Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Membebaskan.



Episode 80


Sato menatap mantan gurunya itu. Dia pun tahu. Marylin pun mengaku mendaftar jadi anggota penyihir karena dipecat dari pekerjaannya itu.


 


Wanita itu pun berdiri.


 


"Baiklah, aku tahu Sato! Kamu anak yang baik! Aku akan beritahu di mana dia!"


 


"Benarkah?"


 


"Ya, tapi ini untuk terakhir kalinya. Karena setelah semua ini. Kau harus berhenti untuk mencari tahu tenang kegiatan kami!"


 


"Kenapa?" tanya Sato bingung.


 


"Kami berusaha untuk tumbangkan klan Onpipan, Sato kau tak pernah tahu kah? Kejahatan mereka?" tanya Marylin.


 


"Sayfull Onpipan! Aku tahu kau akan dibunuhnya pada Juli bulan lalu," ujar Marylin lagi.


 


Membuat Sato bungkam.


 


"Jadi kau mengetahuinya ya!"


 


"Benar!"


 


"Jika kau tahu, mengapa hanya diam?"


 


Itu membuat Narylin pun tak menyangkanya.


 


Namun, dia berusaha kendalikan itu semua.


 


"Sato, untuk kali ini saja. Setelahnya aku tak peduli lagi!"


 


Setelahnya.


 


Blaaaaar!


 


"Ada penyusup, sepertinya adalah penyihir kuat!"


 


"Tidak! Bahkan atasan Marylin pun sekarat! Kita kekurangan orang. Kiat harus selamatkan atasan terlebih dahulu!"


 


Terjadi kehebohan di tempat itu. Asap membumbung di suatu ruangan.


 


Bersumber pada lubang besar itu. Lalu, tampak Marylin yang sekarat. Mengerjap.


 


Lalu, dia pun pingsan di sana.


 


Di luar sana.


 


Sato dan yang lainnya ternyata bisa lolos dari sana.


 


"Untunglah kita lolos dengan mudah," ujar Sayugo terengah di sana. Mereka habis lari sangat jauh. Kini sudah hampir sampai di sana.


 


Megamu tampak masih mengambil alih kesadaran Fernie.


 


"Kenapa kalian bisa diculik?" tanya Sato.


 


Kedua orang itu lalu melihat ke arahnya serempak.


 


"Itu karena kau," ucap Sayugo.


 


"Apa?!" kaget Sato tak percaya.


 


"Mereka bilang, kau yang bertanggung jawab dan secara mengejutkan mereka semua adalah penyihir," jelas Megamu.


 


Sato menunduk.


 


"Maaf."


 


Tap tap tap tap tap tap!


 


Mereka terus berjalan di sana.


 


Sato masih sedih. Lalu dia mulai bersuara.


 


"Orang-orang itu bertujuan untuk menghancurkan keluarga Onpipan."


 


"Dan aku berusaha untuk menyelamatkan keluarga itu."


 


"Apa?!"


 


Setelah beberapa saat.


 


"Jadi begitu, kau bertemu dengan Onpipan lain ya. Dan dia adalah wakil ketua Osis," ucap Sayugo.


 


Mereka tampak mengobrol di sebuah kamar. Entah milik siapa. Mungkin milik Sayugo.


 


Sayugo berpikir kritis di sana. Sato mengangguk saja. Megamu menyimak sambil mencoba memikirkan sesuatu.


 


"Lalu, untuk apa kau menyelamatkan orang itu?" tanya Sayugo.


 


"Ada banyak petunjuk. Dari banyaknya itu. Aku seperti sedang dibuat untuk berurusan dengan semua konflik keluarga Onpipan ini," jawab Sato.


 


Tentu saja. Dia sudah ceritakan semua detailnya.


 


"Hmmmmm," Sayugo bergumam.


 


"Ada yang tak masuk akal memang. Tapi mungkin saja dengan adanya kehancuran Onpipan itu membuat musuh utama kita untung," ucap megamu.


 


Lalu dia pun berpikir lagi.


 


"Atau bisa saja. Ini semua adalah rencana dari orang-orang jahat itu...... lagi."


 


Hal itu membuat Sato kaget. Sayugo juga.


 


"Kita sepertinya harus mencari tahu ya," ucap Sayugo di sana.


 


"Entahlah. Tapi ini semua sepertinya harus dilakukan oleh Sato," ucap megamu di sana.


 


"Kenapa?"


 


Megamu menatap Sato di sana.


 


"Semua kejadian dan petunjuk itu. Sepertinya hanya kau yang bisa tahu dan memecahkan masalah ini Sato. Karena itu dibuat oleh dia untukmu. Kau sepertinya dipersiapkan olehnya."


 


Sato pun pulang. Serelah antarkan semua temannya ke rumah masing-masing. Sato pun ke rumahnya sendiri.


 


Dia mandi dan lakukan hal lainnya di dalam rumahnya itu.


 


Tap tap tap tap tap tap!


 


Sato lalu bersiap lagi. Dia akan menyelidiki semua itu.


 


Dia menonton banyak video itu. Lalu menyadari banyak hal. Dan sepertinya semuanya sudah mulai terang.


 


Lalu, Sato pun keluar malam itu. Dia berjalan untuk membuang sampah yang sudah menumpuk di rumahnya. Karena tak ada ibunya.


 


Tap!


 


Menatap bulan biru itu dengan serius. Lalu, angin pun menerpa dirinya.


 


'Semua itu. Bagian komponen itu. Lalu tentang klan Onpipan dan semuanya. Angin selatan dan barat. Aku sepertinya. Diperintahkan untuk mengambil suatu harta. Harta yang disembunyikan oleh kakak Shanee. Lalu pesan-pesan yang dia lukiskan dari hasil karyanya untuk berbagai pabrik itu ..... aku pun paham. Semua itu harus aku berikan padak kedua orang tuanya itu'


 


Sato pun paham. Selama ini. Shanee tak membuat dirinya harus menghentikan semua tidakkan musuh besar. Dia hanya ingin Sato tahu rahasia terbesarnya.


 


Shanee sepertinya mengumpulkan uang itu. Untuk dipersiapkan di saat-saat tertentu saja. Tidak, Shanee mempersiapkan itu untuk sesuatu.


 


 


Dia melewati sebuah hutan. Di mana ada tanda kuning yang terlukis di sebuah pohon. Sato lalu membelok. Masuk ke sana.


 


Tidak ada jalan. Namun, Sato gunakan penggali. Menemukan jalan setapak yang bisa dia lalui itu. Setelah dia melalui dengan sepeda. Jalan itu kembali menjadi seperti semula.


 


Sato lalu melihat peti besar yang sudah beroda itu. Sangat canggih. Saat Sato menyentuh dan membuka paswordnya.


 


Benda itu langsung terikat ke sepedanya. Tampaknya dia sudah dipersiapkan sedemikian rupa.


 


Sato pun kembali dan memberikan itu kepada orang tua Shanee. Dengan perasaan senang dan terharu tentunya. Sepertinya Sato tak mennagis sama sekali.


 


Dia sedikit titikkan air matanya melihat kedua orang tua Shanee yang menerima itu dengan bahagia. Dengan begitu, mereka bisa cukupi kebutuhan hidupnya.


 


Semua uang itu bahkan langsung terpasang pada suatu mesin yang otomatis melayani kebutuhan hidup orang tua Shanee itu. Sato terharu melihatnya.


 


Lalu, Sato pun kembali. Jujur saja dia masih penasaran pada apa yang terjadi dengan nasib keluarga Onpipan ke depannya.


 


Lalu, Sayugo pun pulang dan tidur.


 


Tap!


 


Di tempat lain.


 


Tampak orang yang dipanggil Godwitcher itu. Dengan topi penyihir  melihat jauh ke sana.


 


Lalu, penyihir berambut pendek itu. Mulai mengangkat kepalanya. Dia menunduk lalu mendongaj setelah diperintah sang Godwitcher itu.


 


"Kita akan segera selesaikan ini dalam beberapa waktu," ucap  Godwitcher di  sana.


 


Sato pun bangun pagi itu. Dia tampaknya  melanjutkan sekolahnya lagi. Dia membuka hape. Sudah ada sms di sana.  Dari beberapa hal.


 


Kini, Sato menutup hapenya lalu bersiap  akan berangkat sekolah.


 


Sepulangnya.


 


Sato  pun  menuju ke sebuah kedai.  Tempat dia bertemu pertama kali dengan Shanee.


 


Tap tap tap  tap  tap!


 


Sepeerinya dia akan temui seseorang.  Lalu, Sato  pun masuk. Seseorang sedang menyeruput minumannya sembari dia melambai padanya. Dia  pun duduk di dekat orang itu.


 


Orang itu menatapnya.


 


"Sato, aku menagih janjimu yang kemarin," ucap wanita tu. Marylin dengan menyangga dagunya di meja.


 


"Bauklah Bu," jawab Sato.


 


"Jangan panggil aku Bu. Aku sekarang bukan guru lagi," sergah Marylin.


 


"Baiklah, maafkan aku. Tante Marylin," ucap Sato di sana. Membuat Marylin tersenyum hangat sembari mengaduk minuman yang dia pesan itu.


 


"Baiklah, ayo kita mulai semuanya. Aku sangat tidak sabar," ungkap Marylin.


 


Fernie tampak berjalan pulang. Dia ada kelas tambahan sedikit tadi.


 


Dia kini tampaknya mengobrol dengan seseorang. Yakni, megamu.


 


"Sato tampaknya sedang kesulitan. Namun,  tak lama lagi dia pasti bisa selesaikan masalahnya itu," ujar megamu. Fernie pun mengangguk.


 


"Setelah ini, kita harus melakukan sesuatu bukan?" tanya Fernie.


 


"Benar! Setelah aku bangkit lagi. Tentu saja. Kita akan kembali ke tujuan kita," jawab megamu.


 


"Aku yakin, musuh tak akan berani bergerak. Pasalnya terjadi sesuatu yang tak disangka mereka. Yaitu sebagian jecil kekuatan yang mereka curi hilang. Apalagi mereka juga baru mengacau di dimensi milik asli. Itu memakan energi sihir mereka. Karena sihir di dunia ini harus dilakukan dua kaki lipat dari di dunia sihir mereka."


 


Fernie pun mengangguk.


 


Tap tap tap tap tap tap tap tap!


 


Sato pun pulang. Sudah hampir larut malam. Dia mengunci pintu lalu pergi untuk belajar di sana. Mencoba untuk mengusir rasa penasaran terhadap Onpipan.


 


'Aku tak bisa membayangkan harus apa' batin Sato menulis di sana.


 


Semua hal milik Onpipan selalu dipublikasikan. Sangat menghebohkan. Itu terdengar ke semua orang dan seluruh dunia.


 


"Reg, kita harus bertindak!" ucap satu tengkorak di ruangan rahasia milik kepala keluarga Onpipan.


 


"Ya, ayah!" jawab ayah Sayfull itu. Reggie Onpipan.


 


Di kediaman itu. Kini, datanglah Sayfull di sana. Dia lalu merasakan hadirnya seseorang lain. Memandang dengan penuh curiga.


 


"Hey, Sayfull. Ini kami," ucap orang itu. Dia tak sendirian. Semuanya tampak ramah dan sepertinya bagian dari keluarga Onpipan juga.


 


Mata milik Sayfull tak berubah. Menatap mereka waspada.


 


Mereka tampak ramah dan tersenyum. Mereka tampak dia di tempat.


 


"Siapa kalian sebenarnya!" ujar sinis Sayfull.


 


Sring!


 


Bahkan, dia menggunakan sihirnya itu.


 


Tampak beberapa pedang panjang yang saling menyatu satu sama lainnya. Layaknya bercabang itu. Berada di sekeliling orang-orang itu.


 


Sayfull mengangkat tangannya arti dari penggunaan sihirnya itu.


 


Orang-orang itu pun tampak meleleh. Seperti terbuat dari lumpur. Sayfull kaget.


 


Lalu, Reggie ayahnya tampak melesat cepat dan sudah berada di depan mereka.


 


"Apa ini!" ujarnya marah.


 


Sayfull tampak berubah dia. Sepertinya dia melemah. Pedangnya hilang. Ayahnya menatapnya. Sayfull berubah menjadi ketakutan.


 


"Apa yang sudah terjadi?" gumam Reggie menatap putranya itu. Putra yang srlaiu dia siksa untuk menyandang nama keluarga besarnya itu.


 


Bluur!


 


Tampak  kumpulan itu pun meleleh. Entah apa itu.


 


"Kami akan menyerang saat kalian lengah. Setelah semua hal kita bongkar. Kkalian tak bisa dipercaya di dunia bisnis lagi."


 


Reggie memandang mereka yang mengatakan itu.


 


"Siapa kalian semua?!" ujar Reggie marah. Menatapnya dengan tajam. Membuat anaknya itu bergidik. Kakinya gemetar.


 


'A-ayah' batinnya ketakutan.


 


"Hahahaha! Kami semua sudah muak pada kalian Onpipan! Maka dari itu kami adalah 'si penghancur Onpipan' apa pun yang kami perbuat adalah untuk menghancurkan Onpipan. Kami adalah dalang dari semua hal mengenai kehancuran kalian."


 


Byuuuk!


 


Terlihat, mereka pun lenyap setelah meleleh sepertinya. Lalu, tampak Reggie menutup matanya saat ini.


 


'Benar kata ayah. Mereka semua adalah penyihir' batin Reggie di sana. Kediaman mewah itu. Tampak berdiri gagah di sana.


 


Wuuuush!


 


Angin menerpa di suatu tempat.


 


"Apa pesan kita tersampaikan?"


 


Bersambung.