
Episode 79
Sato pun perlahan membukanya. Lalu pintu terbuka. Keluar beberapa orang.
Lalu, mereka pun melihat keluar. Di sana tak ada orang sama sekali.
Mereka berpakaian serba hitam dan sangat mencurigakan.
“Aku tadi merasakannya,” ucap salah satu dari mereka.
“Mungkin, sesuatu yang lain, ayo kembali!” tanggap temannya itu.
Jglak!
Pintu pun mereka tutup kembali.
“Haaah, untunglah,” gumam Sato yang bersembunyi di sana. Tepat di bawah keduanya tadi. Ada sebuah ruang bawah tanah di sana. Sato sepertinya berhasil temukan itu.
Kembali Sato pun mencoba melihat ke bawah. Dengan bantuan santer itu. Sato pun bisa melihat rute yang akan dia coba jelajahi ke bawah.
Dia pun turun. Dengan hati-hati. Sato terus menuju ke bawah.
Tap tap tap tap tap tap!
Dia pelan saja. Tampak tak ada yang aneh. Tembok yang sempit. Membuatnya sedikit sesak nafas. Namun, Sato terus berjalan.
‘Mungkin ini semacam ruangan rahasia’ batin Sato dan terus berjalan.
Tap tap!
Sato memandang jalan setapak itu.
“Tapi aku tak tahu. Ini aman atau tidak,” gumam Sato.
Tap tap tap tap tap!
Sato terus berjalan di ruangan itu.
Tap tap tap ta tpa tap!
Kini, jalan itu pun sepertinya berubah. Setelah Sati temukan dasar. Ada jalan lain mungkin sambungannya.
‘Ini menuju ke atas’ batin Sato. Namun, dia tak tahu. Ke mana tujuan jalan itu. Apakah ke tempat sebelumnya?
Sato tak yakin. Sato pun mencoba untuk masuk ke dalam. Sato menanjak menaiki tangga itu. Ada banyak obor api di ruangan sebelumnya. Mungkin memang dipelihara.
‘Aku tak yakin’ batin Sato. Mengingat ada banyak sekali obor di dasarnya tadi.
Tap tap tap tap tap tap tap!
Sato terus berjalan. Dia menaiki tempat itu. Beberapa jam kemudian. Dia pun sampai.
Sato lalu merasakan jalan buntu di atas tertutupi oleh tembok sepertinya.
“Hyaaaa!” Sato berusaha mendorongnya. Tampak dia pun berhasil. Kini, dia pun naik. Dia ternyata berada di suatu ruangan.
Deg!
Sato sepertinya menyadari ruangan itu. Lalu, entah kenapa terdengar suara tapak kaki. Membuat Sato pun bersembunyi cepat di sekitar sana. Tempat itu untunglah gelap.
Tap tap tap tap tap tap!
Serelah beberapa saat. Datanglah orang-orang itu. Namun, hanya lewat saja dari ruangan Sato. Ruangan kosong yang beberapa tembok bisa dijadikan tempat bersembunyi bagi Sato. Tembok besar dan menonjol ke atas. Serta ada suatu celah di baliknya. Hal itu juga sepertinya sampai ke atas sana. Serta Sato bisa memijak di bagian atas sana. Karena ada suatu pijakan. Lubang yang terbagi-bagi itu.
Sato pun lega. Dia pun lompat dan tap!
Mendarat di sana. Sato pun mulai bergerak. Melihat orang itu lewat. Dia pun sepertinya akan menuju ke tempat sebaliknya dari perjalanan orang itu.
“Sepertinya aku berada di dalam ruangan markas itu,” gumam Sato.
Dia pun melangkahkan kakinya menuju ke depan sana. Melangkah dengan benar. Tak ada apa pun di sana. Beberapa lubang seperti pintu juga dia cek satu per satu. Namun, tak ada yang janggal.
‘Aku akan mencari keberadaan dari teman-temanku’ batin Sato.
Tap tap tap tap tap tap!
Sato pun terus melaju di sana. Berjalan mengecek hingga dia mendapati beberapa orang.
Sato pun bersembunyi di tempat yang itu. Berada di atas sana. Orang-orang itu pun tak bisa menyadarinya Sato mengintip perhatikan segalanya.
Orang-orang itu tampak terjaga di sana. Mereka terlihat payah. Mereka sepertinya mabuk.
‘Aku akan menunggu mereka tertidur pulas’ batin Sato mengintip di sana. Orang-orang itu pun mulai terlelap.
Tap.
Sato pun mendarat dari atas sana. Setelah merasa aman. Namun, dia tiba-tiba mendengar langkah kaki itu.
Dia pun kembali lompat ke atas.
Tampak, setelah beberapa saat. Tibalah beberapa orang yang membangunkan mereka.
Membuat Sato kesal. Kini, dia harus bertahan lama di sana.
‘Alasan mereka adalah karena aku kan?’ batin Sato mulai berpikir cermat.
‘Apa aku pancing mereka saja ya?’ batin Sato lagi.
Orang-orang tadi pergi. Mereka terlihat seperti penyihir. Sato sudah tahu itu. Semuanya adalah penyihir.
Sato terus menyaksikan mereka. Mereka tampak masih berdiri tegap dan sepertinya tak ada cara kain. Sato harus melakukan sesuatu.
“Huft!” Sato membuang nafas bersiap.
Lalu ....
Wuush!
“Sato Kazumi!”
Deg!
Sesaat sebelum dia akan lompat untuk menerjang empat orang itu. Sato mendengar suatu suara.
Sato pun sepertinya tahu. Dia akan cari cerobong itu. Tempat itu sangat kaus. Lalu Sato pun turun dan mengendap jauhi penjaga itu.
‘Aku sepertinya harus keluar dulu, tapi itu memakan waktu. Mungkin akan baik jika aku terus di sini. Tapi itu juga sangat berisiko’ batin Sato bingung. Berjalan di sana.
Lau tiba-tuba saja. Sato sepertinya mengaktifkan karmanya. Itu diluar dugaannya.
‘Kenapa bisa aktif’ batin Sato melihat tangannya yang mulai mencetak lingkaran sihir karma khas itu. Namun, ada beberapa orang yang akan lewat.
Sato pun mencoba bersembunyi lagi. Dia tak tahu tentang karma ini. Apa dia akan menggunakan untuk kalahkan semua orang ini?
Sato di sana perhatian kumpulan orang yang bercanda gurau lewat di depan matanya itu.
‘Mungkin mereka orang-orang yang diperalat?’ batin Sato.
Maksudnya, ada kemungkinan orang-orang iu hanya dipaksa melakukan ini. Itu yang dipikirkan Sato. Sato pun mengangguk paham.
‘Aku tak tahu harus apa, dalam keadaan sulit ini. Apa yang seharusnya ku tindak? Ini diluar kebiasaanku’ batin Sato bingung.
‘Sial.’
Sato lalu melanjutkan perjalanan. Dia tak tahu di mana cerobong asap itu. Terus berjalan di sana.
Tap tap tap tap tap tap!
Sato berjalan pelan saja. Dia santai di tempat itu.
Tap tap tap tap tap tap tap!
Karma aktif di saat seperti ini. Apakah Sato akan gunakan itu?
Kini tampak megamu sudah gantikan Fernie. Membuka matanya fi sebuah tempat yang gelap itu.
‘Setelah beberapa bulan tersegel karena pelatihan kami. Aku akhirnya bisa bangkit lagi. Namun, kini di tengah situasi yang sulit’ batin Megamu.
Tampak, seseorang lain di sampingnya memasang wajah khawatir. Sayugo.
“Apa tadi itu Sato?” tanya Sayugo di sana.
Tap tap tap tap tap!
Sato pun mulai berjalan di lorong lurus. Dia melihat semua orang tampak bergantian keluar masuk lorong ini. Untunglah banyak hal di sana untuk dirinya bersembunyi.
Tap tap tap tap tap!
Beberapa orang tampak berjalan di belakangannya. Menuju dirinya. Sato pun bersembunyi.
Tap tap tap tap tap!
Kumpulan itu lewat. Mereka mabuk.
Sato pun tahu, itu adalah kumpulan sebelumnya itu. Sato tak sengaja melihat wajah mereka dan beberapa tompel di salah satu anggota tadi.
Sato pun berbalik dan menuju ke jalan sebelumnya. Ada beberapa orang lewat lagi. Mereka tampak lewat begitu saja. Tak merasakan sekitarnya yang ada Sato itu.
Sato lalu berjalan lagi. Kini sampai di tempat sebelumnya itu. Tampak, hanya ada satu penjaga di sana.
Sato bersembunyi dengan cepat. Orang itu sedikit melirik tadi. Namun, tak rasakan keanehan.
Kini, Sato pun sepertinya putuskan sesuatu.
‘Aku akan gunakan karma kepadanya’ batin Sato.
Orang itu tampak kelihatan garang dan jahat. Matanya selalu melotot kejam. Hal itu sudah menjadi alasan logis untuknya saat ini.
Di tempat megamu.
Blaaaar!
Sesuatu tampak mendobrak paksa dinding di dekat mereka.
“Sato!” seru Sayugo bahagia di sana.
Megamu memandang menerawang. Lalu .....
Sato tak jadi di sana. Dia tadinya akan gunakan itu. Namun, tiba-tiba saja orang itu menangis di sana. Sato bertanya-tanya. Orang itu menangis serelah melihat sebingkai kertas yang dia keluarkan itu.
“Huaaaa!” tangisnya bergema.
Hal itu membuat Sato harus menunggu situasi. Kini, sepertinya Sato harus tunggu orang itu lengah.
Tampak, orang itu terus enubdk memandangi secarik kertas itu. Membuat Sato pun mencoba untuk hampiri dia pelan-pelan saja.
Tap tap tap tap tap tap
Sato menghampirinya. Namun, orang itu tak menyadarinya.
Lalu, Sato pun sadar.
‘Dia tak menyadariku?’ batinnya tak menyangka.
Lalu buagggh!
Dengan pukulan keras. Sato pun berhasil tumbangkan orang itu.
Kini, Sato pun mencoba masuk ke dalam gerbang yang sepertinya dijaga itu. Ada kunci untuk membuka gerbang itu.
Grak!
Sato pun masuk ke dalam sana. Dia membukanya sedikit. Lalu menutupnya balik. Kini, Sato pun mencoba masuk ke dalam sana. Keadaan gelap namun, samar ada sinar di depan saba.
‘Ini apa?’
Sato terus berjalan di sana. Tak gugup sama sekali. Dia berhati-hati. Karena tempat ini begitu sangat luas sekali. Tak ada sesuatu yang bisa membuatnya harus bersembunyi.
Tap tap tap tap tap!
Sato tak tahu lagi. Karena di depan sana bahkan sudah ada orang. Terlihat hanya itu tempat yang bisa ia lalui.
‘Ah, entahlah. Aku sepertinya terpaksa gunakan karmaku ini’ batin Sato di sana.
Tap tap tap tap tap!
Cahaya kuning. Mungkin lampu itu. Tampak di dalam sana ada seseorang. Perempuan yang sedang duduk dengan gaya elitenya. Berambut merah maroon itu.
Terlihat dia merasakan sesuatu datang. Dia pun kaget.
‘Bagaimana bisa ada yang ke tempat ini?’ Batinnya. Dia adalah Marylin.
Tap!
Setelah itu dia pun berbalik Setelah rasakan seseorang. Lalu dia tak percaya pada apa yang dilihatnya.
Sato kini bersiap dengan kekuatan itu.
Sato pun terkejut melihat Marylin di sana.
“I-ibu guru?”
“Kau!”
Keduanya saling tatap.
“Jadi, ibu adalah penyihir ya?”
“Benar!”
Keduanya tampak berhadapan duduk dan sepertinya sudah sangat lama di sana. Untuk berbincang.
“Apa tujuan ibu guru? Dengan menculik teman-temanku?” tanya Sato.
Marylin mengalihkan matanya.
“I-itu ....”
Sato tak mendapat jawaban yang berarti.
“Ibu! Kami punya misi yang penting! Namun, jika ibu menghalangi misi kami. Itu berarti anda jua musuh kami!” ucap tegas Sato di sana.
“Sato Kazumi!”
“Ibu, coba katakan di mana Fernie dan Sayugo! Sebagai gantinya kau akan ceritakan semua yang ingin ibu ketahui!”
Bersambung.