Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Memasuki Akademi Sihir.



Episode 105


Sato berdiri di tengah sebuah pesta di sana.


 


Lalu, dia pun mengenalkan dirinya.


 


"Aku Sato Kazumi! Aku adalah orang yang diharapkakan oleh putri megamu, dalam semua masalah di dunia ini," ucap Sato tegas.


 


Semuanya tampak kagum melihatnya.


 


Sato kini berada di sebuah tempat. Sepertinya rapat besar.


 


"Jadi, apa kau seorang penyihir dari kaln Kazumi? Aku terkejut Kazumi punya hubungan juga dengan klan Pegasus," ujar satu orang berpakaian sihir. Dengan tawa kjasnya itu.


Orang lain di sampingnya juga mengangguk setuju.


 


"Dulu aku kenal seorang bernama Mendy. Dia sangat trauma dengan kekuatan klan itu," ucap orang itu.


 


Sato hanya bisa mengangguk aja.


 


Kini datang seseorang lain di sana. Tampak berwibawa. Dia gunakan pakaian sihir bernuansa hitam. Sama seperti yang lainnya.


 


"Satu hal lagi! Kita akan lakukan perang itu! Setelah aku diberitahu oleh Syaumu. Bahwa, seseorang di tengah kita mempunyai kekuatan karma! Mungkin kita juga harus membantu anak itu yang masih kesulitan dalam karmanya," ujar orang berkumis tipis itu.


 


Nampak, Syaumu di sana. Dia berdiri dari kursinya.


 


"Ya! Aku setuju! Kunci kita mungkin ada berada pada anak bernama Sato ini!" ucapnya.


 


Semuanya lalu menyoraki Sato.


 


"Yaaaa! Sato!"


 


Semuanya tampak senang atas hadirnya kekuatan besar dalam pihak mereka.


Tempat itu adalah markas perkumpulan semua penyihir kuno. Seperti Syaumu saat ini.


 


Sato tampak duduk di sebuah tempat bersama beberapa orang dari penyihir kuno itu.


"Jadi aku akan berlatih di sebuah akademi para penyihir kuno?" tanya Sato.


 


"Ya! Walaupun kau tak punya kekuatan sihir. Tapi karmamu itu sama saja dengan sihir. Kau bisa mengolahnya nanti. Di sana banyak guru yang berpengalaman. Semua alat sihir dan segala hal yang bisa mendukung potensimu," jawab satu orang yang sepertinya masih dalam keadaan mabuk di pesta tadi.


 


Sato mengangguk mengerti.


 


"Apa akademi ini ada murid lainnya?" tanya Sato.


 


Mereka lalu menggeleng.


 


"Tidak ada!"


 


"Jadi, hanya  aku ya? Yang akan belajar di kademi itu."


 


Esoknya Sato sepertinya akan diantar ke akademi kuno itu.


 


Tap tap tap tap!


 


Sato bersama beberapa orang yang mengawalnya. Mereka semua adalah anggota penyihir kuno.


.


"Anu  paman, apa aku boleh yahu kenapa  ada kelompok sihir seperti kalian? Kenapa  kalian dibilang  berbeda dengan penyihir pada umumnya?"  tanya Sato.


 


"Hahahaha! Kau kan tahu. Di akademi itu  pasti akan diajarkan.  Aku tak ingin kau  kehilangan momentum belajarmu. Dengan menjawab isi materi yang akan diajarkan  di sana."


 


"Oh, baiklah!"


 


Hingga sampailah Sato di depan sebuah tempat. Yang mana bagian itu sepertinya  terbuat dari bukit yang diukir dan disusun menjadi seperti kastil itu.


 


"Ini  adalah tempatnya! Hanya beberapa orang dan tentunya hanya penyihir kuno saja yang bisa memasukinya," jelas orang  itu.


 


 


Sato mengikuti mereka.  Lalu  pintu pun terbuka. Tampak cahaya juga menyertainya.  Beberapa tanda sihir keluar  layaknya serpihan-serpihan cahaya.


 


 


Lalu, Sato pun masuk.


 


Tao tap tap tap!


 


Da melihat suatu suangan yang terdapat satu kursi  saja.


 


"Nah Sato. Kami akan tinggal kamu di sini. Kami  akan jemput kamu setelah satu bulan," ujar  orang-orang yang mengantarnya itu.


 


Sato  pun mengangguk.


 


Di sana masih tak ada hadirnya guru atau semacamnya.


 


Lalu, Sato pun mencoba melihat-lihat semuanya. Dekorasi dan sebagainya.


 


Sato pun tampak melihat satu kursi  besar itu. Lalu  dia pun mencoba sentuhnya. Kursi yang juga seperti dari ukiran langsung dengan sebuah batu yang sudah ada di sana bagain tersambung  dengan tanah itu sendiri. Mungkin bagian dari tempat itu.


 


Lalu,  dia pun mencona duduk di atasnya. Sato rasakan nyaman di saa.  Tempat iyu luas. Ada ukiran-ukiran di dinding yang amat indah  baginya.


 


Tap tap tap. tap tap!


 


Sato melanglah ke depan. Menuju ke tempat seperti luasnya tempat yang sana. Melihat ukiran dan gambaran yang tercetak di dindingnya itu. Tempat itu juga sangat wangi dengan bau yang belum pernah Sato cium.


 


Kemudian, Sato pun coba untuk menyentuh sebuah dinding yang aneh. Banyak ukiran dan bahasa-bahasa yang kuno sekali.


 


Sato dan kawannya bisa membaca itu karena sebuah alat canggih yang diberikan oleh Chintya untuk bekal ke sini.


 


 


Tap tap tap tap!


 


Sayo terus menjelajah  ruangan itu. Matahari masuh bisa lewati lewat atas tempat itu. Walau hujan mungkin air tak juga bisa madukk. Hanya cahaya yang bisa  masuk. Terlihat lubang itu seperti punya semacam penangkap air.


 


Tap tap tap tap!


 


Lalu, Sato pun beristirahat di sana. Hingga beberapa jam mulai berlalu  Sato masih sendirian.


 


'Entah akan berapa lama'  batin Sato.


 


Kini, Sato pun kembali berdiri dari sana. Lalu, melihat ke semua tempat. Dia lalu melihat ada sebuah lemari yang bagian dari ukiran tempat ini yang alami. Lalu, mencoba membukanya.


 


 


Karena terbuat dari tanah. Pintu itu amat berat. Sato masih kesulitan. Namun, berhasil pada waktunya.


 


Tap!


 


Sato melihat beberapa buku di sana. Namun, semuanya tampak sangat kuno. Akan tetapi semuanya sangat bersih dan tak alami sebuah hal yang disebut penuaan alami.


 


 


Sato lalu menutupnya. Dia tak ingin lakukan itu sendiri sebelum pembimbing yang menyuruhnya.


 


Lalu  kemudian Sato pun kembali  ke kursi yang tebal itu. Hanya ada satu kursi di sana. Dengan wajah penasaran dia melihat semua ventilasi yang tunjukkan saat ini sudah sore hari.


 


Cahaya mulai menjadi orange gelap. Sato tampak sedikit tertidur di sana.


 


Tap!


 


Sesorang tampak sampai dari puar sana. Lapu  dia pun lihat Sato yang tertidur di sana. Kemudian orang itu pun tampak mencoba bangunkan Sato.


 


Sato tersentak dengan sentuhan seseorang. Itu pasti  pembimbingnya itu.


 


Lalu Sati melihat wajahnya. Orang oyu berambut  panjang dan rambut biru. Dia pun mengenalkan dirinya sebagai .....


 


"Sato Kazumi! Sepertinya kau masih ingat aku ya!"


 


 


"Kau!"


 


Di depannya tampak adalah sosok yang waktu itu menjemput Sayfull yang berada di bawqh pengaruh kesadarannya.


 


 


Mugo!


 


"Bagaimana kau bisa ke sini?"  tanya Sato marah.


 


Dirinya tampak mengaktifkan karma itu.


 


 


Namun, hal itu seketika melemah. Teelihat Mugo tampak keluarkan sihirnya dengan buru-buru. Mengikat  diri dari Sato.


 


"Jangan terlalu percaya diri. Bahkan, jika kau punya karma dalam level yang berbeda," ucap Mugo dengan kebenciannya.


 


"Siapa sebenarnya dirimu?" tanya Sato dengan tajam.


 


"Aku hanyalah tubuh pengganti dati Godwitcher."


 


"Aku sudah tahu itu! Tapi kenapa kau juga ada di duniaku!" bentak Sato.


 


Mugi menatapnya dengan penuh ketertarikan.


 


"Akan aku jelaskan semua rencanaku dari awal hingga akhir," ucapnya di sana.


 


"Tapi itu nanti ya!"


 


Dia pun seperti akan  berlapu.


 


"Sekarang apa yang akan kau rencanakan haaah?" tanya  Sato mendesis.


 


"Aku akan menghalangimu untuk diriku agar bisa menyingkirkan Eldorick!" jawab Mogo  yanpa berbalik.


 


"Apa?! Hey tunggu!"


 


Sato tampak tak bisa mengejarnya. Dia terikat oleh sihir itu.


 


"Sialan! Orang itu sepertinya akan melakukan sesuatu yang berbahaya! Bagaimana caraku agar bisa keluar dari sini!" teriak Sato  menyesal. Dia pun berteriak sekuat tenaga karena kemarahannya itu.


 


Mugo terlihat puas setelah menutup pintu itu. Lalu, dia tampak tersenyum dan bicara sendiri.


 


"Syaumu dan kelompoknua ya! Aku bahkan baru sadar satu detik ini! Ternyata kalian sudah sadar aku sebelum ini."


 


Tap!


 


Tampak sayumu pun keluar dari sana.


 


"Tidak, aku hanya sendirian," ungkap Syaumu.


 


"Hahahahaha! Kebetulan sekali aku tak sabar ingin membunuh seseorang. Tapi perang tak mungkin bisa dipercepat  bukan?" ujar Mugo menyebalkan.


 


"Keparat!"


 


Lalu, Syaumu yang emosi itu. Langsung menerjang dengan kekuatannya ke arah dari orang penting dapam kubu musuh mereka.


 


Blaaaaaar!


 


Namun, dirinya malah terpental.


 


"Sayang sekali. Aturan itu hanya berlaku untukmu. Bukan untukku!" ujar Mugo yang kini hampiri Syaumu.


 


"Apa yang sudah kau lakukan. Sehingga ini semua tak berguna untuk menahanmu. Berengsek!" ucap syamu mencoba bangkit.


 


"Aku punya teknik untuk kendalikan seseorang!" jawab dingin  Mugo di depannya itu.


 


"Apa?! Bagaimana bisa sihir seperti itu ada!" kejut Syaumu.


 


"Akan kubuktikan dan jelaskan pada dirimu saat ini!"


 


Mugo gerakan tangannya ke arah dada milik Syaumu. Lalu Syaumu tampak merintih sakit. Sementara Mugo terlihat menikmatinya.


 


Kraaak krauk jraak. Csssssh!


 


"Aaaaaaahk!"


 


Sato masih di dalam. Sepertinya dia sudah bisa lepaskan jeratan sihir itu. Yang melemah serelah Mugo tak ada.


 


Sato lalu mencoba ke lemari itu. Lalu dia pun mencoba baca-baca semua hal di sana.


 


"Ada saatnya kejahatan mendominasi dan sangat kuat! Tapi ada saatnya pula kekuatan yang lemah menghancurkan semua penjahat  yang kuat!" ucap kakek karma di pikiran Sato.


 


Sato terus melihat dan belajar semuanya. Semua alasan orang-orang itu dipanggil penyihir kuno. Karena mereka semua abadi. Jumlah mereka juga makin sedikit.


 


Sato masih coba belajar. Hingga dia menemukan suatu sihir yang unik.


 


Itu adalah sihir teleport.


 


Tap!


 


Syaumu kembali ke istana tanpa luka. Dia sepertinya tak ingat kejadian tadi.


 


Lalu, dia tampak menemui megamu. Dia menyapa seperti biasanya. Namun, megamu menyadari ada  yang janggal.


 


Chintya kemudian melihat dan mengobrol dalam peatihan satu bulan ini. Lalu, dia tampak heran dengan tingkah aneh milik orang itu.


 


Sayugo yang juga bodoh. Tampak merasakannya juga.


 


Hingga Sayugo mencoba bertemu dengan semua temannya itu.


 


Sayugo menatap ke arah mereka dan mengangguk.


 


"Sepertinya tuan Syaumu itu ketularan penyakit kepribadian ganda seperti yang dialami oleh Sayfull!" tungkasnya.


 


Tap!


 


Syaumu tampak berada di tempat. Melakukan berbagai hal. Lalu, datanglah Sayugo di sana.


 


Dia tampak menanyakan Sato. Syaumu pun mengulangi jawaban. Namun, dia  tak masalah.


 


Lalu Sayugo pun mengundurkan diri. Kemudian dia pun tampak menuju kepada dua temannya itu. Lalu mengangguk.


 


"Pak Syaumu punya tanda-tanda yang sama persis seperti Sayfull waktu itu!" ujarnya berbisik.


 


"Sepertinya kita tak aman jika berada di sini!" tungkas negamu.


 


Chintya juga berpikir begitu.


 


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Sayugo khawatir.


 


"Sepertinya Sato juga tengah dijebak!  Itu hanya firasatku saja," tambah Sayugo.


 


Semuanya mengangguk setuju.


 


Lalu,  di delapan hari setelahnya.


 


Mereka tampak mencoba untuk pergi dari sana.


 


Bersambung.