
Episode 41
Dua orang laki-laki dan perempuan itu nampak menjauh dari tempat itu. Entah kenapa.
Lalu, laki-laki itu tetap menatap ke arah Bombamen yang masih adu kekuatan itu.
Duk duk duk duk duk!
Helikopternya nampak menjauh dengan kecepatannya. Namun, dia tetap memperhatikannya dari jauh.
"Kekuatan tak terbatas Bombamen akan menghancurkan seisi negara ini, jadi kita sepertinya harus menjauh!" ucap orang itu kemudian. Helikopternya pun sudah sangat jauh.
Bombamen dikatakan adalah mahkluk penghancur yang tersegel dalam sebuah robot. Namun, organisasi Black destroyer membuatnya menjadi bisa mengendalikan kekuatannya.
Kini, dengan nama Bombamen. Dia salah satu orang kuat di organisasi itu.
Chintya nampak masih terpaku di sana. Bombamen pun meliriknya. Lalu, mengirim sinyal agar dia pergi. Sinyal milik Bombamen yang berupa getaran lembut itu hanya bisa diterjemahkan oleh semua alat milik organisasi.
Chintya nampak bingung. Lalu, dari atas sana. Nampak, diminta untuk naik ke atas sana. Chintya pun naik dan dibawa pergi.
Setelah beberapa jam. Keadaan di negara Albania yang kecil itu. Sepi tak ada siapa pun di sana.
Sato heran karena dai tiba-tiba di ajak oleh Sayugo naik helikopter.
"Cepaaaat," kata Sayugo memerintah Sato yang masih mengemasi barang.
Kini, Sato masih tak mengerti kenapa semua orang. Bahkan dia lihat banyak sekali pesawat angkut umum yang beterbangan di atas mereka.
Lalu, keadaan di bawah sana. Sangat berbeda dari biasanya. Sato berpikir mungkin terjadi sesuatu serangan agresi dari pihak lain yang tak menyukai negara ini.
Duk duk duk duk duk!
Sato terbang menjauhi Albania.
'Apa yang terjadi?' Batin Sato bertanya-tanya.
Dia terus menjauh hingga sampai di markas negara sebelah dari negara Albania. Beberapa pesawat tempur seperti memasang sesuatu yang menutupi Albania dari suatu hal.
'Mungkin terjadi peperangan besar' batin Sato. Namun, dia masih penasaran.
Tap!
Kini dia mendarat.
Lalu, tampak satu helikopter yang menampung Chintya pun datang. Dia melihat senang Sato.
"Untunglah kau tidak tertinggal," ucap wanita itu bersyukur.
"Sebenarnya ada apa di negara itu?" tanya Sato. Dia berjam-jam terbang tadi.
"Ada bencana besar. Tapi sepertinya sudah diserahkan pada orang kuat dan kita semua harus menunggu di tempat ini," jelas Chintya.
"Jadi begitu," gumam Sato paham.
Keadaan di Albania tampak masih seperti itu. Semua media merahasiakan kejadian itu. Jika negara Albania hancur pun. Mungkin mereka akan membuat-buat berita lagi, untuk memalsukan dan merahasiakan semuanya.
Sato lalu menuju ke markas yang sepertinya tak terlalu besar. Beberapa warga mengungsi di negara sebelah.
Sato, tampaknya masih penasaran bencana apa itu. Dia lalu menghampiri salah orang kuat yang ada di tempat itu. Bukan Bernard atau pun dua wanita yang sepertinya 'tertarik' pada Sato.
"Tuan Forg," sapa Sato kepada seorang yang kini melihat layar itu.
"Kau Sato?" tanya Forg.
Forg tampak terkejut. Namun, dia melihat sekelilingnya tang sepi.
"Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?" tanya Forg heran.
Sato menjawab seadanya.
"Entahlah, tapi. Aku masih penasaran akan semua yang terjadi di Albania. Kenapa semua orang tiba-tiba harus meninggalkan negara itu?" tanya Sato.
Forg. Pria berpenampilan lusuh ini. Sepertinya salah satu dari orang kuat. Namun, tak seperti yang lain. Dia nampaknya lebih sering habiskan waktunya di depan komputer itu.
Dia lalu memegang kepalanya maklum.
"Yah, apa boleh buat," ujarnya lalu kembali duduk.
"Kemarilah, maka kau akan mengetahui semuanya," ucap Forg menawari.
Sato menatap Forg dengan tatapan penuh harap. Dia yang sedang penasaran tinggi. Tak sabar, lalu melangkah ke depan sana.
Forg tampak sudah di depan komputernya. Duduk santai sembari sepertinya dia menunggu Sato.
Tap tap tap tap!
Sato pun sudah sampai di sampingnya. Dia lalu melanjutkan sesuatu yang tadi tertunda, sepertinya.
"Aku akan menujukan kejadian yang ada pusat kota Albania," ungkapnya.
Sato terpana. Karena sepertinya tadi melihat semua negara itu tertutupi oleh sesuatu yang melindunginya dari luar maupun dalam.
"Bagaimana bisa? Di tempat itu bukankah--"
"Lihat saja sendiri!"
Sato pun terkejut melihat tangkapan layar di depannya itu. Dalam komputer itu nampak ada dua orang yang saling adu kekuatan.
Semuanya tak begitu jelas karena sepertinya gambar itu diambil dari jarak yang lumayan jauh.
Lalu, setelah itu. Forg memencet tombol di salah satu keyboard komputernya.
Sato melihatnya, lalu kembali melihat layar. Yang mana gambar itu diperbesar. Lalu, Forg tampak terus memperbesar gambar atau layar itu.
Sato membulatkan matanya.
Melihat salah satu dari kedua orang yang bertarung itu.
"Di-dia ....."
Forg menatap Sato yang terkejut. Dia menatap ekspresi Sato. Lalu, diam mungkin tahu apa yang dimaksud Sato dari gumaman tak jelas itu.
Sato melihat Shimun yang tengah berduel dengan Bombamen di layar milik Forg.
"Apa kau mengenal dia Sato?" tanya Forg.
Sato mengangguk.
"Ya, tapi aku tidak tahu siapa yang berwujud robot itu," tanya baliknya.
"Itu adalah orang yang pendiam dan jarang berbicara itu Sato. Kau tidak ingat?" jawab Forg.
Sato kemudian nampak berpikir. Mengingat-ingat.
"Oh, jadi itu paman Bombamen," ujar Sato setelah mengingatnya.
"Aku masih tidak mempercayainya," gumam remaja itu lagi.
"Ya."
'Bombamen, salah satu mahkluk penghancur yang terkenal itu. Aku ingin tahu bagaimana caranya kau bisa disebut seperti itu' batin Forg penuh penasaran.
Forg dan Sato terus mengamati layar itu.
Tempat lain.
Kini, tampak banyak orang juga sama seperti Sato. Mengamati pertarungan di negara Albania.
Tempat itu tak terlalu ramai. Beberapa orang yang sudah cukup tua dan dewasa yang mengamatinya. Mungkin mereka para petinggi dari organisasi Black destroyer.
"Bombamen sepertinya akan mengerahkan kekuatan penuhnya," pendapat satu orang di sana.
"Ya, sepertinya begitu," ujar satu orang yang sepertinya masih umur 40 tahunan.
Flasback.
"Seekor monster, dengan luar biasa mengambil beberapa pulau kecil dan kota-kota di Albania. Ini lah daftar kerusakan yang diterima!"
Setelah kata-kata itu. Tampak, kini di layar komputer besar itu. Ditampilkan banyak hal mengenai informasi yang sudah disebutkan.
"Waaaah."
"Parah sekali."
Kini, terlihat salah satu orang melihatnya begitu sangat marah. Dia sepertinya sangat menyayangkan dampak kerugian dunia ini karena monster itu.
Setelah rapat itu. Orang tadi yang marah, kemudian sepertinya menuju ke tempatnya lagi. Dia tampaknya masih marah untuk saat ini.
Mengendarai mobil hitam perusahaannya itu dengan perasaan gundah tak henti-hentinya.
Brrrrrrrrm!
Hingga dia sampai di suatu tempat di negaranya. Itu sepertinya batas kota itu yang di hadapkan langsung dengan lautan.
Mereka berada di pelabuhan perahu. Orang itu menginjak remnya kemudian.
Di tengah jalan sana. Sebenarnya berdiri sosok seseorang yang lumayan tinggi.
Orang itu keluar dengan perasaan marah yang sepertinya makin melunjak.
Tap tap tap tap!
Brak!
Kemudian dia menemui sosok yang berdiri di tengah jalan itu.
Tap tap tap tap!
"Hey, Bombamen! Kau harus segera berantas monster-monster itu! Aku memerintahkanmu untuk langsung maju ke arah monster-monster yang saat ini selalu membuat kacau," ucap orang itu resah.
"Semakin lama, semakin parah kerusakan yang kita terima," lanjutnya lagi.
"Aku pikir, kita harus langsung menghancurkannya total jika ada satu monster yang kuat itu."
"Akan tetapi, semua yang kuajukan itu. Ditolak mentah-mentah, sialan!" ucap marah orang itu terus menerus.
Lalu, orang yang dipanggil Bombamen itu mengangguk.
Dia lalu berlalu dari tempat itu. Orang yang marah-marah tadi sudah terlihat puas.
Kini, Bombamen itu tampak melihat ke arah atasnya. Di depan lautan itu.
Brrrrrrm.
Tampak, satu-satunya mobil yang ada di belakangnya. Tampak berlau menjauh dari tempatnya itu.
Bombamen yang sebenarnya adalah mahkluk penghancur itu. Saat ini berwujud seorang pria normal yang pendiam.
Bombamen, terlihat memandang bayangan dirinya air laut itu. Walau tak terlihat apa yang dia rasakan. Namun, sepertinya dia tengah khawatir juga.
Setelah itu, dia melihat tangannya sendiri. Lalu, menggenggam kuat-kuat.
Flasback off.
Bernard dan beberapa orang lain. Berkumpul di salah satu ruangan di gedungnya.
"Jadi, Bombamen ya?" tanya Bernard setelah memeriksa satu berkas dokumen di tangannya.
"Sepertinya begitu pak," jawab orang yang duduk di tempat kerjanya. Bernard sepertinya mendatangi orang itu.
Kini, dari samping datang haik dengan pakaian kantornya. Mereka sepertinya berada di suatu tempat.
"Hai, haik. Kau kekuatan serius," sapa Bernard.
"Ya, sepertinya ada serangan dari monster yang masih berhubungan dengan monster yang waktu itu," ujar haik dengan merapikan dasi kantornya.
Bernard tampak berpikir setelah mendengarnya.
"Sepertinya mereka dendam karena kawannya mati," simpul Bernard.
Tempat lain.
Kini, salah satu orang bertitel kuat. Tampak berjalan di sebuah Villa yang sepertinya berada di pulau pribadinya.
Tampak, di sana. Dia bisa langsung menuju pantai dengan hanya melangkah beberapa jengkal kaki.
Namun, dia bukan ke arah pantai. Melainkan dia menuruni sebuah tangga yang berada di area luar rumahnya itu.
Tap tap tap tap tap.
Orang itu, dengan rambut hijaunya. Tampak memainkan ponselnya. Lalu, dia pun sampai di tempat gelap.
Karena dia turun ke bawah tanah. Lalu, dia ,sampai di sebuah ruangan dan sesuatu seperti pintu bagasi membuka.
Graaaaak!
Tampak, orang itu menunggu di depan ruangan. Grak! Dia menunggu dengan tampang biasanya.
Beberapa kali memeriksa ponselnya itu.
Graaaaak!
Pintu lalu perlahan membuka sempurna. Akan tetapi, terlihat pintu itu begitu besar. Jadi membutuhkan watu lama.
Karena gerak pintu itu yang tidak terlalu cepat. Tampak, orang itu masih sabar menunggu.
Lalu, dari celah yang sudah terbuka. Tampaknya ,ada satu perangkat yang membentuk struktur tubuh manusia.
Tampak, robot berwarna hitam. Asap kemudian mengepul dari dalam sana. Lalu, orang itu tersenyum setelah pintu itu baru setengah terbuka.
"Akan kutunjukkan pada organisasi. Bahwa robot Raiden buatanku. Tidak selemah robot genmu milik kakek-kakek tua bangka itu," ucap orang berambut hijau itu.
Tampak, robot hitam juga mengeluarkan percikan listrik hitam juga.
Bersambung.