
Episode 87
"Pemirsa terjadi suatu pencurian daging di sebuah hotel bintang dua. Yang berlokasi di dekat ...""
Sayugo tampak mengucek matanya. Dia belum bisa bangun karena efek sihir yang sepertinya dialami oleh mereka semua. Kelompok Sato.
"Ugh!"
Sayugo melenguh dengan spontan. Dia sedikit demi sedikit bisa melihat ke layar yang tadinya buram dan gelap.
Lalu dia pun melihat jelas. Matanya sudah seperti panda. Bahkan sebenarnya dia tidur lama untuk beberapa jam sebelumnya.
Sayugo lalu mendengarkan acara berita itu. Sebelum tergantikan dengan acara lainnya. Untunglah dia bisa menyimak bagian akhir yang menunjukkan sesuatu itu.
Matanya membelalak kaget.
"Sudah aku duga!" gumamnya dan tertidur di sofa itu. Meninggalkan tv yang masih menyala.
Sore harinya. Mereka semua tampak baru bangun. Tv di sana sudah mati. Sayugo tampak masih sedikit melindur dalam bangun setengah tidurnya.
Begitu pula dengan Fernie. Dia menggerayangi mantelnya sendiri. Seperti tokoh menyeramkan dalam film-film hantu.
Sementara stao. Tampak sudah bsiam melengang ke arah belakang. Dia tampak berjalan lalu memuju dispenser dan kemudian mengisi air ke dalam gelas putihnya.
Glup!
Sato lalu meminumnya melepas dahaganya itu. Sementara Marra dan Chintya. Marra tampak membuka jendela kamar. Membuat Chintya terbangun dari tidur setengah sadar layaknya Sayugo di depan televisi.
"Bangunlah kak! Aku rasa akan ada yang terjadi hari ini," pinta adik Chintya kepadanya.
Chintya tampak menolaknya. Dia mengerakkan selimut ke tubuhnya seraya bergumam tidak mau.
Sato lalu berjalan menuju ruangan berkumpul lagi. Dia kini sudah sadar sepenuhnya. Lalu, entah kenapa tiba-tiba Fernie bangun dengan cepat. Sato sedikit terkejut. Bahkan Sayugo yang setengah tidur bisa terlonjak.
Sato pun penasaran.
"Sato, maaf aku baru menyadarinya," ucap Fernie atau yang sekarang ini ternyata bukan Fernie. Melainkan megamu. Megamu mengambil alih kesadaran Fernie membuat dia bisa bangun secepat itu. Seharusnya malas-malasan seperti Sayugo.
Sato kaget mendengarnya.
Lalu, datanglah Marra ke arah keduanya yang bersama Sayugo yang masih terpejam.
"Aku pikir ini agak aneh," ucap Marra merasakan ada yang janggal.
"Ya!"
"Ap itu?" tanya Sato.
"Coba cek tanggal berapa sekarang," jawab megamu.
Lalu, Sato pun coba ambil handponenya. Sementara Marra langsung mengeceknya lewat handphone yang kebetulan dia bawa.
Sato kembali dengan hapenya itu. Marra menatap tak percaya.
"Tidak mungkin," teriak Marra.
Chintya lalu mendengar itu langsung bangun berdiri. Melenguh dan menatap ke arah Marra yang barusan membangunkannya dengan teriakan kagetnya itu.
"Ada apa sih?" tanya Chintya.
Mereka sau menoleh ke arah Chintya.
"Gawat, sepertinya ada yang tidak beres," jawab Marra.
Sato yang baru sadar setelah melihat waktu dan tanggal hari ini. Juga sama. Keringat lalu menetes eari wajahnya itu.
Dia bergetar memegang hapenya itu.
"Tidak mungkin, waktu kita tifur. Ternyata kita melewati dua hari," ucap tak percaya Sato.
Marra menutup mulut tak percaya.
Chintya yang mendengar langsung bangun penuh. Fia membuka semua jendela. Melihat ke arah bawah.
"Coba kita cek ke televisi," ujar Marra. Semuanya setuju lalu Sato pun memencet tombol penghidup televisi hotel mereka.
Klik!
Mereka coba lihat tanggal dalam semua acara. Dan ternyata sama. Semuanya tambah dibuat kaget.
Megamu menatap serius ke arah Sato.
"Sepertinya ada yang menggunakan mantra-mantra sihir. Membuat kita tertidur sangat lama," jelas megamu.
Semuanya tambah dibuat kaget. Semua orang tampak bingung. Berpikir untuk masalah ini. Di saat itu. Sayugo bangun karena mendengar acara televisi kesukaannya yang kebetulan tayang.
Brak!
Lalu, dia menatap semuanya yang sedang bingung.
"Apa kalian sudah sadar?" tanya Sayugo. Sato menatapnya remeh. Karena dai anggap Sayugo sedang nge-prank.
"Apa yang kau rencanakan?" tanya sinis Sato.
Sayugo menggeleng.
"Tidak-tidak bukan. Ini uhmm maksudku ...... sepertinya ada suatu kasus di hotel yang kita tempati ini!" jelas anak botak itu.
"Apa?!!"
Tap!
Sato dan yang lainnya coba turun untuk tanyakan kasus yang mereka lewatkan karena terpengaruh suatu sihir. Sementara Sayfull yang mereka jaga. Sepertinya baru bangun tadi. Setelah Sayugo berteriak karena dipukul oleh semua orang.
"Heh, rasakan dasar Sayugo pemalas. Tahu informasi malah tidak segera bangun."
Tap tap tap tap tap!
"Apakah benar ada suatu kasus yang menimpa di sini?" tanya Sato. Lalu, di belakangnya. Semua teman-temannya datang. Mereka juga langsung bertanya pada karyawan di sana.
Karyawan itu jadi gugup. Fia tersenyum sebaik mungkin di sana.
"Ya, benar. Untunglah hanya terjadi di area dapur. Beberapa pun tidak- semua daging mentah kami hilang dicuri malam pada sekitar satu hari lewat yang lalu," jawab karyawan itu.
Sato menatap kaget. Sayugo ternyata jujur. Semuanya mengangguk. Lalu, kembali menuju kamar mereka.
Sepertinya mereka pikirkan sesuatu di sana. Dalam lift mereka mengobrol.
Sato memencet lift. Membuatnya menutup. Lalu, mereka mulai bergerak satri lantai ke lantai.
"Kasus seperti ini terus terjadi di sekitar kita," ucap megamu membuka perbincangan.
"Yah, sepertinya ada sesuatu dengan anak itu," balas Chintya berpikir. Marra juga sedang berpikir. Terlihat matanya menajam. Seperti mencoba memikirkan sesuatu.
"Mengenai sihir ini, apa kita bisa mencegahnya?" tanya Marra.
"Ya, mantra-mantra. Adalah sihir bukan. Itu seperti sebuah teknik hipnotis. Namun, dengan efek yang lebih kuat. Tapi, semuanya biaa dicegah oleh kita. Walaupun tak ada orang yang bisa melakukan sihir," jawab Megamu.
Hal itu lantas membuat adik Chintya itu tersenyum miring. Semuanya heran melihat tingkahnya.
Malam berlalu lagi. Mereka tampak waspada. Namun, tak terlihat sedang mengawasi gerak-gerik Sayfull. Yang kini sepertinya mereka sudah jelas akan bukti-bukti itu.
Marra tampak pergi keluar. Dia menuju ke sebuah tempat untuk melakukan sesuatu. Chintya sedang memainkan hapenya. Megamu dan Sato sedang berbicara satu sama lain. Namun, kata-kata mereka sebenarnya asalan.
"Asal kita terlihat seperti mengobrol. Itu tak masalah kan?" tanya megamu..
Sato yang juga tak terlalu mengerti akan itu. Hanya bisa mengiyakan.
'Ini semua perintah dati kak Marra.' Batin Sato.
'Awalnya kak Marra ingin kita tetap seperti yang sedia kala. Lalu, untuk mencegah mantra-mantra yang dibilang putri Pegasus. Dia pun sepertinya bersiap di luar rumah ini. Kak Chintya bertugas untuk mencari lokasi-lokasi yang sepertinya jadi incaran dari Sayfull. Di mana kak Marra kini persiapkan beberapa hal di luar. Untuk memancing Sayfull ini.'
Marra tampak mendatangi sebuah tempat. Dia lalu membawa suatu alat. Sepertinya kuas. Kemudian dia memasukkan sebuah tepung ke dalam cup botol serta sehelai rambut berwarna kuning. Kemudian rambut berwarna hitam. Lalu fia tampak melukai tangannya itu dan meneteskan darahnya ke dalam hingga lima tetesan.
'Untuk menghilangkan efek mantra-mantra. Kita harus cari sang pelaku terlebih dahulu. Kita butuh suatu barang yang terkait dengannya. Lalu, efek mantra-mantra ini hanya berlaku untuk beberapa hal khusus. Sepertinya dalam hal ini. Adalah kamar kita ini. Jika kau melakukannya diluar jangkauan. Kau butuh barang yang sangat terikat deangn pelaku. Seperti dna tubuh langsung. Kemudian campurkan dengan rambut salah satu orang yang berada dalam jangkauan itu. Kemudian campur dengan darahmu. Gunakan tepung agar semuanya bisa teresap dan tercampur dengan baik. Kemudian gunakan hal itu untuk membuat sebuah gambar lambang anti sihir. Hal yang bisa kamu lihat di internet.'
Srak!
Sebuah gambar itu sudah tercipta. Lalu di dalam sana. Jam sudah tunjukkan malam. Sato tampak bersiap tidur di sampinng Sayugo yang tak tahu apa-apa tentang rencana Marra ini.
Sato tampak alihkan perhatian Sayugo. Agar dia tak menanyakan apa pun. Lalu, membuatnya tertidur terlebih dahulu.
Sayfull tampak telungkup di ranjangnya. Lalu, megamu tampak menutup matanya perlahan. Sato terlihat mencoba untuk tidur. Lalu, dia sedikit menyadari ruangan di sana berubah total. Semuanya seperti berwarna merah. Namun, dua tak sadar dan langsung tertidur. Belum sempat untuk bertindak dan sadar.
Di luar sana. Tampak Marra melihat gambar itu besinar merah. Lalu, dia pun bergumam.
"Sudah dimulai. Ternyata benar. Sekarang aku akan mencoba lihat dalangnya."
Srak sral Srak Srak!
Di sebuah tempat. Tampak seperti sebuah gudang. Datanglah seseorang di sana. Seorang bocah. Lalu, di tempat itu banyak selai yang berjaga.
Bocah itu datang ke arahnya. Membuat semuanya jadi heran. Lalu, tanpa basa-nasi.
Bocah itu menyingkirkan mereka semua. Lalu, ternyata iru adalah Sayfull dengan tatapan mata yang berbeda. Dia tampak lain.
Tap tap tap tap tap!
Datang gerombolan orang. Lalu, di depan semua orang itu. Tampak Marra Senia yang sudah lengkap dengan full Armor dan senjatanya itu.
"Jadi kau pelakunya, Onpipan sialan!" getam Marra.
Anak yang di depan sana tampak terkekeh.
"Bagaimana caramu terbebas dari mantra itu? Oh iya, pasti aku sudah ketahuan karena bocah berambut tipis itu ya. Ahahahahha," ucap Sayfull. Namun, kini dengan suara yang lain.
Marra terkesiap mendengarnya.
'Ada yang aneh dengan suaranya ini. Bagaimana bisa berganti sangat berbeda?' Batin Marra mengeluarkan peluh gugupnya.
Sayfull tampak mencoba maju. Membuat semua pasukan Marra bersiap.
"Kau akan kami lumpihkan!" ucap tegas Marra.
"Hahahahahaha!"
Sayfull tampak menggunakan sihir yang bukan miliknya. Dia biasanya gunakan pedang dan Rognoinsnya.
Namun, kini dia tampak keluarkan rognoinsbya itu lalu dia memakannya hidup-hidup. Hal itu membuat Marra sangat kaget.
Krauk krauk krauk!
Diq memakan habis singa itu.
"Ehahahahaha!"
"Apa yang kau lakukan haah?!" bentak Chintya.
Lalu, kemudian dia pun. Sayfull kini mengeluarkan pedang sihir yang kini berwarna merah. Bukan lagi biru. Pedang itu juga seakan memiliki mata. Itu asdalah pedang orochi. Pedang sihir legendaris.
"Heh!"
Sayfull terkekeh di sana.
Lalu, dia pun akan coba memusnahnya semua orang dengab pedang itu. Mengangkatnya ke atas. Munculkan sebuah bola dia atasnya. Lalu, bola itu memutar hebat.
Marra dan yang lainnya berusaha kabur atau mundur.
Namun, bola itu meluas dan meledak setelah menjangkau mereka semua. Ledakan tipe seperti ini disebut time bister.
Bersambung.