Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Masa lalu bagian 5.



Episode 123


Pemuda itu. Di malam hari. Tiduran di tempat yang dirinya bisa melihat bulan dan merasakan suasana malam.


 


Mengingat kejadian tadi. Tampak luak-luka yang ada di mukanya itu.


 


Tap!


 


Dia tersentak. Seseorang tampak menyentuhkan sesuatu pada lebam besar di bahunya itu.


 


"Kau seharusnya minta obat untuk menyembuhkan dirimu. Apa orang-orang klanmu tidak mengajakmu?" tanya seseorang yang melakukan itu. Orang itu ada di samping sana. Dia menjauh darinya setelah tadi.


 


"Kau ...."


 


Pemuda itu menatap orang itu yang berambut panjang. Lalu ....


 


Wuuush!


 


Semilir angin membuat rambut itu tergoyang dan kini. Cahaya rembulan memperlihatkan wajah orang itu yang menarik.


 


"Yang mulia Onpila?! Bagaimana anda bisa tahu saya ada di sini?" tanya pemuda itu spontan. Wanita cantik itu nampak diam. Membiarkan angin semilir lembut itu menyentuh dan membelainya.


 


Pria itu yang kurus juga ikut terbalai oleh sang angin.


 


Lalu, saat semua angin itu hilang. Hanya menyisakan angin biasa yang tampak semilir tidak menentu.


 


Dia menatap pemuda itu.


 


"Aku hanya ingin mengatakan maaf kepadamu saja. Saat itu, aku sudah membuatmu kesusahan. Itu pasti bukan?" ujar wanita itu. Dia berekspresi sangat khawatir padanya.


 


"Soal itu ...." gumam pemuda itu. Nampak, wanita itu pun merasa tidak cukup hanya dengan gumaman anak itu saja.


 


Dia mendekat dan kembali mengambil suatu kain yang tampak basah saat suatu sihir dan cahaya yang dikeluarkan dari keseluruhan jarinya yang manis. Menyentuhkan hal itu  pada dagu si pemuda. Lalu, di sana luka yang nampak berwarna biru. Terlihat, hilang ditelan cahaya yang menyinarinya.


 


Pemuda itu tersentak. Namun, dia tak bisa bergerak. Apalagi, dia merasa luka di salah satu wajahnya itu membaik.


 


"Apa kau memaafkanku? Kakakku juga ingin meminta maaf padamu. Apa kau bersedia menemuinya?" tanya lembut wanita tersebut.


 


Pemuda itu hanya mengangguk saja. Setelah itu mereka nampaknya hanya lakukan penyembuhan pada badan-badan si pemuda.


 


Esok harinya. Sang pemuda tampak berjalan. Lalu, dia menyusuri jalanan yang semakin sini semakin luas.


 


Tap tap tap tap!


 


Kemudian, dia lihat ada bangunan berwarna emas di sana.


 


"I-ini. Sebuah istana!" kejut pemuda itu. Melihat istana besar di sana.


 


Lalu, orang-orang di sana menunjukkan sebuah tempa di samping istana itu.


 


Dia pun menurutinya.


 


"Apakah dia akan mendatangiku?" gumamnya. Dia pun berjalan. Tapi, seketika dia melihat ada satu tempat duduk. Dia yakin dia harus duduk di sini untuk menunggu orang itu.


 


Namun, sebelum dirinya menyentuh hal itu.


 


Blaaar!


 


Dia mengingat perkataan dari orang-orang yang mengantarnya setelah dia terjatuh sangat jauh itu.


 


Tap!


 


Ternyata, dia sudah terkepung. Karena di sana. Semua prajurit itu ternyata mencekalnya. Membuatnya tak berkutik. Orang-orang itu tentunya kuat sekali.


 


"Sialan!"


 


"Hahahahaha!"


 


Lalu, muncul satu orang datang dari arah pohon besar yang letaknya tak terlalu jauh dari sana.


 


Brak!


 


Lalu, orang itu nampak melihatnya. Orang itu adalah orang atau kakak dari perempuan berambut merah tadi.


 


"Sialan! aku menunggumu lama. Kurang ajar kau!" geram orang itu.


 


"Bawa dia kemari!" perintah pemuda besar itu pada para bawahannya.


 


Pemuda itu diseret le arah orang besar itu. Lalu, melihat itu. Pemuda besar yang tinggi juga. Melaju ke arahnya.


 


"Kau sudah mempengaruhi adikku. Tak akan kumaafkan kau!" teriak orang itu. Maju ke arahnya dengan cepat.


 


Pemuda rambut biru itu pun nampak pasrah saja.


 


Brak!


 


Dia terhantam sesuatu yang tidak dia mengerti. Sebab dia menutup matanya panik.


 


Duaaar!


 


Terjungkal dan menabrak dinding emas nan keras istana tersebut.


 


Dia lalu mencoba bangkit dan melihat ke arah depan. Pemuda besar itu melangkah cepat padanya. Sebab dia marah.


 


"Entah bagaimana kau bisa menjadi teman  adikku. Aku sangat tidak suka. Aku akan menghabisimu pecundang!" teriaknya geram.


 


Brak!


 


Kembali lagi. Kejadian terulang. Di mana orang besar itu mencengkeram erat. Membuatnya sakit dan sesak nafas.


 


"Arrrgh!" Dia berusaha meronta hebat. Namun ,sia-sia. Orang itu punya kekuatan yang lebih kuat darinya.


 


Brak!


 


Dia lalu diangkatnya ke  atas.


 


"Kali ini kau tidak akan bisa hidup!" ucap garang orang itu.


 


Wuuush!


 


Dia nampak memunculkan sebuah pedang sihir berwarna birunya. Lalu, membuat anak itu nampak  panik. Meronta-ronta dengan takut yang membara. Dia yakin anak itu bermaksud ingin mengambil nyawanya.


 


"Hahahahaha!"


 


Lalu, saat itu. Tampak, ada angin aneh yang menyertai keduanya. Lalu, saat itu pula datang seorang di sana. Dia adalah wanita yang berambut merah itu. Namanya adalat Onpila.


 


Entah bisa datang di sini. Sang kakak menatapnya.


 


"Onpila?" Dia terlihat tak menyangka datangnya orang itu.


 


Lalu, Onpila pun terlihat mendekat padanya. Pemuda itu menatapnya. Seakan ingin diselamatkan dari gadis itu.


 


‘'Kakak apa yang kau lakukan padanya?" tanya Onpila.


 


 


"Aku ... eh, sedang bermain-main dengannya. Katanya dia suka bertarung sama seperti di kejuaraan hahahahaha," jawab orang besar itu. Dia nampak terus mencengkeram semakin keras di saat itu juga. Membuat pria(rambut) biru itu lemas seketika.


 


"Kakak! Kau berlebihan. Lepaskan. Lihat dia tidak bisa bernafas. Penjaga! Kemarilah!"


 


Brak!


 


Saat itu. Mata pemuda itu menjadi sayu. Lalu, perlahan menutup dan seperti akan kehilangan kesadaran. Terakhir, hanya bisa melihat sosok perempuan itu yang melihat khawatir padanya saja.


 


"Ugh! Sialan!" geram pemuda itu.


 


Tap!


 


Dia membuka mata sadar. Mengedipkan matanya. Lalu, melihat sekelilingnya. Pertama dia hanya melihat kursi kosong. Lalu, dia melihat ada seseorang yang sedang melihat ke arah jendela luar.


 


"Ugh!"


 


Dia bersuara karena orang itu dia kenalnya sebagai orang yang besar. Orang itu menoleh padanya dengan terkejut.


 


"Kau sadar ya?" tanya orang itu. Dia adalah wanita penyihir paling kuat.


 


"Apa yang terjadi padaku tadi?" tanya pemuda itu.


 


"Tadi itu ..." gumam wanita itu nampak ragu menjawab hal itu. Pemuda itu menatapnya penuh keingintahuan yang mendalam.


 


Tap tap tap tap!


 


Pemuda itu melangkah dibantu oleh seorang penyihir. Bersama dengan sang Godwitcher di sana. Menuju ke sebuah ruangan.


 


Ruangan itu tampak berwarna putih. Di sana terbaring seseorang.


 


Pemuda itu melihat seorang wanita berambut merah kini menjadi pucat dan kering. Hanya ditopang dengan berbagai perangkat yang membuatnya tetap bernafas.


 


"Kenapa dengan dia?" tanya antusias pemuda itu.


 


"Sebelum ini maaf aku tidak menanyakan namamu. Tapi, sepertinya itu tidak penting," ucap Godwitcher menatap sayu padanya.


 


"Ini sangat mendadak. Jadi, intinya wanita di sana sepertinya menderita penyakit sihir. Dia mungkin sekarang tak bisa diselamatkan," jawab Godwitcher.


 


"Apa?!"


 


Pemuda itu menatapnya tak percaya.


 


'Wanita itu adalah anak yang baik. Dia juga sudah menyelamatkanku’ batin pemuda itu. Dia menghampirinya.


 


Setelah, menatapnya lama. Pemuda itu pun menatap ke arah sang Godwitcher. Tatapannya tampak serius dari biasanya.


 


"Yang mulia. Bagaimana jika permintaanku diganti saja," ucap anak itu.


 


"Apakah kau ingin menggantinya untuk menyembuhkan gadis ini?" tanya Godwitcher serius.


 


Pemuda itu mengangguk padanya.


 


"Ya!"


 


"Sayang sekali. Bahkan, aku juga tak akan mampu, Nak. Aku memang dikenal kuat. Tapi, aku bukan seorang yang bisa menyembuhkan penyakit ini," jawab Godwitcher tampak menyesal.


 


Pemuda itu hanya bisa menunduk sedih.


 


Lalu, perempuan yang selalu bersama dengan Godwitcher tampak mendatangi tempat itu.


 


"Yang mulia. Kita akan mulai untuk pengumuman pemenangnya!" ucap orang itu.


 


Godwitcher tampak terkejut. Dia seperti baru saja kelupaan hal itu.


 


"Ya!"


 


Lalu, pemuda itu masih memandang sedih pada anak perempuan malang itu.


 


"Kau juga harus ke sana. Siapa tahu kau juara juga," ajak Godwitcher padanya.


 


"Ya! Aku ikut!”


 


Tap tap tap tap tap!


 


Pemuda itu berjalan dengan memikirkan hal itu. Lalu, di depan tampak ada suatu keributan.


 


Blaaar balar balar blaaar!


 


Seseorang mengacak-acak kota. Namun, dia sudah dihalangi dan dibawa oleh beberapa orang yang bertugas dalam keamanan kota itu.


 


Pemuda itu melihat siapa pelakunya. Dia kenal, adalah kakak orang itu.


 


Orang itu juga mendeteksi dirinya. Orang itu menatapnya sinis. Seakan dia tadi mengincarnya di sana.


 


Lalu, orang itu sepertinya tampak menggumamkan kata-kata ancaman yang tidak bisa dia dengar. Dia pun melangkah lambat di sana.


 


Memikirkan kejadian ini.


 


'Apa ini semua salahku? Apa wanita itu sebenarnya sudah mempertaruhkan nyawanya?' Batinnya pesimis.


Dia lalu masuki depan tempat kejuaraan itu kembali.


 


Semua sorak sorai meriah terdengar kembali. Dia menjadi sedikit semangat. Lalu, duduk di sana. Melihat ada Godwitcher di tengah sana. Bersama orang-orang lainnya.


 


"Yeah yeah yeah yeah!"


 


Nampak, pemuda itu melihat beberapa klan yang mendapatkan titel juara itu dibariskan. Lalu, Godwitcher tampak membuat sihir yang melingkup di sana. Entah apa itu.


 


Lalu, membuat bayi miliknya itu merangkak. Dan membiarkannya pergi dan memilih ke mana dia akan pergi dari semua peserta itu.


 


Sepertinya semuanya berjalan tak terlalu lancar. Bahkan saat dirinya maju. Sang bayi itu nampak kembali merangkak ke pelukan perempuan yang terus membawanya itu. Sepertinya bayi itu sudah nyaman di pelukan wanita yang terus mendampingi Godwitcher.


 


Terlihat, sang Godwitcher pun mengeluh. Mengganti penggendong bayi menjadi dirinya  kini semuanya dimulai dari awal lagi. Berjalan amat  panjang.


 


Dia menatap beberapa juara dari rata-rata posisinya itu. Pemuda itu sama sekali tak terlalu senang. Dia juga menerima hadiah yang besar. Tapi, semua peserta sebenarnya dapat hadiah yang besar pula. Tapi, hadiah yang paling besar diantara itu semua. Belum ada yang mendapatkannya. Bahkan, juara satu sekali pun.


 


Tap tap tap tap!


 


Hingga orang terakhir yang nampak adalah orang biasa. Namun, dia membawa liontin jalan di telapak tangannya. Dia berambut panjang.


 


Pemuda itu terlihat pernah melihatnya. Karena dia sedikit mengenalnya di jalannya kejuaraan  ini.


 


Lalu, orang itu pun berdiri di tempat titik sihir itu. Lalu, Godwitcher nampak tetap memperlakukan orang itu sebagaimana mestinya. Tidak memandang siapa orangnya ataupun betapa kuat dan ahlinya dia bertarung.


 


Orang itu hanya tersenyum pada bayi itu yang masih di gendongan sang Godwitcher.


 


Senyumnya itu sangat ramah dan lain. Pemuda itu juga sampai terhenyak.


 


Bersambung.