Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Masa lalu bagian 3.



Episode 121


Anak berambut biru nampak melihat ke arah sosok besar itu yang mulai menghampirinya dengan kecepatan yang cepat.


 


Matanya membelalak kaget.


 


"Arrrgh!"


 


Dia nampak dicengkeram, diangkat oleh sosok besar yang merupakan orang yang marah tadi.


 


"Kau ....!" geram orang itu. Melihat ke arah mara si pemuda rambut biru yang ketakutan dengannya. Cengkeraman itu nampak sangat kuat. Ada energi-energi sihir yang mengaliri di tangan pria itu.


 


Pria besar yang punya otot yang kekar. Urat-urat tangannya pun terlihat besar. Tingginya mungkin lebih dari dua meter. Besarnya tidak sebesar orang berlemak tinggi.


 


Dia seperti atlet sepakbola dengan otot kuat dan kulit berwarna cokelat yang seperti melambangkan sifatnya yang sangat keras.


 


Diam menggeram di depan anak itu. Namun, sosok lain mendekati keduanya. Si wanita dengan rambut merah, air mukanya nampak khawatir dan terlihat mau melerai keduanya.


 


"Sudah hentikan kakak. Aku yang bersalah, aku salah langkah dan menabraknya," ujar wanita tersebut. Bermaksud menenangkan sang pria itu.


 


Si pria nampak tambah marah.


 


"Tidak peduli apa pun itu. Kau adalah orang yang harus kujaga. Bila tidak, ibu akan memarahiku," balas orang besar itu. Wanita itu tak bisa mengatakan hal apa pun. Seakan perkataan itu adalah sesuatu yang sebenarnya. Dia nampak sedih tidak bisa melerai hal ini.


 


Terlihat, si pria berambut biru itu pun. Nampak melenguh sakit.


 


'Sialan, kekuatannya ini. Sangat kuat. Aku bisa mati karena sesak nafas' batin pemuda itu. Dia memegang tangan pria itu. Agar lebih melonggarkan tangannya di leher miliknya.


 


Kemudian, pria itu tampak menatap tajam ke arah matanya. Sorot mata itu membuatnya takut setengah mati.


 


"Kau!" geram orang itu tepat di hadapannya.


 


Pemuda itu nampak mengerakkan kakinya yang tidak menyentuh hal apa pun. Tubuhnya diangkat.


 


"Ma-maaf," guma lemah anak itu. Namun, orang itu tak bergeming. Percuma hanya itu yang bisa menggambarkan apa yang terjadi.


 


Tubuh miliknya diangkat hingga lebuh dari tinggi pria yang mengangkatnya. Lalu, terlihat orang itu melemparnya.


 


"Waaaa!"


 


Orang-orang melihat kejadian itu. Lantas wanita itu juga melihatnya. Di mana pria berambut biru yang ia tabrak dalam kerumunan ini. Nampak, dilempar sangat jauh sampai melewati suatu danau di tengah tempat itu.


 


"Uaaaa!" teriak pria itu.


 


'Untung saja dia sudah melepaskanku’ batinnya lega. Dia nampak bernafas dengan nyaman. Akan tetapi dia kaget, nafasnya itu seperti terhisap oleh angin yang ada di sana.


 


"Apa ini!" kagetnya. Dia kini melihat ke depan. Memandang hal yang ada di depannya. Lapu, ke arah orang-orang yang jauh itu.


 


"Tidak!" teriaknya nampak akan melakukan pose berenang ke arah posisi sebelumnya.


 


Namun, itu percuma saja. Dia pun kini menubruk sesuatu. Jatuh dari melayangnya diri orang itu.


 


Jduaaaar!


 


Brak brak brak!


 


Sesuatu yang dia tabrak terjatuh-jatuh. Lalu, anak itu ternyata masih bisa bangkit.


 


"Aduh!" Dia bangkit dengan rasa sakitnya. Asap mengepul di sana.


 


Tap tap tap tap tap!


 


Namun, datang beberapa orang ke posisi durinya. Anak itu pun mencoba berdiri. Asap tampak sudah pudar. Lalu, melihat ada sekumpulan orang berkostum sama.


 


Anak muda itu menoleh pada mereka yang terlihat kaget juga.


 


"Anda baik-baik saja?" tanya mereka pada pemuda itu. Pemuda itu berjalan dari tempat itu yang sepertinya adalah sebuah tempat yang sempit. Ada beberapa hal yang terjejer di sana. Tertabrak dan berantakan oleh pemda itu yant terlempar jauh dari sini.


 


Pemuda itu mengelus tubuh sakitnya. Melihat semua orang itu yang khawatir.


 


"Kami sangat menyesal. Tuan putri sudah menjelaskan semuanya. Pangeran memang begitu. Jadi, jika anda bertemu dengannya. Lebih baik hindari saja," ucap mereka padanya.


 


Pemda itu nampak mengangguk setuju.


 


"Baiklah, aku akan menjauhinya mulai sekarang," sahutnya.


 


Tap tap tap tap tap!


 


Dia nampak berjalan. Dituntun oleh dau orang dari perkumpulan tadi. Nampak di jalan itu ada tangga biasa yang lurus. Kemudian mereka sampai di tangga yang mulai menurun tapi terlihat mendatar lagi di depan sana.


 


"Ikuti jalan ini, maka kau akan lebih dekat dengan tempat pertempuran. Setelah itu, kau bisa bertanya pada orang-orang di sana," ujar salah satu orang yang mengantarnya. Anak muda itu mengangguk.


 


Dia berjalan menuju tangga itu.


 


Tap tap tap tap tap!


 


Dia mengelus tubuh sakitnya beberapa kali. Dia maiah bertahan dari jatuh yang amat jauh itu. Terlihat, dia membawa satu kalung yang dia keluarkan dari tasnya itu.


 


Dia membawanya sekilas lalu masukkannya ke dalam sakunya. Dia terus berjalan susuri tangga jalan itu.


 


Tap tap tap tap tap!


 


Kini, orang itu kembali menapaki jalan menanjak. Lalu, ada beberapa orang terlihat. Dia pun bertanya pada mereka.


 


Mereka mengangguk dan menunjukkan jalannya. Dia berterima kasih dan menyusuri jalan yang tadi diarahkan oleh orang tadi.


 


Tap tap tap tap tap!


 


Perjalanan biasa saja. Nampak, banyak orang yang juga bersamanya pula. Mereka tak kenal dirinya. Namun, mereka nampak akrab seperti sudah bertemu sangat lama.


 


Mereka terus berjalan menuju ke sebuah tempat itu.


 


Tap tap tap tap!


 


Mereka melihat rombongan makin ramai. Mereka pun tampak antusias untuk menuju ke depan. Tampak, di sana kini terlihat tempat yang tinggi. Dari jauh sudah terlihat.


 


Semua orang di sekitarnya kagum dan tidak sabar sekali.


 


"Itu sangat besar dari yang aku pikirkan."


 


"Ya! Lebih besar dari aula istana kerajaan Hompir."


 


 


Tap tap tap tap!


 


Pemuda itu menoleh ke kanan dan kiri. Nampak, banyak sekali orang yang berjalan dengan kelompoknya. Sementara dirinya terlihat hanya sendirian.


 


Dia lalu mengeluarkan kalung liontin itu. Menatapnya lama dan penuh keyakinan tinggi. Lalu, dia pun terus berjalan dengan tatapan yang kini lebih serius lagi.


 


Saat dia mulai memasuki gerbang itu.


 


Wuuush!


 


Terdapat cahaya sihir bersinar dari dalam sana. Lalu, ada suara-suara tabuhan gendang dan tiupan trompet.


 


Ngung!


 


Dia dibuat kagum dengan semua suara dan riuhnya suasana di sana. Nampak, dia pun menaiki tempat di sana. Untuk posisi duduknya. Orang-orang juga sama.


 


Mereka semua melihat ada tempat luas yang berbentuk lingkaran di tengah sana. Semuanya bisa melihat karena semua tempat duduk itu mengelilingi tempat tersebut.


 


Terlihat, pemuda itu kini menatap penuh kekaguman di sana. Nampak di atas sana ada sebuah tempat untuk beberapa orang penting. Sepertinya mereka sangatlah elite. Terlihat, ada beberapa rang mereka pakaian yang mewah. Duduk dengan kursi yang lebih besar dan terlihat khusus daripada kursi-kursi biasa di sekitar aula itu.


 


Lalu, tampak di sekitar orang-orang itu juga. Ada beberapa orang yang berdiri. Mungkin mereka adalah orang-orang yang mempunyai tugas tertentu di tempat itu.


 


Terlihat, salah satunya adalah wanita berambut merah yang menabrak pemuda polos itu. Dia berdiri. Lalu, matanya nampak melihat sosok yang dia tabraknya. Melihatnya dengan tatapan yang fokus.


 


Di sana juga ada orang yang besar itu. Dia nampak memakai topi emas yang tidak terlalu mewah. Beberapa orang yang duduk di sana gunakan topi seperti itu. Ada pula yang menggunakan topi sihir biasa.


 


Tap tap tap tap tap!


 


Kini, datang sesuatu di tempat berkumpulnya orang-orang elite itu. Beberapa orang pun memberi jalan. Lalu, menunduk menghormatinya. Orang-orang yang duduk nampak berdiri dan lakukan pose hormat mereka.


 


"Kalian semua ada di sini juga ya? Hahaha. Padahal tidak usah repot-repot."


 


Seorang wanita dengan topi penyihir besar dan hitam. Lalu, ada wanita lain yang nampak membawa wadah yang di dalamnya ada sosok bayi kecil yang tidur pulas.


 


"Godwitcher. Sebuah acara besar sepeti ini. Kami harus membanggakan hal ini," ucap mereka semua nampak kompak.


 


"Ah, baiklah," gumam wanita itu. Dia nampak sudah sampai di ujung lantai melihat ke depan sana. Dia melihat banyak sekali orang yang duduk di sekitar tempat luas berbentuk lingkaran itu.


 


"Heh!"


 


Dia tersenyum. Lalu, terbang menuju tengah-tengah tempat luas itu.


 


Wuuush!


 


Pemuda itu nampak masih menunggu dengan rasa yang tidak sabar.


 


Lalu, saat dia serang melamun menunggu. Tiba-tiba suara riuh semua orang itu membuatnya kaget.


 


"Wooooah!"


 


Lalu, dia pun melihat ke arah semua orang melihatnya..


 


Wuuush!


 


Ada satu sosok yang terbang dari jauh. Bersama dengan sosok lainnya juga. Pemuda itu menatapnya kagum.


 


"I-itu ..."


 


"Tidak bisa dipercaya."


 


Semuanya nampak tak percaya. Namun, mereka tampak tak bisa mengelak dari kenyataan ini. Di depan mereka tidak mungkin ada yang palsu.


 


"Tidak mungkin."


 


"Apa mata kuta sudah buta."


 


"Dia orang yang sudah menciptakan dunia ini."


 


"Yang benar saja. Ini akan kuceritakan pada semua keturunan klan kita!"


 


"I-tu ...."


 


Orang itu bergumam dan tak bisa berkata-kata. Karena masih tidak percaya.


 


"Godwitcher."


 


Sosok itu yang dipanggil Godwitcher. Nampak melambai tangan pada semua orang yang bersorak riuh dan keras ke arahnya.


 


Wanita lain nampak diam mengikuti bersama dengan bayi yang ia bawa. Bayi itu masih tertidur di temoat tidur kecilnya itu.


 


"Aku di sini menantang kalian semua. Untuk membuktikan bahwa kalian semua pantas menjaga liontin jalan yang sudah dibagikan pada kalian semua!" ucap Godwitcher keras tentunya. Agar semua bisa mendengar perkataannya.


 


"Selain itu. Aku juga ingin kalian yang bisa memenangkan semua tantangan dariku ini. Diantara kalian semua yang disebut klan. Kalian akan diberikan  penghormatan olehku dengan menjaga dan merawat bayi milikku ini," ucap Godwitcher lagi.


 


Semuanya nampak heran.


 


"Apa itu benar!"


 


"Wah, ini sebuah penghormatan yang besar."


 


"Jika kita bisa merawat dan membesarkannya. Kita bisa melihat Godwitcher mendatangi tempat kita!"


 


Semuanya nampak bersorak riuh. Namun, pemuda berambut biru itu terlihat sedikit merasakan ganjal.


 


Dia nampak menggenggam erat liontinnya itu. Dia seperti sedang mempersiapkan sesuatu. Menutup matanya.


 


Di sana. Wanita lainnya tampak menepuk pundak sang Godwitcher.


 


"Yang mulai. Jangan lupakan tentang hadiah terakhirnya," ucapnya mengingatkannya.


 


"Oh, iya aku hampir saja lupa. Hehehe."


 


Sang Godwitcher menatap semuanya. Lalu, dia mengucapkan sesuatu yang membuat pemuda itu membelalak kaget. Saat dia sudah berdiri ingin melakukan sesuatu.


 


Bersambung.