
Episode 33
Wuuuuush!
Sato tertidur di pesawat itu. Jarang sekali saat sore hari. Sato yang biasa memandangi pemandangan langit sambil makan.
Kini tertidur.
Fernie tampak makan dan tidak terlalu berselera. Sementara Sayugo sudah habis dan minta tambah lagi.
Fernie kemudian melihat tubuh satu yang menutup mata itu. Anak yang sepertinya lebih dewasa darinya itu. Namun, umur keduanya sama bahkan Fernie lahir beberapa bulan lebih dulu dari Sato.
Tapi, Fernie entah kenapa merasakan Sato itu agak dewasa dari dirinya. Bahkan dalam semua pelajaran umur yang dia dengar. Wanita akan cepat lebih dewasa daripada laki-laki. Kecuali mereka memang berbeda umur.
Fernie lalu membayangkan masa lalunya.
Flasback.
Fernie tampak masih cupu. Itu pertama kalinya dia sekolah di kota besar dan elite. Dia pindah karena beasiswa dari suatu desa.
Fernie, dulu anak pendiam dan kalem. Namun, itu semua karena dia terlalu malu dan ingin menjaga kesan pintar dalam dirinya.
Aslinya, Fernie adalah tomboy murni yang suka menghajar preman dari arah depan langsung.
Fernie tampak belajar. Dia terus belajar agar masuk Olimpiade pertama saat pertama kali dia masuk smp. Lalu, dia agak kesal.
Sedikit kesal lebih tepatnya. Karena, setiap beberapa jam setelah kelas berlangsung.
Terdengar suara langkah lari seorang siswa dari luar sana. Sepertinya dari ruangan kelas sebelah.
Namun, dia tak akan langsung menegurnya dengan keras. Seperti yang biasa dilakukan di sekolah dasar.
Fernie lalu melanjutkan kelasnya. Setelah itu, Fernie nampak sedang belajar lagi. Namun, suatu suara keras langkah seseorang membuatnya kini sudah tak tahan lagi.
Karena sudah beberapa kali dia diganggu dengan langkah seorang yang dari kelas sebelas lari sangat cepat dan membuat suara langkah yang lumayan berat.
Fernie lalu mencoba keluar dari jelasnya. Ini pertama kalinya dia keluar kelas kecuali saat pulang sekolah.
Dia lalu melihat keadaan sekitar sangat sepi. Karena kelasnya sedang berkumpul untuk pelajaran jasmani. Fernie tentunya pura-pura belajar untuk bersiap pada Olimpiade dan berbagai alasan lain yang kanam membuat kesan pintar mendalam pada bocah ini.
Itu idenya saat akan masuk ke sekolah ini. Setelah dia melongok di bibir pintu. Kemudian, dia melihat sesosok siswa yang berlarian.
Dia pun heran. Kenapa siswa itu tak mengikuti pelajaran. Dan herannya teman-temannya bahkan tak mengenali siapa orang yang suka berlari itu.
Mungkin dia orang pintar atau culun yang tidak terlalu diperhatikan semua orang. Dengan penasaran mendalam.
Kini, Fernie mulai melangkah keluar. Dia melihat keadaan semua jelas masih tenang. Dia pun tak khawatir akan keadaan sekitar.
'Aku harus tetap menjadi gadis baik! Tak peduli apa pun yang terjadi. Setelah aku menghajar orang culun tak sopan ini. Aku akan sedikit lebih tenang dalam menjalani sekolah di kota besar ini' batinnya sedikit dibumbui emosi.
Tap tap tap tap!
Tap tap tap tap!
Fernie melihat anak itu masuk ke dalam sebuah toilet. Dan itu adalah toilet untuk pria.
Namun, dengan kacamata dan muka marahnya. Mungkin Fernie tak terlalu bisa berpikir jernih.
Dengan lagaknya yang sok itu. Dia tiba-tiba membuka paksa toilet untuk ......
Perempuan!
Brak!
Muka Fernie sangat seram. Keadaan di sana sangat terang padahal.
"Jadi, kau orang yang suka menggangguku dengan suara-suara goblok it--"
"Fernie?"
"Kamu? Kenapa ke-lu-ar?"
Fernie terkejut diam.
"Eh?"
Dan yang ada di dalam sana. Sudah pasti para siswi yang sudah mengenalnya.
Esok tiba.
Fernie yang sepertinya sudah ketahuan identitas aslinya. Kini, agak di jauhi. Seperti anak tomboy mengalami hal-hal seperti ini dalam pergaulan.
Namun, tidak semua orang tak suka. Beberapanya memakluminya. Dan terus berperilaku seperti biasanya.
Hingga ....
Brak!
Fernie tampak membanting kaca matanya.
"Aku muak!" ucapnya sangar
Beberapa laki-laki di kelasnya jadi takut. Apalagi melihat cara jalan Fernie yang menakutkan.
Itu bukan tanpa alasan. Karena gangguan itu.
Kkrak krak!
Meregangkan tulangnya di setiap jalan. Dia menggenggam sebuah bogem yang sudah dia persiapkan.
Saat ini, Fernie sudah tahu siapa siswa laki-laki yang sering berlarian itu.
Dia dengan muka marah. Memandang wajah remaja tu yang kebetulan entah mengapa ada di kelasnya. Tak lain adalah Sato.
"A-ada apa?" tanya Sato sedikit bernada polos.
Sring!
Layaknya pedang. Fernie meluruskan tangan ke depan wajah anak itu. Menodongkan tinju ancaman.
"Kau! Anak bodoh yang suka berlarian dari kelas ke kelas lainnya kan?" ujar dingin Fernie. Matanya seakan merah panas karena dendam dan amarah.
Sato kemudian sedikit demi sedikit mengangguk.
"Huaaaaaaa!"
Sudah seperti monster saja. Fernie tiba-tiba berteriak lalu memukuli anak itu.
Semuanya jadi takut dan waspada. Sato juga begitu. Dia terpental sangat jauh keluar kelas itu. Dirinya yang berniat untuk mencari anggota baru untuk klub misterinya. Kini, harus mengalami hal yang tidak dia duga.
Sato dengan perasaan tak bersalah. Memegangi pipi yang sudah babak belur.
"Hey goblok! Kau ingat ini ya! Jangan pernah berlari-laru seperti itu lagi saat dalam kelas. Aku terganggu atau kau akan lebih mendapatkan apa yang tidak pernah kau rasakan sebelum ini! Apa kau mau?!" ujar Fernie mengancam.
Sato lalu kalang kabut. Dia lalu mengangguk cepat dan terus berlalu ke arah ruangan klubnya berada.
Fernie lalu kembali ke tempatnya lagi.
Berhari-hari kemudian. Sato tidak berlarian lagi. Fernie juga semakin berprestasi. Dia berhasil mendapat juara satu di Olimpiade pertama.
Lalu, dia tak sengaja menabrak seseorang saat dia akan pulang.
Brak!
Fernie saat itu bertemu dengan kakak jelas yang dia kagumi di klub basket. Setelah pertemuan itu. Fernie menjalin hubungan dekat sebagai kekasihnya.
Akan tetapi, seperti yang biasa terjadi pada gadis-gadis polos yang baru bercinta.
Membuat Fernie saat itu agak terkucil. Namun, seorang remaja senior tampaknya tertarik padanya.
Fernie menyebut dia adalah "si botak" alias Sayugo.
Tampak saat Fernie berjalan untuk pulang. Si botak itu tampak nongol dengan gaya koboynya. Karena saat itu sedang trend game tembak menembak.
"Hey, Fernie. Mau ke warnet kah?" tanya Sayugo.
"Percaya diri sekali. Aku bukan orang-orang yang menghabiskan uang mereka hanya untuk mengendalikan kartun, dasar bodoh!" ucap Fernie kasar.
Tap tap tap tap!
"Mengendalikan kartun?" tanya Sayugo.
Namun diabaikan saja.
Esok harinya.
Terlihat Fernie sudah bersiap untuk berangkat. Lalu tak disangkanya. Si botak nongol di situ.
"Hey Fernie," sapa Sayugo.
"Ada apa?" tanya Fernie malas.
Lalu, dia pun meninggalkan Sayugo begitu saja.
Sayugo pun mengikuti Fernie. Bagai ekor Fernie saja.
"Hey, aku ingin serius kali ini," ungkap Sayugo.
'Dia pasti ingin memacariku' batin Fernie sok tahu.
Lalu, Fernie tambah mempercepat laju jalannya ke sekolah pagi itu. Membuat Sayugo tertinggal sangat jauh dan kaget.
"Hey, tunggu. Cepat sekali jalan mu. Hey, tomboy!"
Kriut!
Mendengar itu! Tiba-tiba.
"Wooooah!"
Duaaaaagh!
Pukulan Fernie menghempaskan Sayugo yang nampaknya masih belum tahu apa pun tentang Fernie.
Braaaak!
Pukulan itu membuat Sayugo kembali ke tempat semula beberapa ratus meter ke belakang.
........
Sepulang sekolah. Sayugo dan Fernie. Kembali bersama. Sepertinya Sayugo tak kapok-kapok untuk mendekati gadis galak itu.
Mereka berjalan pulang.
"Aku benar-benar ingin serius Fernie. Tolong dengarkan aku, kali ini saja," mohon Sayugo.
Fernie memandang sinis dirinya.
"Tidak!" tolaknya singkat.
"Huh, aku pikir kau berbeda. Ternyata sama saja," gumam Sayugo kecewa.
Tap tap tap tap tap!
Setelah itu, Fernie sedikit melirik ke arah sampingnya. Di mana, Sayugo pasti akan masih ada di tempat itu.
Namun, ternyata tidak ada. Dia pun sedikit melihat ke belakang. Nampak, melihat tubuh Sayugo yang berjalan lawan arah darinya.
Rumahnya memang sebenarnya ada di jalur yang berbeda dari rumahnya.
Dia pun mengingat kembali ucapan Sayugo waktu itu.
Lalu, dia sedikit iba padanya. Mungkin Sayugo benar-benar serius ingin memacarinya.
Lalu, Fernie saat itu mengingat ada nomor Sayugo yang anak itu tulis saat pertama kali berkenalan. Yakni, di selembar kertas yang sudah dia buang.
Dia dengan rasa ingin tahu. Lalu, rela mengacak-acak sampah itu. Hingga dia tak berhasil menemukannya.
"Mereka sudah membuang sampah itu tadi!"
Fernie lari mendengar itu.
"Haaah haaah haaah haah."
Dia terengah di tengah larinya itu.
Lalu, terlihat dia berada di depan tempat pembuangan umum.
"Haah haah haaah!"
Lalu, Fernie mencoba mencarinya di sana. Tentunya sulit. Hanya beberapa petunjuk yang dia dapat dari petugas yang menjaga tempat itu.
Mereka juga tak bisa membantu karena malam akan tiba. Fernie terus mencari hingga malam.
Lalu, dari arah lainnya. Tampak, ada seseorang yang tiba-tiba mengajaknya bicara.
"Hey, apa kau mencari sesuatu?" tanya orang itu.
Lalu, dia pun berbalik. Dan melihat itu adalah seseorang yang sepertinya tak asing baginya.
Anak itu lebih tinggi darinya. Dan saat ini, dia butuh mengambil kantung sampah dari rumahnya yang sangat tinggi di atas sana.
"Oh, kau rupanya," ucap Fernie. Padahal dia sama sekali tak mengingatnya.
"Ya, aku orang yang waktu itu kau hajar di kelas E. Ingat?" ujar anak itu.
Membuat Fernie mengingatnya. Ternyata dia adalah anak yang dihajarnya karena dia sering berlarian di sekitar tempat belajarnya.
"Oh, jadi itu kau!" seru Fernie.
"Hahahahha, tapi tenang saja. Aku sudah melupakannya kok," ujar anak itu. Membuat Fernie agak malu.
"Lalu?"
Setelah itu Fernie menuturkan sesuatu, karena itu dia pun menangis. Hingga kini dia bisa menemukan apa yang dia cari.
"Itu nomor telepon?" tanya pemuda itu. Sato.
"Ya, dia orang yang mungkin .... baik."
"Memang ada apa dengannya?"
"Dia, sepertinya serius padaku, tidak maksudku. Aku ini orang yang buruk. Tapi dia--"
"Kata siapa?"
Fernie terkesiap. Tangisnya terhenti begitu saja.
"Aku pikir semua orang itu baik. Tapi dengan caranya masing-masing."
Bersambung.