Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Bunuh diri?



"Tambahkan minumanku Kim." ujar Dev dengan suara seraknya, menatap sekertaris Kim yang berdiri di sampingnya dengan kelopak mata yang hampir tertutup.


"Tuan Dev, tuan sudah menghabiskan 2 botol soju." Terlihat Sekertaris Kim yang begitu enggan untuk menuangkan lagi air vodka ke dalam gelas kecil yang tengah di pegang oleh tuan mudanya. Gelas dan minuman yang sudah hampir 3 jam menemani Dev di bar miliknya.


"Ayolaah Kim, aku sangat jarang meminum ini dengan jumlah banyak. Jadi jangan melarangku jika aku meminumnya seperti ini." Dev mulai merancau, meletakan gelas kecil yang berada di tangannya ke atas meja. Merasa air vodka yang masuk ke dalam tubuhnya mulai membuatnya mabuk berat, "Tubuh dan pikiranku terasa lebih ringan setelah aku meminum minuman ini. Ayoo tuangkan lagi Kim, aku ingin meminumnya lagi, aku mulai merasa melayang tanpa beban." ucapnya beranjak dari duduknya.


"Tuan Dev."


"Jangan menyentuhku." Dev menepis tangan sekertaris Kim yang menopang tubuhnya saat hampir terjatuh.


"Sekertaris Kim, ayo kita pulang. Aku merasa sangat lelah."


"Baik tuan." sekertaris Kim membungkuk singkat lalu melangkahkan kakinya, mengawasi dan mengikuti langkah kaki Dev yang berjalan di depannya.


"Antar aku ke rumah istriku." ujar Dev menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada sandaran kursi mobil seraya memijat-mijatnya menggunakan tangan kirinya.


"Nona Agya?"


"Siapa lagi. Cepatlah." dengusnya.


"Baik tuan." ucap sekertaris Kim, menginjak pedal gas lalu melajukan mobil yang ia kemudi dengan kecepatan sedang.


"Apa yang kurang dariku Kim? Apa wajahku kurang tampan? Apa kekayaanku masih begitu kurang? Kenapa wanita yang pernah singgah dihatiku selalu menghianatiku?" Rancauan-rancauan terus keluar dari mulut Dev padahal mata pria itu tengah tertutup rapat. "Kenapa Mami dan Papa selalu mengatur hidupku? Aku merasa hidupku bukanlah milikku tapi milik mereka."


Mendengar rancauan terakhir tersebut membuat sekertaris Kim melirik ke arah kaca spion untuk melihat tuan mudanya. Merasa iba dan kasihan, sejak kecil hidup Dev sudah dikendalikan oleh kedua orang tuanya hingga sekarang, bahkan kisah percintaannya juga.


"Dan Agya, kenapa wanita itu bisa menolakku? Apa dia tidak tertarik sedikit saja padaku?" gumaman terakhir yang keluar dari mulut Dev sebelum pria itu terlelap.


***


Di tempat lain tampak Agya yang baru saja merapikan tempat tidurnya dan bersiap untuk tidur, mengistrahatkan tubuhnya yang terasa lelah dan penat namun suara bel yang dibarengi dengan ketukan pintu mengurungkan niat wanita itu.


"Siapa yang bertamu malam-malam seperti ini? Apa Deela yang datang?" gumamnya memutar tubuhnya lalu keluar dari kamarnya dengan langkah panjang, seharian tadi ia menunggu sahabatnya itu untuk datang mengunjunginya.


"Selamat malam nona Agya." sapa sekertaris Kim sesaat setelah Agya membukakan pintu untuknya. Sontak Agya langsung terhenyak merasa terkejut dengan kehadiran sekertaris Kim di sana.


"Tu-tuan Kim, ada apa? Apa tuan membutuhkan sesuatu?" tanyanya menyernyitkan dahinya. Namun sekertaris Kim tidak menjawab, pria itu hanya melirik singkat ke arah mobil yang terparkir di depan apartement tersebut. Pun Agya yang ikut mengalihkan tatapannya ke arah sana.


"Tuan Dev?" Agya mengalihkan perhatianya lagi ke arah sekertaris Kim, menunggu penjelasan pria itu akan kehadiran Dev di sana. Bukankah tadi sore sekertaris Kim mengatakan jika Agya akan hidup normal dan bebas tanpa Dev tapi kenapa pria itu berada di sana sekarang.


"Tuan Dev akan menginap di sini."


"Apa?" Agya membulatkan matanya, menggelengkan kepalanya cepat, "Tuan Kim, apa tuan tidak salah? Bagaimana bisa seorang Mr.Dev menginap di apartement kumuh seperti ini? Ukuran kamarku sangat kecil begitu juga dengan tempat tidurnya yang hanya bisa di tempati satu orang saja."


"Nona Agya bisa tidur di sofa. Tuan Dev akan tetap menginap di sini." ujar sekertaris Kim tanpa ekpresi.


"Tapi bukankah kata tuan aku akan hidup bebas dalam satu minggu. Kenapa tuan tiba-tiba membawa tuan Dev ke sini?!" cetus Agya kesal, sebelum kemudian ia mengalihkan tatapannya ke arah Dev yang tertidur di dalam mobil.


"Tuan Dev yang ingin menginap di sini. Nona Agya, nona tidak lupa bukan jika aturan utama nona adalah tuan Dev. Jadi keputusan tuan Dev bukanlah keputusan mutlak dan bisa saja berubah sesuai keinginanya." Rasanya Agya ingin mencakar-cakar wajah sekertaris Kim, benar-benar merasa sangat kesal.


"Baiklah. Suruh tuanmu untuk masuk ke dalam rumah." ujar Agya membuka lebar pintu apartemennya.


"Nona, tuan Dev ingin nona Agya yang membawanya masuk ke dalam rumah."


"Apa? Memangnya dia kenapa? Apa kakinya sedang sakit hingga tidak bisa berjalan sendiri ke sini?"


"Iyaa."


"Ha?"


"Cepatlah nona sebelum tuan Dev marah besar pada nona."


"Ah, baiklah-baiklah." Dengan langkah gontai Agya menuruni anak tangga yang ada di di depannya, melangkah menuju mobil diikuti sekertaris Kim di belakangnya.


"Silahkan nona." ujar sekertaris Kim membukakan pintu.


Agya terdiam, menatap Dev yang masih tertidur dengan kondisi pakaian yang acak-acakan, pun bau alkohol yang tercium memenuhi tubuh Dev.


"Apa dia mabuk?" tanya Agya yang langsung dijawab anggukan oleh sekertaris Kim.


"Apa? Ahh, kenapa kau membawanya ke sini?" gerutunya, seketika tubuhnya berubah menjadi lesu.


"Tuan Dev yang menginginkannya."


"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Menggendong dan membawanya masuk ke dalam rumahku?"


"Benar sekali."


"Bagaimana bisa? Apa tuan tidak melihat tubuhnya yang sebesar beruang kutub itu? Bagaimana aku bisa menggendongnya?"


"Nona Agya bisa merangkulnya."


"Ah, iyaa juga ya. Menyusahkan sekali." celoteh Agya. Hendak merangkul tubuh Dev namun ia urungkan.


"Tuan Kim, bisakah tuan saja yang merangkul dan membawanya masuk ke rumahku?" Sekertaris Kim menggeleng, "Tidak bisa nona, tuan Dev yang--."


"Menginginkan aku untuk merangkulnya." celetuk Agya memotong ucapan sekertaris Kim yang sudah bisa ia tebak kelanjutannya.


"Huh menyusahkan sekali, kenapa dia harus mabuk-mabukan seperti ini?" Meraih tangan Dev dan merangkulnya lalu menarik tubuh berat pria itu untuk keluar dari dalam mobil.


"Hati-hati nona."


"Iyaa." celetuknya, melingkarkan tangannya kanannya di pinggang Dev dengan erat agar pria itu tidak terjatuh.


"Nona Agya." panggil sekertaris Kim, berdiri di dekat pintu.


"Ada apa?" Agya menjawab dengan tatapan tak ramah, masih merasa kesal dengan sekertaris Kim yang sama sekali tidak membantunya.


"Jika tuan Dev bangun dan sadar, tolong turuti semua keinginannya. Jangan membuatnya marah karena mood tuan Dev sedang berantakan sekarang."


"Iyaa."


"Baiklah, saya permisi pulang dulu nona." Pamitnya.


"Pulang? Kenapa? Bukankah tuan ikut menjaga tuan Dev di sini?"


"Tidak nona. Saya masih memiliki pekerjaan lain. Saya permisi dulu nona." Pamitnya kembali seraya membungkukan tubuhnya singkat sebelum kemudian ia membawa tubuh tegapnya tersebut pergi dari sana.


"Aaghtt." Agya berdecak, melangkah keluar dari kamar dengan langkah gontai lalu mengunci rapat pintu apartemennya.


"Huh, hidupku benar-benar penuh kesialan." Lagi Agya hanya bisa berdecak kesal, meratapi hidupnya yang ia rasa sangat sial setelah bertemu Mr.Dev


"Tuhaan bukankah aku pernah meminta pria baik kenapa malah macan gila itu yang kau kirimkan padaku." Menatap tubuh Dev yang terbaring di atas ranjang.


"Uhukk.. Uhukk. Hoeek." Dev tiba-tiba terbangun dan memuntahkan isi perutnya di atas lantai hingga membuat Agya terlonjat kaget. Buru-buru ia menghampiri Dev dan mengambilkannya air minum yang tergeletak di atas nakas.


"Apa kau baik-baik saja? Minumlah." Dev menggeleng, menepis tangan Agya lalu berlari ke kamar mandi dan memutahkan kembali isi perutnya.


"Hoeek.. Hoeek.."


"Tuan Dev. Apa kau baik-baik saja?" Wajah Agya semakin panik, dengan sedikit takut ia menggerakkan tangannya, mengusap-usap punggung belakang Dev, berharap pria itu tidak semakin mengeluarkan isi perutnya.


"Ambilkan aku air minum." ujarnya menepis tangan Agya yang memegangi lengannya.


Agya mengangguk, lalu keluar dari kamar mandi dengan sedikit berlari.


Sepeninggalan Agya. Dev langsung mengunci pintu kamar mandi, kemudian berdiri di depan cermin dengan kondisi badan yang begitu lemah dan kepala yang sangat berat, "Ah, memalukan sekali." decaknya menatap pantulan wajahnya yang memerah padam. Merasa sangat malu karena muntah di depan Agya, wanita yang masih cukup asing baginya.


"Apa dia tidak merasa jijik melihatku seperti ini? Bagaimana bisa?" Kini kepala Dev mulai dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan aneh. Sungguh ia merasa Agya sangat berbeda sekali dengan Alena dan Diandra, kedua wanita itu biasanya akan menjauh jika melihat dirinya muntah-muntah seperti ini di hadapan mereka.


"Tuan Dev. Kenapa tuan mengunci pintunya. Apa tuan baik-baik saja di dalam sana? Tuan tidak sedang melakukan percobaan bunuh diri kan." Suara teriakan Agya yang berasal dari luar kamar mandi mengalihkan perhatian Dev.


"Percobaan bunuh diri?" Dev mengulangi ucapan Agya, tiba-tiba salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman.


"Tuan Dev. Tuan baik-baik saja kan?" Agya kembali berteriak saat tidak mendapatkan jawaban.


"Menjauhlah, aku sedang melakukan percobaan bunuh diri." Dev menahan tawanya, menunggu reaksi Agya selanjutnya. Merasa senang mengerjai wanita itu lagi.


"Tuan, apa kau sudah gila? Keluarlah, jangan melakukan hal bodoh itu. Jika tuan memiliki masalah, ceritakan saja padaku. Aku akan mendengarkanmu tapi jangan melakukan tindakan ceroboh itu." Teriak Agya menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan sangat keras, wajahnya benar-benar terlihat sangat panik.


"Tidak. Aku tidak membutuhkan itu sekarang. Aku---." ucapan Dev terhenti hingga membuat kedua bola mata Agya membulat, "Apa dia benar bunuh diri? Tuan Dev, kau tidak benar melakukannya kan." serunya kembali menggedor-gedor pintu kamar mandi seraya memutar-mutar handle pintu kamar mandi tersebut, berharap bisa segera terbuka. Entah sudah sepanik apa dirinya sekarang.


"Tuan Dev---."


Ceklek.


Agya menarik tangannya, menengadahkan kepalanya, menatap wajah Dev yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kau tidak benar-benar bunuh diri kan." Tiba-tiba Agya memeluk tubuh Dev dengan sangat erat seraya menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu hingga membuat Dev tertegun, namun sesaat kemudian bibirnya langsung mengembang lebar.


"Aku takut kau mati." ucapnya pelan namun masih cukup jelas terdengar di telinga Dev.


"Kenapa? Apa kau sangat mengkhawatirkanku?"


"Eh." Agya tersadar, buru-buru ia melapaskan pelukannya. "Si-siapa yang mengkhawatirkanmu?" Menyelipkan anak sulur rambutnya ke daun telinganya, seraya menelan salivanya. "Ah bodoh kenapa aku memeluknya." batinnya


"Kau. Kau memelukku seakan begitu takut dan khawatir. Apa kau mulai tertarik padaku sekarang? Ah tentu saja, aku memiliki wajah yang sangat tampan. Tentu semua wanita akan tertarik kepadaku termaksud dirimu." ujar Dev dengan penuh percaya diri, tersemat senyum tipis di bibirnya yang nyaris tak terlihat.


"Ti-tidak, aku tidak mengkhawatirkanmu, aku hanya takut saja kau bunuh diri."


"Sama sajaa."


"Eh, ma-maksudku. Aku hanya tidak ingin menjadi tersangka karena kau bunuh diri di apartemenku."


Jleb. Senyum yang semula hampir mengembang lebar di kedua sudut bibir Dev kini langsung menyurut berubah menjadi sangat dingin.


"Jadi kau hanya khawatir karena itu?"


"Iyaa." jawab Agya seraya mengangguk pelan.


Brakk, Karena rasa kesalnya Dev langsung menutup pintu kamar mandi dengan sangat keras hingga membuat Agya terlonjat kaget. Hilanglah rasa percaya dirinya yang ia bangun dengan susah payah.


"Eh, ke-kenapa dia jadi marah? Aneh sekali."


.


.


.


.


.


Bersambungg..