
Seusai menelan habis makanannya, dan menelan obat yang baru saja diminumnya. Tiba-tiba Agya merasa perutnya kembali diaduk-aduk, rasa mual dan muntah menyerangnya kini, namun sebisa mungkin ia menahannya. Tidak, ia tidak boleh mengeluarkan makanan yang baru saja disuguhkan oleh mamanya, ia tak ingin mengecewakan wanita setengah baya itu.
"Sayang ada apa?" tanya Nyonya Inaya menatap Agya yang tampak berkeringat dingin, peluh di dahinya mulai bercucuran.
"A-aku mau baring Ma." ucapnya pelan seraya memejamkan matanya.
Dengan penuh hati-hati Nyonya Inaya merebahkan tubuh Agya, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh wanita itu.
"Ma, bisakah mama meminta Dev untuk menemuiku."
"Bisa sayang. Tunggu sebentar, mama akan menghubunginya."
"Terima kasih Ma." Nyonya Valerie menganguk, buru-buru ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas lalu menghubungi Dev.
Sedangkan Agya, wanita itu kembali memejamkan matanya. Perutnya masih terasa diaduk-aduk, ditambah lagi dengan kepalanya yang begitu pening dan berkunang-kunang.
**
Di tempat lain, tepatnya di White House.
Terlihat Dev yang tengah sibuk mengarahkan para pelayannya untuk mendekorasi kembali kamarnya dan juga ruang tamu untuk menyambut kedatangan Agya nanti. Ya setelah berbulan-bulan tinggal di apartemen Hannam the Hills, akhirnya ia bisa kembali ke White House dan menghirup udara segar. Tak ada lagi Alena yang setiap saat mengekorinya, Ah wanita itu mungkin sedang berhadapan dengan tuhannya untuk mempertanggung jawabkan perbuatan kotornya.
"Pindahkan baju-baju Agya ke dalam lemariku. Awas jika ada yang lecet."
"Baik tuan."
"Ah satu lagi, siapkan air di dalam bath up, jangan lupa untuk menaburkan mawar dan aroma terpi. Dan kamar ini harus terlihat elegan, jangan lupa untuk menghiasinya juga dengan mawar. Istriku sangat menyukai bunga mawar." ujar Dev. Pria itu sengaja terjun langsung dalam mendekorasi rumahnya karena ia ingin memastikan jika apapun yang disukai Agya telah tersediah di rumah itu.
"Tunggu sebentar." Dev mengangkat tangannya saat salah seorang pelayan hendak bertanya padanya. Perhatian pria itu kini teralihkan pada ponsel yang berada di tangannya, melihat sebuah panggilan masuk dari ibu mertuanya.
"Hallo ma, ada apa?" tanyanya melangkah keluar dari kamar, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, ia takut telah terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.
"Nak, apa kau sedang berada di kantor? Agya ingin kau menemuinya sekarang."
"Ada apa dengan Agya Ma? Apa dia kesakitan lagi? Apa perutnya kembali sakit?"
"Tidak nak. Dia hanya ingin kau menemaninya."
"Ah baiklah, aku akan segera ke sana." ucap Dev mengkahiri sambungan telponnya.
"Sekertaris Kim, siapkan mobil sekarang, kita akan kembali ke AMC Hospital sekarang."
"Baik tuan." Sekertaris Kim mengangguk, lalu ia berjalan mendahului Dev ke arah pintu utama dengan langkah panjang.
"Bi, awasi mereka semua. Selesaikan pekerjaan ini segera. Istriku akan tinggal di sini lagi. Dan jangan lupa untuk membuatkan makanan kesukaannya." titah Dev pada Bi Noam, kepala pelayan di White House.
"Baik tuan." jawab Bi Noam, lalu ia membungkukan badannya saat Dev beranjak pergi dari sana.
*
45 menit berlalu.
Setibanya di rumah sakit, Dev langsung berlari ke arah ruangan Agya. Ia tak ingin istrinya itu menunggunya lebih lama.
"Sayang." Dev membuka pintu ruang rawat Agya dengan hati-hati agar tak menimbulkan kebisingan, namun dahi pria itu langsung berkerut dalam saat tak memukan seorangpun di ruangan tersebut, ranjang Agya terlihat begitu lapang, dan tertata rapi.
"Sayang."
"Agya."
"Ma." panggilnya mengedarkan pandangannya kesekelilingnya. Kini matanya tertuju pada kamar mandi yang pintunya tertutup rapat. Dengan segera Dev melangkahkan kakinya ke arah sana dan membuka pintu kamar mandi itu. Namun tak membuahkan hasil, Agya tak berada di sana.
"Agyaa. Kemana mereka?" Dev kembali berlari ke arah pintu dengan begitu tergesah-gesah dan disaat yang bersamaan Nyonya Inaya masuk ke dalam ruangan itu sembari mendorong kursi roda yang diduduki oleh Agya.
"Sayang." Tubuh Dev langsung terasa lemas seketika, ia langsung berlutut di depan kursi roda Agya. "Kau dari mana saja sayang? Aku mencemaskanmu."
"Aku bosan di dalam kamar, jadi aku meminta mama untuk membawaku ke taman."
"Kenapa kau tak memberitahuku hm? Apa kau bosan karena lama menungguku?"
"Tidak." jawab Agya singkat. "Ehm, Dev apakah kita bisa berbicara sebentar?"
"Tentu saja. Apa yang ingin kau katakan hm?" Dev menbelai wajah Agya lalu mengambil alih kursi roda itu dari tangan mertuanya.
"Mama akan menunggu diluar." ucap Nyonya Inayah, menutup rapat pintu ruang rawat Agya.
"Dev."
"Hm."
"Kenapa aku harus berjanji? Aku selalu berkata jujur padamu."
"Siapa Jio? Siapa Jio Mozzi? Apa dia Jio yang sama yang aku kenal?"
Glek,
Dev langsung tertegun, kenapa Agya tiba-tiba menanyakan hal ini?
"Dia kekasih Alenaa, pria yang selalu meniduri Alenaa bahkan dia yang membunuh Alenaa. Apa dia adalah Jio yang juga kekasih Della?"
"Sayang, kenapa kau mempertanyakan hal yang tidak penting seperti ini. Kau masih sakit, fokuslah pada kesehatan dan juga bayimu." ucap Dev dengan suara terendahnya, ia hendak mengusap puncak kepala Agya namun wanita itu langsung menghindar.
"Tidak! Aku ingin tahu siapa Jio? Dan dimana Della sekarang? Dia tiba-tiba menghilang dan tak pernah menghubungiku lagi. Terakhir dia menghubungiku untuk meminta bantuan, dan saat itu kau mengatakan jika dia akan baik-baik saja. Dev dimana Della? Apa Jio juga membunuhnya. Dimana Della, Dev?! Dia baik-baik saja kan, dia masih hidup kan. Dev jawablah!!" seru Agya menatap Dev dengan tatapan kesal saat suaminya itu tak memberinya respon. Ia sungguh sangat mengkhawatirkan hidup sahabatnya itu tatkala melihat berita yang berseliweran tentang kasus pembunuhan Alenaa dan Nyonya Belinda. Dua wanita yang sama-sama dibunuh oleh Jio Mozzi.
"Sayang."
"Jangan menyentuhku jika kau tak ingin menjawabku. Aku tahu kau mengetahui sesuatu tentang Della." Agya menepis tangan Dev yang hendak menyentuh lengannya. Dan penolakan itu membuat Dev mendengus kesal.
"Della baik-baik saja, kau tak perlu mencemaskannya."
"Lalu dimana Della Dev? Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin memastikan jika dia benar-benar baik-baik saja. Ku mohon." Agya mengatupkan kedua tangannya, ia sangat ingin melihat kondisi Della disaat gentingnya berita buruk tentang pria yang pernah dicintainya. Apa wanita itu terpuruk? Atau ia hampir merasakan posisi Alenaa dan nyonya Belinda? Sungguh Della wanita yang sangat malang, wanita yang tak pernah beruntung akan hal apapun, mulai dari karirnya, keluarganya dan sekarang pria yang selama ini ia jadikan sandaran juga menghianatinya?
"Agyaa, dengar dan tatap mataku. Apa aku terlihat berbohong hingga kau tak percaya padaku? Sekali lagi aku mengatakan padamu jika Della baik-baik saja dan dia berada di tempat yang aman. Kau tak perlu mencemaskannya."
"Aku hanya ingin tahu."
"Huffttt." Dev menghembuskan napas kasar seraya menarik rambutnya ke belakang, emosinya hampir terpancing.
"Kau masih tak percaya padaku?"
"A-aku percaya. Tapi bolehkah aku menemui Della?" tanya Agya memasang raut wajah memelas.
"Kau akan menemuinya tapi tidak sekarang. Kau masih sakit dan membutuhkan istrahat yang banyak."
"Tapi--."
"Agyaaa!"
Deg.
Mulut Agya langsung terkatup rapat, ia tak berani menatap Dev. Pria itu baru saja membentaknya? Oh betapa menyakitkannya ini.
"Maaf." ucap Agya menundukan kepalanya bersamaan dengan cairan bening yang menetes dari kedua pelupuk matanya.
"Ah, shittt." Dev mengutuki kebodohannya. Kenapa ia sampai hilang kendali, tak seharusnya ia membentak Agya. Gila memang.
"Hei sayang." Dev langsung berlutut di depan kursi roda Agya, "Sayang, maafkan aku, aku tak bermaksud membentakmu. Ah, aku benar-benar bodoh. Maafkan aku." ucapnya menangkup wajah Agya dengan kedua tangannya.
"Aku membencimu." Lagi Agya kembali menepis tangan Dev dengan air mata yang semakin membanjiri wajahnya.
"Sayang, jangan seperti ini. Aku menyesal, aku sungguh meminta maaf."
"Pergilah, aku tak ingin melihat wajahmu."
"Gyaa sayang, kau sedang bercandakan? Apa kau ingin membuatku gila dan melihatku mati dengan mengusirku seperti ini? Aku tak akan pergi."
"Maaa." panggil Agya mengeraskan suaranya, hingga menembus dinding rumah sakit.
Di luar ruangan rawat Agya, terlihat Tuan Darwin, Tuan Andhito, Nyonya Valerie dan Nyonya Inayah yang tengah mengobrol membahas kepulangan Agya nanti sore. Namun obrolan mereka terputus tatkala mendengar suara teriakan Agya.
.
.
.
.
.
Bersambungg.
Jangan hujat Agya ygy.
Mohon dimaklumi Bumil satu ini🤗