
"Tuan Dev, apa kau sudah tidur?" tanya Agya menatap lekat wajah suaminya yang tengah berbaring di sampingnya, menekan-nekan seraya mencubit-cubit kecil wajah Dev gemas.
"Hem." Dev bergumam, mengeratkan pelukannya bersamaan dengan matanya yang semakin terpejam dalam, merasa begitu lelah dan mengantuk.
"Jangan tidur dulu, ayo kita bercerita." ajaknya menarik bulu mata lentik Dev hingga membuat pria itu mendengus.
Agya terkekeh, mengalihkan tangannya di hidung mancung Dev, mengusap-usapnya lembut lalu turun di bibir tipis suaminya itu. Bibir tipis yang ia nikmati habis-habisan tadi.
"Sepertinya kau memiliki hobi baru sekarang." Dev membuka lebar matanya, menangkap tangan nakal Agya yang bermain-main di bibirnya lalu mengecupnya singkat.
"Kau masih menginginkannya?"
"Eh, tidak." jawab Agya cepat seolah tahu maksud ucapan ambigu Dev. Bibirnya masih terasa sakit dan bengkak akibat ciuman panas mereka di kamar mandi, tidak hanya itu Dev kembali menciumnya dengan ganas hanya karena saus tomat yang menempel di bibirnya saat makan tadi.
"Tapi aku yang menginginkannya, kau sudah menggoda bibirku." Seringai tipis terbit di bibir Dev, pria itu menatap wajah Agya lekat dan menindihnya kembali.
"Tuan--."
"Jangan memanggilku dengan panggilan itu lagi!!" Dengus Dev, melototkan matanya.
"Sayang." Agya langsung mengganti panggilannya dengan cepat sebelum Dev memarahinya lagi. Hah sikap emosian pria itu ternyata belum hilang dan masih mendarah daging.
"Tidurlah." ucap Dev mengusap peluh yang bercucuran di dahi Agya, memindahkan tubuhnya di samping istrinya itu saat gejolak panas tiba-tiba menyerang tubuhnya. Jika saja Agya tidak sedang datang bulan, mungkin ia sudah menerkamnya habis-habisan dari tadi, tidak akan membiarkan wanitanya itu tertidur dengan nyenyak malam ini.
"Aku masih belum ingin tidur."
"Ya sudah, tidak usah tidur sampai pagi." serunya menarik tubuh Agya ke dalam dekapannya seraya memejamkan matanya. "Jangan mengangguku lagi, aku mau tidur."
"Hiss menyebalkan! Apa dia tidak bisa bersikap romantis sedikit saja? Dasar pria kaku." cebik Agya memincingkan matanya, padahal ia ingin dinyanyikan atau dibacakan dongeng oleh suaminya itu agar dirinya bisa tertidur. Ya, seperti yang sering ia lihat di drama-drama romantis.
Agya menghela napas singkat, terpaksa ikut memejamkan matanya, menenggelamkan wajahnya di dada bidang telanjang Dev seraya mengedus aroma mint di tubuh suaminya itu.
Beberapa saat kemudian, Dev membuka matanya, menjauhkan sedikit kepalanya untuk melihat istrinya yang sudah tertidur pulas.
"Gadis bodoh." gumamnya menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman, membenamkan ciuman singkat di bibir ranum Agya. Menyesali ucapannya beberapa waktu lalu ke media, ucapan yang menjatuhkan harga diri Agya, mengatainya wanita jalan* padahal istrinya itu begitu suci dan masih menjaga kehormatannya sampai malam itu tiba. Malam di mana ia mulai merasakan perasaan yang berbeda di hatinya terhadap Agya, perasaan cinta yang masih abu-abu untuk di sadarinya lebih awal. Menyesal karena sudah memperlakukan Agya dengan buruk, tapi ia tidak sepenuhnya menyalahkan dirinya karena istrinya itu memang kadang menyebalkan dan harus di perlakukan dengan tegas.
Lagi Dev kembali mengecup bibir Agya dengan sangat lembut, lalu dengan hati-hati ia memindahkan kepala istrinya itu dari lengannya, menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya yang hanya memakai kemeja putih transparan selutut tanpa dalaman.
"Hah sial, kenapa harus ada datang bulan?!" dengusnya frustasi mengacak-acak rambutnya. Ya, sejak awal Agya datang bulan Dev sudah merasa sangat frustasi, beberapa rencananya gagal termaksud keinginannya untuk segera memiliki anak. Ah sungguh Dev sangat membenci datang bulan, apalagi Agya selalu mengeluh sakit di bagian perut bawahnya membuat Dev tak tega dan ingin menghapus yang namanya datang bulan wkwkw.
**
"Selamat malam tuan." Sekertaris Kim membungkukan badannya, menyambut Dev yang baru saja masuk ke ruangan yang memiliki akses pintu dari kamar yang ditempatinya atau biasa di sebut dengan connecting room.
"Duduklah." pinta Dev mendaratkan tubuhnya.
Sekertaris Kim mengangguk, lalu mendaratkan tubuhnya di sofa yang berada di hadapan Dev, menyodorkan i-pad yang sedang menunjukan rekaman video slur Alenaa dan kekasihnya di sebuah hotel di Jepang.
"Wanita muraha*." gumam Dev, wajahnya memerah menahan amarah, pun rahangnya yang tampak mengeras.
"Mereka melakukan itu di Briston Hotel pukul 8 malam tadi." tutur sekertaris Kim menjelaskan. Dan Dev bisa melihat tanggal dan waktu kejadian jalan* Alena yang tertera di sudut video itu.
"Di mana Alena sekarang?" Dev meletakan i-padnya di meja kaca yang ada di hadapannya dengan kasar.
"Nona Alena sedang dalam perjalan ke Korea bersama Nyonya Valerie dan Tuan Dhito, tuan."
"Shittt." umpan Dev mengusap kasar wajahnya. Kenapa orang tuanya itu harus mengajak Alena ke Korea, sungguh Dev merasa begitu enggan bertemu dengan Alena setelah melihat Video slur tunangannya itu.
"Baik tuan, saya akan memastikan nona Alena tidak akan datang ke rumah tuan."
"Tetap pantau Alena, aku ingin menciduknya secara langsung saat dia menjalan*, aku ingin melihat raut wajah terkejutnya setelah melihatku." ujar Dev menarik salah satu sudut bibirnya.
"Baik tuan." sekertaris Kim mengambil i-padnya kembali hendak menujukan bukti lain namun Dev langsung mengangkat tangannya.
"Tidak usah, aku sangat jijik melihatnya." pinta Dev, "Apa bukti yang kau kumpulkan masih belum cukup untuk menujukan ke orang tuaku? Aku ingin lepas dari wanita jalan* itu."
"Aku rasa sudah cukup tuan, kita sudah memiliki banyak bukti yang menguatkan." jawab sekertaris Kim, mengcopy video dan foto Alenaa di beberapa flashdisk.
"Bagus, tapi tunggulah, aku tidak ingin kita terburu-buru, aku ingin menciduknya terlebih dulu." Dev melipat kedua tangannya di atas dadanya, bibirnya tak berhenti mengulaskan senyuman tipis nan sinis.
"Baik tuan."
"Oh iya sekertaris Kim, siapkan tampat honeymoon untukku dan Agya minggu depan. Aku ingin tempat yang sangat jauh dan tidak dihuni oleh siapapun, aku mau menikmati waktu berdua bersama Agya sepanjang hari tanpa diganggu, sekalipun suara hewan apalagi manusia." Dev merubah posisi duduknya, wajahnya terlihat begitu serius. Ia harus segera melakukan honeymoon dengan Agya agar istrinya itu segera mengandung anaknya, dengan begitu ia bisa segera membawa dan mengenalkan Agya ke keluarga besarnya terutama Ayah dan Ibunya yang suka sekali menjodohkan dengan wanita-wanita pilihan mereka.
"Baik tuan, saya akan mencarikan destinasi tempat terbaik untuk tuan dan nona Agya honeymoon."
"Bagus. Jangan lupa untuk mengosongkan waktuku selama satu bulan." ujar Dev tersenyum, membayangkan dirinya yang akan menerkam Agya seharian penuh tanpa ampun. Membalaskan dendamnya akibat napsu birah*nya yang tidak dapat tersalurkan malam ini.
Driitt..Dritt..
Suara dering ponsel yang berasal dari saku sekertaris Kim, mengalihkan perhatian pemiliknya itu begitu juga dengan Dev. Wajah pria itu berubah datar setelah mengetahui siapa yang menelpon sekertaris Kim di tengah malam seperti ini.
Panggilan telepon dari Tuan Dhito, langsung dijawab oleh sekertaris Kim dalam hitungan detik. Meloudspekar ponselnya itu sesuai perintah Dev.
"Di mana Dev?" tanya tuan Andhito dibalik telpon, suara pria paru baya itu terdengar menggelegar dan dipenuhi amarah.
"Aku sedang berada di Gangneung pa." Dev yang mejawab meraih ponsel sekertaris Kim yang tergeletak di atas meja.
"Temui papa di rumah sekarang! Kau sudah membuat papa malu. Bagaimana bisa kau meninggalkan pesta besar di rumah calon mertuamu?!!" seru tuan Andhito. Pria paru baya itu baru saja tiba di rumahnya bersama jstrinya dan juga Alenaa.
"Aku sedang mengurusi pekerjaanku Pa."
"Pekerjaan apa yang kau maksud? Papa sudah memeriksa semua jadwal pekerjaanmu dan tidak ada perjalanan kerja ke Gangneung. Apa yang kau lakukan di sana ha? Cepatlah kembali sebelum papa menyuruh bodyguard papa untuk menyeretmu ke sini!"
"Pa, aku bukan anak kecil lagii!!" dengus Dev, benar-benar sangat kesal terhadap papanya yang selalu memegang kendali hidupnya, menjadikannya sebegai boneka bernyawa.
"Pulanglah, papa menunggumu sekarang!!" serunya memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
"Aghhtttt." Dev melempar ponsel sekertaris Kim ke lantai hingga ponsel tersebut hancur berantakan.
"Akuuu muak dengan hidupku." teriaknya mengusap kasar wajahnya. Sungguh Dev merasa sangat lelah dengan hidupnya selama ini, hidupnya yang selalu di atur oleh kedua orang tuanya. Hidupnya yang ia rasa bukan miliknya.
.
.
.
.
Bersambung...