
Setelah menciptakan kegaduhan, Dev kembali melanjutkan ucapannya, "Kalian tak perlu mencari tahu siapa istriku. Dia wanita sederhana, dan aku sangat mencintainya. Aku berharap kalian bisa menjaga privasinya dan tidak mengusiknya, jangan sekali-kali membuatnya terganggu dengan keingintahuan kalian, apalagi sampai membuatnya stress. Aku tak ingin semua itu terjadi karena dia sedang mengandung buah cinta kami."
Untuk kedua kalinya, publik dibuat tercengang dengan pernyataan Dev. Tak terkecuali Darrel, sudah lama ia tak mengetahui kabar Agya, ternyata wanita itu sudah bahagia dengan kehidupannya.
"Ha? Kebenaran apa lagi ini? Mr. Dev akan segera memiliki anak?
"Secepat itu? Apa Mr. Dev menikah sejak lama? Lalu bagaimana dengan Alenaa?"
"Ah pantas saja Mr. Dev tak mengkonfirmasi hubungannya dengan Alena beberapa waktu lalu. Ternyata Mr. Dev telah memiliki istri.
"Dia pandai sekali merahasiakan hubungannya hingga tak tercium oleh publik."
"Selamat Mr. Dev. Aku semakin penasaran dengan wajah istrinya."
"Ah akan seperti apa wujud keturunan Mr. Dev nanti. Aku sangat penasaran dengan keluarga misterius ini."
Dev mengakhiri ucapannya , lalu mengembalikan pada MC untuk menutup forum tersebut.
Sekali lagi Dev menatap ke arah kamera. Apa Agya menyaksikan semua tadi? Apa tanggapan istrinya itu sekarang. Bukankah pengakuan ini yang ia inginkan sejak dulu?
"Selamat Tuan Dev." Kini ucapan selamat dari rekan bisnis Dev membanjiri pria itu. Bahkan banyak dari mereka yang menjadi investor dan berloma-lomba menjalankan bisnis baru mereka dengan Dev. Tak hanya itu, harga saham Wilantara Group melambung tinggi dalam beberapa detik setelah pernyataan Dev akan kecintannya pada istrinya.
"Selamat Dev." ucap seseorang yang membuat dahi Dev berkerut dalam.
"Kak Daven." tanpa basa basi, Dev langsung menyambut pelukan kakak angkatnya tersebut, tak menyangka Daven yang menjadi musuhnya dalam merebutkan hak miliki Wilantara Group hadir dalam forum tersebut.
"Aku mengakui kekalahanku Dev, tak seharusnya aku bersaing denganmu hanya untuk merebutkan sesuatu yang bukan milikku."
"Kak, kita bisa bekerja sama. Kembali dan jadilah bagian dari Wilantara Group. Aku bisa memberimu anak perusahaan untuk kau pimpin."
"Tidak Dev. Aku akan fokus dengan usaha yang aku bangun sendiri."
"Tapi---."
"Tak perlu mengasihaniku Dev. Aku bahagia dengan kehidupanku. Ah yaa, apa aku boleh bertemu dengan adik iparku?"
"Tentu saja. Aku akan mengatur jadwal untuk itu. Mungkin dengan double date."
"Bukan ide yang buruk. Anna juga sedang mengandung anak kedua kami."
"Benarkah? Istriku pasti akan sangat senang bertemu dengan Anna."
"Tapi Dev. Apa papa akan mengizinkanku bertemu istrimu? Papa masih belum menerimaku dan Anna."
"Aku akan coba berbicara pada Papa."
"Baiklah, sekali lagi selamat untukmu. Aku tak bisa berlama-lama disini." ucap Daven, lalu ia pergi dari sana dengan langkah yang terburu-buru. Mungkin ia takut kehadirannya diketahui oleh papanya.
"Tuan, beberapa reporter menunggu anda untuk melakukan konferensi pers." ucap sekertaris Kim.
"Apa yang ingin mereka tahu? Aku sudah menyatakan semuanya." Dev melangkah keluar dari ruang auditorium itu dengan langkah panjang. Namun, langkahnya terhenti saat lagi-lagi pandanganya harus di rusak oleh kehadiran Darrel.
"Kau!" rahang Dev mengeras, ia begitu membenci pria yang pernah mengisi hati Agya.
"Sepertinya kau masih memusuhiku" Darrel tersenyum, melangkah menghampiri Dev seraya memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tatapan Dev masih sama, dingin dan penuh penindasan.
"Aku. Ah aku hanya menyaksikan pelantikanmu sebagai Presidir Wilantara Group, sekaligus mengucapkan selamat atas keberhasilanmu dalam menghamili Agya."
"Shitt. Apa maksudmu?!" cetus Dev. Tatapannya semakin terlihat tak ramah, pun tangannya yang sudah terkepal kuat, siap untuk dilayangkan ke wajah Darrel.
"Kau pikir selama ini aku hanya diam dan merelakan Agya begitu saja untukmu? Ck, jika kau beranggapan demikian maka kau telah salah besar Tuan Dev Wilantara." Darrel menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyuman mengejek.
"Lalu apa maumu?"
"Aku akan merebut kembali cintaku darimu."
"Hahaha." Dev terbahak, ia tak peduli dengan orang-orang yang lalu lalang di sampingnya, "Kau benar-benar pria gila. Kau mau merebut wanita yang tengah mengandung dari suaminya? Apa otakku sudah berpindah ke lutut tuan Darrel Wesley? Ah, lakukanlah jika kau bisa. Aku menunggu hasil dari usahamu." sinis Dev dengan wajah menantangnya, ia sama sekali tak takut dengan ucapan bocah kemarin sore itu.
"Aku akan membuktikannya padamu Mr. Dev." teriak Darrel menatap punggung Dev yang bergerak menjauh. Ia dua kali lebih kesal dari Dev, sial pria itu telah berhasil memiliki hati Agya? Tidak, Agya pasti masih sangat mencintainya, bagaimana bisa wanita itu melupakannya hanya dalam waktu singkat.
*
"Apa aku harus melenyapkannya sekarang tuan?" tanya sekertaris Kim, memastikan kembali ucapan tuan mudanya.
"Huh, biarkan dia hidup. Aku ingin melihat seberapa besar perjuangannya untuk merebut Agya dariku." Dev melangkah ke arah jendela. Pikirannya kembali kacau.
"Mereka masih berada di sana?" Kini perhatian Dev tertuju pada media yang masih menunggu di halaman Wilantara Group.
"Mereka menunggu konferensi pers tuan."
"Batalkan semuanya dan suruh mereka pergi dari sini. Aku tak ingin menjumpai siapapun lagi."
"Baik tuan." Sekertaris Kim menganggukan kepalanya lalu beranjak keluar dari ruangan Dev.
***
Ditempat lain, terlihat Agya masih mematung ditempatnya, tubuhnya seakan membeku saat mendengar pernyataan Dev barusan kepada publik. Dev mengakui cintanya di depan publik? Ah apa ini bukan mimpi? Ia harus bersikap seperti apa sekarang? Mengucapkan terima kasih pada Dev? Tidak-tidak, itu terdengar sangat konyol.
Oh lalu respon apa yang harus ia tunjukan saat Dev kembali?
"Dia wanita sederhana, dan aku sangat mencintainya. Jangan sekali-kali membuatnya terganggu dengan keingintahuan kalian, apalagi sampai membuatnya stress. Aku tak ingin semua itu terjadi karena dia sedang mengandung buah cinta kami."
Kalimat itu kembali terngiang-ngiang dikepala Agya. Ah, betapa romanstisnya pria kaku itu.
Ceklek.
Suara hendle pintu yang terbuka mengalihkan tatapan Agya kini. Wanita itu tersenyum lebar seraya beranjak dari duduknya. Tak sabar menyambut seseorang yang akan muncul dari balik pintu.
"Mami." senyuman yang semula mengembang lebar kini langsung surut seketika.
"Ada apa? Apa kau pikir Mami adalah Dev?" Nyonya Valerie tersenyum mengejek sembari menutup kembali pintu kamar menantunya itu dan berjalan masuk ke dalamnya.
"Hum."
"Apa kau tak sabar suamimu pulang? Mami tak menyangka Dev akan mempublikasi hubungan kalian hari ini."
"Jadi mami tak tahu rencana Dev?"
"Tidak, dia tak memberitahu Mami."
"Oh, aku pikir mami mengetahui semuanya." Agya kembali mendaratkan tubuhnya di sofa, begitu juga Nyonya Valerie.
"Apa kau sudah makan sayang?"
"Sudah. Bi Noam baru saja membawakanku bubur ayam dan sup rumput laut."
"Kau tak merasa mual lagi?" Agya menggeleng pelan, "Sudah sedikit berkurang, tidak sesering dulu."
"Syukurlah."
"Ehm, Ma. Apakah Dev akan menjadi sangat sibuk dengan posisi barunya di Wilantara Group? Aku takut dia tak memiliki waktu untukku lagi."
"Sayang. Dev akan selalu meluangkan waktunya untukmu. Kau tak perlu khawatir."
"Tapi Ma, beberapa hari terakhir ini Dev selalu pulang di pagi hari, hanya singgah beberapa jam lalu berangkat lagi."
"Ah memang beberapa hari ini Dev sangat sibuk mengurus pelantikannya sebagai Presidir, tapi setelahnya dia tak akan sesibuk ini."
"Benarkah?"
"Iyaa sayang." Nyonya Valerie mengangguk, seraya memejamkan matanya singkat. Ia memilih berbohong agar tak membuat Agya semakin kepikiran.
.
.
.
.
Bersambung...