Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Menyatakan perasaan



Setibanya di Cloe Hotel, Dev langsung mengajak Agya untuk masuk ke dalam kamar mereka. Kamar VVIP yang berada di lantai 15 hotel itu.


"Aku sangat lapar." Agya berucap seraya mendaratkan tubuhnya di sofa, mengusap-ngusap perutnya yang sedari tadi tidak berhenti berbunyi.


"Bersihkan dulu tubuhmu, nanti sekertaris Kim yang akan membawakan makanan ke sini." ujar Dev berdiri di hadapan Agya seraya mengusap lembut puncak kepala istrinya itu.


"Ah baiklah. Oh iya, apa kau benar-benar tidak mengkhawatirkanku?" Kedua bola mata Agya menyipit menatap Dev dengan tatapan penuh selidik, hidupnya tidak akan tenang sebelum ia mendengar Dev mengatakan kekhawatirannya.


"Tentu saja tidak, aku tidak memiliki waktu untuk mengkhawatirkan siapapun kecuali diriku sendiri dan juga ketampananku." tegasnya penuh percaya diri, seraya memasang raut wajah datarnya.


"Aku juga tidak membutuhkan kekhawatiranmu." cetus Agya beranjak dari duduknya lalu melangkah ke arah kamar mandi dengan langkah gontai, merasa sedikit kesal.


"Sepertinya aku akan lebih menyukai sekertaris Kim yang jelas-jelas peduli dan khawatir padaku." seloroh Agya mengeraskan suaranya agar Dev mendengarnya, melirik singkat ke arah suaminya yang sudah menghunuskan tatapan tajam padanya. Namun Agya sama sekali tidak perduli, ia menutup dan mengunci pintu kamar mandi dengan begitu rapat menghindari amukan suaminya itu.


"Hah aku benar-benar sudah gilaa, kenapa aku berucap seperti tadi? Ah, tuan Dev pasti akan sangat marah padaku." gumamnya menyandarkan kepalanya pada pintu, seraya memegangi jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat, tidak berani keluar dari kamar mandi.


"Agya buka pintunya!!"


"Sudah kuduga dia akan berteriak seperti itu. Ah aku harus bagaimana sekarang?" gumam Agya, menjauhkan tubuhnya dari pintu kamar mandi yang tidak berhenti digedor-gedor oleh Dev.


"Agya, kau pasti sedang bercandakan, kau tidak mungkin menyukai sekertaris Kim. Agya jawab aku!!" dengus Dev kalang kabut dan tidak terima dengan ucapan terakhir Agya. Bisa-bisanya Agya lebih memilih menyukai sekertaris Kim dari pada dirinya.


"Aku tidak bercanda." teriak Agya dari dalam kamar mandi.


"Hah sial." Dev berdecak kesal, kembali menggedor pintu kamar mandi namun lebih pelan dari sebelumnya.


"Buka pintunya sayang, apa kau mau tahu sesuatu? Aku yang lebih jauh mengkhawatirkanmu dari pada sekertaris Kim, dia bahkan tidak mengkhawatirkanmu sendikit saja, dia juga tidak akan perduli jika bukan karena perintahku." ujar Dev meyakinkan. Ucapan terakhir Agya benar-benar meresahkan hati dan pikirannya, ia harus menghilangkan gengsinya dan mengakui yang sebenarnya, takut istrinya itu benar-benar menyukai sekertaris Kim.


Seketika Agya langsung membuka pintu kamar mandi dengan senyum yang mengembang di bibirnya, "Benarkah? Kau mengkhawatirkanku? Kenapa? Tumben sekali?" goda Agya semakin tersenyum lebar.


"Ya, i-itu karena kau istriku jadi aku harus mengkhawatirkanmu, bukankah sudah seharusnya begitu?" jawab Dev gelapan, untung saja ia menemukan jawaban yang tepat dan tidak menjatuhkan harga dirinya.


Agya terdiam, senyum di bibirnya langsung menguap begitu saja di udara, ia pikir Dev mengkhawatirkannya karena pria itu sudah---.


"Ah, iya juga ya, kau pasti mengkhawatirkanku karena aku istrimu." wajah Agya berubah masam, diikuti dengan senyuman getir di bibirnya.


"Memangnya apa yang kau pikirkan? Astaga apa kau pikir aku menyukaimu? Hah percaya diri sekali kau ini." sembur Dev menyentil dahi Agya hingga membuat wanita itu menggerutu dan mengusap-usap dahinya.


"Jadi kau tidak menyukaiku?"


"Menyukaimu? Hahaha mana mungkin aku menyukai wanita jelek sepertimu." Dev terbahak seraya mencubit kedua pipi Agya. Menatap gemas wajah istrinya yang sudah terlihat sangat kesal.


"Aku memang terlalu percaya diri sekali. Aku pikir perlakuan manisnya tadi karena dia mulai menyukaiku tapi ternyata aku sangat salah." gumam Agya dalam hati, memerhatikan Dev yang masih terbahak di hadapannya. "Padahal aku sudah mulai membuka hatiku untuknya. Aku bahkan sudah berjanji untuk menjauhi Darrel karenanya, tapi ternyata dia hanya mempermainkan hatiku saja dengan memberikan perlakuan manis tadi." imbuhnya menghela napas singkat.


"Maaf karena aku sudah begitu percaya diri, dan mengira kau menyukaiku."


Tawa Dev langsung terhenti tatkala mendengar ucapan Agya barusan. Kini manik mata pria itu menatap lekat wajah senduh Agya yang tengah tertunduk dalam.


"Maaf--." Agya kembali berucap seraya memutar tubuhnya untuk masuk ke kamar mandi, namun langkah kakinya terhenti saat Dev tiba-tiba menarik tubuhnya dan memeluknya.


"Apa kau tersinggung dengan ucapanku?" tanya Dev mengecup bahu Agya seraya mengeratkan pelukanmya.


Agya mengerjab-ngerjabkan matanya, perlakuan seperti ini yang membuat hatinya luluh dan terbawa perasaan.


"Jangan perlakukan aku seperti ini lagi tuan Dev, kau akan menyakiti hatiku." ucap Agya terang-terangan, melepaskan pelukan Dev dari tubuhnya seraya melangkah menjauh.


"Sayang."


Agya menggeleng kepalanya, "Ku mohon. Jangan perlakukan aku seperti ini lagi. Aku lebih memilih dijadikan kacung seumur hidupku dari pada diperlakukan manis olehmu."


"Hei kenapa kau berucap seperti itu." Dev kembali meraih tubuh Agya lalu memeluknya secara paksa.


"Tidak, aku sudah tahu semuanya." ucap Agya menggeleng kepalanya.


"Apa yang kau tahu?!"


"Yang aku tahu kau tidak menyukaiku karena aku sangat jelek, kampungan, dan bodoh."


"Ya, kau memang sangat jelek, kampungan dan bodoh."


"Hisss kenapa kau selalu berkata jujur." celetuk Agya memukul dada bidang suaminya itu pelan, hendak melepas pelukannya lagi namun Dev tidak membiarkannya begitu saja, ia semakin mengeratkan pelukannya, mengecup puncak kepala istrinya itu berkali-kali dengan mata yang terpejam.


"Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu Agya Wardana."


Gleg


Kedua bola mata Agya langsung membola sempurna, "Ka-kau pasti sedang bercanda kan, hahaha. Kau pasti sedang berusaha menggodaku."


"Kau tidak percaya?!" Dev melonggarkan pelukannya, menatap lekat kedua manik mata teduh milik Agya, "Aku sangat mencintaimu sayang. Kau sudah berhasil membuat hati dan pikiranku menjadi kacau." ujarnya, memerhatikan raut wajah Agya yang masih tampak tidak percaya dengan ucapannya.


"Hah." Dev mendengus, harus dengan kata apa lagi ia meyakinkan istrinya itu jika dirinya sudah benar-benar jatuh hati padanya.


"Baiklah aku akan berkata jujur padamu, awalnya aku sengaja merubah sikapku dengan tujuan untuk membuatmu jatuh cinta setengah mati padaku, tapi semuanya itu sudah berbalik sekarang, aku terjatuh dalam perangkapku sendiri. Aku yang lebih dulu mencintaimu. Aku sangat mencintaimu Agya Wardana, percayalah." tegas Dev memelaskan wajahnya, benar-benar bingung harus menyakinkan Agya dengan cara apalagi.


"Kau tidak sedang bercanda kan?" tanya Agya.


"Lihat wajahku dan tatapan mataku sekarang. Apa aku terlihat bercanda hem?"


Agya menggeleng, "Tidak, kau memang terlihat serius. Tapi aku masih merasa kurang yakin dengan perasaanmu."


"Hah Agyaaa, apa yang harus aku lakukan agar kau percaya hem? Menciummu seperti ini?" Dev mendaratkan kecupannya di seluruh wajah Agya, berusaha menyakinkan istrinya itu jika dirinya sudah sangat mencintainya.


"Sayang gelii." celoteh Agya menjauhkan kepala Dev yang berada di ceruk lehernya, "Aku percaya, aku sudah percaya padamu.."


"Kau percaya padaku sekarang? Apa kau mencintaiku juga? Cepat katakan, kenapa kau diam saja?!" dengus Dev saat Agya hanya menatapnya dengan mulut yang terkatup rapat.


"Iyaa, aku percaya. Tapi---." Agya terdiam, tampak berpikir sejenak.


"Apa?"


"Aku belum yakin kalau aku mencintaimu. Aku memang sudah membuka sedikit hatiku untukmu, tapi aku masih belum sepenuhnya mencintaimu."


"Tidak masalah, biar aku saja yang jatuh cinta padamu." ucap Dev tersenyum lalu mendaratkan kecupan hangat di bibir Agya, menarik tubuh istrinya itu untuk masuk ke dalam kamar mandi dengan bibir yang masih saling bertautan.


Dev menyandarkan tubuh Agya pada dinding, menyalakan shower untuk membasahi tubuhnya yang terasa panas akibat ciumannya bersama Agya yang kini masih berlangsung, ciuman yang perlahan menjadi penuh nafsu dengan lumata*-lumata* kasar.


"Aku mencintaimu." Dev melepas ciumannya seraya mengatur napasnya yang saling memburuh, mengusap wajah Agya yang tampak basah, lalu kembali membenamkan ciumanya lagi.


Perlahan Agya membalas ciuman Dev, ciuman yang terasa lebih nikmat dari sebelum-sebelumnya, ciuman yang terasa penuh cinta dan tanpa paksaan.


.


.


.


.


Bersambungg... dulu yahhh wkwkw