
Episode 104
Grrrrr.
Ular itu muncul di belakangnya. Sato belum menyadarinya. Hingga ular itu pun sepertinya menyerang.
Sato kaget. Dua mendengar desisan keras itu yang berasal dari ular bernama sarpentin. Lalu, Sati menahan mulut ular itu dengan busurnya yang juga kuat dan terlapis oleh sesuatu mantra-mantra.
Brak!
Ular itu tampak sedikit melemah karena efek itu. Satio terkejut ada ular yang mencoba memangsanya.
Lalu, ular itu tampak mundur dari sana. Sato menghela nafasnya. Kemudian Sato pun kembali berjalan ke atas. Beberapa ular tampak lewat di hadapannya dia pun waspada. Ternyata ada juga tadi ular yang menyerangnya.
Lalu, Sato kembali berjalan. Beberapa kumpulan ular masuk ke dalam sekarang mereka di gua yang di samping atas itu. Sato hanya memandangnya saja.
Lalu, beberapa saat. Wajah ular yang hitam dan bersisik menyeramkan itu. Tampak melihatnya. Kemudian ular itu pun tampak melesat ke arahnya.
Sato pun tampak mrlomaot ke atas.
Hap!
Dua mendarat dan kini menarik busurnya kemudian memasangkan anak panah yang dia simpan.
Dia bidik dan arahkan ujung anak panah yang sudah siap dilontar.
Lalu, dia pun menembak itu hingga menembus ke satu ular di dekatnya.
Graaas!
Dua ular itu mati. Beberapa ular tampak takut dan menjauhi Sato. Kemudian Sato pun tampak kembali ke atas
Tap tap tap tap!
Sato tampak sampai di atas sana. Di sana sangat damai dan sepertinya para ular tadi tak ara yang ke sini. Sato duduk sembari melihat pemandangan matahari sihir yang akan terbenam di sana.
Hari ini. Perjalanan mungkin akan dijeda dulu.
Esoknya Sati bangun di atas bukit itu. Tampak masih sama. Dia pun bangun menguap dan tampak dia akan melanjutkan perjalanannya. Ternyata di sana ada bukit yang kebuh tinggi lagi. Sato pun tak menuruni bukit itu malah langsung menuju bukit tinggi yang masih tergabung denngan bukit yang dia tapaki.
Tap tap tap tap!
Sato kemuddian terus berjalan ke depan. Beberapa aneka burung dan hewan-hewan yang tak ganas. Bisa dia lihat di sana. Semuanya sangat unik dan menggemaskan.
Lalu, Sato pun sampai di suatu tempat yang ada suatu danau atau genangan kecil air di sana. Genangan itu disinari matahari dari atas hutan. Sato pun tetarik menuju danau kecil itu.
Lalu, melihat betapa jernihnya air itu. Dia pun mencoba mencelupkan tangan ke dalam air.
Dia meminum air itu. Lalu di depan danau itu ada semacam tanah juga. Sato mencoba masuuki danau dangkal itu. Lalu, mencoba sentuh tanah itu karena penasaran.
Tap!
Lalu Sato pun kembali lagi untuk ke atas. Kali ini dia sanggup latihan sendiri di hutan. Tak membawa rekannya itu. Sato terus berjalan nikmati semua yang sudah dia lakukan dan lihat.
Tap tap tap tap tap!
Menujui ke puncak. Kali ini sangatlah lama. Beberapa jalan sulit untuk dilewati. Sato melihat jalan memutar dan membuatnya makin lama di sana. Sembari itu. Dia mencoba menembak beberapa burung yang memasang binatang-binatang lemah di sana.
Ngaaakk!
Burung itu kena. Jarak shoot Sato kini meningkat drastis. Sato terus melanjutkan perjalanannya lagi.
Tak jauh dari situ. Sesuatu tampak melihat ke arah Sato bergerak-gerak sangat cepat.
“Monster balboo sepertinya akan muncul. Kita beruntung!” ucap seorang setengah berbisik itu.
Balboo adalah monster gunung. Wujudnya besar dan biasanya menyanar menjadi tanah tebal yang bisa ditapaki beberapa orang dan hewan serta monster kecil lainnya.
Wuuush!
Angin meneepa Sato. Sato pun seperti punya firasat tak baik. Lalu, dia masih belum bisa pastikan itu panas sudah dia rasakan. Dia sudah akan menuju ke atas bukit itu.
Tap tap tap tap tap!
Lalu, orang penguntit tadi masih mengikuti langkah Sato. Sato masih belum rasakan itu.
Namun, di belakang sana bergerak sesuatu. Hal itu hanya bisa dilihat dari sudut pandang orang-orang itu. Sato tak merasakannya. Dia terus rasakan peluh hungga dia sadar. Tak ada air lagi yang bisa dia dapatkan di sini.
Tap tap tap tap!
Merasa kehausan dia pun balik untuk tuju ke bawah.
Namun, dari belakang sana. Meluncur sesuatu yang cepat warna merah.
Wuuush!
Sato tak percaya benda itu bahkan menembus ...... nya.
Brak!
Ditambah lagi sesuatu bergetar serelah panah itu tertancap di .....nya.
Sato terduduk di sana.
“Yeah! Kita berhasil!” ucap seseorang.
Sato terduduk. Rasakan ada jejak tak normal. Badannya masih bisa bergerak. Sato pun sepertinya akan berrlari.
Hyaaaa!
Dia rasakan getaran itu makin parah. Hingga dia pun sadar. Tanah dan bukit ini. Merupakan hal yang bisa hidup.
Hyaaaa!
Sato jatuhkan diri ke bawah.
Wush!,
Di atas sana tampak bunyi debum di tanah itu. Sato pun sepertinya akan jatuh ke sebuah sungai yang amat deras.
Byuuuur!
Sepertinya dia sudah sangat tinggi sekali fdari atas sana. Beberapa jam hingga dia pun tercebur di sana. Beberapa hewan seperti gajah itu. Tampak kaget. Hewan—hewan di sana dangat besar. Bahkan ukuranya seperti sebyah bukit dan hampir seperti gunung saja.
Sato rasakan kaki monster itu di dalam air yang juga dalam ini. Namun, bagi mahkluk ataupun bisa dibilang monster itu. Tampak dangkal baginya.
Sato tampak mencoba ke atas. Beberapa monster tak bereaksi karenanya. Dia pun lega.
Lalu, Sato mencoba melihat keadaan. Di sana tampak hanya dipenuhi semua raksasa ini. Sato pun coba nenuju satu raksasa di sana. Semua raksasa itu sepertinya sedang berendam ddan minum.
Tap!
Sato pun terus ddaki tubuh monster yang pumya belalai seperti gajah juga. Sato mendaki dan kini dia bisa lihat sekitarnya banyak sekali hap serupa. Ddia bisa lihat sebuah bagian tak jauh darinya.
Lalu dirinya terkejut. Semua monster ini yang ada ddi sekitarnya mulai bergerak. Dia pun melihat semuanya. Semuanya kompak keluar dari sana.
Sato kemudian lompat dari badan gajah itu. Menuju gajah lainnya.
Namun, tak cukup jarena terpeleset. Hampir jatuh untunglah dia mendarat di sebuah belalai besar gajah yang bergelayut.
Lalu dia melompat kini dia di ekor sebuah monster itu. Lalu dia kembali memanjat susah payah.
Dia lihat matahari akan tenggelam lagi.
Lalu dia pun melompat sangat jauh.
Brak!
Dia sampai di sebuah punggung monster yang agak pendek namun raksasa itu. Dia lari. Seperti kutu saja. Ukurannya sangat kecil bagi mereka semua.
Dia terus berlari dengan cepatnya. Lalu melompat ke arah monster lain.
Ngaaaak!
Satu monsteer bersuara. Gelombangnya membuat dirinya ke atas sangat tinggi sekali.
Wuuush ddia seperti terbang. Dia melewati berbagai bukit. Berbagai hal. Beberapa orang—orang yang sepertinya waktu itu. Tengah heran melihat seorang manusia yang terbang iitu.
Lalu brak!
Sato pun tamaok jatuh di area perairan lagi. Namun, kali ini tak ada sosok monster atau apa pun yang sangat besar pula.
Byukk!
Sato membersihakn diri. Lalu, menepi dan minum air itu. Lalu, dia pun cba menengok ke atas.
Di sana adalah gelap. Sepertinya malam yiba. Sato kemudian berdiri. Rasa lapar membuatnya harus berburu lagi.
Sato akan berburu. Dia kemudian ditemukan oleh beberapa beruang yang ganas.
Groaaaar!
Sato pun mulai pertarungan dengan lima beruang besar itu.
Lina beruang itu melesat ke arahnya. Sato menangkisnya dan fdia tampak terpental ke selatan.
Brak!
Dia berdiri lagi lalu menahan sebuah cakaran dari salah satu betruang itu. Dia berguling hindari seragann yang sama dari beruang lain.
Semuanya tampak sangat berbahaya.
Groaaar!
Mereka mengamuk.
Satu beruang itu lari akan mencambuknya. Namun Sato berhasil mundur. Menghindari dari semua tangkapann hewan-hewan ini.
Lalu, Sato pun berlari ke belakang. Dia lalu mengambil satu anak panahnya. Dia melompat hindari terjangan itu. Sato. Lalu, dia pun menghindari cakaran dari dua arah yang berbeda.
Dia melesat ke bawah melewati satu beruang yang berlari ke arahnya
Kemudian dia berlari ke sebuah pinggir air itu. Di mana sangat tinggi. Lalu, dia melompat ke dalam air.
Sembari membidik mereka semua dengan anak panahnya.
Wuhhsshah!
Saat melontar. Dirunya juga tercebur ke dalam air. Semua monster itu tampak bergerak bergantian ke arah suara air itu. Membuat hal itu mempermudah panah Sato menembus mereka secara bergantian.
Krassh Krassh Krassh Krassh..
Mereka pun mati seketika.
Sato pun sepertinya menyantap monster itu. Karena hari sangat larut.
Dia menyantapya dann memakan daging satu dari sekian banyak bagian daging itu. Sisanya mungkin akan dimakan oleh predator atau pemakan bangkai.
Esoknya Sato kembali untuk pergi melanjuutkan perjalanan latihan itu. Dia lebih cepat berlatih dengan latihan seperti ini.
Lalu, di tengah perjalanan dia selalu melihat berbagai satwa. Sepertinya dia dekat dengan sebuah pemukiman manusia.
Tap tap tap tap tap!
Lalu, Sato pun terus berjalan ke arah sana. Sambil berlatih untuk memanah. Kemudian tak disengaja dia ketemu dengan sesorang penyihir. Orang itu langsung menuju Sato.
“Kau sangat jauh dari kastil, Sato!” ujar orang itu menyapanya.
Sat hanya menggaruk kepalanya.
Sato kemudian dibawa terbang olehnya dengan suatu papan sihir. Sato menapak berdiri di atas bersama orang itu.
“Yang muulia Syaumu tampak khawatir. Semua orang khawatir, Sato!” ucap orang itu.
Membuat Sato hanya bisa mengangguk lumrah.
“Apa yang kau lakukan di dalam hutan berbahaya ini.. saat itu??” tanya penyihir itu.
“Aku hanya berlatih.. melawan beberapa monster-monster di tempat itu, hanya itu saja,” jawab Sato.
Tap!
Nereka berdua sampai. Syaumu langsung hampiri Sato. Mereka tanyakan Satoo ke mana saja..
Sepertinya kali ini Sato terlalu berlebihan hingga dia sudah melewati batas hutan yang seharusnya. Sato pun hanya bisa tersenyum kikuk sambil meminta maaf padanya.
Tap!
Sato beristirahat.
Megamu tampak meengahmpirinya.
“Sato bukan lagi Sato!”
Sato pun mengangguk mantap.
“Ya!”
‘Ini waktu yang tepat untuk kembali melatih karma! Aku sudah cukup dengan latihan perangku ini!’
Bersambung.