Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Pelatihan Sato dan kawan-kawan.



episode 67


Masilius. Terlihat, sedang kendarai puluhan ribu robot raksasa di atas langit. Namun, semuanya sudah diatur agar tak menghilangkan jejak sinar matahari ke arah bumi.


Wuuush!


Tampak, Masilius melihat dua moment pertarungan. Lalu, dia pun membuat robot-robotnya itu menembakkan semua misilnya ke arah itu.


Blaaaar blaaaaar!


Ledakan terjadi di tempat Vinita dan yang lain yaitu Bernard dan haik.


Brrrrrrm.


Kini, Yam sudah tuntas dari misi sebelumnya. Dia pum kini menunaikan misi lainnya dan mulai melawan monster-monster di depannya itu.


Nggggeeeng!


Yam dengan motornya dan kini mengaura biru ke sekujur dirinya dan motornya.


Bernard dan haik tampak masih selamat. Udara panas dari tenaga milik robot itu tampak aman bagi keduanya.


'Ledakan apa ini?' Batin haik dan Beenard bersamaan.


Keduanya lalu tak percaya. Kemudian, melihat keadaan jadi seperti sedia kala. Begitu pun Vinita saat ini.


Kini, Bernard sudah berkumpul dengan haik lagi. Keduanya bertanya-tanya tentang siapa yang memusnahkan susanoo. Membuat ledakan aneh yang juga memulihkan semua bangunan yang sudah hancur itu.


"Jika bukan genm, maka orang itu!" ucap haik memandang ke atas.


Dan, di atas sana. Terlintas Masilius dan semua robotnya.


Wuuuush!


Bernard paham nampaknya. Dia dan haik lalu berlalu dari tempat itu.


Kini di tempat lain.


Sato dan yang lainnya sudah berkumpul lagi. Bahkan, kini bersama dragon juga.


Sato kemudian mengobrol dan berbincang. Semuanya kini jelas.


"Monster itu adalah salah satu monster legendaris," ucap seorang laki-laki. Dialah Forg. Orang itu tampak meminum minuman di gelasnya.


"Kemampuan iblis adalah menyerap apa pun juga. Seperti udara, api, panas, dingin, bahkan waktu," ucap orangĀ  yang tak lain adalah Dragon itu sendiri.


Megamu dan yang lainnya terkejut.


"I-itu, berlebihan," tanggap Sato.


'Karena di dunia sihir. Tidak ada yang bisa mempermainkan waktu' batin megamu.


Tap tap tap tap!


Datanglah Billy. Dia kemungkinan dari markas pusat. Dia lalu mengabarkan semua detailnya.


"Sementara kita akan beroperasi seperti biasanya," ucap Billy menjelaskan.


Semuanya paham.


"Albania saat ini sedang dalam perbaikan. Kerusakan disana sangatlah parah," ucap Chintya.


"Oh, begitu," sahut Sato.


"Setidaknya itu membuat si musuh itu mati bukan?" tanya Fernie.


"Ya, sepertinya dia tak mungkin bisa melawan monster seperti itu, bahkan bulan dan kekuatannya dengan mudah dia kuasai," jawab Forg.


Semuanya sudah selesai.


Kini, Sato dan yang lainnya sedang dalam pembelajaran lagi. Setelah insiden di Albania selesai. Kini, mereka sudah bisa kembali dalam kegiatan seperti biasanya.


"Ya, seperti biasanya. Kita akan mulai kembali dalam pelajaran selanjutnya."


"Ya Bu!"


"Oh, tidaaaak!"


Forg nampaknya sudah pergi dari markas yang Sato tempati.


Kini dragon dan maria tampak pulang ke tempat mereka juga. Menggunakan pesawat pribadi itu.


Wuuuush!


Mereka tampaknya damai dan kelihatan menikmati segalanya.


Wuuuush!


Masih di dunia itu.


Cklak!


Bunyi seseorang menutup benda seperti laptop kecil. Dia tampak memandang datar ke depan. Orang dengan jaket hodie itu.


Kini, sedang duduk di halte bus. Dia nampaknya Mugo. Wajahnya sangat jelas.


Lalu, bus pun tiba. Dia lalu memasuki bus itu bersama orang-orang yang menunggu juga.


Tap tap tap tap tap!


Terlihat Sephij di dalam ruangan itu. Lalu, datang Mugo yang sepertinya baru sampai menumpang bus tadi.


Sephij langsung menyapanya.


"Oh, Mugo. Selamat datang. Dari mana saja kau?" tanya Sephij yang sibuk dengan kegiatannya itu.


Tampak, sesuatu seperti asap energi hitam melayang masuk ke suatu bola yang dipeehatikan keduanya.


"Tidak ada! Aku hanya ingin memastikan bahwa sago dan Shimun sudah mati!" ucap Mugo tenang. Padahal mereka satu rekan.


"Hmm, kematian yang sudah dipastikan adalah sago. Namun, Shimun ..."


"Begitulah, maka dari itu aku akan mencoba mendatanginya," ucap Mugo.


"Tapi ada kemungkinan ada bocah Pegasus kan?" tanya Sephij.


"Benar, maka dari itu. Aku ingin menggunakan rencana ini untuk mengalihkannya," jawab Mugo dengan serius.


"Tenang saja, semuanya berjalan lancar."


"Baguslah, kalau begitu."


Tap tap tap tap!


Mugo pun tampak pergi ke sebuah portal dimensi yang muncul di pintu kosong itu.


Cling!


Sato dan yang lainnya tampak belajar.


"Jadi apa jawabanku salah?" tanya gugup Sayugo.


"Hmmmmm."


Chintya tamaok bergumam melihat semua jawaban milik Sayugo. Yang semuanya salah.


'Bagaimana aku mengatakannya ya?' Batin Chintya bingung.


Lalu, megamu kini entah kenapa berganti menjadi Fernie.


"Semuanya salah Bu!" ucap Fernie. Sato yang fokus menulis jawaban jadi kaget dan melihat ke arahnya yang duduk di belakangnya.


Sayugo mendengarnya jadi kaget dan tak terima.


"Hey Fernie, apa masalahmu. Sadar-sadar langsung fitnah!" ucap Sayugo dengan nada marah.


"Hahahahaha. Aku melihatmu menulis jawaban tadi dan, semuanya salah! Huahahahahaha!"


Fernie tertawa terpingkal-pingkal.


Sato terkejut.


"Apa jangan-jangan kau--"


"Ya, aku yang juga sudah menarik kursi sesaat sebelum kau mendudukinya tadi pagi! Whahahahahahaha!"


Fernie tambah terpingkal-pingkal.


Chintya lalu menurunkan kaca mata hitamnya. Melihat Fernie.


"Apa jangan-jangan. Kau punya skill lain?" ujar Chintya.


Fernie pun perlahan diam dari tawa kerasnya itu.


"Hmmmmm."


Dia bergumam.


Setelah itu. Mereka dapat misi lagi.


Saat ini, Chintya tak bisa membimbing mereka. Maka dari itu. Orang lain menggantikannya.


Tak lain adaoh Billy. Namun ....


Billy mengajak mereka semua dengan mobil super mewahnya itu.


Mereka lalu melaju ke tempat misi kali ini. Namun, Sayugo dan yang lainnya terbengong-bengong.


Mereka bertiga saling pandang.


"Sejak kapan paman Billy punya janggut dan berewok?!"


Brrrrrrrrrrm!


Ckiiiit!


Mereka pun berhenti. Namun, berhenti di dalam air.


Semuanya panik dan langsung keluar.


Lalu, mereka berenang ke permukaan. Untunglah hanya danau semata.


Bluuup!


Sayugo yang tak bisa berenang tenggelam. Sato menolongnya. Fernie lebih dulu sampai di tepi.


"Haaaah haaaah haaaah."


Fernie lalu mendengar Sato yang datang dari dalam air. Fernie membantunya.


"KENAPA INI?!!"ujar keduanya kaget.


Tap tap tap tap tap tap!


Suara langkah mereka dengar.


"Hahahahahaha. Sleamat anak-anak. Kalian lulus dari ujian berenang."


Sato dan Fernie lalu menatap kedatangan seseorang yang sepertinya Billy. Namun punya janggut dan berewok tebal.


Keduanya lalu membelalakan mata. Saat dari belakang muncul satu orang lagi.


"Paman Billy ada dua?!" seru keduanya.


"Hahahahaha. Jangan kaget begitu."


Sato dan Fernie pun kini menatap ke arah kedua Billy itu.


"Perkenalkan semuanya. Namaku adalah Billy batson. Saudara kembar Billy dari tanah arab!"


Mendengar itu. Kedua remaja itu saling pandang dan berseru kaget.


"Apa?!"


Kini, Sayugo pun sadar.


"Uhuk-uhuk!"


Dia mengeluarkan air dari mulutmya. Namun, tak ada yang mengatakan sesuatu di sekitarnya.


Sayugo lalu sadar bahwa tak ada seseorang di dekatnya.


"Ya ya ya! Terusss!"


Suatu suara membuat Sayugo menoleh ke suatu arah. Lalu, dia pun kaget.


"Hey, apa yang kalian lajukan. Bukannya menjalankan misi malah bersenang-senang!" teriak Sayugo.


"Oh, kau sudah sadar Nak!" ucap Billy.


"Apa?!"


Sayugo pun pingsan saat melihat ada dua Billy yang menyapanya.


"Hmmm, anak tukang pingsan!" pendapat kedua Billy itu.


Esok hari.


Kini, semuanya berkumpul di tanah kosong. Semua remaja itu sudah tahu. Bahwa, Billy punya kembaran yang juga bekerja sebagai pembasmi monster di organisasi Black Destroyer.


Billy batson namanya. Punya jenggot yang lumayan panjang.


Dia lalu kini memakai pakaian bak tentara. Namun, semua remaja itu juga.


"Berikan Hormat!" serunya.


Grak grak grak!


Dengan kompak tiga remaja yang berbaris rapi itu. Memberikan gerakan hormat dengan tepat dan kompak.


"Hahahahaha! Bagus. Kalian semua akan kulatih fisik dan tenaganya. Sebelum kita menjalankan misi. Apa kalian Bersedia?!" teriak Billy.


"YA PAK. KAMI BERSEDIA!"


Grak grak grak grak!


Mereka pun berlatih ala militer di tempat itu. Seperti angkatam darat mereka berlari ke sana kemari, berburu, dan tetua latihan fisik.


"Sayugo, karena kamu mengompol--"


"Tidak pak. Saya tidak mengompol. Tapi saya lupa pipis."


"Sama saja. Kamu dihukum melakukan push up dengan membawa dua batu bata!"


"BAIK PAK!"


Grak grak grak grak grak!


Billy lain juga memperhatikan kegiatan itu. Dia tersenyum puas melihatnya. Lalu, dia menerima panggilan.


"Hallo Chintya!"


"Ya, aku sudah mengirim saudaraku!"


"Tenang. Saat ini mereka sedang latihan keras."


Tuuut.


Setelah menutup telepon dari Chintya. Billy kini melihat lagi ke arah depan sana.


Grak grak grak grak!


Keempat orang itu terus melakukan kegiatan bahkan, sampai esok harinya.


Satu minggu berlalu.


Ternyata mereka tak sia-sia dalam latihan itu. Kini, tiga remaja yang sudah seperti tentara tegap. Tampak memberi hormat pada Billy. Komandan mereka.


"Hormat Komandan!"


Grak!


Billy dengan topi angkatan laut. Juga memberikan hormat.


Kini, dia sepertinya akan melakukan pidato khusus.


"Selamat Calon Partisipan. Kalian sudah melewati satu minggu dengan latihan yang sangat menguras fisik. Namun, ternyata kalian berhasil. Mulai besok kita akan mulai melanjutkan misi kita yang tertunda. Apa kalian bersedia?!" Billy dengan pidatonya.


"YA PAK KAMI BERSEDIA!"


Kini, sudah sebulan mereka berlatih dan misi. Sato dan yang lainnya sudah berkembang dalam hal fisik. Sayugo sudah bisa berenang, Sato sudah sangat rajin, Fernie tambah tegas dan tanggap.


Tap tap tap tap tap tap!


Kini, mereka kembali ke hadapan guru utama di markas.


Tap tap tap tap tap!


Chintya menemui mereka. Tampak dia bersiap bak pemimpin tentara juga.


"Salam Komandan pertama!" ucap ketiga remaja itu yang kini berbaris rapi ditemani oleh Billy bersaudara.


"Ya! Sekarang kalian boleh tidur!"


"Terima kasih Komandan!"


Tap tap tap tap tap tap!


Ketiganya lalu kembali ke kamar mereka dengan jalan rapi tentara.


Chintya lalu menemui dua Billy bersaudara. Billy berjenggot tampak akan berlalu lagi.


"Aku ada misi lagi, maaf ya!" ucapnya sambil melambai.


"Ya, terima kasih karena sudah menjaga anak-anak muridku!"


Chintya melambai pada Billy itu. Kini, dia dan Billy tampak berbincang lagi. Namun Billy tampak terburu-buru saat ini untuk ke suatu tempat.


Seorang gadis kecil bernama Marijla. Terlihat melihat dari sudut atas gedung tinggi itu. Dia melihat banyak energi kebencian yang hanya dia lihat itu dengan tatapan waspada.


Mata itu bisa melihat apa yang tak bisa dilihat mata INDIGO!


Bersambung.