Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Mengidam



"Dev, papa sudah menunggumu di ruang tamu." Agya yang baru saja masuk ke dalam kamar, segera menghampiri Dev yang tengah menatap pantulan tubuhnya di cermin. Sejak bangun tidur, pria itu sudah terlihat uring-uringan, seolah tak bersemangat untuk menjalani hidupnya, ia bahkan tak berselerah makan dan beberapa kali memuntahkan isi perutnya.


"Aku belum memakai dasiku." ucapnya memutar tubuhnya hingga kini ia menatap wajah Agya.


"Apa kau masih belum menemukannya lagi?"


"Hm."


"Dev, sampai kapan kau akan begini?Bagaimana jika suatu hari nanti aku tak bersamamu lagi, siapa yang akan mengurusmu?" sungut Agya hendak melangkah ke walk in closet, namun tiba-tiba Dev menarik tubuhnya dan memeluknya erat.


"Dev." kedua bola mata Agya membola takkala mendengar isakan tangis yang bersumber dari mulut suaminya.


"Ka-kau akan meninggalkanku juga?"


Deg


Agya terdiam, oh apa yang ia katakan barusan?


"Sayang, kau menangis?" tanyanya melepas pelukannya, dan benar saja betapa terkejutnya dirinya saat melihat wajah Dev yang sudah dipenuhi air matanya.


"Kau akan meninggalkanku?"


Agya menggeleng, "Tidak Dev, mana mungkin aku meninggalkanmu. Kenapa kau berpikiran seperti ini?"


"Kau baru saja mengatakannya." Air mata Dev terus mengalir dari kedua pelupuk matanya. Oh ada apa dengan pria ini, kenapa dia menjadi sensitif dan mudah menangis? Tidak seperti biasanya.


"Ah, maafkan aku." Agya menangkup wajah Dev, mengusap air mata pria itu lalu memeluknya kembali.


Agya mengatupkan mulutnya berusaha untuk tidak menertawakan sikap aneh Dev. "Tunggu sebentar, apa Dev sedang mengindam?" gumamnya dalam hati.


"Agya." Tiba-tiba Dev melepaskan pelukannya dan berlari ke arah kamar mandi.


Hoek...Hoek...


"Sayang." Agya yang terkejut segera berlari ke kamar mandi, lalu ia mengusap punggung belakang Dev yang terus memuntahkan isi perutnya.


"Gyaa, hoek." Dahi Dev berkeringat, berkali-kali ia memejamkan matanya. Apa yang terjadi dengan dirinya pagi ini? Apa ia masuk angin?


"Gyaa. Kenapa perutku terasa diaduk-aduk?" tanyanya usai membasuh mulut dan juga wajahnya.


"A-aku juga tak tahu. Aku akan menghubungi dokter untuk memeriksamu."


"Tidak perlu." cegah Dev menarik tangan istrinya tersebut.


"Segeralah bersiap, temani aku ke kantor."


"Aku? Bukankah kau melarangku?"


"Aku mencabut laranganku. Temani aku bekerja hari ini."


"Baiklah, dengan senang hati." Agya tersenyum, "Tapi bagaimana denganmu? Apa perutmu masih terasa sakit?"


"Hm. Tapi aku baik-baik saja." ujarnya.


"Kemarilah, aku akan membantumu keluar." Dev mengangguk, ia membiarkan tubuhnya di rangkul oleh Agya yang membawanya ke arah sofa.


*


Usai bersiap, Agya dan Dev meninggalkan kamar mereka menuju ruang tamu. Di sana terlihat tuan Andhito yang sudah menunggu.


"Dev, apa kau sakit?" tanya pria paru baya itu setelah melihat wajah Dev yang begitu pucat.


"Ehm. Tidak Pa, aku baik-baik saja."


"Kau yakin?" Imbuh Agya, ia mencemaskan kesehatan suaminya, takut sesuatu yang buruk terjadi.


"Aku akan baik-baik saja jika kau terus berada di sampingku." ucap Dev tersenyum menggoda.


Sial, sempat-sempatnya dia tersenyum seperti itu disaat orang lain mencemaskannya.


"Baiklah, kita berangkat sekarang." ucap tuan Andhito melangkahkan kakinya meninggalkan ruang tamu, diikuti oleh Agya dan Dev dibelakangnya.


Saat hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Dev kembali merasa mual, pria itu segera menjauh dari mobilnya.


"Kenapa mobilku sangat bau?" dengusnya.


"Bau?" Agya yang sudah berada di dalam mobil langsung mengerutkan dahinya.


"Iyaa."


"Dev, ini aroma mint. Bukankah aroma ini sudah ada sejak lama di mobilmu? Kenapa kau jadi tidak menyukainya?"


"Pa, apa boleh aku dan Agya ikut ke mobil papa? Aku tak bisa memakai mobilkku."


"Tentu saja."


"Ayo sayang." pinta Dev.


"Huh." Agya mendengus seraya menggeleng-geleng kepalanya, drama apa lagi ini.


"Apa Dev benar-benar sedang mengidam? Seharusnya, aku yang sensitif terhadap bau, makanan, dan lainnya. Tapi kenapa malah sebaliknya?" gumamnya menatap Dev yang baru saja membukakan pintu mobil untuknya.


"Masuklah sayang."


"Eh, i-iya."


***


Setibanya di kantor. Agya, Dev dan Tuan Andhito langsung disambut oleh Teressa, wanita itu memakai kemeja berwarna merah yang begitu sempit hingga sebagian isi dadanya menyembul keluar, ditambah lagi dengan rok span selutut dengan belahan disampingnya.


"Shitt. Pakaian macam apa ini?" gerutu Agya dalam hati, ia menghunuskan tatapan tak suka pada Teressa yang sedari tadi menatap Dev dengan tatapan maniak. Ingin rasanya ia mencolok kedua biji mata wanita itu.


"Jam berapa tendernya dimulai?" Dev mengambil alih berkas yang baru saja disodorkan oleh Teressa, lalu memeriksanya satu per satu.


"Jam 1 siang tuan. Di Wings Hotel."


"Baiklah, kita akan ke sana setelah makan siang. Bagaimana menurut Papa?" Dev beralih menetap papanya yang berdiri di sampingnya.


"Papa tak bisa ikut denganmu. Hari ini anak tuan Abertho menikah."


"Ah benarkah."


"Papa percayakan semuanya padamu Dev, papa yakin kau bisa memenangkan tender kali ini. Teressa juga akan membantumu."


"Baiklah, papa tak perlu khawatir." ucap Dev, sebelum kemudian ia mengajak Teressa untuk ikut bersamanya ke ruangannya, karena ada beberapa berkas yang masih belum terpenuhi.


"Ayo sayang." Dev meraih tangan Agya, menggenggamnya dengan begitu erat lalu menuntun wanitanya itu ke arah lift.


Sementara Teressa, ia hanya tersenyum kecut menatap punggung belakang Dev dan juga Agya. Sebelum kemudian ia ikut melangkahkan kakinya, masuk ke dalam lift yang berbeda seraya melepas satu kancing kemejanya, hingga belahan dadanya terlihat sangat jelas.


"Aku tak suka dengan sekertaris Papa." Bibir Agya mengerucut. Ia memeluk lengan Dev dengan begitu posesif.


"Itu sebabnya kau bersikap dingin padanya?"


"Hm. Dev, aku rasa dia menyukaimu."


"Semua wanita pasti menyukaiku."


"Aku seruus Dev!" dengus Agya menatap wajah Dev dengan tatapan kesal. "Kau bisa lihat sendiri bagaimana dia memamerkan dadanya di hadapanmu. Dia berusaha menggodamu."


"Sekalipun dia telanjan* di hadapanku, aku tak akan tergoda."


"Dev!"


"Mulai hari ini, Teressa akan menjadi sekertaris pribadiku."


"What? Are you serious? Kenpa bisa? Ah, dimana sekertaris Kim? Bukankah dia yang menjadi sekertaris pribadimu selama ini."


"Dia pergi ke luar negri. Dan mungkin tak akan kembali." Raut wajah Dev berubah menjadi datar. Ia kembali menggenggam tangan Agya saat pintu lift terbuka.


"Dev, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa sekertaris Kim tiba-tiba pergi ke luar negri?"


"Bukan waktu yang tepat untuk membahasnya sayang."


"Huh." sungut Agya, mendaratkan tubuhnya di sofa saat dirinya tiba di ruang kerja Dev.


Sedangkan Dev, pria itu membuka jasnya dan menyampirkannya di kursi kerjanya seraya mendaratkan tubuhnya di sana.


Tak berselang lama, Teressa masuk ke dalam ruang kerja Dev dan membawa beberapa berkas di tangannya.


Melihat kehadiran Teressa di sana semakin membuat Agya kesal.


.


.


.


Bersambung....