Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Penyihir terkutuk



Episode 20


Penyihir terkutuk


Bruk. Terlihat tubuh muda milik sato terduduk. Kini matanya memejam erat sembari kedua tangannya memukul-mukul badan daratan yang dia  pijaki.


Air matapun lolos bersama dengan suara isakan darinya. Marra menatapnya begitu penuh arti. Semalaman dia dan sato beserta kru mencari ke sekeliling kota dan pulau ini.


Namun sosok sayugo yang biasa dia  jumpai tak bisa mereka temukan. Sato menangis dalam diam. Megamu sudah berganti kepada kesadaran fernie. Fernie yang diberitahu oleh marra juga shok berat. Walau keduanya saling  tidak menyukai namun mereka  semua  tetaplah teman dan sahabat yang saling mendukung satu sama lain.


Fernie terlihat duduk di pojok sana. Menutup kedua matanya  yang menahan tangis namun semua itu sia-sia. Dia  meratapi semuanya bersama  yang lain. Hilangnya sayugo membuat kedua mental  anak itu terluka.


Setelah itu kabar pembantaian zombie yang  dipelopori marra  tersebar luas. Dimanapun bahkan secara global. Semuanya mengakui kehebatan gadis  yang sering disapa senia  oleh para pejabat dan kalangan  atas.


Senia terlihat memakai anggun pakaian  itu.  Pakaian gaun berwarna senada dengan rambutnya yaitu  ungu agak gelap. Kemudian gadis itu  terlihat berkaca. Setelah semua pelayan pergi  darinya. Gadis itu mengambil handphone putih itu. Memencet apapun yang akan  dia  tuju dalam ponsel pintarnya.


Lalu terlihat menelepon seseorang.


Tuuut tuuut tuuut. Cklek.


Marra tersenyum dan mulai berbicara  pada orang yang dia hubungi via telepon.


"Hallo, kak  chintya?" ucap gadis itu dengan nada tanya.


Seorang perempuan disebrang sana membalasnya tak kalah lembut.


"Oh? Hallo juga senia," balas orang disebrang sana.


Marra terlihat berbeda. Melihat wajahnya yang ayu dibalut make up tipis  itu tak membuat aura kecantikan gadis itu yang alami memudar.


Dia menghela nafas sesat.


"Kak, aku minta tolong padamu boleh kan?" tanya marra pada sesorang yang sepertinya lebih tua darinya.


"Oh tentu saja.  Apapun untukmu. Kita kan bersaudara," ucap orang yang dipanggil kak dari sebrang.


Sato sudah berada di sebuah tempat. Sepertinya mereka masih belum pulang. Fernie juga berada di depannya.  Keduanya yang tadi diajak kembali tak mau ikut.  Mereka bersikeras tuk  mencari sayugo lagi ditempat itu. Maka marra juga menugaskan beberapa tentara miliknya menemani keduanya itu.


"Sepertinya aku tak terlalu paham,  tapi  andai saja," ucap fernie membuka.


"Tidak ini bukan salah siapapun," ucap ketus sato. Linang air mata terlihat masih saja turun tetes demi tetes menuju pipinya.


"Ohh,  begitu," ujar gadis berambut pendek itu. Mereka diam bersama kembali di tempat itu.


Semilir angin kemudian tiba-tiba menghempas kepada keduanya.


Di tempat lain. Nampak dua orang tiba di pulau kecil yang diatasnya ada awan hitam  menanunginya. Mereka melangkah  dan sepertinya satu orang dari mereka membawa sesuatu.


Tap tap tap.


Srek. Srrek srek.


Orang itu menyeret barang yang dia bawa itu. Berukuran sebesar manusia remaja. Tak lain dia adalah sayugo yang hilang itu.


Satu orang berwarna rambut biru muda menoleh ketemannya. Melirik sedikit orang yang diseret oleh sago temannya.


Sebenarnya tadi saat jago  berubah jadi serigala bertubuh besar. Sago berhasil menculik anak itu dengan  kekuatan yang luar biasa. Kita akan mengetahuinya segera setelah ini.


Tap tap tap.


Orang lain disana menunggu mereka. Berambut putih dan mata biru cerah.


"Maaf shimun  membuatmu menunggu,"  ucap sago dengan mengangkat tangannya ramah.


"Hmmm," shimun hanya bergumam.


Jago duduk di sana.


"Baiklah  shimun, sepertinya sekarang adalah giliranmu,"  ucap sago dan terbaring  disana.


"Ah?  Kau kekelahan jago?" tanya sago dengan nada bercanda.


"Tidak, aku hanya menyesal saja tidak bisa membunuh siapapun tadi. Buah penangkal itu sama sekali tak berguna," ucap jago dan berrbalik memunggungi kedua temannya.


"Hahaha, sayang sekali waktumu tadi hanya beberapa detik saja," ucap sago. Kemudian dia melihat awan hitam itu.


"Dunia ini sangatlah berbeda, kita sebagai manusia berwujud monster tak bisa berada disini secara bebas," ucap sago lagi.


'Matahari di dunia ini menolak keberadaan kita' lanjut sago dalam hati.


Dia lalu berbalik membawa tubuh sayugo yang pingsan itu.


"Mau kemana lagi?" tanya orang disana yang dipanggil keduanya shimun.


"Tentu saja mengantarkan barang ini ke dia. Dia pasti sangat senang  sekarang. Karena tak perlu lagi repot-repot menyerang dan membuat eldorick tak sadar," jawab sayugo.


"Oh, iya," ucapnya lagi seperti kelupaan. Lalu  dia mengambil suatu botol disana dan melemparkannya kepada shimun.


Shimun menangkap membuat jago melihatnya dengan perasaan  kepo.


"Itu ramuan penangkal,  untuk jago itu hanya bertahan beberapa detik saja. Namun kau shimun dengan tubuh naturallymu. Kau bisa bertahan di dunia ini dalam waktu beberapa jam," ucap lagi si sago.


Si rambut biru tak tertarik dan kembali menghadap arah lain.


"Baiklah. Sampai jumpa," ucap si rambut panjang.  Lalu terlihat dia mengulurkan tangannya ke depan. Kini seperti sebuah ilusi. Pulau di depan sana yang menyimpan portal miliknya ada di dekatnya tepat dihadapan sago. Itulah kemampuannya yang bernama Metalic Idea. Hal itu juga yang membuat dia dengan mudahnya menciduk tubuh sayugo tanpa sepengetahuan yang lainnya.


Di pulau javasea.


Wiu wiu wiu wiu.


Banyak sekali petugas disana berusaha melawannya namun tak ada yang mampu. Mereka malah mati ditangan shimun dengan badan kekarnya.


Shimun kemudian melihat suatu menara tinggi disana. Terlihat juga satu tentara dengan senjata yang sepertinya sangat mematikan bagi shimun.


Dengan ceoat shimun melompat keatas sana. Jduaaaar.


Membuatnya menghancurkan ujung menara itu dan bahkan merubuhkannya. Kekuatannya sangat kuat sekali. Dia kemudian berhasil membunuh tentara itu dengan sekali gerakan gengam saja lalu membuang mayat itu asal.


Shimun kembali berulah. Puluhan mobil pemadam mencoba menerjangnya. Namun dia dengan cepat bisa menahannya. Bruaaak.


Tak disangka dia bahkan membuat dua mobil sebesar tronton itu remuk.


Dia tak banyak bicara namun selalu menyerang apa yang dia mau. Semua warga berlari dan dievakuasi. Lalu terlihat dua orang tak asing yaitu sago dan fernie. Melewati banyak warga ke arah sebaliknya dengan bersiap menggunakan senjata-senjata mereka.


Tap kini ketiga orang itu berhadapan. Sato kaget.


'Musuh yang terlihat sangat kuat lagi' ucapnya dalam hati. Disampingnya adalah fernie dalam kesadaran megamu si putri pegasus.


Lalu shimun menoleh. Mendapati keduanya Melihat dua bocah itu dengan heran.


'Kenapa dengan tatapannya itu' batin fernie dalam hati. Sepertinya mereka berdua fernie dan megamu bisa membagi kesadaran mereka. Walau satu orang yang memimpin namun orang lain di tubuhnya dalam bentuk jiwa bisa melihat semuanya.


Sato kemudian menembak. Namun tak mempan.


'Seperti dugaanku' batin anak itu.


Lalu dengan hati-hati keduanya mundur.


Lalu seseorang tiba dengan sekelebat. Terlihat seperti marra.


Sato kaget dan menganggap itu marra namun wajahnya berbeda. Dia juga memakai pakaian yang ketat dan tubuhnya lebih tinggi dari kakak kelasnya itu.


"Si-siapa anda?" tanya sato.


Dia sepertinya tak datang sendiri. Ada seseorang lain yang memakai jas dan laki-laki.


Perempuan yang terlihat dewasa dari sato itu melihat ke belakangnya.


"Oh, jadi kalian teman senia ya?" ucap perempuan itu lalu tersenyum manis.


"Sudahlah chintya, di depan kita ada musuh yang harus kita bereskan," ucap lelaki yang disamping wanita itu dia terlihat melepas dasinya dan mengikatkannya di kaki kanannya. Kemudian cahaya kekuningan muncul dari kakinya lalu menyebar kesekitar dan tubuhnya.


"Woah," kagum sato.


"Ya benar. Tak kusangka apa yang adikku katakan ada benarnya juga," ucap wanita yang dipanggil chintya itu.


Shimun terlihat tak kaget karena dia juga sudah mendeteksinya. Dia maju lalu terlihat mengangkat dua truk itu.


"Wah, sepertinya dia bakal merepotkan," ucap chintya gadis yang mirip dengan kakak kelas sato yaitu marra senia.


Di tempat pertempuran lain. Kini terlihat si kacamata ternyata sudah turun tangan. Para yavinpun terlihat banyak yang kuat disekitarnya.


"Kuranga ajar kau!" teriak seorang penyihir yang mengenakan baju ketat seperti layaknya superhero amerika itu.


Dia terbang deengan gelembung-gelembung kecil membekas dari kakinya. Dan mencoba menyerang si penyihir yang belum kita ketahui namanya. Dalang dari semua yavin itu.


Namun si penyihir kacamata tak ada di tempat dan menghilang kemudian muncul diatas musuhnya lalu menindihkan kakinya. Terlihat dia berhasil membuat lawannya tidak berdaya padahal tubuh orang itu lebih besar darinya.


Kembali serangan demi serangan dilancarkan oleh banyak penyihir itu. Namun semuanya sia-sia. Si penyihir kacamata menahan dengan dinding berwarna senada dengan rambutnya yaitu merah agak sedikit muda.


Dia tersenyum.


Lalu datanglah sesorang yang sudah dia tunggu-tunggu. Seorang yang sepertinya sangat kuat walau tubuhnya gempal itu. Dialah kepala sekolah akademi ploenativu.


"Heh, siapa kau?" tanya si gendut.


Si kacamata tidak menoleh lalu mengjentikan jarinya. Terlihat lambang lingkaran sihir di jari-jarinya itu.


Bersamaan dengan itu dia terlihat mengubah semua penyihir di sana menjadi yavin. Sungguh pemandangan yang tidak terduga.


Semuannya kaget. Untungnya terlihat mega masih menjadi manusia dan ibunya mugiwa juga. Terlihat mereka mundur. Lalu para yavin ubahan orang itu berjalan ka arah sang tuan. Yaitu si penyihir kacamata.


Si gempal terkejut.


Dia akan berkata namun orang di depannya yang sangat mengangetkan semua orang dengan sihirnya itu memotongnya bahkan sebelum dia berbicara.


"Aku bisa mengubah siapapun disini menjadi monster seperti ini," ucapnya.


Semuanya kaget bahkan diam tak tahu harus apa.


"Baiklah, sepertinya kalian takut bukan. Kalau begitu aku akan menginginkan sesuatu dari kalian sebagai imbalan tuk semua manusia itu ku kembalikan," ucapnya kagi.


"A-apa maksudmu?" tanya si kepala sekolah.


"Begini, kalian semua meenyembunyikan keturunan non penyihir kan? Apakah aku bisa menukarnya dengan manusia-manusia yang kuubah itu?" ucap si kacamata terlihat sarkas.


Semuanya diam.


"Intinya bisakah kalian serahkan anak kalian yang non penyihir?"


Bersambung.