Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Butterfly tattoo



Agya menelan salivanya dengan susah payah saat kini Dev menatapnya dengan tatapan tak terbaca, raut wajahnya terlihat sangat dingin hingga membekukan tubuhnya.


Entah sudah sekencang apa degub jantung Agya kini. Sial, apa Dev sangat murka kali ini? Dilihat dari tatapan matanya, pria yang masih berdiri mematung di hadapannya ini benar-benar terlihat dipenuhi amarah.


"Ehm, sa-sayang maafkan aku." Agya memindai kedua bola mata Dev, mencoba mencari sesuatu di dalam sana selain amarah, mungkin cinta? Namun tak ada sama sekali.


"A-aku benar-benar sangat bodoh, aku terlalu mudah percaya pada Alenaa. Dan aaaa." Agya terkejut setengah mati saat Dev tiba-tiba mengangkat tubuhnya ke atas meja dan menghimpitnya di sana.


Pria itu masih tak membuka mulutnya apalagi mengeluarkan suara. Tatapannya terlihat semakin sangar dan menakutkan.


"Ku mohon maafkan aku, kenapa kau diam saja? Ayo berbicaralah, kau membuatku takut." cicit Agya seraya bergidik ngeri. Dev benar-benar kembali menjadi seorang Mr. Dev yang menakutkan.


"Dev, a-aku----."


"Sstttt." Dev menempelkan jari telunjuk di bibir Agya. Manik matanya menatap tajam kedua bola mata istrinya itu.


"Katakan padaku, hukuman apa yang pantas kau dapatkan sekarang hm?" ucap Dev lembut seraya menelusuri garis wajah istrinya itu hingga membuat tubuh Agya meremang, darahnya mendesir deras.


"Hukuman? Apa aku harus di hukum?"


"Ya! Kau tidak lupa bukan jika semalam kau sudah sangat lancang padaku. Kau memakiku habis-habisan akibat wine yang kau teguk, kau bahkan menunduh dan mengataiku gigol* yang selalu meniduri pelacu* akibat menonton video porn* yang ditunjukan Alena padamu."


"A-apa aku mengatakan itu? Aku memang sudah tidak waras." Agya mencoba mencairkan suasana yang terasa mencengkram. Mencoba mengusap wajah Dev untuk mengambil hati pria itu namun sialnya Dev malah menangkap tangan mungil itu ke dalam genggamannya.


"Jangan coba-coba menarik simpatiku. Aku sedang marah sekarang!!"


"Dia benar-benar marah. Aaa matilah aku. Kenapa aku harus percaya pada video sialan itu dan memaki-makinya semalam?!" batin Agya. Ia merasakan jantungnya melompat-lompat kini, pikirannya begitu kalut, ia tak tahu harus dengan cara apalagi untuk menjinakkan macan gila ini.


"Katakan, hukuman apa yang cocok untuk kekurang ajaranmu hm?"


"Aku tak tahu. Jika---." suara Agya tercekat, saat Dev tiba-tiba menyerang bibirnya.


"I will fuc* you roughly as your punishment." ucap Dev tersenyum maniak, tatapan tajamnya kini berubah menjadi tatapan kelaparan bak macan yang siap mencabik-cabik tubuh mangsanya.


Agya tak merespon, ia sibuk mengatur napasnya yang saling memburu. Dev sialan, hukuman macam apa ini?


"Are you ready, honey? Aku tak akan berhenti jika sudah memulainya." ucap Dev menanggalkan handuknya.


Rupanya Dev menjadi maniak se* setelah menjelajahi tubuh Agya semalam. Tubuh Agya telah membuatnya candu hingga ia melupakan segalanya termaksud usul perceraian yang ia ajukan pada sekertaris Kim. Ia menyesal telah berkata seperti itu, ah bahkan kata-kata puitis yang keluar dari mulutnya kemarin sangatlah menjijikan jika diingat kembali.


Mencintai seseorang yang tak mencintaimu adalah seni menyakiti diri sendiri.


Kalimat itu kembali terngiang-ngiang di ingatan Dev. Bisa-bisanya ia mengeluarkan kalimat sialan itu dari mulutnya. Sekarang, satu yang harus diketahui seluruh penduduk bumi, bahwa ia akan terus membuat seni itu hanya untuk mendapatkan cinta Agyaa. Ia sudah sangat tergila-gila pada Agya. Tak perduli harus sesakit apa ia menyakiti dirinya, apapun akan ia lakukan untuk mendapatkan cinta istrinya itu. Mungkin dengan sering melakukan kegiatan panas seperti ini akan membuat Agya jatuh cinta padanya?


"De-Dev." Agya menggigit bibirnya tak tenang. Ia terbuai, dadanya kembang kempis kini. Dev terus menyerangnya dengan kecupan-kecupan panas.


Dengan amat tak sabaran, Dev langsung menarik kemeja yang dipakai Agya hingga kancing kemeja wanita itu berhamburan ke atas meja.


Dev kembali tersenyum tipis melihat pemandangan indah yang disuguhkan di hadapannya kini, dalam sekali gerakan ia berhasil menarik tubuh Agya ke tepi meja makan dan menerkam tubuh mungil istrinya itu.


Kegiatan panas itu menimbulkan suara yang mengaungi seisi ruang makan itu. Dev dan Agya benar-benar menjadi dua manusia gila malam ini.


Tak puas. Dev menggendong tubuh Agya dan membawanya ke dalam kamar.


"Dev, apalagi ini?" tanya Agya saat Dev melingkarkan borgol di kedua tangannya, borgol yang telah tertaut pada kepala ranjang.


"Dont forget if this is a punishment for you, baby."


Clap, borgolnya berhasil terkunci hingga Agya tak dapat menggerakan tangannya sedikit saja. Sial Dev, hukuman gila apa ini?!


"I'm going to give you best se* ever." ucap Dev tersenyum tipis. Pria itupun kembali melanjutkan aksi panasnya. Menerkam Agya habis-habisan hingga wanita itu merasakan tubuhnya bak tersayat-sayat oleh pisau tumpul.


Sial memang, ia tak tahu sudah seremuk apa tulangnya sekarang. Apakah ia akan dilarikan ke rumah sakit setelah ini? Atau bahkan lebih jauh dari itu....


.


.


***


"Gyaaa." teriak Della saat melihat Agya yang baru saja keluar dari mobil mercy berwarna hitam.


"Dellaa." Agya ikut berteriak girang, menyambut sahabatnya itu ke dalam pelukannya.


"Gyaaa, kau kemana saja? Aku sangat merindukanmu. Ponselmu sangat sulit di hubungi." Della melepas pelukannya, kini manik matanya memindai wajah Agya yang terlihat pucat.


"Agya kau sakit? Wajahmu terlihat pucat? Kau terlihat sangat kelelahan."


"Ehm." Agya berdehem, matanya melirik singkat ke arah mobil yang masih terparkir di belakangnya. "I'm okay." jawabnya menarik Della agar menjauh dari sana.


"Benarkah? Tapi kau terlihat tidak baik."


"Yaaa, aku memang sedang tidak baik-baik saja, Della. Semalam aku dihukum habis-habisan. Ah pria itu, dia tak membiarkanku tidur dengan tenang." batin Agya.


"Kau tak merindukanku?"


"Tentu saja aku merindukanmu. Aku ingin bercerita banyak padamu."


"Oh yaa. Bagaimana dengan Mr. Dev? Apa dia masih memperlakukanmu sebagai kacungnya?"


"Tidak, dia sudah berubah tapi terkadang kumat lagi seperti semalam."


"Semalam?" Della langsung menghentikan langkah kakinya, seraya menoleh ke arah Agya.


"Eh, yaaa. Maksudku, dia masih memperlakukanku seperti kacung." jawab Agya tanpa menatap sahabatnya.


"Kau tak berniat kabur lagi? Aku masih memiliki rencana lain. Kali ini dia tidak akan menemukanmu."


"Tidak. Tidak dua kali aku melakukan itu." ucap Agya mendaratkan tubuhnya di kursi taman saat ia kembali merasa nyeri di area kewanit**nya.


Agya menyipitkan matanya, memindai tubuh Della yang tampak berisi.


"Kau terlihat semakin sehat sekarang." ujar Agya pada Della yang tidak ikut duduk.


Seketika wajah ceria Della berubah drastis. Ia terlihat panik dan kalang kabut, "Ehm, a-aku sudah tidak diet lagi sekarang. Aku sudah menyukai sayur dan kacang-kacangan, untuk itu aku terlihat sehat seperti ini."


"Oh." Agya mengangguk-angguk paham, tatapannya masih terlihat menyelidik. Ada yang aneh dengan Della, wanita itu kini memakai dress oversize? sejak kapan Della menyukai pakaian yang pernah ia anggap norak. Kedua pipinya juga terlihat chubby dan mengembang.


"Oh iyaa Gyaa. Aku harus pergi sekarang, aku memiliki janji dengan kak Jio."


"Pergi? Kau tak bertemu dengan pembimbingmu dulu?"


"Mr. Park akan datang nanti siang, setelah menyelesaikan urusanku dengan kak Jio, aku akan kembali ke sini. Kau masih akan berada di sini sampai siang kan?"


"Iyaa." Agya mengangguk seraya beranjak dari duduknya."Baiklah, aku akan menunggumu nanti."


"Okay, berhati-hatilah. Aku melihat Darrel tadi."


"Darrel."


"Iyaa. Aku sudah tahu semuanya Gyaa, ternyata Darrel sangatlah jahat, apalagi keluarganya. Aku tak menyangka jika ibu dan kekasih Darrel lah yang menyebarkan fotomu dan Mr. Dev di hotel kala itu."


"Siapa yang memberitahumu?"


"Suamimu. Dia yang memberitahuku saat kau kabur dengan Darrel. Dia mencarimu sampai ke apartemenmu, dia juga terus memaksaku untuk memberitahu keberadaanmu."


"Dan kau memberitahunya?"


Della menggeleng, "Tidak."


"Lalu bagaimana dia bisa menemukanku?"


"Entahlah, tapi aku bersyukur Mr. Dev menemukanmu, Gyaa. Aku tak bisa membayangkan jika Darrel dan keluarganya mencelakaimu."


"Ah, lupakan saja. Aku baik-baik saja sekarang. Kau tak perlu mengkhawatirkanku seperti ini."


"Hug." kata Della dengan mata yang berkaca-kaca. Lalu ia berhambur ke dalam pelukan sahabatnya itu.


"Dell. Kak Jio." tunjuk Agya pada Jio yang berjalan menghampiri mereka. Seketika Della langsung melepas pelukannya dan berbalik ke arah tunangannya itu.


"Ah, dia sudah datang. Baiklah, aku pergi sekarang ya." Agya mengangguk tanpa menatap Della, pandangannya masih tertuju pada Jio yang tersenyum kikuk ke arahnya.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Jio meraih tangan Della ke dalam genggamannya.


"Iyaa."


"Baiklah." Della kembali berpamitan pada Agya begitu juga dengan Jio, sebelum kemudian mereka berlalu pergi dari sana.


"Butterfly tattoo?" Agya membelalak, kedua bola matanya melebar tatkala melihat ukiran tato kupu-kupu di belakang leher Jio.


"A-apa itu tatto yang sama yang kulihat di tubuh pria yang berada di video itu?"



.


.


.


.


Bersambung...


Udahh banyak yg di hapus tpi kenapa masih di tolak. Huhuh sedih :)