
episode 94
Wuuush!
Sato keluar dari sana. Sema temannya masih tak mengerti. Sato tampak menatap hamparan bangunan di sana. Sangat luas. mereka sudah kembali ke kota lagi.
“Sa-Sato Kazumi?” tanya megamu.
Sato masih belum berbicara. Namun, semua temannya tampak menunggunya.
“Ini belum saatnya kalian mengetahuinya. Karena jika kukatakan saat ini. Itu sangat tak masuk akal kedengarannya,” suara Sato.
Semuanya tampak masih mencernanya. Namun, melihat Sato yang langsung pergi. Membuat mereka diam membisu.
“Apa ada yang membentur kepala anak itu?” tanya Sayugo. Semua hanya menggeleng lemah.
Tap!
Mereka kembali. Sepertinya urusan dengan Sayfull sudah kelar. Sayfull dibawa oleh Mugo dan kelompoknya. Di mana mereka beberapa hari lagi akan berperang.
Sato tampak masih ragu. Dia merenung di atap rumahnya itu. Hingga seseorang memanggilnya.
“Hey kau!”
Dia sepertinya anak tetangga. Keluarga Thornatum.
Lalu, Sato pun turun dan mereka masuk ke dalam rumah kediaman Thornatum itu.
Sato duduk dan sepertinya dia diminta untuk ke sana. Pemuda yang seumuran dengannya itu. Tampak bersikap normal. Dia tak terlaku ramah. Dan tak terlaku dingin. Berbeda dengannya. Mungkin karena umurnya yang masih muda dan kesibukannya itu.
Lalu, ibu dari pemuda itu juga menemuinya.
Mereka bertanya tentang ke mana perginya keluarganya yang selama ini jarang terlihat. Sato menggaruk fan berusaha memberi alasan yang masuk akal. Itu pertama kalinya ada orang luar yang bertanya tentang keluarganya yang pergi ke dunia sihir. Membuatnya kikuk menjawabnya.
“Oh, begitu, kau anak yang pintar ya! Tetap jaga rumah dengan baik!”
“Ya! Ya bibi!”
Sato kemudian diajak keluar oleh pemuda itu. Sepertinya dia diminta ibunya untuk itu. Mungkin agar Sato tak kesepian di rumah sewaktu ditinggalkan orang tuanya ke luar negeri.
Sato berasalan yang paling masuk akal saja.
Anak berambut biru itu. Bernama Rey Thornatum. Dua kini mengajak Sato berjalan-jalan di sekitar danau di lotanya yang terkenal itu. Danau itu sangat bersih dan sering jadi kunjungan.
“Aku juga dulu sering ditinggal keluar negeri!” ucap pemuda itu. Sato hanya mengiyakan saja. Dia tak bertanya hal lainnya. Membuat pemuda itu agak heran.
“Tapi, karena aku banyak mengeluh. Maka dari itu alu pun dihukum oleh mereka. Hahahaha,” lanjut pemuda itu. Sepertinya nencairkan suasana. Sato berusaha tertawa mengimbanginya.
Keduanya terus berceloteh. Menceritakan masa lalu mereka. Pengalaman-pengalaman dan hal lainnya.
“Kau tahu? Keluarga Onpipan? Mereka hancur bukan?” ujar pemuda itu.
Sato hanya mengangguk saja.
“Sayang sekali ya! Padahal keluarga kami sering berbisnis dengan mereka,” lanjut anak itu lagi.
Sato sedikit terkejut.
Namun, dia tak bertanya apa pun.
Pemuda itu kembali mengajaknya jalan-jalan di sore itu.
“Kami keluar menjadi investor. Lama sebelum nama Onpipan naik!” ucapnya lagi.
Sato hanya mengangguk. Sementara pemuda itu menatapnya saja.
Usai sudah acar mereka. Sato kembali untuk ke rumahnya. Lalu, dia pun kembali belajar. Dia lalu mengingat pertemuannya dengan Mugo. Dia marah. Menggebrak mejanya.
“Aku tak boleh melepaskannya lagi!” ucapnya marah.
Esok berlalu.
Sato mendatangi Fernie untuk berbincang.
“Putri, apakah jika kita berperang. Itu adalah langkah yang tepat untuk menghancurkan langsung mereka?” tanya Sato.
Semuanya tersadar.
“Benar juga.”
Megamu berpikir.
“Itu bagus. Tapi masalahnya. Semua penyihir saat ini pastilah berada di sana. Kita terlambat mengetahuinya. Jadi bagaimana bisa kita masuk ke dalam sana. Sementara tak ada penyihir di sini,” jawab megamu masuk akal.
Sato menatap ke samping. Seperti terlihat kecewa berat. Sayugo menatapnya terkejut. Melihat darah bahkan sampai menetes di kepalan tangan Sato.
Kemudian usialah Sato di sana. Kemudian Sato berjalan ke rumahnya. Pemuda itu berpapasan dengannya. Namun, dia terlihat sangat khawatir.
“Kebetulan sekali Sato! Bisakah kau memanggilkan kami ambulans?”
Sato terpaku. Lalu, dia pun sigap melakukannya.
Wiuu wiuu wiuuu.
Tampak, mereka sepertinya menuju rumah sakit. Sato ikut di sana. Nampaknya salah satu keluarga mereka mengalami sakit atau kecelakaan di dalam rumah.
Sato pun hanya bisa mendengarnya aja. Dokter bilang ayah mereka menderita luka-luka di bagian kepalanya dan hal semacam itu. Bahkan sampai gagal ginjal.
Sato lalu ditawari minuman oleh Rey. Dia tampak berterima kasih pada Sato. Karena jika tidak ada Sato. Ibunya yang hanya bisa panik. Tak bisa menolong ayahnya yang kecelakaan di rumahnya itu.
Maka dari itu. Sato membantunya.
“Maaf tapi itu hanya kebetulan,” jelas Sato beralasan. Dia merasa tak enak saat seperti ini. Namun, Rey tak masalah. Dia tetap berterima kasih.
Sati keluar dari sana. Lalu dia sedikit merasakan hal aneh. Di mana dokter katakan ada luka-luka seperti bekas pukulan. Di bagian kepala. Sato merasa hal janggal di sini. Namun, dia sembunyikan itu hingga dirinya keluar dari sana.
Tap!
Sato kembali bersekolah. Langkah untuk ke dunia sihir sepertinya tak gampang. Dia sangat ingin membantu dalam pertempuran itu. Karmanya pasti sedikit membantu.
Tap tap tap tap!
Berjalan menuju sekolah. Kemudian dia mendapati beberapa orang di depannya tampak aneh. Mereka seperti menunggu dirinya tapi, saat melewati Sati. Orang-orang itu tak melakukan apa pun.
Sato pun terus berjalan.
Di jalan miliknya tadi juga sepi. Keluarga Thornatum juga hanya satu orang yang masih di rumah. Sato sempat menyalam. Dia adalah putra keluarga itu.
Lalu, keluarlah anak itu. Lalu dia mulai ke sekolah yang berbeda dari smp Sato. Tidak bahkan dia sudah masuk sma
Tap tap tap tap!
Saat melewati orang itu. Dia pun mendapatkan pukulan keras dari sebuah batang besi yang dicabut orang itu dari sebuah pagar di sana.
Brak!
Tapi ....
Jduaaagh!
Rey tak terluka. Sebaliknya. Tampak ada seseorang yang menggantikannya terkena serangan itu. Matanya membelalak kaget.
“Sa-Sato!”
Melihat Sato yang kini mengeluarkan darah dari kepalanya.
Mata orange miliknya tampak kaget. Sato jatuh setelah digebuk oleh besi milik orang-orang misterius itu.
“Sato!” teriaknya.
Tampak orang-orang itu pun ketakutan. Lalu, mereka pun kabur.
“Sato bangunlah!”
Beberapa detik kemudian Sato bangun. Melenguh. Orang itu menatap tak percaya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Rey.
Tap!
Sato tak menjawab. Melainkan dia menyentuh pundak pemuda itu.
“Ayahmu itu! Diserang begini oleh ibumu kan?”
Rey membelalak. Dia tak menyangkanya.
“Ba-bagaimanq kau bisa tahu?” ujar anak itu kepada Sato.
Sato lalu berdiri. Dia sedikit sempoyongan.
“Aku sedikit berlatih untuk itu. Jadi hal yang wajar jika aku seberuntung ini,” jawab Sato. Rey tak tahu maksudnya.
“Lalu? Apa maksud orang-orang tadi?” tanya Sato.
Rey tampak menunduk. Dia tampak putus asa dan ragu. Lalu, dia pun mendongak.
“Keluarga Onpipan. Mereka bebas dan kini ingin membalaskan dendam pada orang-orang yang waktu itu mendukung musuh mereka!” ucap anak itu gemetar.
“Jadi begitu!”
Di sebuah tempat. Tampak berkumpul semua Onpipan yang masih ada di dunia itu. Mereka tampak dibebaskan namun, tak boleh berkeliaran di dunia ini. Karena mereka harus jadi pasukan di dunia sihir. Untuk perang.
Salah satu orang tampak kesal.
“Setidaknya kita harus menghajar orang-orang tak beriman itu!” ucapnya.
Semuanya pun tampak tertawa di sana. Lalu, salah satu bawahan mereka yang bukan dari Onpipan. Tampak mendatangi mereka di sana. Lalu, orang itu sepertinya adalah sqlah satu keluarga Thornatum. Yaitu ibunya Rey!
“Hey, kau! Cepat bunuh sema orang yang sudah berkhianat! Sialan! Kau bisa dihajar lalu dibuang!” ucap kejam orang itu.
“Jika tidak!” bentak orang lainya lagi.
“Kau tahukan? Kami bisa lakukan segalanya bahkan jika kami tak ada di dunia ini!”
Lalu ibu Rey itu hanya bisa mengangguk saja. Dengan gemetar takut.
“Ayahku sempat membagikan informasi kepada orang-orang itu. Aku juga sempat bekerja untuk itu. Bukan karena disuruh. Tapi, aku juga tahu itu hal yang salah. Aku dan ayah punya pemikiran yang sama!” tutur Rey.
Sato hanya bisa menangapi seadanya.
Rey lalu mulai gemetar lagi saat ini.
“Tapi! Ternyata diantara kami! Ada mata-mata!” ucapnya lagi sepertinya sangat sedih. Sato tahu siapa itu. Dialah si ibunya ini.
Sato menatap langit siang itu. Mereka sepertinya tak ke sekolah.
Lalu, Sato pun kembali ke rumah.
Tap tap tap tap tap!
Sato melangkah ke dalam rumahnya. Dia masih tak tahu tentang kasus ini. Dia hanya bisa menyarankan agar Rey menjaga dirinya saja.
Tapi, dia tahu. Ancamannya pasti lebih dari itu. Sato lalu mencoba sesuatu. Dia yang paham akan teknologi-teknologi yang sudah dipelajarinya juga di akademi destroyer itu. Serta dari Forg dan Bernard juga.
Dia pun mencoba memata-matai ibu Rey ini. Tentunya dia butuh beberapa orang. Sato pun memanggil Sayugo dan Fernie.
“Kenapa kau menyuruh kami untuk melakukan hal ini?” tanya Fernie.
“Orang-orang Onpipan itu masih di dunia ini! Sepertinya mereka ingin membalas semua perlakuan orang yang sudah membongkar kedok mereka!”
“Jadi?”
“Kita bisa pakai portal mereka bukan? Untuk ke dunia sihir?”
Setelah itu. Hari-hari itu. Sato dan teman-temannya mulai memata-matai. Fernie bertugas mendekati dari dekat. Bersosialisasi. Mengaku sebagai pacar Sato. Itu terpaksa karena hanya itulah alasan yang paling logis. Mana ada teman perempuan terus-terusan bersama seperti itu.
Sayugo bertugas sebagai teman atau sahabat dari Rey. Mereka akan mencari informasi sebagai peran itu. Rey juga sudah tahu. Rey sudah diyakinkan bahwa Sato pasti akan menolong semuanya. Bahkan, Sato yakin mereka pasti akan membunuh Rey jika mau. Rey hanya bisa mengikuti mereka saja.
Setelah itu. Beberapa hari berlalu.
Tuuut!
“Di sini S! Target sepertinya akan keluar rumah di jam yang sangat aneh yaitu tengah malam!”
“Baiklah, laporan diterima!” balas Sato pada monitornya itu.
Tuuut!
“Di sini F! Sepertinya target membatalkan acara arisannya demi menepati janji pada suaminya!”
“Baiklah terima kasih F!”
Lalu Sato pun berdiri. Dia sudah tahu beberapa hari ini. Dia sangat percaya diri!
Bersambung.