Sato menoleh tak percaya  pada Sayugo  itu.


 


“Hey, hebat! Suaramu membuatku bisa menancapkan anak panah itu,”  ucap Sato gembira.


 


“Benarkah?”


 


“Ya!”


 


“Baiklah.  Bagaimana jika aku menyanyi?”


 


Lalu, di  muailah perjalanan Sato yang sangat aneh.


 


Syuut!


 


Sato memanah  diiringi  oleh Sayugo  yang bersuara dengan sikap seperti  penyanyi orkestra  ituu.


 


“La la  la  la  la!”


 


Syut syut!


 


Blar!


 


Semuanya tampak tidak meleset. Ada beberapanya yang meleset namun masih bisa menancap di batang pohon incarannya. Sato terus berlatih dengan iringan  lagu barat serius yang dinyanyikan oleh sahabatnya  itu.


 


“Lalalalala!”


 


Sato kembali bisa menancapkan satu per satu panah  itu.


 


Tap tap tap  tap tap!


 


Lalu, mereka sampai di suatu tempat. Di sana ada asap pembakaran dari sebuah temlat yang entah apa.


 


Lalu, Sato  masih bisa memanah  dengan baik.


 


Syut syut  syut!


 


Blaaaaarr!


 


Terus saja Sato  mendengarkan suara nyaring itu. Sepertinya membuatnya ingat tentang semua yang pernah dia baca.


 


Suara Sayugo seperti membuatnya harus  terus mengingatnya.


 


“Tajamkan mata!”


 


“Pandangan harus lurus!”


 


Wush  wush wush!


 


Jlebb jleb jlebb!


 


“Jangan bernafas terlalu sering!”


 


Jleb jleb jlebb!


 


“Jangan gugup. Tetaplah rileks!”


 


Syut syut syut!


 


“Kendalikan detak jantung—uhuk uhuk!”


 


Syuuut!


 


Satu anak panah Sato tampak melesat je atas. Setelah tadi mendengar suara Sayugo memburuk.


 


“Kenapa kau bisa terbatuk? Kita sudah sampai sanngat jauh.  Aku hampir ratakan semua pohon yang mengandung air  itu,”  marah Sato.


 


“Ma-maaf, tapi ada asap  di belakang sana.  Itu membuatku tersedak!” tutur Sayugo.


 


Sato lalu menyadarinya.


 


‘Sialan,  apakah ada sesuatu di sana. Bagaimana aku tidak menyadari baunya?’ batin Sato.


 


“Baiklah, ayo  kita ke sana!”


 


Mereka pun menuju  ke  arah asap itu.


 


Tap tap  tap  tap  tap!


 


Di  sana tampak tak ada seorang pun. Sepertinya orang-orang sudah kabur.  Terlihat tak ada mayat.


 


Lalu,  di sana. Ada seekor monster sihir yang sepertinya ganas. Seperti betuang.


 


Namun,  dia  tidak menyerang mereka. Melainkan  ...


 


“Hey, apa kabar.  Aku adalah monster sihir yang punya  sarang di sini. Ahahahahha. Maaf membuat kalian para turis tak nyaman. Ahahahaha!”


 


Beruang itu bisa berbicara.


 


Brak!


 


Sayugo pingsan. Lalu, Sato pun hanya  bisa  menganga di sana. Hingga  sampai  beberapa lalat hinggap di sekitar  mulutnya.


 


“Hahahahaha!”


 


Beruang  itu  masih tertawa  sembari menggaruk  kepala belakangnya.  Bak manusia yang merasa bersalah karena  kekonyolan  mereka. Seperti Sayugo.


 


Beruang itu adalah Rognoins tipe lain.


 


Groaaarg!


 


Bersambung.