
episode 75
Sato sedikit tertegun.
Lalu Shanee pun tampak memandang serius setelah dia menghela nafas. Sati menatapnya khawatir.
“Apa terjadi sesuatu?” tanya Sato refleks.
“Sato, maaf tapi ada sesuatu yang sepertinya berusaha memusnahkan klan Onpipan,” jawab Shanee serius. Sato menutup mulutnya tak percaya.
“A-apa?!”
Satu minggu berlalu.
Berbagai berita dan koran menampilkan laporan tentang bisnis klan Onpipan. Mereka beritakan itu di mana pun.
Terlihat Sayugo yang juga melihat isi artikel beramai-ramai di sebuah hotspot WIFI tampaknya.
Dia bersama beberapa teman kelas tiganya tu. Menatap ke artikel itu. Membacanya pelan-pelan.
Lalu, di sore itu. Sato berjalan bersama mega. Memakai pakaian formal sesuai umur mereka. Mereka tampak sedang berjalan melewati banyak orang yang beramai-ramai melihat sesuatu di Hape dan koran serta apa pun yang menempel di dinding itu.
Berbunyi “Onpipan itu Penipu!”
Sato menatap jengkel pada sesuatu itu. Mega tampak diam. Memakai rok pendek. Anak berambut biru itu serius menatapnya.
Sato sebelumnya mungkin dimintai tolong oleh Shanee. Itu pasti. Karena Sato bahkan berani meminta tolong pada adiknya yang penyihir itu. Untuk sesuatu itu.
Tap tap tap tap tap tap!
Sato berjalan kini di tempat yang sepi. Lalu, memegang tangan adiknya. Menggandengnya masuk ke sebuah pintu tang menempel di bangunan itu.
Tap tap tap tap tap!
Lalu, keduanya masuk ke dalam sana. Sato tampak melihat ke sekitarnya.
Lalu ....
Sato terbelalak kaget. Tampak, melihat Shanee yang kini terluka di sana. Banyak kursi-kursi yang sudah tak utuh di ruangan itu.
Sato sepertinya ingin mempertemukan adiknya dengan orang ini. Dia pun menghampirinya terburu-buru namun...
“Sato, jangan mendekat!” bentak Shanee yang masih terluka di sana.
Lalu, serelah itu. Tak terduga. Muncul banyak orang. Sato tampak diselubungi suatu sihir hitam. Namun, dia masih di tempat.
Kumpulan orang itu tampak menyerang Shane. Membuatnya pingsan. Mega tampak tahu sihir itu. Dia pun tampak menarik Sato sesaat sihir itu hilang bersamaan dengan Shanee yang tergeletak tak sadarkan diri dipenuhi darah itu.
Tap tap tap tap tap tap!
Keduanya keluar dari bangunan sepi di sore menjelang malam itu. Berlari dengan cepat menuju kediaman mereka.
Brak!
Mega tampak masuk menarik kakaknya yang sudah kelelahan. Akibat dia tak mengerti kejadian barusan itu.
Mega menatap kakaknya itu. Menariknya ke kamarnya.
“Mega, maafkan aku,” ucap Sato.
Mega tampak menutup matanya lalu memandang ke arah lain. Melihat itu, Sato tahu adiknya marah dia pun lekas pergi karena itu artinya dia diusir dari kamarnya ini.
“Tunggu!”
Mega mencekalnya. Sato yang sudah memegang kenop pintu heran. Berbalik dengan ekspresi terkejutnya.
“Orang tadi! Sepertinya bukan ingin menjebak kita kak! Dia saat ini mungkin tengah dalam bahaya besar!”
Sato pun membelalak tak percaya.
Sato kini ke kamarnya. Dia tampaknya akan menelepon seseorang.
Tuuut tuuut tuuut!
Dia menelepon polisi. Melaporkan kejadian yang diia alami itu. Ada seorang korban di sana. Serelah laporkan itu. Sato tak begitu lega. Polisi mengaku sedang menyelidikinya.
Dia berjalan di kamarnya itu. Bolak-balik. Bahkan sampai sang ibu menegur Sato. Sato pun berhenti untuk itu.
Dia berusaha berbaring saja sambil berpikir. Jendela kamarnya belum dia tutup. Dia lupa tentu saja. Kemudian, dia pun turun dari ranjang yang masih terang itu. Sato juga lupa matikan lampu di kamarnya.
Tap!
Dia pun melihat keluar. Saat itu angin selalu berhembus ke mana pun. Sato mencoba melihat sekitar.
Tampak angin itu menerbangkan banyak hal seperti bangkai binatang.
“I-ini!”
Sato coba menyentuh angin itu. Lalu, dari Sato diam merasakan sesuatu. Dia kaget.
“Ini angin perputaran bukan?” ujar Sato.
‘Dalam duniaku. Angin ini digunakan untuk menyembunyikan sesuatu’ batin Sato.
Brak!
Menutup jendelanya keras. Ibunya tampak menegur karena itu. Sato lalu mematikan lampu. Agar ibunya tidak terus mengawasi dirinya.
Dia lalu hanya diterangi lilin. Mencoba mengendap-endap keluar serelah menunggu hampir tiga jam.
Dia yakin, ibunya khawatir. Mugiwa sangat tahu kelakuan anaknya. Baik dirinya maupun mega. Sato yang penasaran akan angin itu. Mencoba mencari tahu hal itu.
Dia mengendap menuju ruang bawah tanah rumah ini.
Tap tap tap tap tap tap!
Sato sudah menuruni tangga. Kini dia pun sudah sampai di depan pintu perpustakaan itu. Sato lalu membukanya perlahan. Tak sebabkan suara keras.
Lalu masuk dan menutupnya debgan tak kalah pelan dari cara membukanya tadi.
Tap!
Sato berjalan. Kini mulai mencari buku-buku yang berkaitan dengan hal yang dia tak pahami di dunia ini.
Tap tap tap tap!
Dia pun membaca beberapa buku tebal tulisan ayahnya itu. Ayahnya hanya mengopi lalu menambahkan dengan kata yang sangat memusingkan.
Untung saja Sato paham.
Braaak!
Dia pun kini tahu. Suatu informasi tentang angin itu.
“Jadi begitu, angin seperti itu dinamakan obber. Karena angin itu seakan mengambil banyak monster dengan cara dia menerbangkan banyak hal di sekitarnya. Angin itu bisa terbangkan bangkai yang sudah terkubur sangat dalam berapa pun lamanya.”
Sato terus membaca tulisan panjang itu. Mengabaikan hal yang tak penting.
Lalu, dia pun sampai di penjelasan terakhir itu. Kesimpulannya untuk saat ini.
“Angin itu ....”
Sayangnya. Itu tak diketahui i lebih lanjut.
”Sialan!”
Sato pun kesal.
Esok harinya setelah sarapan. Sato terus menatap tajam kepada ayahnya Marco. Marco tampak merinding dibuatnya. Semuanya juga bingung pada tindakan Sato terhadap Marco itu.
Sato lalu berangkat di sana. Kini, mega bersamanya juga. Dia menatap ke bawah. Sedang melamun.
“Apa orang itu. Temanmu?”
Sato kaget akan pertanyaan dingin itu. Adiknya.
”Bukan, aku baru mengenalnya beberapa minggu ini,” jawab Sato.
Mega seperti tak mendengarkannya.
“Apa dia punya masalah?” tanya mega lagi.
Sato menatapnya dengan tatapan lemah.
Sato mengangguk.
“Dia berkata, klan Onpipan akan dimusnahkan. Tapi, aku tak tahu itu benar atau salah,” jawab Sato.
Mega mendengar itu.
‘Onpipan rupanya’ batin mega.
Tap tap tap tap tap tap!
Kedua kakak beradik itu terus melanjutkan pergi ke sekolah mereka.
Sato kini mendengar bel. Dia ketiduran saat kelas. Dia pun bergegas melihat gurunya itu keluar. Sepertinya bell akhir.
Dia tak punya les. Saat ini, organisasi rahasia sudah diungkap ke publik dan sepertinya organisasi itu diganti dengan organisasi lain.
Karena itu. Weapon Cirhell dan segala hal itu. Diambil oleh mereka. Karena itu milik mereka. Sato tak peduli.
Walaupun dia tak diakui. Dia tak masalahkan itu.
Sato berjalan dan bertemu dengan Sayugo di jalan.
“Sato!” ucap ramah seniornya ini.
Sato mengangguk. Dia masih lemas. Sato selalu lemas saat sedang bingung atau memikirkan sesuatu yang diluar perkiraan dan tindakannya.
Sayugo berjalan bersama Sato.
“Kau tak ada les?” tanya Sayugo.
Sato menggeleng.
“Hmmm, begitu ya!”
Tap tap tap tap tap tap tap tap!
“Sato! Kau tak sibuk kan? Bagaimana kalau setelah ini kita keluar untuk main?” tanya Sayugo di sana.
Sato menatap lemah. Namun, dia menerima ajakan itu.
Setelahnya. Sato keluar. Dia pamit juga kepada adiknya.
Setelah keluar dia pun sedikit melihat putra keluarga sebelah yang kata ibunya baru pindah. Namun, Mega sepertinya tak ingin bicarakan keluarga Thornatum itu. Entah kenapa.
Namun, Sato tak ingin gali itu. Karena dia yakin. Apa pun masalahnya. Adiknya itu pasti akan kuat. Namun, dia akan terus awasi adiknya. Dia akan pastikan bisa melindungi di saat-saat terakhir.
Sato sudah tahu apa peran seorang kakak. Dia yang sebenarnya anak tunggal dan hanya mendapatkan apa yang dia inginkan dalam hidupnya.
Saat mempunyai adik. Dia harus berbagi. Mau itu pengetahuan, informasi, waktu dan segalanya. Lalu sebagai seorang ,kakak. Dia harus mencoba mengerti adiknya itu.
Dan sebagai kakak laki-laki. Dia punya kewajiban untuk melindungi adik perempuannya itu.
Dia lalu bertemu Sayugo yang sudah menunggunya di sebuah halte. Sayugo tampak memainkan hape. Tak sadar Sati berada di sana.
“Ohh, maaf Sato!” kejutnya.
“Pasti sedang main game! Aku sedang memikirkan sesuatu. Jadi tak ingin melihatmu fokus dengan game selama kita pergi mulai saat ini,” keluh Sato.
“Tidak Sato! Aku tak main game! Aku tengah membaca ulasan berita,” jawab Sayugo.
Sato pun sedikit kaget.
“Ulasan berita?”
‘Tak biasanya’
“Benar Sato! Ayo kita pergi!”
Mereka pun pergi ke suatu jalan gang di sana. Cukup luas karena ini daerah perkotaan.
“Kita akan ke mana?” tanya Sato.
‘Kita akan ke rumah Fernie, hehehe!”
Tap tap tap tap tap tap tap!
Sato dan Sayugo memasuki jalan gang itu. Rumah Fernie masuk ke gang. Berjalan dengan santai sambil mengobrol.
Beberapa orang lewat juga di samping kedua anak smp itu.
“Sayang sekali kita tak bisa melakukan aksi itu lagi ya!” ucap Sayugo.
Sato mengangguk menanggapinya.
“Padahal aku sudah sangat kuat. Dengan meriam pemusnah hyaaaa. Aku akan-“
Sayugo terus mengoceh di sana. Sato melihat lurus saja. Sedikit abaikan itu.
Kini, mereka sampai di rumah Fernie. Tertutup gerbang kayu yang rapat itu.
Kini, Sayugo pun menekan bel itu.
Tung!
Setelah itu. Fernie pun keluar. Dia memakai pakaian biasanya sehari-hari. Kaos hangat dan rok pendek dengan stokingnya.
“Mari masuk!”
Keduanya pun masuk.
Tap tap tap tap tap tap tap!
Kini, mereka pun sampai di sebuah ruangan milik Fernie. Di sana sudah tertempel berapa hal yang membuat Sato bingung.
“A-apa yang terjadi?” tanya Sato terkejut melihat semua gambar yang tak jelas di pasang Fernie di kamarnya.
“Heh?, kau tak tahu Sato?” tanya Sayugo.
Fernie menggeleng lemah dengan ekspresi meremehkan. Sedikit membuat Sato kesal.
“Hey, apa yang terjadi? Jelaskan padaku!” teriak Sato.
Lalu, hadir seorang wanita. Dia tampak mencoba menegur hanya dengan desisan itu.
“Sssssssst!”
Sato pun menggaruk kepalanya maaf. Sepertinya dia ibu dari Fernie.
Sato lalu menagih jawaban lagi. Memandang kepada dua temannya itu.
Namun, keduanya masih belum menjawab. Terus menggeleng mengabaikannya.
“Kalian ini ....!” Sato menggeram mulai marah.
“JIKA ITUU PENTING! CEPAT KATAKAN!”
BBLETAK!
“Sato kau tak apa?!”
‘Ugh!’
Pandangan Sato mulai menghitam.
Bersambung.