
Episode 31 Duaaaaar!
Setelah itu, memeriksa musuhnya. Kedua orang itu melihat musuhnya di bawah sana.
Sato menghampirinya. Semuanya berjaga dengan pedang itu. Lalu, Sato maju mendekat perlahan ke arah tubuh monster itu yang tersungkur.
Tap tap tap tap!
Sato kemudian melihat tubuh monster yang sepertinya diledakkan. Tubuhnya banyak luka bakar karena suatu bom yang mungkin mengenai dirinya.
Sato sampai di dekatnya. Dia sefikit mencium bau asap itu yang masih mengepul dari tubuh orang itu.
'Tubuhnya hangus' batin Sato.
Lalu perlahan Sato mencoba kembalikan tubuh tengkurap itu ke posisi lain.
Srat!
"Awas!"
Duk buk duk!
Wuuush!
Monster itu menatap Sato dengan mata merag. Lalu, bersamaan dengan itu cahaya merah keluar dari alat optiknya.
Cling!
Wuuuush!
Srat!
Sato tampak diselamatkan. Karena tak disangka sinar itu bisa melukai apa pun. Bukan sinar biasa.
Sinar itu bahkan menghancurkan puing-puing berat yang baru terjatuh.
Setelah itu, tampak monster itu terlihat tak ada lagi. Semuanya mencoba mencari.
Sato diturunkan Chintya yang berhasil tepat waktu.
'Hampir saja' batin keduanya.
Lalu, Sato kembali berjaga. Billy dan Chintya terbang mencari. Ketiga remaja itu waspada berjalan untuk sepertinya 'ikut' mencari juga.
"Dia di belakang!" ucap keras megamu.
Sato dan yang lainnya terkejut. Monster itu berdiri, lalu seperti akan menyerang dengan persiapan lama.
Monster itu nampak mengumpulkan suatu energi merah itu lalu dalam bentuk bola besar yang melebihi volume bola basket.
Kemudian!
Blaaaaar!
Monster itu meledakkan segala di sekitarnya. Bola itu bercahaya dan hasilkan energi ledak atau penghancur yang berbahaya.
Blaaaaar!
Keadaan di penuhi debu yang beterbangan. Karena ledakan itu cukup besar. Membuat para petugas yang berjaga di tempat lain. Kini, menghampiri posisi Sato dan yang lainnya.
Wuuuushhh!
Brrrm!
Banyak kendaraan orang kini ada di sekitaran tempat Chintya.
Wuuuush!
Kini, sesuatu keluar dari dalam asap dan debu. Itu adalah monster tadi. Namun, nampaknya para petugas itu tak tanggap.
Blaaaar!
Monster itu mendarat di salah satu mobil perang dan membuat benda itu penyok besar tertindihnya.
"Huaaaaa!"
Dia mengaum, membuat gelombang angin yang bergerak sedikit aneh. Namun, mampu hempaskan puluhan mobil perang menjauh darinya.
"Keadaan darurat!"
"Keadaan darurat!"
Kini, semuanya sudah mengidentifikasi musuh itu yang menjauh lompat. Entah ingin ke mana.
Wuuush!
Di sekitarnya. Tampak Sato dan yang lainnya ternyata selamat dari ledakan. Walau sedikit alami luka-luka.
"Ayo menjauh!" ucap Sayugo pada Sato. Keduanya saling memapah.
Lalu, tak disangka. Sesuatu dari atas mereka berdua datang begitu cepat. Itu adalah monster tadi. Dengan senyum seramnya.
Lalu, Sato pun segera dorong tubuh milik sahabatnya tu.
Sayugo terjatuh jauh sekali dan berguling-guling sebelumnya.
Jduaaaaaar!
Dari arah atas. Sesuatu menggempur posisi sebelumnya. Namun, Sato masih di sana.
Billy turun di tempat itu. Namun, sudah terlambat. Dia menatap asap di depan.
Megamu juga sampai dari arah lain. Terlihat dia sedikit menerawang ke dalam asap debu.
Wuuush!
Asap sedikit reda. Namun, mereka bisa melihat Sato dan seseorang lain. Tengah bertarung di dalam asap.
"Hyaaaa!"
Terlihat Sato menangkis sebuah serangan api dengan pedangnya. Namun, api itu masih bisa melukainya.
Sato merintih sakit merasakannya. Kemudian, seseorang lain dari arah atas monster iru. Mencoba memukul dengan cepat. Namun, dihindari.
Monster itu sangat cepat. Orang yang menyerang adalah Chintya yang tertempel robot kura-kura terbang.
"Tchih," kesalnya.
Lalu, sayugo dan yang lain datang.
Billy menyerang. Menembakkan sesuatu peluru yang dia bilang buster. Kemudian monster itu sedikit tutupi arah jalan peluru itu dengan satu tangannya. Namun, tak mempan pada monster itu.
"Tcih," kesal Billy meludah.
Tap tap tap tap!
Semua orang berkumpul di sana. Lalu, monster itu tampak mengganas.
Namun, dari arah lain tepatnya atas.
Sesuatu akan menerjangnya. Membuat semua orang melihatnya. Tampak dua rudal meluncur ke arah monster tadi.
Jduaaar jduaaaar!
Ledakan hebat terjadi. Menyerang sekitar mereka. Lalu, di atas sana yang aman. Tampak Chinrya dan teman lainnya terbang. Mereka berhasil selamat dari ledakan itu.
Chintya dan Billy turun menurunkan tiga remaja yang mereka bawa. Mereka menapak dan bersyukur saat ini.
Karena, monster tadi sangat kuat. Walau ditembak beberapa kali oleh Chintya dan Billy.
Monster itu tetap saja tak mempan. Pertempuran Sato yang masih pemula. Sepertinya terlalu berat waktu itu juga.
Esok tiba.
Setelah kalahnya monster bernama alben itu. Nampaknya Sato diizinkan berlibur atau pulang. Itu hadiah dari atasan karena sudah mengungkap kasus panjang di Jerman.
Di suatu rapat.
Terlihat banyak petinggi di sini. Termasuk Chintya dan Billy. Mereka duduk bersama tiga remaja lainnya.
"Monster alben, ternyata dialah dalang dari munculnya monster-monster ganas selama ini."
"Monster itu sepertinya ingin melakukan perlawanan pada manusia. Dia membuat sesuatu agar semua monster datang kepada dirinya. Tentunya, itu adalah cara para monster saling berhubungan."
"Sepertinya, alben ingin membentuk suatu aliansi, atau dia ingin semua monster melawan kita secara serempak!"
"Karena ternyata monster itu punya otak manusia di dalam tubuhnya. Dia pun sedikit tahu bagaimana manusia melawan balik dari monster-monster yang ada."
Sato dan yang lainnya jadi paham. Hubungan dan seperti apa monster alben yang diceritakan pamannya juga.
Kini, ketiganya mengangguk setelah ditawari hadiah itu. Esoknya, Sato dan yang lainnya akan kembali ke Indonesia.
Bersama Chintya lalu tak terduga, Billy juga ikut bersama meereka. Billy juga mengajak beberapa orang. Dan orang-orang itu adalah orang-orang kuat yang ingin mengetahui sesuatu hal dari Sato.
Tap tap tap tap!
Kesebelas orang tidak termasuk Billy. Kini, menemani Sato dan yang lainnya ke sebuah ruang pesawat.
Lalu, mereka mulai terbang. Dan di dalam pesawat otomatis mereka berbincang di sana.
11 orang kuat yang juga menerima liburan. Karena dari mereka. Banyak info yang didapat serta berhasil mengalahkan banyak monster yang akan datang menuju ke tempat alben berada.
11 orang itu terdiri dari 4 perempuan dan tujuh laki-laki. Serta 5 orang lainnya sepertinya berumur tidak lebih dari 30 tahunan.
"Heh, jadi seperti yang kau katakan. Dunia ini akan hancur oleh beberapa orang bukan?" ucap wanita Spanyol itu. Dia terlihat sangat dewasa. Namun, masih terlihat cantik seperti Chintya. Rambutnya juga sama seperti wanita 20 tahunan itu.
"Ya," jawab Chintya.
"Di dunia itu, terdapat banyak hal. Aku tak menjamin kalian akan betah di dalamnya. Akan tetapi, jika kalian memang seorang pejuang yang ingin melindungi dunia ini dan seisinya. Kalian tidak akan banyak mengeluh nantinya," ucap megamu.
"Ya, tentu saja!" jawab 11 orang kuat yang diketahui.
Sato menatap orang-orang itu kagum. Seperti yang diceritakan. Mereka semua bisa membunuh monster sendirian tanpa bantuan siapa pun. Itu yang membuat mereka dapat titel itu di organisasi hitam Black destroyer.
Pesawat Sato terus melaju. Menuju ke kediamannya.
Hingga malam tiba dan sepertinya akan sampai di esok pagi.
Di Indonesia.
Saat ini masih siang hari.
Tampak di ruangan suatu sekolah. Ada seorang anak sekolahan. Dia berkacamata dan terlihat sangat cantik. Dialah Marra Senia.
Marra terlihat duduk di sebuah kursi yang bertuliskan "ketua Osis"
Marra tampak memandang ke depan biasa. Lalu, dia pun beranjak dari kursinya. Lalu, suara dering Hape yang akan dia bawa mengejutkan dirinya.
Dia lalu menbuka pesan singkat itu. Dan tersenyum melihatnya.
Keesokan pagi.
Keadaan di bandara Jakarta.
Tampak ada beberapa orang yang terlalu antusias. Mereka tak lain adalah keluarga Kazumi.
Sepertinya mereka menunggu Sato. Lalu ada pula Marra dan satu temannya yang berambut kuning dan potongan pendek.
"Apa kakakmu akan datang?" tanya remaja itu.
"Ya," jawab singkat Marra. Terlihat dia lebih berbeda dari yang biasanya. Dia lebih santai dan tidak terlalu berwibawa.
Tap tap tap tap!
Suara langkah dari arah yang sudah di harapkan terdengar.
"Satooooo!"
"Kakaaaaak!"
"Anakku satooooo!"
"Huaaaaaa!"
Tampak beberapa orang juga datang dengan haru daru arah belakang sana.
Tampak mega juga terlihat menangis dengan ayah dan ibunya. Karena sudah hampir 5 bulan Sato di Jerman. Belajar tentang cara mengalahkan monster yang sejenis dengan musuh-musuh di dunia sihir.
Kini, keluarga Kazumi lari kencang bahkan melewati batas yang ada. Memeluk bersamaan ke tubuh Sato.
Membuat Sayugo menggaruk kepala rambut tipisnya.
"Aku jadi agak iri," ucapnya.
Namun dari arah belakang dia di tarik oleh puluhan orang.
"Sayugoooooo!"
"Kamu kembali naaaaak!"
"Iya ibu, iya nenek, iya kakek, iya adik, iya kakak," ucap Sayugo setelah itu.
Marra tampak menatap hangat keluarga Kazumi itu. Membuat temannya yang risih sedikit bingung pada si ketua Osis di sekolah mereka.
Lalu datanglah Chintya dengan penampilan khasnya. Sedikit elite dengan kacamata hitamnya.
Tap tap tap tap!
Kedua kakak beradik itu saling berpelukan melepas rindu.
Semua orang saling lepas rindu. Begitu pula Fernie yang didatangi kedua orang tuanya. Tidak seperti Sayugo dan Sato. Bahkan Sayugo didatangi oleh sanak keluarga yang begitu banyak hingga keadaan sangat ramai di bandara itu.
Setelah itu. Mereka pulang ke rumah masing-masing. 11 orang itu berlalu dan sepertinya sudah tidak berkumpul satu sama lain lagi.
Salah seorang dari mereka yang bermur 20 tahunan. Laki-laki dan sepertinya sudah kenal baik dengan negara Sato.
Dia tampak membeli dan memakan langsung makanan yang dijual di suatu toko. Dia tampaknya punya mata uang yang sama di negara ini. Itulah yang sepertinya membuat dia sudah pernah ke negara ini atau memang berkerabat.
Tap tap tap tap!
Orang lain, seorang remaja dari 11 orang tadi. Dengan poni miringnya dan rambut hijau. Tampak memandang sesuatu di taman sana.
Seorang anak kecil yang sendirian duduk di ayunan itu. Dia lalu menghampirinya dengan tatapan menerawang.
Tap tap tap tap tap!
Kini, ke tempat orang lainnya. Beberapa dari kesebelas orang itu memilih untuk langsung memesan kamar di hotel. Ada pula yang langsung mencari klub malam dan lain-lain.
Bersambung.