Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Misteri



Episode 107


Megamu menatap orang yang baru sampai dari pintu itu. Baru saja masuk. Dia tinggi dan berambut hitam panjang di bagian sisi poninya. Menutupi  satu matanya.


 


Semua orang kaget menatapnya.


 


“Kau, sang pengelana itu?” tanya beberapa orang. Mereka terus bicarakan hal itu. Orang itu hanya mengiyakannya saja.


 


“Bagaimana bisa kau—“


 


“Aku akan menghentikan Mugo. Bukankah dia ingin memerangi kalian?” tanya magi di sana.


 


Semuanya pun mengangguk kompak.


 


Orang itu lalu akan berlalu.


 


“Di sekitar tempat ini. Sudah banyak orang-orang Mugo yang bersiaga. Aku yakin itu. Sangat mustahil kita untuk keluar dari sini,” jelas magi menatap ke arah semua orang.


 


“Jadi begitu ya!” gumam kepala sekolah itu.


 


Megamu kini tampak keluar dan duduk di sebuah tempat yang sepi. Dia memandang ke arah atas.


 


Tap tap tap!


 


Kemudian, Sayugo dan Chintya tampak menghampirinya.


 


“Kita sepertinya tak bisa bergerak untuk saat ini,” ungkap Chintya penuh sesal.


 


Semuanya juga menunduk.


 


‘Jika Sato berada di posisi ini. Apa yang akan dia lakukan?’


 


Sato sendiri masih di dalam sana.


 


Brak!


 


Dia mencoba keluar dari sana. Tampaknya semua yang dia baca tadi. Tak berguna sama sekali.


 


Bahkan dengan karrma pun. Tempat itu tak bisa dihancurkan.


 


“Tempat apa ini? Apakah karrma tak mempan pada semua ini?” ujar Sato kesal.


 


Namun, tiba-tiba.


 


Kraaaak!


 


Dia seperti rasakan sesuatu yang mengganjal.


 


“Siapa itu?” tanya Sati. Lalu dia pun berlari ke arahnya.


 


Wuuush!


 


Ternyata pintu depan tergeser alias terbuka.


 


Sato lalu melompat ke arahnya. Lalu, dia pun langsung terbang tuk terjang orang itu.


 


Hyaaaa!


 


Orang yang membuka berambut buru. Tampaknya Mugo.


 


Hyaaaa!


 


Sato tampak gunakan energi sedikit dari karmanya yang berhasil dia perkecil.


 


Lalu, dia pun mengepalkan tangan dan luncurkan hal itu sebagai serangan pertamanya.


 


Hyaaa!


 


Kraaak!


 


Seseorang yang ada di depan tampak menghindarinya


 


Blaaaaar!


 


Serangan Sato hanya kenai tembok pintu itu.


 


Lalu, dia pun mencari-cari orang yang bernama Mugo itu.


 


“Di mana kau pengecut!” teriak Sato kesal.


 


Megamu masih di atap itu. Hingga sore hari.


 


‘Mau bagaimana pun kita hanya bisa mengharapkan seorang Sato saja’ batin megamu.


 


‘Ya. Benar’ balas Fernie.


 


Tap tap tap tap!


 


Chuntya tampak bberjalan di sebuah tempat. Kemudian  tak sengaja diapun berpapasan dengan orang itu. Magi.


 


Magi juga menatapnya. Tatapan pria itu bbegitu dingin. Namun, tak terpancar kejahatan. Apalagi dia mengaku tahu semua tentang musuh dan kepribadiannya.


 


“Bagaimana bisa kau tahu semuanya. Lalu tiba-tiba datang ke kota ini?”


 


Chintya tampak menanyajan itu setelah dirinya berada tepat di belakang magi.


 


Magi hanya menjawabnya cepat.


 


“Aku sudah sangat mengenal siapa musuh kita. Aku tahu. Sangat aneh ada orang luar di sini. Bahkan seseorang yang tahu tentang sihir di dalam sebuah tempat itu.”


 


Tap tap tap tap!


 


Chintya tak terrlalu mengerti. Memandang kaget ke arah pria itu yang melanjutkan perjalanannya.


 


‘Apa yang dia maksud dengan tempat?’ Batin Chintya tak mengerti.


 


Tap tap tap tap tap!


 


Magi tampak menuju ke suatu ruangan. Dia lalu bertemu dengab beberapa guru juga di sana.


 


“Apakah ada informasi yang hendak kau katakan pada kami?” tanya kepala sekalah akademi Valloshwa.


 


“Ya! Sepertinya Mugo punya kekuatan yang bisa mengendalikan seseorang. Dari perjalanan aku melihat banyak orang yang tertempel semacam parasit di dalamnya,” jawabnya sembari tunjukan parasit itu. Kecil hitam dan berbintik. Parasit itu tampak masih hidup di tangannya.


 


Semuanya kaget.


 


“Ya, kami juga sudah mengetahuinya,” balas satu guru.


 


“Bahkan, murid-murrid kami juga sudah temukan parasit itu. Kemudian efeknya yang mana jika orang-orang itu memasuki kota ini. Mereka tak bisa kendalikan diri mereka. Hingga parasit itu pun mati,” jelas lainnya.


 


Magi mengangguk.


 


“Aku akan mencobba menyelidiki apa parasit ini. Apa aku boleh melakukannya di akademi ini?” tanya Magi sopan.


 


Semuanya pun mengangguk mantap menjawabnya.


 


Esoknya.


 


Tampak Sayugo bangun. Semuanya tampak damai di kota ini. Lalu, dia pun langsung berjalan keluar.


 


Tap tap tap!


 


Di sana dia tampak melihat beberapa murid dari akademi itu juga. Sayugo kemudian berjalan keluar dari tempat itu. Dia tampaknya akan menikmati pagi ini di luar ruangan.


 


Megamu dan Fernie juga sudah bangun. Lebih awal dan kini mereka sedang sarapan pagi. Kehidupan mereka mengungsi di tempat ini. Sepertinya akan lumayan panjang.


 


Tap tap tap tap tap!


 


Di sebuah tempat. Segerombolan orang tengah mepakuan suatu perjalanan.


 


 


“Aku sebenarnya ada rapat di dunia lain. Sebagai wali kota. Aku bertugas menjaga rakyatku,” ujar seseorang yang tengah memainkan sesuatu yang sepertinya adalah handphone.


 


“Apa itu harus?” tanya orang lain di samping.


 


“Tentu saja!” jawab orang itu semangat.


 


Orang paling depan tampam hanya diam menyimak. Beberapanya mengobrol tentang hal lainnya. Sembari bercanda juga.


 


“Kita sampai!”


 


Mereka tampak di sebuah istana yang kini dipenuhi aura hitam.


 


“Orang itu masih saja kuat. Bahkan saat  dia terpengaruh genjutsu!” ujar seseorang yang tampak ada tato di wajah bagian sampingnya itu. Dai juga tampak berambut pirang.


 


“Apa itu genjutsu?” tanya orang yang berambut hitam.


 


“Itu adalah nama jutsu ninja di serial favoritku saat aku masih kecil,” jawab oramg itu.


 


“Hey, kalian! Diamlah! Lebih baik kita segera masuk!” bentak orang paling depan. Yang punya muka paling  tegas daripada yang lainnya.


 


Semuanya diam.


 


Lalu mereka yang sepertinya hanya berrjumlah 50 orangan itu. Tampak masuk ke dalam sana.


 


Tap tap tap tap tap!


 


Tampak saat gerbang itu mereka buka paksa dengan suatu sihir penghancur. Tiba-tiba muncul banyak gerombolan tentara dari dapam. Melompat menerjang mereka.


 


Lalu, seseorang  dengab tampang datarnya itu. Cepat angkat tangannya. Dia gunakan sihir yang menghentikan gerakan mereka.


 


“Slompacsior!” gumamnya.


 


Satu orang tampak memandang kesal.


 


‘Sial, aku kedahuluan’ batin orang itu.


 


Lalu, mereka para gerombolan yang terhenti. Dipinggirkan ke samping. Semuanya pumn bisa  lewat dengan mudah.


 


Tap tap tap tap tap!


 


Mereka semua  tampak memasuki tempat itu. Lalu di depan sana. Tampak masih ada banyak prajurit. Tampak semuanya gunakan senjata menembak ke arah mereka.


 


Lalu, si rambut pirang dalam kelompok itu. Tampak mengangkat tangannya. Lalu, tercipta semacam dinding yang terbuat dari air.


 


“Hidronalla!” teriaknya. Setelah semuanya tertahan. Dia lalu  arahkan tangannya ke depan. Membuat semua air itu kini berubah jadi air bah. Yang melesat dan menerjang ke arah depan sana.


 


Blaaaaaaar!


 


Semua prajurit itu tampak terseret dan sepertinya sudah tersingkir dengan cepat.


 


Lalu, mereka pun melangkah ke dalam ruangan di dalam sana. Tampak, di sana dipenuhi aura gelap.


 


“Dia gunakan teknik sihir ilusi! Raid. Sekarang giliranmu!” teriak orang paling depan.


 


“Ya!”


 


Raid yang dipanggil. Orang berambut hitam dan lancip itu tampak menepukkan kedua telapak tangannya. Lalu, mengangkatnya ke atas sembari dia terpejam.


 


Cling!


 


Semuanya tampak berrsinar putih kebiruan di ruangan itu. Lau, setelah pudar semua aura hitam itu seperti musnah ditelan cahaya yang barusan tadi.


 


Setelah itu. Turun banyak orang. Mereka tampak bersiaga untuk perang hadapi 50 orangan itu.


 


Lalu, satu orang dengan pakaian hitam. Dia tampak adalah Syaumu. Dia melangkah dengan cepat ke arah mereka semua. Lalu,  tersenyum jahat di depan semuanya itu.


 


“Ya ampun! Dia sudah seperti mafia saja!” pendapat orang berambut pirang itu dengan tato di wajahnya.


 


“Kita sepertinya harus bisa mengembalikannya lagi! Apa itu bisa? Raid, Monsaes?” tanya orang paling depan itu.


 


Dua orang yang berambut berbeda itu. Tampak memeriksa lalu secara kompak menjawabnya.


 


“Tidak!”


 


“Oh, begitu. Kita sepertinya harus lakukan sesuatu. Untuk membuatnya tak seperti ini,” ujar satu orang di sana.


 


“Kira-kira ada ide apa?” tanya orang yang bernama Monsaes. Dia berambut biru namun, di bagian belakangnya berwarna orange gelap.


 


“Entahlah, mungkin kita segel saja,” jawab si rambut hitam cuek.


 


“Heh? Bagaimana kalau kita jadikan perempuan saja?” tanya orang yang berambut pirang.


 


“Tidak, alu jijik nantinya,” balas orang berwajah datar yang punya sihir menghentikan gerakan itu.


 


“Apa kau punya keputusan yang  bagus? Xhegshian?” tanya orang-orang  ke arah orang yang paling depan.


 


“Kemungkinan juga Sato terjebak di ruangan akademi kita!” jelas yang lainnya.


 


“Setelah ini kita bebaskan dia bukan?”


 


“Ya!”


 


Xhegshian tampak mengangguk sendiri.


 


“Baiklah teman-teman! Aku punya ide yang brilian!” teriak Xhegshian di tempat itu. Semuanya terpana.


 


Sato kemudian melihat ke satu sosok yang sangat misterius. Sepertinya dia bukan Mugo.


 


“Hey, katakan siapa kau?” tanya Sato keras. Dia tak ingin berkomoromi lagi dengab musuhnya itu.


 


Lalu, orang itu tampak membuka suatu tudung.


 


Sato memandangnya kaget. Dia sepertinya adalah wanita penyihir. Mungkin dia adalah bawahan atau suruhan Mugo.


 


Sato waspada.


 


“Siapa kau?” tanya Sato.


 


“Aku orang suruhan dari penyihir kuno yaitu tuan Xhegshian. Aku diperintahkan untuk membebaskanmu!” jawab orang itu tegas.


 


“Lalu .....”


 


Megamu dan teman-teman masih di kota itu. Mau bagaimanapun mereka tak bisa ke mana-mana.


 


Lalu, mereka tampak berpapasan dengan pria yang mengaku adalah kakak dari Mugo. Nama mereka juga mirip dan hampir sama.


 


“Apa kita harus percaya pada orang itu? Dia sepertinya sok keren,” bisik Sayugo ke telinga teman-temannya.


 


Semua hanya bsa diam. Nreka lihat pria itu melewati mereka semua. Lalu, hilang entah ke mana.


 


Tap tap tap tap!


 


Magi tampak berjalan sembari membawa  salah satu virus itu. Tampak dia pun menuju ke suatu tempat yang  milik akademi sihir Valloshwa.


 


Tap!


 


Dia tampak memasuki bangunan besar dengan atap yang seperti setengah hola itu. Lalu, melangkah dan dia pun tampak disambut dengan siswa-siswa  yang ada di sana.


 


“Jadi anda adalah taun magi ya? Seorang penyihir pengelana?” tanya salah satu murid dengan hormat.


 


Magi tersenyum hangat juga.


 


“Ya! Aku akan meminjam tempat ini. Untuk melakukan penentuan pada virus atau parasit pengontrol manusia yang sepertinya dimiliki  musuh!”


 


Bersambung.