Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Handsome husband



"Tidak! Pria yang ada di video itu pasti bukan kak Jio. Tidak mungkin hanya kak Jio yang memiliki tatto seperti itu." Agya mencoba mengusir pikiran buruknya. Ia kembali melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam kampus namun ponselnya tiba-tiba berdering hingga mengurungkan niatnya.


"My handsome husband?" Dahi Agya berkerut dalam, matanya menyipit memerhatikan nama kontak yang tertera di layar ponselnya tersebut. Ia tak pernah menulis nama kontak itu sebelumnya, lalu siapa? Oh apakah ini ulah Dev?


"Ha? Apa ini nomor ponsel Dev?" seketika Agya langsung merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, buru-buru ia menjawab panggilan video dari suaminya itu.


Kini wajah tampan Dev memenuhi layar ponsel Agya. Namun, di balik wajah tampan itu terselip raut wajah masam yang sangat tidak enak dipandang.


"Kau sudah sampai di kantor?" tanya Agya mengusir kecanggungan yang ada. Untuk pertama kalinya mereka bertukar suara seperti ini melalui ponsel.


"Hm."


"Syukurlah. Tumben sekali kau menghubungiku. Ada apa? Apa kau melupakan sesuatu?"


"Hm."


Jawaban macam apa ini. Kenapa Dev menjadi aneh seperti ini? Menjawab beberapa pertanyaan dengan dua kata. Sangat tidak masuk akal!


Agya menghela napas singkat, lalu ia mengulaskan senyuman terbaiknya. "Sayang, kau kenapa? Apa ada yang menganggu pekerjaanmu?"


"Hm."


Oh god, rasanya Agya ingin mengakhiri panggilan video itu namun tak ia lakukan.


"Sayang, aku ingin menghilang dari bumi jika kau bersikap seperti ini." cicit Agya frustasi.


"Aku merindukanmu."


"Merindukanku?"


Dev mengangguk, bibirnya mengerucut kini. Sedari tadi ia terlihat uring-uringan, tak ada satupun pekerjaan yang selesai, ia ingin pulang dan memeluk Agya sepanjang hari.


"Aku merindukanmu, bisakah kau datang ke kantorku setelah selesai dengan urusan kampusmu."


"Dev jangan bertindak diluar akal sehatmu, aku tidak mungkin ke Wilantara Group. Bagaimana jika semua karyawanmu melihat dan mencurigaiku? Apa kau tak takut pernikahan kontrak kita terbongkar?"


"Tidak ada pernikahan kontrak!! Biarkan saja mereka tahu, aku tak perduli pada mereka. Aku membutuhkanmu sekarang. 10 menit lagi sekertaris Kim akan datang menjemputmu."


Jleb,


"De-Dev. Aku tak bisa ke kantormu sekarang, aku belum menemui dosen pembimbingku, tolong mengertilah. Lagian kita akan bertemu di rumah nanti sore."


"Kau mau membunuhku?"


"Ha?"


"Aku merindukanmu sekarang, kenapa kau baru akan menemuiku nanti sore? Kau benar-benar ingin melihatku mati."


"Ya tuhaan, ada apa dengan Dev? Kenapa dia menjelma menjadi pria aneh." batin Agya.


"Aku memberimu dua pilihan, kau tinggal memilih salah satunya. Kau ingin sekertaris Kim yang datang menjemputmu? Atau aku yang langsung datang ke situ dan mangatakan pada semua orang jika kau istriku hm?" Dev menarik salah satu sudut bibirnya saat melihat wajah panik Agya kini.


"Eh, ja-jangan. Biar sekertaris Kim saja yang datang menjemputku. Tapi beri aku 30 menit untuk menyelesaikan urusanku, setelah itu aku akan ke kantormu, aku janji."


"Ya sudah." cetus Dev menekuk wajahnya.


"Ya sudah apa?"


Tutt... tut...tut..


"Ah Dev sialan. Dia mematikan panggilannya?" Agya mendengus, ia segera meletakan kembali ponselnya ke dalam tas selempangnya, buru-buru ia masuk ke dalam kampus tepatnya ke jalan yang mengarah ke gedung jurusannya untuk menemui dosen pembimbingnya. Menyelesaikan semua urusannya sebelum sekertaris Kim datang menjemputnya.


"Hai Yura, apa kau melihat Mrs. Belinda?" sapa Agya pada teman kelasnya yang juga satu bimbingan dengannya.


"Mrs. Belinda? Oh kata staf jurusan, Mrs. Belinda akan datang pukul 11 nanti."


"Ah benarkah." Agya melirik singkat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Ia semakin frustasi kini, urusannya tak akan selesai dalam 30 menit.


Sayang. Bisakah kau menunggu lebih lama lagi? Dosen pembimbingku akan datang di jam 11 nanti.


Aku akan segera ke Wilantara Group jika urusanku sudah selesai, I'm promise.


"Agya, apa kau akan menunggu Mrs. Belinda di sini?"


"Eh, i-iyaa." jawab Agya gelagapan seraya mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


"Baiklah. Aku permisi ke kantin dulu ya."


Agya mengangguk, menggeser tubuhnya untuk memberi jalan pada Yura sebelum kemudian ia mendaratkan tubuhnya di kursi tunggu yang ada di depan jurusannya tersebut.


Tak berselang lama, kegaduhan terjadi di kampus, teriakan para wanita terdengar melengking di pendengaran Agya, tak hanya itu, beberapa dosen muda wanita yang tadinya berada di ruang jurusan tiba-tiba berhamburan keluar. Lari dengan tergopoh-gopoh menuju parkiran.


"Eh, ada apa ini?" karena keterkejutannya, Agya langsung beranjak dari duduknya, "Kenapa orang-orang berlarian ke arah parkiran? Apa ada yang terdeteksi menjadi zombie di kampus ini?" gumamnya menggeleng-geleng kepalanya, sangat tidak masuk akal jika ada zombie di sana. Tapi apa yang membuat wanita-wanita itu berteriak keras seperti itu hingga membuat kegaduhan?


"Nak Agya, apa kau tak ikut pergi ke parkiran?"


"Ke parkiran? Memangnya ada apa di sana pak?" tanya Agya menatap Mr. Aberto yang baru saja keluar dari ruangan jurusan.


"Ada Mr. Dev."


"Hanya karena Mr. Dev, wanita-wanita itu berteriak dan berlarian seperti itu? Mereka seperti kerasukan jin saja." cerocos Agya menggeleng-geleng kepalanya heran, sebelum kemudian ia menoleh kembali pada Mr. Aberto dengan mata yang membola sempurnah, bahkan hampir lepas dari tempatnya.


"A-ada Mr. Dev di sini?" tanyanya mendelik kaget.


"Iyaa. Mr. Dev baru saja menghubungi pihak jurusan, dia ingin bertemu dengan Mrs. Belinda. Itu sebabnya dia ke sini."


"Apaaa?" Agya terperangah, jantungnya hampir saja meledak. "Bapak tidak sedang bercanda kan?"


"Selamat pagi, Mr. Dev." sapa Mr. Aberto tatkala melihat Dev yang sudah berdiri 2 meter di belakang Agya.


"Selamat pagi Mr. Aberto." Lagi-lagi Agya dibuat tertegun, ia menelan salivanya saat mendengar suara pria yang sudah sangat familiar di telinganya, ia bahkan tak berani menoleh, suara serak basah itu sudah cukup membuktikan bahwa Mr. Aberto tidak sedang bercanda, Dev benar-benar ada di sana.


"Apa Mrs. Belinda sudah datang?"


"Sudah tuan, silahkan masuk." ujar Mr. Aberto mempersilahkan seraya membuka lebar pintu jurusan.


"Ha? Bukankah Mrs. Belinda belum ke sini? Ah wanita tua itu masih saja lari dari mahasiswanya." dengus Agya dalam hati, sebelum kemudian ia memutar tubuhnya.


"Hai say----." Agya yang hendak menyapa Dev jadi terurungkan tatkala suaminya itu langsung melangkah masuk ke dalam ruang jurusan dengan raut wajah datarnya. Jangankan tersenyum, menatap Agya saja tidak.


Pun sekertaris Kim yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, keringat tampak bercucuran di wajahnya akibat melerai wanita-wanita yang menyerbuh Dev di parkiran tadi. Ah sungguh sangat melelahkan.


"Sekertaris Kim, kenapa kau membawa Mr. Dev ke sini? Kenapa dia mau menemui Mrs. Belinda?!"


"Saya juga tidak tahu nona. Mr. Dev yang tiba-tiba ingin ke sini."


"Lalu kenapa kau menurutinya? Bagaimana jika orang-orang tahu tentang hubungan kami? Bahkan dosen---."


"Mereka sudah tahu." jawab sekertaris Kim.


"Ha?"


"Scorsing nona Agya diperpendek menjadi satu minggu karena campur tangan Mr. Dev. Nona juga tak perlu membayar sanksi karena Mr. Dev telah melunasinya. Mr. Dev bahkan sudah mengakui nona Agya sebagai istrnya di hadapan staf jurusan dan para dosen nona Agya seminggu yang lalu."


"Apa? Ah rasanya aku ingin menghilang sekarang. Lalu kenapa dia ke sini lagi? Apa tujuannya menemui Mrs. Belinda?" Agya semakin frustasi kini, ia menepuk-nepuk jidatnya. Tak tahu harus bertindak seperti apa, semuanya terjadi begitu mendadak.


"Tenanglah nona, mungkin Mr. Dev hanya akan memberi sedikit pelajaran untuk Mrs. Belinda."


"Sekertaris Kim!! Jangan bercanda. Memangnya apa yang dilakukan Mrs. Belinda hingga Dev sampai melakukan semua ini?"


"Entahlah." jawab sekertaris Kim acuh tak acuh.


.


.


.


.


Bersambung....