
Seorang pria bertubuh tegap berjalan dengan langkah panjang, wajahnya terlihat memerah penuh amarah. Pun tangannya, menggenggam ponselnya dengan sangat kuat hingga layar ponsel tersebut menjadi retak. Baru saja ia bangun dari tidurnya, namun ia sudah di sambut dengan berita buruk tentangnya.
"Tuan Dev." Wajah datar khas sekertaris Kim menyambut tuan mudanya yang baru saja masuk ke ruang keluarga.
"Apa-apaan ini sekertatis Kim!! Kenapa kejadian semalam bisa tersebar ke media seperti ini?!" cetusnya dengan sorot mata yang menajam. Tidak terima dengan judul-judul artikel yang memberitakannya, pun foto dirinya yang bertelanjang dadanya.
"Maafkan saya tuan, saya tidak tahu jika semalam ada orang lain di depan kamar tuan." ucap sekertaris Kim, sudah menduga jika tuan mudanya akan semarah ini.
"Lalu kenapa kau belum membereskannya? Kenapa cara kerjamu sudah sangat lambat sekarang? Seharusnya kau bisa mengatasi masalah ini sebelum tersebar luas!"
"Saya sudah membereskannya tuan. Tapi foto itu telah berhasil menggiring opini masyarakat dan warga net, hingga sangat sulit untuk membangun kepercayaan mereka lagi tentang tuan. Wajah tuan terlihat sangat jelas di foto itu, hingga kita tidak bisa menyangkalnya."
"Huh." Napas Dev berembus dengan kasar di udara.
"Segera adakan konverensi pers dalam 1 jam kedepan, aku akan mengklarifikasi semuanya. Wanita itu benar-benar sangat licik, dia mengelabuiku semalam dengan wajah polos dan senduhnya." Kedua tangan Dev menggepal kuat, kali ini ia tidak akan mengampuni wanita yang ditemuinya semalam. Wanita yang ia yakini sebagai penyebar foto-foto itu.
"Segera luncurkan artikel baru, katakan jika aku dijebak oleh sasaeng yang berusaha menggodaku. Katakan jika wanita itu seorang mahasiswi di Seoul xxx University."
"Tuan." Sekertaris Kim kembali mengangkat kepalanya yang semula tertunduk, menatap Dev dengan tatapan enggan.
"Tidak ada yang bisa melarangku. Dia pasti telah menghasilkan uang dari hasil menyebar foto-foto itu. Aku akan menghancurkan hidup dan karirnya, berani sekali dia bermain-main denganku!" cetusnya, menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang terlihat begitu sinis, sudah tidak sabar melihat kehancuran wanita yang ia cap sebagai wanita penggoda. Seperti apa reaksi wanita itu jika melihat tempatnya menempuh pendidikan ikut mendapatkan imbas perbuatan kotornya.
"Lakukan sekarang juga sekertaris Kim. Aku mau berita itu tersebar dalan 2 menit." ujarnya berlalu pergi dari sana, meninggalkan sekertaris Kim yang masih berdiri mematung di tempatnya.
"Nona, kenapa kau membuat masalah lagi. Kali ini tidak ada yang bisa menolongmu." Sekertaris Kim merogoh saku celananya, mengambil ponselnya yang tergeletak di dalam sana, sebelum kemudian mulai sibuk dengan benda pipih itu. Menghubungi media dan juga beberapa reporter yang akan meliput konverensi pers Mr.Dev yang akan dilakasanakan satu jam lagi.
****
Berita tentang Mr.Dev saat ini masih menjadi trending topik, tersebar dengan begitu cepatnya hingga keseluruh lini masyarakat. Menjadi perbincangan banyak orang, termaksud para kerabat kerja Mr.Dev dan juga karyawan di Wilantara Group. Tidak menduga pemiliki perusahaan ternama itu akan terlibat scandal seperti ini.
Banyak yang tidak percaya dan menyangkal scandal yang dilakukan Mr.Dev, bahkan tidak sedikit dari mereka menyalahkan wanita yang wajahnya tidak cukup terlihat jelas dalam foto tersebut.
Hal yang sama juga terjadi di kampus, baru saja Agya mendaratkan tubuhnya di kursi yang berada di kantin kampus, namun telinganya langsung disuguhkan dengan perbincangan scandal Mr.Dev.
"Wanita itu pasti sengaja ingin menjatuhkan Mr.Dev."
"Ah, atau dia seorang pelacu* yang berusaha menggoda Mr.Dev, membuat scandal seperti ini agar dinikahi Mr.Dev."
"Iyaa, aku juga rasa begitu. Mana mungkin Mr.Devku melakukan hal kotor itu. Namanya masih selalu bersih di hatiku."
"Bukankah Mr.Dev pernah dirumorkan memiliki kekasih seorang model asal Jepang. Kalau itu benar, mana mungkin Mr.Dev memilih wanita yang berada di foto ini. Pakaiannya terlihat kusam dan kampungan."
"Iyaa, aku juga merasah aneh. Aku yakin jika semua ini telah direncanakan wanita itu."
"Gyaa." Della mengusap punggung belakang Agya yang duduk di sampingnya. Mendengar orang-orang yang menggunjing Agya membuat Della ikut merasa sakit, entah bagaimana dengan perasaan Agya saat ini.
"A-aku baik-baik saja." Agya mengukirkan senyuman di bibirnya, senyum yang terkesan dipaksa, mencoba menghalau kekhawatiran Della padanya.
"Mr.Dev melakukan konverensi pers." ucap seseorang, menatap layar televisi yang berada di kantin. Seketika orang-orang yang berada di sana langsung memusatkan perhatian mereka pada layar televisi tak terkecuali Agya dan Della, mereka ikut menyaksikan konverensi pers yang disiarkan secara langsung di salah satu stasiun tv nasional.
Melihat wajah Mr.Dev yang memenuhi layar televisi membuat mahasiswi yang ada di sana langsung kegirangan, sangat jarang mereka melihat Mr.Dev menampakan wajah tampannya pada media. Namun hari ini adalah hari yang penuh keberuntungan bagi mereka.
"Demi apaa, Mr.Dev sangat tampan sekali. Ah, aku tidak bisa mendeskripsikan ketampanannya dengan kata-kataku."
"Dia benar-benar pria tertampan seduniaa. Aa aku tidak bisa membayangkan jika dia menjadi suamiku."
"Sungguhh, ketampanan Mr.Dev membuatku jatuh hati berkali-kali padanya."
"Kenapa jodoh orang sangat tamapan sekali seperti itu."
"Mr.Devkuu, aku cinta padamu."
Ucapan-ucapan pujian takberhenti keluar dari mulut mahasiswi-mahasiswi yang ada di sana, termaksud Della, namun ia hanya bisa bergumam dalam hatinya. Tidak bisa menampik bahwa Mr.Dev benar-benar sangat tampan.
Mr.Dev mulai membuka konverensi pers tersebut, tidak membenarkan kejadian yang berada di foto itu, bahkan tidak segan ia menceritakan semua yang terjadi di malam itu, bahwa ada seorang wanita penggoda yang diam-diam masuk ke dalam kamar hotel yang di tempatinya.
"Gyaaa." Mendengar klarifikasi Mr.Dev barusan membuat Della langsung menolehkan kepalanya ke arah Agya yang duduk di sampingnya, ucapan Mr.Dev sangat bertolak belakang dengan penjelasan Agya tadi pagi. Sudah menduga jika Mr.Dev akan memutar balikan fakta.
"Kan benar, wanita itu hanya mengelabui dan menjebak Mr.Dev. Dia benar-benar sangat licik sekali."
"Bisa saja hanya karena uang. Wanita pelacu* itu pasti sedang menikmati uang dari penjualan foto-foto dirinya bersama Mr.Dev ke media."
Demi apapun, Agya langsung meresa sesak, hinaan dan kata-kata kotor yang keluar dari mulut wanita-wanita itu membuatnya sakit hati. Apa mereka tidak sadar jika orang yang sedang mereka gunjingkan ada di sekitar mereka?
"Mr.Dev kami percaya padamu. Kau seorang pengusaha sukses dan terhormat, mana mungkin kau melakukan semua itu." ucap salah satu reporter.
Mr.Dev mengangguk, sebuah senyuman tipis yang nyaris tak terlihat tampak terbit dari salah satu bibirnya, semudah itu memutar balikan fakta dan mengembalikan kepercayaan masyarakat padanya. Tinggal mengeluarkan satu statetment lagi, pernyataan yang akan mengunjang dunia maya hari itu, dan bom waktu itu akan meledak sekarang. Karir dan hidup wanita penggoda itu akan musanah dalam sekejap.
"Mr.Dev, apa boleh kami mengajukan satu pertanyaan lagi?" tanya seorang resporter yang telah diberi naskah oleh sekertaris Kim atas pertanyaan-pertanyaan yang boleh mereka ajukan.
"Apa anda mengenali wanita yang telah menjebak anda? Jika anda mengenalinya, apa pekerjaan wanita itu selain sebagai sasaeng anda." Pertanyaan yang sangat bagus, yang sudah ditunggu-tunggu olehnya.
"Ehm." Mr.Dev berdehem seraya memperbaiki posisi duduknya untuk lebih tegak, pun sorot matanya yang hanya fokus pada satu camera yang tengah meliputnya.
"Aku mengenalinya, wanita itu menjadi sasaengku sejak dulu, dia terus mengikuti dan membuntuti kemanapun aku pergi. Dan wanita itu adalah seorang mahasiswi dari Seoul xxx University.
Duaar, pernyataan yang dikeluarkan Mr.Dev deluan langsung mencipatkan kehebohan, tak terkecuali di kantin kampus Seoul xxx Univeristy.
"Whaatt?? Wanita pelacu* itu kuliah di kampus kita?"
"Astaga ini sangat sulit di percaya."
"Sangat memalukan."
"Apa jangan-jangan dia berada di antara kita? Apa dia masih datang ke kampus dengan tidak tahu malunya?"
"Ternyata ada yang menjadi pelacu* di kampus ini? Bagaimana bisa?"
"Kampus ternama seperti ini bisa menerima seorang pelacu*? Gillaa, ini sangat gila."
"Del." Agya berucap dengan bibir yang gemetar, air matanya mulai menganak sungai. "Kenapa Mr.Dev setega ini? Kenapa dia membawa-bawa nama kampus kita? Padahal dia hanya memiliki masalah denganku bukan dengan kampus ini."
"Ayo kita pergi dari sini Gyaa." ucap Della menarik tangan Agya kemudian membawanya pergi dari sana, ia juga sangat kaget dan terkejut mendengar pernyataan Mr.Dev barusan.
*
"Della, a-apa yang harus aku lakukan? Pihak universitas pasti akan mencariku." Air mata Agya semakin menetes dengan derasnya, bersamaan dengan rasa takut yang memenuni wajahnya.
"Agyaa." Della membenamkan tubuh sahabatnya ke dalam pelukannya, ia tidak tahu harus melakukan apa untuk membantu wanita itu.
"Maafkan aku Agyaa, tapi aku juga tidak tahu harus melakukan apa." Melepas pelukannya, "Semuanya sudah terjadi, banyak yang percaya dengan pernyataan Mr.Dev. Kita tidak bisa menghindari apapun, pihak universitas pasti akan mengusut masalah ini."
"De-Della, aku takut." Agya kembali memeluk tubuh Della erat, bersamaan dengan isakan tangisnya yang memecah dinding kamar mandi kampus itu.
Della membalas pelukannya, air matanya juga ikut menetes. Merasakan kesedihan yang menimpa sahabatnya saat ini. Ternyata Mr.Dev seorang pendendam, ia benar-benar bisa menghacurkan hidup seseorang dalam hitungan dertik, sesuai dengan rumor tentanganya yang selama ini tersebar di kalangan masyarakat.
Setelah menumpahkan semua air matanya, perlahan Agya mulai merasa tenang, namun tidak dengan katakutannya yang semakin memenuhi dan mengerogoti tubuhnya. Pikirannya menerka-nerka sanksi apa yang ia terima dari pihak universitas akibat masalahnya yang ikut menyeret kampus ternama di kota Seoul itu.
*
Baru saja Agya menghapus air matanya. namun air mata itu kembali menetes dengan derasnya, membasahi seluruh wajahnya saat mendengar keputusan dekan akan sanksi yang diterimanya. Bak terjatuh tertimbah tangga pula, Agya harus merelakan beasiswanya dicabut, mengganti uang beasiswanya selama 5 semester ini, ditambah lagi diskorsing dari kampus selama satu bulan. Hukuman yang benar-benar sangat berat, bagaimana bisa ia memberitahun semua ini pada orang tuanya, hanya karena sebuab kesalahpahaman hidupnya menjadi hancur seperti ini.
"Kau boleh pergi dari sini." ucap salah satu staf kampus, menyuruh agar Agya meninggalkan ruang dekan.
Agya mengangguk, "Sa-saya permisi dulu." ucapnya membungkuk badannya singkat, lalu membawa tubuhnya pergi dari sana.
Apa Mr.Dev akan merasa puas sekarang setelah mendengar sanksi yang diberikan oleh pihak universitas yang merasa dirugikan oleh masalah pribadi salah satu mahasiswinya. Sungguh, Agya benar-benat membenci pria itu, sampai kapanpun akan terus membencinyaaa.
.
.
.
.
Bersambung ....