
episode 77
Sato membungkuk. Marra tampak memandangnya.
“Oh, kau juga ingin tahu tentang kehancuran mereka ya?”
Sato terbelalak. Apa dia terlambat?
Rambut ungu gadis smp nan pintar dan cerdas. Sukses di usia muda. Tubuhnya sudah menandingi kakaknya Chintya.
Lalu, menatap Sato di pinggir danau itu.
“Keluarga itu kini sedang hadapi krisis. Mereka saat ini mendapatkan banyak cemooh publik. Itu membuat pendapatan mereka menurun sebesar 0,8%”
Sato terbelalak.
‘Jumlah seperti itu. Bagi keluarga sepertiku tak apa. Tapi bagi konglomerat. Itu sama saja rugi reputasi dan kekuasaan mereka’ batin Sato.
“Semua perusahaan kini mengalami penurunan. Walaupun mereka berusaha keras untuk memulihkannya lagi.”
“Lalu, apa mereka berhasil?” tanya Sato.
Marra menggeleng.
“Tidak, mereka sudah kerahkan banyak orang dan tenaga. Mau dari diri mereka ataupun pemerintah dunia. Mereka tak bisa membendung orang-orang ini. Yang sudah membongkar aib mereka sendiri!”
Sato terbelalak.
“Penurunan itu juga mempengaruhi beberapa kolega mereka. Kemerosotan itu sangat signifikan semakin harinya.”
Marra menatap ke arah matahari itu.
‘Aku siap menggantikan mereka, jika mereka hancur’ batin Marra.
‘Jadi begitu’ batin Sato.
“Beberapa kolega mencoba memberikan mereka sanksi.”
“Sanksi?” tanya Sato.
“Ya, itu seperti ujian. Mereka menguji. Biasanya jika saham tidak naik ke arah yang biasanya. Saham itu terbilang besar. Mungkin lebih dari 5,6. Saat ini menurun di angka 4 tepat. Itu juga sangat sulit untuk naik.”
Sato menunduk mengerti.
Keduanya lalu meninggalkan tempat itu.
“Saham kah? Sepertinya aku akan menyelidikinya.”
Sato bergegas ke rumahnya. Dia beristirahat dulu. Makan malam dan sebagainya.
‘Kalau begitu, aku harus mencari tahu tentang saham mereka bukan? Atau menuju ke cara lain?’ pikir Sato.
‘Apa yang harus aku lakukan?’ Batin Sato berpikir keras di rumahnya itu.
Dia tak tidur. Demi mengungkap kebenaran yang pernah dia dengar dari Shanee.
Sebelumnya. Shanee meminta sesuatu. Dia meminta Sato menemuinya di tempat tragedi hilangnya Shanee yang babak belur itu.
“Sato, pada hari minggu. Aku ingin katakan semua rahasia ini. Aku harap kau bersama satu penyihir yang kau percayai. Niscaya kau bisa melakukan segalanya. Untuk menyelamatkan dan menyadarkan klan Onpipan. Aku tahu Sato! Kau pernah berselisih dengan Sayfull. Aku tahu dan aku membiarkannya. Bahkan saat itu. Aku berada di balik pintu toilet itu Sato. Lalu, mengundang banyak orang. Aku tak tega Sato. Itu terakhir kalinya aku menolong korban lain dari Sayfull.”
“Korban terakhir yang tak ku tolong adalah ..... kepala sekolah smp barat nasional!”
Saat itu Sato terkejut. Namun, itu normal. Dia juga tahu bahwa Sayfull membunuh demi kepentingan Olimpiade itu.
Sato lalu beranjak dari sofa itu. Dia berpikir di sana.
‘Kak Shanee, dia Onpipan.’
Sato terbalak.
‘Benar juga, aku akan mencoba ke rumahnya.’
Sato lalu memuju ke kediaman Shanee. Dia tahu karena pernah ke sini. Di pertemuannya itu.
Tap!
Lalu, tampak orang lain yang keluar. Mereka tak berpenampilan layaknya Onpipan yang kaya itu. Mereka sangat sederhana.
“Hallo? Ada apa ya?” tanya seorang ibu berambut cokelat. Bukan kuning atau pirang itu.
“Maaf Bi. Aku ingin bertanya tentang kak Shanee. Aku temannya yang waktu itu,” jawab Sato.
Tampak, wanita itu melihat sekujur tubuh Sato. Dia lalu mempersilahkan Sato masuk.
“Jadi itu kau ya. Baiklah kau diperbolehkan masuk dan berbincang di dalam,” ucapnya.
Sato pun masuk. Rumah itu punya taman luas. Namun sederhana dan terlihat seperti kuno. Air mancur bambu seperti yang ada di kuil-kuil itu.
Sato pun masuk bersama ibu itu. Lalu, dipersilahkan duduk di sana. Tak ada kursi. Hanya ada meja pendek. Itu sama seperti di kuil.
Lalu, ibu itu datang ditemani laki-laki paruh baya yang sepertinya kesulitan berjalan. Ibu itu memapahnya.
Lalu, mereka pun duduk di hadapan Sato.
“Kau temannya Shanee ya? Kau sangat senang kau menyadarinya,” ucap orang tua laki-laki itu.
“Apa maksud kakek?” tanya Sato.
“Shanee adalah anak yang baik. Dia tak pernah membawa teman karena takut kami semua dirugikan. Kau tahu dia adalah bagian dari Onpipan kan?”
Sato mengangguk mendengarnya.
“Klan Onpipan adalah klan kaya. Namun, itu semua pasti punya sisi buruk. Tidak bahkan yang paling sempurna pasti berasal dari keburukan.”
Sato terus menyimak.
Orang itu terbatuk. Lalu, diminumkan sesuatu oleh ibu itu di sampingnya.
“Shanee adalah anak yang berbakti. Dia ingin kami orang tuanya yang sudah tak mampu apa-apa semenjak itu. Shanee bahkan menjual dirinya ke keluarga itu. Demi membiayai kami semua,” ucap ibu itu. Mungkin melanjutkan kata kakek tadi.
“Apa?!”
“Dalam keluarga itu. Kami semua harus menikah dengan sesama klan. Namun, Shanee adalah anak kami yang malang. Dia mendapat kutukan. Dia diplantasi oleh gen klan Onpipan.”
“Apa maksudnya?”
“Maaf Nak! Kami tak tahu itu. Hanya Shanee yang tahu detailnya. Dia mengatakan itu sebelum dia hilang. Mengatakan hal lainnya juga. Bahwa tak lama lagi akan ada yang menyerang klan Onpipan,” jawab orang tua itu. Mereka tampak sedih.
Sato lalu berjalan keluar setelah pamit. Malam itu sangat larut. Sebelum itu dia diizinkan masuk ke kamar milik kakak Shanee itu.
Dia temukan beberapa barang yang berkaitan sihir. Sayangnya tak ada Mega. Tapi dia bisa bertanya melalui email.
Sato bangun di hari minggu. Alarm handphone bangunkan dirinya di jam tujuh tepat. Dia lalu menyelesaikan tugasnya kemudian kembali menuju misinya itu.
Dia menayangkan barang-barang aneh yang dia dapati dari rumah Shanee. Orang yang dia cari infonya itu.
Setelah menunggu dia pun didapat jawaban.
“Itu adalah barang sihir. Ada yang umum ada juga yang langka dan sangat langka. Kakak bisa bertanya pada seorang penyihir lain. Aku sudah memintanya untuk bertemu denganmu. Dia ahli tentang barang-barang sihir. Dua berada di tokonya.”
“Baiklah!”
Sato pun kini menuju ke toko sihir itu. Dia pun bergegas sambil membawa peralatan itu.
Saat beberapa saat akan sampai.
Bblaaaarr!
“Apaaa?!”
Sato berhenti tepat di toko sihir itu yang kini entah kenapa terbakar.
Kerumunan orang lalu memanggil damkar.
Wiiiuuwiuuu wiiuu!
Sato menepi.
‘Sial, kenapa bisa seperti ini’ batin Sato bingung.
Melihat pemadam itu memadamkan api. Lalu, membawa satu orang yang itu. Kemungkinan pemilik itu. Kini dia sepertinya akan dibawa ke rumah sakit.
Sato pun berusaha mengikuti damkar itu. Dia lalu menghampiri ruangan itu. Melihat di dalam sana. Orang itu pingsan.
‘Untunglah dia masih hidup’ batin Sato.
Sato lalu menunggu di sana. Beberapa keluarga dari penyihir itu bertanya. Sato menjawab dia pelanggan yang ingin berkunjung.
Itu membuat mereka keluarganya mengizinkan Sato menunggu sampai orang itu sadar.
‘Apa keluarganya juga penyihir?’ Batin Sato tak mengerti.
Sato masih menunggu. Dia akhirnya mendapati orang itu sadar. Lalu, Sato pun dipersilahkan mengobrol di sana.
“Kau Sato Kazumi ya!”
Sato mengangguk.
Penyihir itu tampak diinfus. Dia tampaknya penyihir yang masih bisa terluka.
Sato menatapnya khawatir.
“Maaf, tadi ada masalah serius. Itu berdekatan saat kau akan datang menemuiku,” ucap orang itu tidak enak.
“Itu tidak masalah. Tapi apakah aku boleh sekarang untuk bertanya padamu tentang benda-benda sihir ini?” ujar Sato sembari menunjuk barang-barang yang dia bungkus di sana.
Orang itu pun mengangguk.
“Ada 11 barang sihir dan 27 lainnya adalah aksesori sihir.”
Orang itu berucap langsung. Bahkan bungkusan belum ditunjukkan oleh Sato.
“Aku tak akan jelaskan semuanya secara mendalam. Tapi barang itu bisa digunakan untuk melakukan sihir, ritual dan pemujaan.”
“Jadi begitu. Apa ada yang spesial dari mereka?” tanya Sato.
Orang itu mengangguk.
“Dari semua alat sihir itu. Sepertinya ada satu alat yang hanya dipunyai oleh klan paling kaya.”
“Apa itu?!”
“Ya, merekalah Onpipan. Kami para penyihir bahkan tak diperbolehkan memilikinya. Terkecuali darah dari klan itu sendiri.”
“Jadi begitu.”
Orang itu mengangguk.
“Tapi, ada lagi. Aku merasakan dua dari aksesori sihir itu. Tampaknya sengaja mengundangmu. Dia punya aura yang menyambut kehadiranmu,” ucap orang itu horor.
“A-apa maksudnya?”
“Sepertinya, kau diundang untuk melakukan sesuatu. Aku tak tahu. Intinya kau harus tahu itu. Kau harus selidiki itu terus menerus. Maka kau akan tahu jalan keluarnya,” jawab orang itu lagi.
Sato pun keluar dari sana. Membawa bungkusan itu.
Naik sepeda dan pulang tuk menaruh barang-barang itu. Dia pun simpan itu di brangkas yang aman.
Sato tak sadari sebuah bayangan di sekitarnya saat keluar lagi. Seperti yang dikatakan. Mungkin dia harus terus selidiki tentang keluarga itu.
Sato menaiki sepeda. Kini tampak berada di sebuah tempat. Di sana berdiri beberapa Onpipan.
‘Ini adalah tempat mereka, keluarga Onpipan’ batin Sato meneguk ludahnya.
Sato lalu turun dari sana. Melihat dari kejauhan kediaman keluarga Onpipan.
Tampak, sangat megah. Banyak orang berpakaian rapi dan semuanya hampir berambut kuning. Kecuali beberapa orang yang berperang sebagai pelayan dan bawahan.
Sato lalu berjalan. Mencoba memutari bangunan besar nan megah itu.
‘Ada dua kediaman umum milik Onpipan. Sato di infonesia satu lagi ada di Amerika’
‘Kediaman di Indonesia khusus untuk berkumpul semua keluarga. Lalu di Amerika khusus untuk berkumpulnya keluarga Onpipan yang asli dari sana’
‘Jadi klan ini punya dua asal. Indonesia dan Amerika. Itu tak terlalu mengejutkan’
‘Dengan begitu, kau bisa mencari asal-usul mereka di dua negara itu’
‘Untunglah kak Chintya saat ini berada di Amerika. Aku bisa bertanya tentang apa yang terjadi pada klan itu di sana’
Sato lalu kembali ke depan gerbang itu. Beberapa anak juga melihat dari luar. Mereka penasaran pada keluarga kaya ini.
‘Untuk saat ini, aku tak tahu keanehannya. Karena ... tunggu. Bukankah aku temukan suatu rekaman yang menampilkan semua kegiatan Onpipan bukan?’ Batin Sato.
‘Baiklah, itu akan ku download juga. Untuk di sini mungkin akan rawan. Aku harus waspada’ batin Sato di sana.
Dia bersemangat.
Lalu, suatu mobil lewat. Itu adalah Marra. Marra pun melihat Sato dan mudah kenalinya. Dia pun heran. Melihat Sato antusias melihat keluarga kaya itu berkumpul di kediaman umum mereka.
Bersambung.