Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Pertempuran di Albania Bag. 4



episode 64


Sesuatu meluncur ke arah Shimun. Itu bentuknya sangat aneh. Seperti daya energi yang hidup dan memiliki jiwa yang kuat.


Blaaaaaar!


Meledaklah dia. Dengan jurus dari Bombamen yakni terror Blast.


Karena keadaan darurat dan kekuatan yang sudah maksimal. Dia pun menggunakan cangkang terakhirnya itu.


Wuuush!


Tampak kini, cahaya hitam yang punya energi kuat. Mengelilingi diri Shimun yang terpelanting tadi.


'Jadi dia berubah menjadi seperti ini?' Batin Shimun bertanya-tanya.


Bblaaaar!


Shimun menghindar dari serangan aura hitam kuat itu. Dia ini terus menerus menghindar dari tempat ke tempat.


Serangan itu tak berlanjut untuk saat ini.


"Gawat, cangkang milik Bombamen rusak!" seru Forg.


"Apa artinya?" tanya pemuda di sampingnya.


"Dahulu kala,  ada monster jahat yang tak bisa dikendalikan dan terus memangsa seisi bumi. Monster itu adalah iblis. Iblis pnghancur yang sudah menguasai bumi sampai ingin menekannya. Dan Bombamen adalah cangkang, dari kekuatan iblis itu. Kini,  dia tak bisa menahannya lagi. Dan cangkang itu hancur sudah," jawab Forg.


"Ini gawat!" seru Sato.


Bblaaaar!


Aura hitam yang sepertinya punya wajah menyeramkan itu. Tampak terus menerus menyerang Shimun di bawahannya itu.


Dengan aura hitam padat yang berbagai macam bentuk.


"Sial, aku sepertinya tak bisa melakukannya," keluh Shimun.


Blaaar blaaar blaaar!


Serangan cepat itu terus menghancurkan apa pun.


Bahkan Shimun sampai terkejut karenanya. Dia tahu, monster itu sangatlah kuat.  Dia harus bertahan di tempat itu.


Malam kini tiba di sana. Tempat menggelap itu membuat monster itu kini merubah wujudnya menjadi seseorang.


Shimun heran, bahkan sosok itu terbang dan tampak ter sinari oleh bulan besar di Eropa itu.


Sosok itu lalu membuka matanya. Merah kelam. Itu yang dilihatnya lalu semburat senyum yang dipenuhi aura jahat yang mirip seperti Shimun. Dia seperti orang jahat yang melakukan kejahatan hanya untuk kesenangannya saja.


Wuuush!


Angin pun berkibar. Orang di atas sana sepertinya punya sesuatu di tubuh atasnya yang panjang dan melayang-layang karena angin malam itu.


Wuuush!


Senyumnya tak berhenti. Seperti sebuah gambar yang tak akan bisa diubah lagi.


Shimun masih menunggu di bawah sana.


"Ini masih siang, tapi kenapa keadaan di sana malam hari?" tanya Sato heran. Melihat di Albania sedang daerah yang dia singgahi terbilang berseberangan. Tak mungkin ada perbedaan waktu yang sejauh ini.


Forg tampak menghela nafas.


"Itu sepeetinya salah atau efek dari kebangkitan sang iblis, monster masa lalu yang trbilang legendaris," jawab Forg tenang.


Dia nampak meminum air.


'Sama seperti Deus, Vergon dan Phoenix,' batinnya menambah.


Wuuuush!


Angin berkibar kibar. Membuat suasana malam itu sangat tenang. Namun, sebenarnya tidak.


Malam itu bukanlah malam yang sebenarnya. Malam yang terpicu karena kekuatan dari sesuatu yang sangat besar.


Wuuush!


Shimun masih di bawah sana. Melihat ke arah musuhnya yang posisinya agak tinggi dan sepertinya berubah jadi wujud yang lain.


'Dia kenapa diam ?' Batin Shimun heran.


Angin di Albania terus bertiup. Tampak, Shimun masih heran dengan kekuatan musuhnya ini. Dia menunggu untuk saat ini.


Entah kenapa dia begitu takut untuk bergerak. Namun, dia tak gentar tuk hadapi musuhnya ini.


"Heh.""


Suatu kekehan teedengar seperti gema dari musuhnya itu. Shimun sedikit tersentak. Dia nampak mencoba  bedakan kondisi musuhnya itu. Llau, menatapnya lama sekali.


"Siapa kau sebenarnya?!"


Di kantor pusat Black destroyer.


Tampak ada beberapa anggota lain di sana. Terlihat selevel dengan Chintya dan Billy sebelum dia kecelakaan.


Dua orang satu wanita dan sarunya lagi tidak jelas. Sepertinya dia laki-laki karena bentuknya itu seperti patung besi.


Tap tap tap tap!


Keduanya melangkah di ruangan luas itu. Lalu mereka tampak duduk di kursi penerimaan itu. Sepertinya khusus untuk beberapa orang saja.


"Apa benar Albania sekarang porak poranda?" tanya si robot yang yang memang bersuara laki-laki.


Orang di depan mereka tampak mengangguk.


"Bombamen ada di sana."


Setelah itu, keduanya tampak keluar dari markas itu. Mereka memakai mobil tuk ke tempat yang mereka tuju itu.


Brrrrrrm!


"Jika sampai saat ini, Bombamen tak kembali ...." ucap wanita itu di mobil.


Si robot menggeleng cepat lalu menatap ke arah jendela. Mereka mungkin sedang membicarakan kejadian di Albania.


"Bombamen, apa ini?" tanya robot itu. Kini, dia berhadapan dengan Bombamen di tempat sepi. Hanya ada satu anak kecil yang berada di gendongan Bombamen dalam wujud besarnya itu.


Bombamen tak berkata. Hanya menyerahkan anak kecil itu ke robot tadi.


Lalu, dia pun berlalu sembari mengirim sintal pesan ke robot itu.


"Aku ingin kau menjaga anak itu. Anak itu salah satu orang yang bisa menjaga dunia ini dari kebangkitan monster iblis. Karena, sebentar lagi aku akan pergi untuk misi penting di Albania. Aku yakin karena aku tahu informasi yang tak diungkap dan rahasia bahkan dari organisasi rahasia."


Robot itu membelalak kaget.


Kini, mobil mereka sampai di tempat yang sepertinya sangat mewah.


Robot dan gadis yang sepertinya sudah berumur 18 tahun itu. Berjalan ke arah tempat yang terbilang seperti kastil itu.


"Di sinilah. Kau akan mengetahui segalanya. Maria,” ucap robot itu di samping wanita muda itu.


Mereka sudah berada di dalam dan kini melihat patung besar yang sepertinya dewa itu. Lalu, orang yang disebut maria tampak melangkah pelan-pelan ke depan.


Tap tap tap tap!


Maria lalu sudah berada di dekat patung seorang pemuda bersayap dan hanya memakai pakaian pendek. Dia seperti terbang menari dengan sayap putih yang terlihat mulia bagi dia.


Cling!


Kemudian. Cahaya pun muncul di patung itu secara mengejutkan.


Ribuan tahun lalu.


"Iblis akan menyerang kota kita!"


"Aaaaah!"


Terlambat!


Sosok Iblis kini sudah menyatu dengan langit bahkan kini mulai menyerang bumi.


"Aku akan menelan kalian. Huahahahahahaha!"


Wuuuush!


Seseorang tampak datang. Dia perempuan yang sepertinya  adalah maria. Dia juga tampak bingung kenapa dia berada di sini.


Lalu, dia melihat ke atas. Dia sangat kaget.


"Huahahahahahahahah!"


Tampak mulut dari iblis itu mulai akan maju ke hadapan tanah bumi di dataran datar itu.


"Uaaaaaa!"


Tampak semua orang sudah tak selamat lagi. Menyisakan segitu saja yang bertahan.


Lalu datang seseorang yang bercahaya di badannya. Warnannya nampak dikenali oleh gadis itu.


"I-itu, paman pendiam!" serunya. Namun, tak bisa didengar entah kenapa.


Orang yang dipanggilnya itu. Tampak berdiri di batu besar jurang itu. Menatap ke langit hitam berangin yang sudah menjadi satu badan dengan monster berbahaya iblis.


Lalu, dia dengan pakaian seperti pendeta Budha. Kini melesat ke atas menerjang langit hitam yang sudah mulai menyentuh tanah di bumi.


Cliiing!


Cahaya putih bersinar membuat bocah tadi terkena dampaknya.


Lalu .....


"Maria?"


Maria yang kini mematung sadar kembali. Dia lalu menceritakan segalanya dan memang benar.


"Aku salah satu pengikut tuan shin. Aku dibentuk menjadi seperti ini agar tetap abadi dan dipersiapkan sebagai penunjukmu maria," ucap robot itu.


'Sepertinya benar dugaanku. Tuan shin membuatku  tetap hidup sampai jaman ini. Itu karena dia mempersiapkan wadah selanjutnya. Mungkin kematiannya memang benar-benar sudah  terjadi. Seperti yang dia ramalkan ribuan tahun lalu di kuil yang sekarang sudah menjadi ruangan kosong yang sudah tak ada lagi yang mengunjunginya selain aku dan anak kecil bernama  maria' lanjut robot  dalam  hati.


Maria lalu paham, dia yang tadinya hanya ragu. Kini, memutuskan untuk menyelamatkan dunia ini.


"Ayah dan ibuku mati tragis. Aku sempat tak ingin hidup. Tapi shin sama terus menerus mengajari aku  banyak hal hingga aku lupa untuk mati. Tapi, sekarang sudah berbeda ..."


Maria tampak membuka jas hitamnya. Kini, dia berganti menjadi pakaian seperti biarawati Budha.


Robot itu terpana nampaknya. Dia sedikor memekik kaget.


"Aku akan menjadi penyelamat dan mengurangi banyak orang yang mati! Aku bertekad teguh saat ini!" seru anak itu.


Tap tap tap tap tap!


Forg tampak terkejut saat itu.


Di tempat Shimun.


Angin masih menggelora. Tampak Shimun sedang menunggu jawaban dari orang yang melayang terbang itu.


'Dia kini bisa terbang tanpa alat canggih itu' batin Shimun heran.


Wuuush!


Tak ada jawaban. Shimun nampaknya tak sabar lagi. Orang itu lalu terkekeh geli.


Shimun pun kesal. Dia seperti dipermainkan.


"Jawab aku!" teriaknya ke atas sana.


Lalu, kemudian kekuatan kegelapan mulai menghampiri orang itu. Kegelapan tampak sepeetinya akan menelan bulan.


Dia memutar dan berhenti di tepi bulan itu. Masih mempwelihatkan sosok orang itu yang hanya terkekeh geli. Sangat aneh dan membuat Shimun merasa dipermainkan.


Dia terus berteriak menanti jawaban dari orang yang berada di atas sana.


Tempat maria.


Kini, dia membuka sebuah peralatan kuno yang disimpan di kastil itu.


"Ini adalah senjata-senjata yang dimuliakan oleh kami dari masa ke masa," ucap robot menunjuk dalam peti setelah membuka peti kotak itu.


Di dalamnya tersusun rapi barang-barang yang dia maksudkan. Beberapa barang tampak terjejer dan tertidur di tempat yang sangat tertata indah.


Maria lalu melihat satu cahaya yang hanya bercahaya di matanya saja. Itu adalah tongkat yang panjang terdapat di dalam sana.


Dia merasa itu adalah senjata yang kuat dan bagus. Maria pun mengambilnya. Kini, dia melihat senjata tongkat itu.


Kini maria dan robot keluar dari kastil itu. Berjalan cepat meninggalkan tempat itu.


Tap tap tap tap!


Brrrrrrm!


Mengendarai mobil menuju tempat itu untuk temui seseorang.


Robot tampak menelepon seseorang.


"Hallo Chintya, apa kau mendengarku?"


"Aku ingin meminta bantuanmu. Ini sesuatu yang berhubungan dengan Bombamen!"


"Ya, aku akan ke sana untuk menceritakannya!"


Setelah itu mereka terbang ke tempat Chintya menggunakan pesawat pribadi. Maria memandang jendela dan sepertinya sangat optimis.


'Jadi benar, yang mulia shin sudah mencampur gennya dan membuat anak ini hidup dan bisa menjadi penggantinya. Aku takut bahwa apa yang direncanakannya itu sia-sia. Karena gadis yang dia pilih-"


"Sampai!" seru gadis di samping robot. Robot itu mengangguk dan membawa koper keduanya.


Kini, mereka menuju ke bandara itu. Mereka berjalan kaki jauh. Lalu, datang mobil dari unit organisasi hitam.


Brrrrrm!


Tampak kaca mobil itu membuka menghadap keduanya. Terlihat Chintya yang mengendarainya.


Bersambung.