
Dev kembali ke tepi pantai, membawa satu botol air mineral dan juga satu cup bungeoppang, kue berbentuk ikan dengan isian kacang merah di dalamnya.
Sudut bibir pria itu terlihat melengkung membentuk senyuman manis. Kata 'sayang' yang di ucapkan Agya beberapa saat yang lalu masih terngiang-ngiang di kepalanya hingga membuatnya tidak berhenti tersenyum.
Dev terus melangkahkan kakinya dengan langkah panjang mengampiri mobilnya, karena seingatnya ia menyuruh Agya untuk menunggunya di dalam mobil, namun kedua alis pria itu langsung berkerut dalam saat tidak menemukan istrinya di sana.
"Sayang." Wajah bahagia Dev berubah panik, mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, mencari keberadaan istrinya di antara hamparan pasir dengan deruh ombak yang terdengar begitu menggelegar, pun air laut yang sudah tampak naik hingga menjamah dan membasahi kursi kayu yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Agyaaa." Teriak Dev dengan mata yang membola, menjatuhkan cup bungeoppang dan juga air mineral dari tangannya saat melihat jasnya yang dipakai Agya hanyut di antara gelombang ombak.
Dengan segera Dev melepas baju kemejanya, hendak berlari ke arah laut untuk menyelamatkan istrinya namun kedatangan sekertaris Kim menggagalkan niatnya.
"Tuan Dev, apa yang tuan lakukan?" tanya sekertaris Kim menatap Dev dengan tatapan kebingungan. Pun tangannya yang masih mencegah tubuh tuan mudanya tersebut.
"Hah shittt, kenapa kau mencegahku? Apa kau tidak lihat Agya tenggelam?!" dengusnya, sontak sekertaris Kim langsung mengalihkan tatapannya ke arah laut. Pria itu takkala terkejutnya dengan Dev, melihat pakaian Agya yang terombang-ambing di antara derasnya ombak, ditambah lagi dengan gelap nan pekatnya malam.
"No-nona Agya. Kenapa nona Agya bisa tenggelam?"
"Kau masih sempat bertanya tentang itu?!!" cetus Dev kesal.
"Bantu selamatkan istriku sekarang!!" sentaknya, wajah dan mata Dev terlihat memerah menahan emosi dan rasa panik yang bercampur satu.
"Baik tuan." Sekertaris Kim langsung melepas jas, kemeja dan juga seluruh atribut yang menemempel di tubuhnya.
"Tuan Dev, tuan alergi terhadap air laut, biar saya saja yang menyelamatkan nona Agya." cegah sekertaris Kim saat Dev hendak menerobos hembusan ombak.
"Kau pikir aku mengizinkanmu untuk memeluk istriku? Tidak!! Aku yang akan menyelamatkannya sendiri!!" cetusnya, tidak bisa membayangkan Agya di peluk oleh sekertaris Kim saat penyelamatannya nanti
"Lalu kenapa tuan menyuruhku untuk menyelamatkan nona Agya kalau tuan sendiri yang ingin menyelamatkannya?" batin sekertaris Kim.
"Tuan Dev."
Di tengah-tengah perdebatan Dev dan juga sekertaris Kim, samar-samar terdengar suara seseorang yang tidak asing di indra pendengar kedua laki-laki itu. Sontak keduanya menoleh ke asal suara tersebut.
"Nona Agya."
"Agya." gumam Dev menatap Agya yang tengah berdiri di samping mobil dengan kedua tangan yang melambai-lambai ke arahnya.
"Ahh shittt, gadis itu. Dia tidak benar tenggelam?" Dev menoleh ke arah jasnya yang masih berada di tengah laut sebelum kemudian ia berlari menghampiri Agya, menyambar tubuh mungil istrinya dan langsung memeluknya erat. Begitu juga dengan sekertaris Kim, ia ikut berlari ke arah Agya.
"Kau dari mana saja hem? Kau membuat semua orang khawatir padamu!" cetusnya melepaskan pelukannya, mengusap wajah Agya lembut seraya menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa kau melepas jasmu hm? Lihatlah, jasmu berada di tengah laut sekarang, dan aku pikir kau tenggelam! Aku menyuruhmu menunggu di dalam mobil. Tapi kenapa kau malah pergi?! Bagaimana jika kau tenggelam dan mati?!" Dev kembali menarik tubuh Agya ke dalam pelukannya, mengecup puncak kepala dan juga wajah istrinya itu berkali-kali. Mengusir kekhawatiran yang memenuhi tubuhnya. Sungguh ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya jika Agya benar-benar tenggelam, ia tidak ingin kehilangan wanitanya, wanita yang mulai mengisi sedikit hatinya. Ya hanya sedikit, hanya sebesar biji merica.
"Maafkan aku." Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Agya berucap juga. Ikut membalas pelukan Dev seraya mengusap dada bidang suaminya yang masih setengah telanjang. Menyadari jika dirinya telah bersalah dan sudah membuat Dev sekhawatir ini padanya.
"Kau dari mana saja hem?"
"A-aku pergi membantu anak kucing yang kebasahan untuk menemukan ibunya." ujar Agya melepas pelukannya.
"Anak kucing?" Dev mengerutkan dahinya, "Hah shitt, drama tenggelam itu terjadi gara-gara anak kucing sialan itu." decaknya dalam hati, memalingkan pandangannya ke arah lain lalu menyeka sudut matanya.
"Tadi aku melihat anak kucing yang kebasahan, jadi aku menghangatkannya menggunankan jas yang ku pakai, itu sebabnya aku melepaskannya. Tapi setelah itu, aku meninggalkan jas itu di atas kursi." Menunjuk ke arah kursi kayu yang didudukinya tadi, kursi kayu yang sudah porak-poranda akibat arus ombak.
"Maafkan aku karena sudah membuatmu khawatir." ucap Agya senduh, merasa begitu bersalah, untung saja tadi ia langsung memanggil Dev saat melihat suaminya itu yang hendak berenang ke laut.
"Tadi katamu kau mengkhawatirkanku."
Dev berdehem, "Bukan aku yang mengkhawatirkanmu tapi sekertaris Kim." ujarnya menoleh singkat ke arah sekertaris Kim yang berdiri di sampingnya.
"Benarkah?" Agya ikut menoleh ke arah sekertaris Kim, menatap sekertaris suaminya itu yang juga tengah bertelanjang dada.
"Hei kau mau apa?!" seru Dev menarik tubuh Agya yang hendak menghampiri sekertaris Kim.
"Mau memeluk sekertaris Kim dan mengucapkan terima kasih." ucap Agya. padahal ia tidak benar-benar ingin melakukannya, hanya menguji Dev agar suaminya itu mau mengakui kakhwatirannya.
Sontak sekertaris Kim langsung dibuat tertegun setelah mendengar ucapan Agya, "Nona Agya jangan mengikut sertakan saya jika nona ingin membuat masalah dengan tuan Dev" batin sekertaris Kim.
"Apa kau sudah tidak waras? Kau mau memeluk pria lain di hadapan suamimu?" dengus Dev menghunuskan tatapan tajamnya, menarik tubuh Agya ke dalam pelukannya. Menyembunyikan wajah istrinya itu di dada bidangnya saat menyadari jika sekertaris Kim tengah bertelanjang dada.
"Aku hanya mau berterima kasih saja pada sekertaris Kim karena dia sudah mengkhawatirkanku." Agya tersenyum, ia yakin Dev sangat mengkhawatirkannya tapi suaminya itu tidak mau mengakuinya, lebih tepatnya sangat gengsi untuk mengakuinya.
"Berterima kasih saja tanpa memeluknya!! Sekertaris Kim, cepat pakai bajumu kau sudah menodai mata istriku!" seru Dev tanpa menoleh ke arah sekertarisnya tersebut.
"Ehm, baik tuan. Maafkan saya." jawab sekertaris Kim, segera berlalu pergi dari sana untuk mengambil pakaiannya.
"Tubuh sekertaris Kim bagus juga ya." ucap Agya tersenyum, semakin memanas-manasi suaminya itu. Merasa sedikit kesal karena Dev masih tidak mau mengakui kekhawatirannya.
"Tubuhku lebih bagus darinya, lihatlah. Kau juga bisa menyentuhnya sepuasmu." Dev menjauhkan tubuh Agya dari pelukannya, meraih kedua tangan istrinya itu lalu mendaratkannya di perut sixpacknya.
Agya tertegun seraya mengigit bibir bawahnya, menahan tawanya yang hampir memecah. Entahlah ia sangat senang melihat wajah cemburu Dev saat ini. Sangat lucu dan menggemaskan. Ya, walaupun Dev tidak mengakuinya secara langsung jika ia sedang cemburu namun hal itu dapat dilihat dari perlakuan dan raut wajah yang ditunjukan pria itu.
"Sudah puas? Ayo kita pulang sekarang." Menggandeng tangan Agya dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Tuan Dev, saya sudah menemukan restor---."
"Tidak perlu, kita akan makan makanan hotel saja." Memotong ucapan sekertaris Kim seraya memakai kembali bajunya yang baru saja di sodorkan oleh sekertaris Kim.
"Kita akan bertemu di Cloe Hotel. Segera siapkan kamar untukku dan istriku."
"Baik tuan." sekertaris Kim membungkukan badannya singkat, lalu menatap mobil Dev yang melaju meninggalkan pantai tersebut.
"Tuan Dev masih begitu gengsi untuk mengakui semuanya." gumam sekertaris Kim menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu masuk ke dalam mobilnya.
.
.
.
.
.
Bersambunggg...
Maaf ya karena gak update 2 hari ini soalnya lagi sibuk bangat di real life. :)
Lanjutannya besok pagi yaaa, maaf agak ngegantung