Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Tidak tahu diri



Plakk,


Suara telapak tangan Nyonya Valerie yang mendarat di kulit wajah Alena menggema di lorong rumah sakit hingga kedua wanita itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di sana.


Alena memegangi wajahnya yang memerah, merasakan hawa panas dan rasa sakit yang menjalar di wajahnya, "Mami, kenapa mami menamparku?" tanyanya kebingungan.


"Kau masih bertanya kenapa aku menamparmu?!" cetus Nyonya Valerie dengan napas yang menderuh menahan kekesalan dan juga amarah yang bercampur satu. Baru beberapa menit yang lalu ia menerima kabar tentang kondisi suaminya yang semakin kritis, namun ia dibuat murkah akan kehadiran Alenaa di sana.


"Kau merusak kepercayaanku padamu. Aku pikir kau wanita terhormat yang sangat menjaga kehormatan dan juga harga dirimu tapi ternyata aku salah, kau tidak lebih dari seorang pelacu* Alenaa." cercah nyonya Valerie menujuk wajah Alenaa dengan jari telunjuknya, wajahnya terlihat begitu murkah.


"Mami, mami telah salah paham padaku." Alena terisak dengan air mata yang mengalir deras dari kedua pelupuk matanya, menatap calon mertuanya dengan tatapan iba.


"Salah paham apalagi Alena? Karena perbuatan kotormu, suamiku sampai masuk rumah sakit seperti ini. Tidak hanya itu, kau juga telah menghancurkan keluarga kami Alenaa." teriaknya.


"Deva pergi dari rumah, dia meninggalkan karir dan semua yang dimilikinya, padahal sebentar lagi dia akan menjadi presidir di Wilantara Grub, tapi kau malah menghancurkan semuanya. Kau benar-benar wanita jalan* yang tidak tahu malu. Aku menyesal telah memaksa Deva tertunangan denganmu!!" Nyonya Valerie terus mencacih Alena hingga membuat Alena semakin menangis sesegukan. Wajahnya tampak basah dipenuhi air matanya, air mata yang terkesan dibuat-buat untuk menarik simpatik calon ibu mertuanya itu.


"Tidak Mami, semua tuduhan itu tidaklah benar. Aku bukan wanita seperti itu, semua ini hanyalah sebuah kesalahpahaman. Deva pergi dan meninggalkan karirnya bukan karena aku tapi karena Agya, wanita jalan* itu pasti sudah mempengaruhi otak Deva. Mami, percalah padaku, bukan aku yang melakukan perbuatan kotor itu."


"Percaya padamu? Cuihh." Nyonya Valerie membuang ludah, bibirnya tampak merekahkan senyuman sinis. "Berhenti menyalahkan Agya dan mengatainya wanita jalan*." sentaknya melangkah mendekat ke arah Alena.


"Deva sudah menunjukan bukti perbuatan kotormu pada kami, dan aku sudah melihatnya dengan sangat jelas. Wajah yang berada di foto dan video asusila itu adalah wajahmu. Wajah yang berpura-pura sedih ini!!"


"Akhhp, Mamii--." teriak Alena tertahan, menggenggam kedua tangan nyonya Valerie yang tiba-tiba mencekik lehernya.


"Nyonya." seorang bodyguard yang melihat Alena yang hampir kehabisan napas karena dicekik, segera menghampirinya dan hendak menjauhkan tubuh Alena, namun Nyonya Valerie langsung meneriakinya.


"Diam di situ dan jangan berani mendekat!" cetus nyonya Valerie melototkan matanya. Seketika nyali bodyguard itu langsung menciut pun para perawat dan beberapa orang yang melintas di sana yang juga tidak memiliki keberanian untuk melerai pertengkaran itu karena begitu takut melihat wajah nyonya Valerie yang dipenuhi amarah.


"Ma-mami." Wajah Alena memerah, napasnya hampir habis, pun urat-urat lehernya tampak terlihat dengan jelas karena cekikan kuat nyonya Valerie.


"Mamii. Apa yang Mami lakukan?!"


Mendengar suara seseorang yang tidak asing dipendengarannya membuat nyonya Valerie menoleh ke asal suara tersebut, dilihatnya Dev yang tengah berjalan dengan langkah panjang ke arahnya.


"Dev." perlahan nyonya Valerie melepas cengkraman tangannya di leher Alena, air mata wanita setengah baya itu langsung menetes deras, tidak menyangkah Dev akan kembali padanya.


Uhuk uhukk


Alena terbatuk-batuk, ia memegangi lehernya yang terasa begitu sakit seraya mengatur napasnya, menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk mengisi paru-parunya kembali.


"Dev." Dengan setengah berlari Alena menghampiri Dev dan langsung memeluk pria itu dengan air mata yang membanjiri wajahnya.


"Dev, tolong akuu.." ucap Alena memeluk erat tubuh tegap Dev. Tangan dan tubuhnya tiba-tiba gemetar ketakutan, ia benar-benar takut dengan nyonya Valerie yang baru saja mencekiknya tanpa ampun.


"Alenaa." Nyonya Valerie hendak menarik tubuh Alena, namun Dev langsung menahan tangan maminya itu.


"Mami, kenapa mami menjadi sangat kasar seperti ini?!" cetusnya.


"Jangan mencegah Mami Dev, wanita ini sudah merusak segalanya. Dia sudah membuat papamu terkena serangan jantung hingga kritis. Mama tidak akan mengampuninya Dev, mama akan membunuhnya."


"De-Dev." Alenaa semakin ketakutan, ia memeluk Dev dengan begitu eratnya, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu.


Sementara itu, Agya yang berdiri sekitar 3 meter dari tempat Dev berada langsung memalingkan wajahnya, melihat Dev mengizinkan wanita lain untuk memeluknya membuat dada Agya tiba-tiba terasa sesak. Ia tidak tahu apa yang tengah terjadi antara ibu mertuanya dan juga wanita yang bernama Alenaa, tapi kenapa hatinya terasa begitu sakit melihat Dev membela dan memeluk wanita itu?


"Nona Agya, tetaplah di sini dan jangan pergi ke mana-mana." cegah sekertaris Kim saat Agya hendak pergi dari sana.


"Aku mau pergi ke toilet!" cetus Agya menepis kasar tangan sekertaris Kim yang memegang lengannya, sebelum kemudian ia pergi dari sana dengan langkah gontai seraya menyeka sudut matanya.


"Kenapa kau membelanya Dev? Dia sudah mempermalukan keluarga kita!!" teriak nyonya Valerie menarik rambut Alenaa lalu menjambaknya hingga membuat wanita itu menjerit kesakitan.


"Mama yang mempermalukan diri mama sendiri! berhenti berteriak dan melukai Alena seperti ini." cetus Dev menghunuskan tatapan tajamnya, merengkuh tubuh Alena dan semakin menjauhkannya dari mamanya.


"Kita sedang berada di rumah sakit Ma, tidak seharusanya masalah ini menjadi tontonan publik."


Seketika Nyonya Valerie langsung mengedarkan pandangannya ke sekilingnya, dilihatnya orang-orang yang tengah berkunjing tentangnya.


"Bubar kalian semuaa." teriaknya, seketika perawat dan juga orang-orang yang berada di sana langsung membubarkan diri mereka.


"Bawa dia pergi dari hadapanku Dev, aku tidak ingin melihat wajahnya." cetus nyonya Valerie menatap bengis Alenaa yang masih bersembunyi di balik tubuh Dev.


"Sekertaris Kim, bawa Alena pergi dari sini." Dev menoleh ke arah sekertaris Kim yang berdiri beberapa meter di belakangnya.


"Baik tuan." Sekertaris Kim segera menghampiri Alenaa.


"Di mana Agya?" tanya Dev saat menyadari istrinya tidak bersama sekertaris Kim lagi di sana.


"Nona Agya pergi ke toilet tuan, sepertinya nona---." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Dev sudah berlalu dari sana dengan begitu tergesah-gesah. Ia yakin Agya telah salah menanggapi kejadian tadi.


Sedangkan Alenaa, wanita itu hanya tersenyum getir seraya menyeka air matanya melihat Dev yang begitu mengkhawatirkan Agya, padahal Agya hanya pergi ke kamar mandi tapi Dev sudah secemas itu. Bagaimana jika Agya meninggalkan dan menceraikannya? Apa Dev akan menjadi gila? pikirnya.


**


Setibanya di toilet wanita, Dev langsung membuka pintu toilet tersebut satu persatu namun ia tidak menemukan istrinya di sana, bahkan toilet itu terlihat rapi dan tidak terpakai sama sekali.


"Ahhh shittt. Pergi ke mana dia?!" decak Dev mengusap wajahnya gusar. Agya itu tidak ke kamar mandi? Lalu ke mana dia? Apa Agya benar-benar telah salah paham padanya?


"Hah, sial seharusnya aku tidak membiarkan Della memelukku."


.


.


.


.


Bersambung..