Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Ketakutan Dev



Beberapa jam kemudian, setelah Agya dipindahkan ke ruang rawat VIP. Nyonya Valerie dan tuan Andhito langsung menghampiri menantunya tersebut, namun mereka tak dapat berbicara dengan Agya karena wanita itu sudah terlelap dalam tidurnya.


Tak berselang lama, Dev ikut masuk ke dalam sana dengan langkah panjang, ia sudah tak sabar untuk mencium dan memeluk istrinya.


"Sayang."


"Ssttt, istrimu sedang tidur. Jangan menganggunya." ucap Nyonya Valerie menolehkan kepalanya ke arah Dev yang melangkah menghampirinya.


"Dia tertidur." Dev melirik singkat ke arah Agya yang terbaring di atas ranjang, wajahnya yang semula sumringah kini berubah menjadi sendu tatkala melihat kondisi istrinya yang lemah tak berdaya dengan wajah yang semakin memucat seakan tak dialiri darah.


"Mama sangat bersyukur Agya dan bayinya baik-baik saja." Nyonya Valerie kembali berucap, menatap Agya dengan tatapan teduh seraya memperbaiki selimut yang menutupi tubuh menantunya itu.


"A-aku juga sangat bersyukur." ucap Dev meletakan box makanan yang dibawanya ke atas nakas, sebelum kemudian ia melangkah menuju ranjang Agya.


"Jaga istrimu baik-baik nak." Tuan Andhito berucap, mata pria tua itu terlihat berkaca-kaca. Ia tak menyangka Agya yang beberapa waktu lalu terlihat sangat ceria saat merayakan ulang tahun Dev, kini harus terbaring lemah seperti ini.


"Aku akan selalu menjaganya." Dev menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari Agya.


"Sudah hampir tengah malam, sebaiknya Papa dan mami segera kembali ke rumah. Papa sudah terlihat sangat kelelahan."


"Tapi Agya."


"Ma, ada aku yang akan menemani dan menjaganya di sini."


"Kau yakin?"


"Tentu saja."


"Baiklah, Mami dan papa akan pulang ke rumah. Besok kami akan kesini lagi, jaga Agya baik-baik ya nak." ucap nyonya Valerie, sebelum kemudian ia mengecup kening Agya cukup lama, berharap Agya segera membaik di hari esok.


*


Sepeninggalan Mami dan papanya, Dev segera mendaratkan tubuhnya di kursi, ia meraih tangan kanan Agya dengan hati-hati lalu mengecupnya.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku." Dikecupnya kembali tangan istrinya itu berkali-kali bersamaan dengan air matanya yang kembali menetes. Sungguh, ia menyesali semua perbuatannya, ia benar-benar tak sanggup melihat kondisi Agya yang seperti ini. Seandainya ia tak berbuat kasar mungkin Agya tak akan sampai masuk rumah sakit.


Mendengar suara isakan tangis membuat kedua kelopak mata Agya terbuka, dan kembali terpejam saat biasan cahaya lampu mengenai matanya.


"Sayang, kau sudah bangun." Buru-buru Dev menghapus air matanya, lalu menyambut Agya dengan seulas senyuman namun senyuman itu tak dapat menutupi matanya yang sembab.


"Kau menangis?" Dahi Agya berkerut dalam, ia memindai wajah Dev dengan seksama.


"Menangis, hahahha mana mungkin." tepis Dev, mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tak ingin Agya melihatnya menangis, seperti bocah saja.


"Tapi ingusmu hampir terjatuh." Agya terkekeh, berusaha menangkup wajah Dev dengan kedua tangannya. Pun Dev yang langsung mendekatkan wajahnya ke tangan mungil istrinya itu.


"Sayang, maafkan aku." ucap Dev, menatap lekat kedua manik mata istrinya, lagi air matanya kembali menetes, dan ia sudah tak perduli dengan itu. Permintaan maafnya terdengar tulus dan penuh penyesalan.


"Ssttt, kau tak perlu meminta maaf, kau tak salah." Mengusap air mata Dev dengan kedua ibu jarinya.


"Aku yang seharusnya meminta maaf Dev, karena aku tak memberitahumu lebih dulu tentang kehamilanku. Aku bahkan mengacaukan perayaan ulang tahunmu."


"Aku tak membutuhkan perayaan sialan itu, aku hanya membutuhkanmu. Kau tahu, rasanya aku ingin mati saat melihatmu kesakitan."


"Benarkah? Kau sangat mengkhawatirkanku?"


"Tentu saja Agya. Kau istriku, belahan jiwaku, kau adalah duniaku."


"Lalu bayi kita?" Agya mengusap perutnya yang masih tampak rata.


"Ehm, dia dunia baru kita." ucap Dev mengalihkan pandangannya ke perut Agya, sebelum kemudian ia mengusap dan mengecup perut wanita itu.


"Terima kasih telah memberikannya tempat di perut kecilmu ini."


"7 bulan lagi. Apa kau sanggup menanpungnya di perutmu selama itu?" Kini terlihat keraguan di wajah Dev. Yaa, ia meragukan Agya, bagaimana bisa wanita sekecil istrinya sanggup memelihara dan membesarkan calon bayinya di perut munglinya?


"Dev." Agya kembali menangkup wajah suaminya, "Aku sanggup, aku sangat menikmati kehadirannya di perutku. Aku bahagia Dev." ucapnya tersenyum meyakinkan.


Dev bergeming, masih terlihat keraguan di wajahnya. Ia takut Agya tak sanggup.


"Kau tak percaya? Kau masih meragukanku?" Dev langsung mengangguk, "Apa kau masih sering merasa mual? Apa bayi ini tak merepotkanmu. Dia baru saja membuatmu kesakitan."


"Bukan bayiku, tapi kau." gerutu Agya.


"Hahaha." Dev terkekeh, "Aku sangat mencintaimu Agya."


"Aku juga sangat mencintaimu" Agya menatap lekat wajah sendu Dev, sebelum kemudian pria itu beranjak dari duduknya dan langsung memeluknya erat.


"Naiklah." pinta Agya sesaat setelah Dev melapaskan pelukannya.


"Naik ke atas ranjang?"


"Hm. Tidurlah di sampingku, aku ingin dipeluk olehmu sepajang malam. Aku merindukan kehangatanmu."


"Baik nyonya Dev, aku akan melakukannya dengan senang hati." tak banyak bicara lagi Dev langsung beranjak naik ke atas ranjang yang berukuran kecil itu. Merebahkan tubuhnya di samping Agya lalu meraih tubuh mungil istrinya itu ke dalam pelukannya. Sebuah kecupan hangatpun tak lupa ia sematkan di kening Agya. Sungguh Dev sangat mencintai wanita itu, wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu dari anaknya.


Hening...


Hening...


"Dev." Agya mendongakan wajahnya, menatap Dev yang sudah memejamkan matanya.


"Hm."


"Apa kau bahagia dengan kehadiran anak ini?"


Deg, kedua kelopak mata Dev langsung terbuka, kini wajah senduh Agya memenuhi pandangannya.


"Kenapa kau bertanya seperti ini hm? Tentu saja aku sangat bahagia, selagi bayi ini tak merepotkan dan membuatmu kesakitan aku akan sangat bahagia."


"Tapi kenapa wajahmu tak terlihat bahagia sama sekali? Aku merasa kau tak menyukainya."


"Sayang. Aku sangat bahagia, sungguh. Bukankah aku yang menginginkan bayi ini dari dulu? Bukankah aku yang selalu bersemangat untuk membuatnya? Dan sekarang dia sudah hadir dalam perutmu, tentu saja aku sangat bahagia."


"Benarkah? Tapi kau terlihat biasa saja dengan kehamilanku."


"Astaga." Dev menghela napas singkat, "Bagaimana kau bisa menarik kesimpulan bodoh ini hm? Berapa kali aku harus mengatakan jika aku sangat bahagia sayang." ucapnya mengusap lembut wajah Agya. "Aku sangat bahagia dengan kehadiran bayi kita, aku hanya takut saja dia merepotkan dan menyakitimu."


"Dia sama sekali tak merepotkanku. Dev, mengandung dan memiliki anak adalah kebahagiaan yang sangat diinginkan oleh semua wanita, walaupun nanti kami akan merasakan sakit tapi itu tak seberapa jika kami sudah mendengar tangis pertama mereka untuk menyapa dunia."


Dev langsung terdiam, ia semakin mengeratkan pelukannya tatkala membayangkan rasa sakit yang akan dialami oleh istrinya saat melahirkan nanti.


"Tidurlah." pinta Dev kemudian.


.


.


.


.


.


Bersambung....