
Episode 30
Di tempat kediaman Billy malam itu.
Tampak keadaan masih normal. Serelah dengar kabar laporan detail dari markas itu. Mereka semua kecuali Sato. Tampak, bersantai dan melakukan kegiatan di waktu luangnya.
Mereka semua berada di ruang santai milik si Billy. Ruangan rahasia yang tidak terduga berada di tempat yang juga sama mengejutkan semua orang.
Tampak, Billy dan Sayugo. Menonton televisi dengan asyiknya. Sementara megamu mengobrol beberapa saat dengan Chintya kemudian diganti dengan kesadaran Fernie malam itu.
Fernie yang suka mengobrol dengan sesama wanita. Langsung bisa akrab dengan Chintya. Menurut Fernie, mengobrol dengan Chintya memberinya banyak pengetahuan.
Malam di Jerman di bagian kota bremen. Tepatnya di suatu gedung pertokoan itu. Toko roti tepatnya.
Di dalam sana. Remaja yang sudah akrab dipanggil Sato. Memakai jaket hitamnya menatap ke suatu tempat.
"Oh, begitu."
Suara seseorang paman di depan Sato. Sato hanya melihatnya datar dan menjaga sopan santunnya.
'Aku harap, aku tidak mengganggu waktunya' batin Sato sedikit khawatir.
Orang itu membuka surat kecil di tangan Sato. Surat yang dilipat-lipat itu. Kemudian dia membuka menjembrengkannya.
Srak!
Hingga kini sudah terlepas lalu orang itu membaca isi di dalamnya. Matanya menari-nari membaca semua hal itu.
Sato menatap. Menunggu untuk beberapa menit karena dia yakin. Isinya adalah ulasan-ulasan dan omelan-omelan tak berguna dari ibunya Mugiwa.
Sato sabar menunggu sambil berdiri. Walaupun dia ditawari duduk. Namun, Sato menolaknya sesaat dia memberikan surat tadi.
"Oh, jadi kau sekarang pindah ke sini Sato! Wah, aku sangat senang punya kerabat yang ada di Jerman, hahahaha."
Suara orang itu sedikit membuat Sato lega. Dia membuang sedikit nafasnya. Bersyukur, karena ternyata orang ini tahan pada omelan-omelan yang ditulis oleh sang ibu, Mugiwa.
Sato balas menatapnya langsung.
"Ya, aku akan sedikit berurusan di sekitar bremen beberapa hari seterusnya, tapi paman. Aku memang agak kesulitan dalam suatu tugas sekolah. Apa aku boleh mendiskusikannya denganmu, soalnya anu ..."
Pamannya yang sepertinya satu klan yang sama yakni Kazumi. Menatap Sato antusias.
"Hahahahah, tentu saja boleh! Kau boleh ke sini tiap hari. Aku di sini tidak terlalu sibuk. Karena aku hanya bertugas menjaga tempat roti ini saja. Kalau punya waktu tak sungkan lah kemari Sato Boy," ucap paman itu.
Membuat sedikit sinar harapan muncul di pikiran Sato. Sato pun mengangguk.
Setelah itu.
Malam mulai larut.
Sato tampak keluar dari toko roti yang sekarang masih ada pengunjung. Mereka belum tutup, mungkin buka 24 jam.
Sato tak ambil pusing, dia melangkah sambil sedikit naikkan kerah jaketnya. Karena makin malam, makin dingin.
Esok tiba.
Di rumah Billy, kini berkumpul semua penghuninya. Salah satunya Sato.
"Jadi, dengan kata lain. Memang sudah beberapa hari monster itu berkeliaran di bremen ya," ucap Billy.
Semuanya mendengarnya.
Sato mendongak.
"Terlebih lagi, saat dia lewat secara misterius. Beberapa hal hilang begitu saja," ujar Sato.
Semua orang memandangnya serius.
"Aku mendengar bahwa, monster alben sebenarnya adalah ras monster yang paling ditakuti. Yakni, Fairy! Itu sebabnya masyarakat Jerman dulu sering menyebut alben baik," jelas Sato sembari berpikir.
"Monster itu kemungkinan kehilangan wujud sebenarnya. Karena seperti yang diketahui dari putri megamu. Setelah dia menolong seorang pendeta dengan menyatu dengannya. Dampaknya mungkin wujud aslinya sebagai monster suci Fairy berubah atau tak bisa ke bentuk awalnya lagi," jelas Sato panjang.
Semua orang mengangguk paham. Lalu, semuanya tampak berpikir di tempat itu.
Mereka tampak menghadapi suatu mesin seperti telegraph atau radio. Berwarna putih dengan dua antena di atasnya.
Setelah beberapa menit. Sato, kemudian menatap ke arah mesin itu.
Karena mesin itu tiba-tiba seperti menerima pesan atau sinyal. Semuanya juga sama seperti Sato. Menatap antusias mesin di depan mereka semua.
Ting! Ting! Ting!
Bunyi, mesin itu. Setelah itu terdengar suara sdari mesin itu.
"Penerimaan info!"
"Dari : markas pusat organisasi hitam Black Destroyer."
Billy dan Chintya tampak lega. Sayugo dan yang lainnya menunggu kabar selanjutnya.
"Informasi sudah kita terima! Ayo mulai berangkat!"
"Baik!"
Kini, semuanya sudah keluar dari kediaman rahasia Billy.
Billy menggunakan mobil mewah itu lagi. Lalu membawa semua orang ke sebuah tempat yang sepertinya sangat jauh sekali bahkan keluar kota itu.
Brrrrrrm!
Billy terus menjalankan mobilnya menempuh puluhan kilometer. Sampai jalan di seberang sana ada hutan-hutan sedikit aneh.
"Ada hutan seperti ini ternyata ya, di Jerman," ungkap Sayugo.
Sato mengangguk.
Brrrrrm!
Mereka terus melaju. Keadaan padat transportasi sedikit menghambat mereka saat sampai di jalan besar lagi.
Sayugo dan Sato menggumam menunggu. Sembari mereka meminum drink dari sistem yang Billy buat di mobil mewahnya.
Brrrrrrrm!
Mereka melaju hingga kini, mereka sampai ke tempat yang sudah banyak mobil pemadam itu. Terlihat ada suatu bangunan yang sepertinya baru saja dipadamkan oleh mereka semua.
Semuanya menatap kaget.
"Jadi, benar dugaanmu Sato! Monster itu sudah kehilangan kesadarannya dan kini berubah jadi jahat! Evil alben di Jerman!" ucap megamu.
Sato menatap khawatir ke rumah-rumah itu. Begitu pula Sayugo.
Ckiiiit!
Hingga mobil itu berhenti.
Mereka semua keluar dari mobil. Masih banyak petugas dan beberapa mobil sepertinya menampung masyarakat di tempat itu untuk pergi.
Mereka di kawal oleh helikopter dan satu buah tank mini milik Jerman. Sepertinya kejadian ini begitu parah.
Tap.
Sampailah Sato keluar mobil. Dia bersiap dengan pedang yang diberikan Chintya. Kemudian mereka semua berjalan. Chintya memimpin dengan mengecek keadaan di peta gelangnya.
Hampir mirip, Billy juga mempunyai di jam tangannya. Mereka masih berjalan kini ke daerah yang sudah sepi dari semua masyarakat dan para petugas mau itu polisi atau organisasi ini.
Tut! Tut! Tut!
Sinyal sepertinya diterima Billy dan Chintya. Kini, mereka berjalan ke arah suatu bangunan besar kuno. Yang sepertinya sudah hangus beberapa saat yang lalu.
Beberapa air tergenang di jalanan. Menjadikannya lembek dan basah. Tanahnya gembur jadi makin becek saja.
Tap tap tap tap!
Saat mereka melewati satu bangunan. Megamu melirik tajam sembari mendesis tajam.
"Dia di kanan!"
Semuanya menoleh cepat. Lalu ....
Terlihat sesosok manusia biasa. Dengan topi pendetanya.
"Dia pendeta yang kemarin kita temui, jadi dialah monster itu?" gumam pelan Sayugo.
Mereka lau saling angguk. Setuju untuk tidak terlalu bising di sekitar monster ini.
Tap tap tap tap!
Mereka melangkah sangat pelan. Sepertinya, semuanya berusaha menciduk atau menangkap monster itu.
Namun ....
Wuuuush!
Tiba-tiba monster itu membalikkan badannya. Terlihat wajah manusia itu sudah terkelupas hebat dan terlihat sesuatu menjijikkan di wajahnya berkedut dan hidup.
"Aaaaaa."
Semua dari Sato terkejut hebat. Kejadian setelahnya..
Tampak, kepala si pendeta yang menjijikkan tadi. Diselimuti api berkobar panas.
Membuat semua orang mundur.
"Mundur!" teriak Chintya.
Billy menggunakan jamnya. Membuat perisai transparan.
"Aku akan menahannya, bantu aku!" ucapnya.
Lalu, terlihat si monster itu. Dengan cepat menghempaskan api dalam jangkauan begitu lebar dari kepala apinya.
Bwwwwosh!
Api itu menyebar dan sekali lagi. Membakar bangunan di sekitarnya.
"Aku akan tahan!"
Billy maju!
Menahan itu lalu dibantu dorongan kuat dari belakangnya. Teman-teman di belakang itu.
"Hyaaaaa!"
Kemudian api memenuhi dan sepertinya membakar hebat di posisi mereka.
"Haaah haaah haaah."
Billy menyudahi perisainya. Tampak dia masih utuh. Beberapa asap tadi keluar dari perisai ungu transparan itu. Seperti animasi atau buatan input tampilan komputer.
Cling!
Setelah dihilangkan. Tampak dia melenguh kelelahan. Terlihat kini juga empat orang lain dalam keadaan kelelahan sepertinya.
"Haaah haaah haaah."
Lalu, mereka kembali terkejut bersamaan lagi. Kini terlihat seseorang bergerak dan Napak di atas bangunan kuno yang sepertinya sudah jadi reruntuhan sangat lama sekali.
Reruntuhan Berlin!
Pagar pada saat jaman dulu sudah hancur di sini!
Kemudian, mereka menghadap arah itu. Tampak tak lain yang berdiri di atas sana adalah sang monster tadi.
Namun, sepertinya wajahnya agak lain. Sayugo menunjuk monster yang masih diam berdiri melihat balik mereka.
"Di-dia merubah wajahnya menjadi seperti manusia," ucap kaget Sayugo.
Lalu, terlihat monster itu masih diam beberapa menit. Membuat Billy dan Chintya juga merasa sedikit aneh.
Lalu, keduanya berinisiatif untuk ke atas sana.
Keduanya tampak gunakan kekuatan yang hampir mirip. Sama-sama gunakan mesin canggih. Namun, Billy lebih simpel. Dia hanya perlu jam tangan itu saja.
Setelah beberapa gelang terpasang di badannya. Kini Chintya tampak akan bergerak.
"Grey 3!"
Gelang yang terpasang di kaki, leher dan tangan kanannya. Nampak bercahaya setelah bunyi suatu mesin yang mungkin dari suatu kekuatan gelang-gelang itu.
Setelah itu, muncul sesuatu dari arah atas. Suatu helikopter datang ke arah posisi mereka. Namun, bentuknya terbilang kecil.
Mungkin seperti robot. Bentuknya juga menyerupai hewan bercangkang keras. Kura-kura atau penyu.
"Hyaaaaa!"
Chintya melompat ke arahnya. Lalu, tiba-tiba saja. Helikopter itu bergabung dengan tubuhnya. Membentuk seperti baju besi yang membuat Chintya bisa terbang dengan baling-baling di kedua undaknya itu.
Sementara Billy. Setelah memencet dan memutar jarum jamnya ke pukul 7. Kemudian tiba-tiba muncul suatu sistem yang tampilannya mirip seperti perisainya.
Muncul tepat di bawah kaki Billy dan bisa membuatnya melayang.
"Jamp coster!"
Tidak kalah dengan Chintya. Bunyi mesin juga terdengar setelah benda itu muncul.
"Woooow."
Sato dan Sayugo kagum dengan semua itu. Fernie yang sudah dalam kesadaran megamu. Menatap mereka seperti biasanya. Penuh harap.
Setelah semua persiapan itu, mereka pun terbang ke arah monster yang kini berwujud full manusia.
Wuuuush!
Duk duk duk duk!
Bunyi baling-baling terbang milik Chintya dan lesatan dari benda piringan di kaki Billy. Terdengar sangat keras di tempat ini.
Keduanya menuju ke atas sana. Mungkin akan langsung menyerang monster itu.
Setelah itu, serangan di luncurkan keduanya.
Jduaaar jduaaar!
Ledakan pun terjadi. Lalu, Sato melihat sesuatu jatuh dari atas sana. Tampak, Sato menghampirinya dan melihat itu monster tadi dan kelihatan tak sadarkan diri.
Duaaaaaar!
Bersambung.