Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Menyerah?



Embusan napas berat tampak keluar dari mulut Agya. Matanya terpejam singkat bersamaan dengan cairan bening yang kembali menetes dari kedua pelupuk matanya. Kali ini ia merasa sangat dibohongi oleh Dev, ia tidak akan pernah percaya lagi pada pria itu apalagi pada cintanya.


"Dia hanya mempermainkan perasaanku!" gumamnya menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat seraya tersenyum masam. Sebelum kemudian ia melangkah keluar meninggalkan Dev yang masih berada di dalam kamar mandi, entah apa yang dilakukan pria itu di sana.


"Mami." panggil Agya saat dirinya sudah berada di depan ruang rawat tuan Andhito.


Melihat kehadiran Agya di sana, nyonya Valerie langsung tersenyum hangat, "Sayang, di mana Deva nak." tanyanya lembut beranjak dari duduknya, lalu melangkah menghampiri Agya.


"Ehm, Dev sedang berada di kamar mandi." Agya menundukan kepalanya, menghindari tatapan menyelidik ibu mertuanya itu.


"Sayang, kau tidak bertengkar dengan Deva kan? Kenapa kau menangis hem? Apa Deva memarahimu?" tanya nyonya Valerie menangkup wajah Agya yang terlihat memerah dan dipenuhi sisa-sisa air mata.


Agya menggeleng, "Tidak apa-apa Mami. Dev tidak memarahiku." ucapnya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Lalu kenapa kau menangis sayang? Apa Deva memukulmu? Katakan pada Mami." desak nyonya Valerie, ia sangat tahu sikap anak bungsunya, bisa saja kecemburuan Agya tadi berujung pada pertengkaran, ia takut Dev menunjukan sikap tempramennya pada Agya.


"Aku tidak memukulnya." sergah Dev, pria yang sedari tadi berdiri tak jauh dari ruang rawat papanya itu segera melangkah menghampiri istri dan juga Maminya.


"Lalu kenapa kau membuat istrimu menangis? Kau selalu mengatakan pada Mami kalau kau sangat mencintai istrimu tapi kenapa kau membuatnya menangis seperti ini?!" seru nyonya Valerie.


Dev tidak menjawab, ia mengalihkan tatapannya ke arah Agya. Menatap lekat wajah wanitanya yang tengah tertunduk dalam, terlihat sisa-sisa air mata yang berhamburan di wajah dan juga dagu wanita itu.


"Kembalilah ke mobil, tunggu aku di sana. Aku mau berbicara berdua dengan mamiku."


"Dev." Nyonya Valerie melototkan matanya, tidak membenarkan ucapan anaknya barusan.


"Tetaplah di sini Agya, selesaikan masalah kalian sekarang!"


"Tidak usah ikut campur Ma. Biarkan Agya pergi dari sini!" cetus Dev meninggikan suaranya hingga membuat Agya dan juga Nyonya Valerie terlonjat kaget.


"A-aku akan pergi. Aku permisi dulu." ucap Agya berlalu pergi dari sana tanpa menatap Dev sedikit saja.


"Dev, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau mengusir istrimu!"


"Aku tidak mengusirnya. Biarkan dia pergi Ma, dia menginginkan itu dariku."


"Apa maksudmu?" Nyonya Valerie mengerutkan dahinya, menatap Dev dengan tatapan penuh tanya.


Dev terdiam sesaat, pria itu menghela napas panjang. "Aku sudah cukup menyakitinya di awal pernikahan kami Ma, aku tidak ingin menyakitinya lagi sekarang. Dia meminta rehat dariku, mungkin dia sudah lelah dengan sikapku, perilaku ku, dan semua tentangku." ucapnya senduh.


"Sayang, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya nyonya Valerie saat Dev tiba-tiba memeluknya, untuk kali pertamanya Dev bersikap demikian, menunjukan sisi rapuhnya pada Maminya itu, biasanya Dev akan terlihat tegar dan baik-baik saja meskipun sebenarnya dirinya sedang tidak baik.


"Ayoo duduklah dulu. Ceritakan semuanya pada Mami, selama ini kau tidak pernah menceritakan masalahmu pada Mami." Nyonya Valerie melepas pelukannya, menangkup wajah Dev seraya menyeka air mata anak sulungnya itu sebelum kemudian ia menuntun Dev untuk duduk di kursi besi yang ada di depan ruang rawat papanya.


Tanpa berpikir panjang, Dev langsung menceritakan semuanya pada Maminya, mengeluarkan semua masalahnya, termaksud tekanan mental yang dihadapinya karena kekangan papa dan mamanya yang bagitu memaksanya untuk menjalin hubungan dengan Alenaa, menceritakan alasan dirinya tidak mencintai Alenaa. Dan terakhir Dev menceritakan tentang pertemuan pertamanya dengan Agya. Wanita aneh yang membuatnya penasaran sekaligus berhasil membuatnya jatuh cinta setengah mati seperti ini.


"Maafkan Mami sayang. Mami pikir Alenaa wanita yang sangat baik, itu sebabnya Mami begitu kekeh untuk menjadikannya istrimu." ucap nyonya Valerie menatap Dev dengan tatapan senduh.


"Mami benar-benar minta maaf sayang. Mami begitu egois dan sibuk dengan kehidupan Mami sendiri hingga Mami lupa dengan penderitaan yang kau alami lima tahun terakhir ini. Maafkan Mami sayang." Kedua bola mata Nyonya Valerie terlihat berkaca-kaca, ia mengenggam tangan Dev erat, menatap wajah anak bungsungya itu dengan tatapan penuh penyesalan.


"Huh, aku juga berpikiran sama dengan Mami. Tapi semua bukti yang ku tunjukan sudah cukup menunjukan sifat asli Alena. Aku ingin memutuskan hubunganku Ma, sebelum semuanya tercium ke media." ucap Dev.


"Satu lagi Ma, tolong jangan ceritakan perihal Alenaa lagi pada Agya. Dia telah salah paham padaku karena cerita Mami di kantin tadi."


"Apa?" Nyonya Valerie membeliak dengan mata yang membola lebar, "Sayang, jadi Agya menangis seperti tadi karena Mami memberitahu hubunganmu dengan Alenaa? Bukankah dia sudah tahu darimu?"


"Tidak Ma, aku belum memberitahu apapun padanya. Hubungan pernikahanku dengan Agya baru terlihat normal beberapa hari terakhir ini, itu sebabnya aku belum memberitahunya tentang Alenaa."


"Astaga sayang. Tunggulah di sini, Mami akan menyusul Agya untuk meluruskan kesalahpahaman kalian."


"Tidak usah Ma." Dev menggeleng kepalanya, mencegah Maminya yang hendak beranjak dari duduknya.


"Aku senang melihat Mama sebaik ini padanya, mama sudah menerima dan memperlakukannya dengan baik dan begitu menyayanginya. Tapi untuk kali ini, Dev mohon pada Mami untuk tidak mencampuri masalah rumah tanggaku. Biarkan dia berpikir dengan tenang dan merasakan kebebasannya. Dia sudah cukup lelah menghadapiku dan merasakan semua perlakuan menyakitkan dariku. Aku ingin melihatnya bahagia tanpaku."


"Dev, apa maksudmu?! Kau mau menceraikannya?!" cetus Nyonya Valerie.


"Entahlah, aku tidak akan pernah menceraikannya. Tapi aku tidak akan menolak jika dia yang memintanya." ucap Dev menghela napas berat. Bayangan akan tangisan Agya kembali memenuhi kepalanya hingga membuatnya ingin gila. Ia tidak sanggup melihat air mata itu, air mata yang jatuh karena pria brengsek sepertinya.


"Semudah ini kau menyerah? Kau tidak mau memperjuangkan cintamu lagi? Di mana sikap optimis yang Mami temui kemarin malam? Bukankah kau bilang kau sangat mencintainya. Kau bahkan melawan Papa dan Mami karena memilih cintamu. Tapi apa yang Mami lihat sekarang? Kau menyerah dengan begitu mudahnya."


"Aku tidak menyerah, aku hanya tidak ingin menyakitinya lagi Ma. Aku sangat mencintainya, cintaku sangat tulus padanya tapi tidak dengannya Ma. Dia tidak mencintaiku."


"Bodoh." cetus Nyonya Valerie memukul kuat lengan Dev hingga membuat Dev meringis.


"Dengarkan Mami sayang. Agya sudah mencintaimu, hanya saja dia masih meyakinkan dirinya akan cinta yang dimilikinya untukmu."


Dev menoleh dengan wajah yang tampak berbinar, "Benarkah? Mami tahu dari mana kalau Agya mencintaiku? Apa dia memberitahu Mami?" tanyanya berunut


Nyonya Valerie menggeleng, "Dia tidak memberitahu Mami."


Seketika binar keceriaan dan harapan di wajah Dev langsung sirna begitu saja, ia pikir Agya telah menyatakan perasaannya melalui maminya itu ternyata ekspetasinya saja yang terlalu besar.


"Lalu Mami tahu dari mana? Jangan menciptakan kebohongan untuk menyenangkan perasaanku Ma. Aku sudah sangat muak dengan kebohongan." ucap Dev, wajahnya kembali terlihat senduh.


"Hah dasar bodoh." celetuk nyonya Valerie memukul kembali lengan anak bungsunya itu. "Apa kau tidak melihat tadi Agya sangat cemburu saat Alenaa memelukmu?"


"Aku tidak tahu, dia tidak mengatakan itu. Dia hanya marah karena aku membiarkan Alenaa memelukku."


Bugg.


"Awww." Dev kembali meringis saat kepalan tangan Maminya kembali melayang di lengannya.


"Itu namanya cemburu Devaaa. Hah astaga, ternyata semua laki-laki sama saja! Sangat tidak pekaaa." dengus nyonya Valerie, "Apa Mami harus membangun tempat kursus untuk kalian para laki-laki?"


"Untuk apa?" tanya Dev bingung.


"Yaa untuk mempelajari perasaan wanita. Kalian para laki-laki jangan hanya mau dimengerti. Menuntut sana sini tapi tidak begitu peka terhadap keinginan wanita."


"Percuma Ma, sudah dasarnya saja wanita sulit dimengerti." celoteh Dev tidak terima dengan ucapan Maminya yang begitu merendahkan kaumnya.


"Hah, temui Agya sekarang sebelum kau akan menyesali semuanya." pinta Nyonya Valerie bangun dari duduknya. Seketika Dev langsung beranjak dari duduknya, memeluk dan mengecup wajah Maminya itu.


"Terima kasih Ma. Aku akan memperjuangkan cintaku lagi."


"Jangan memaksanya."


"Iyaa. Aku akan kembali lagi, semoga papa baik-baik saja." ucap Dev menoleh singkat ke arah ruangan papanya.


"Dia akan baik-baik saja."


"Dev, tunggu sebentar." cegah Nyonya Valerie saat Dev hendak pergi dari sana.


"Ada apa Ma?" Dev menolehkan kepalanya seraya menghentikan langkah kakinya.


"Kembalilah ke Wilantara Groub nak, papamu masih belum siuman entah sampai kapan. Tidak ada yang bisa mengurus perusahaan papamu selain dirimu." ucap nyonya Valerie menatap Dev dengan tatapan memelas.


Untuk beberapa saat Dev tampak terdiam dan menimang-nimang, sebelum kemudian ia menganggukan kepalanya, "Aku akan kembali mengurus Wilantara Groub setelah aku berhasil meluruskan kesalahpahaman Agya padaku."


"Hwaiting!" ujar Nyonya Valerie tersenyum seraya mengacungkan tangannya memberi isyarat semangat.


Melihat senyuman itu membuat Dev ikut tersenyum, ia kembali berhambur ke dalam pelukan Maminya. Merasa bahagia bisa menemukan suasana hangat itu lagi setelah beberapa tahun terkahir ini hilang dan diganti dengan kegelapan.


"Berhati-hatilah dengan Alenaa, dia wanita ular yang bisa kapan saja memangsa tawananya."


"Mama juga harus berhati-hati. Aku akan mengirim beberapa bodyguarku ke sini. Sekertaris Kim baru saja memberitahuku jika Alenaa akan membalaskan dendamnya karena dipermalukan di sini tadi."


"Hah wanita itu. Dia benar-benar licik dan tidak mau kalah."


"Apa mama baru menyadarinya? Calon menantu Mama?" ucap Dev tersenyum mengejek.


"Pergilah, temui Agya dan bawa dia kembali ke sini setelah hubungan kalian membaik." ujar Nyonya Valerie.


Dev mengangguk, ia kembali berpamitan pada Maminya itu lalu dengan buru-buru ia berlalu pergi dari sana untuk menghampiri Agya yang ia suruh menunggu di mobil.


.


.


.


.


Bersambung....