
Sekertaris Kim membungkukan badannya singkat, menyambut tuan mudanya yang baru saja memasuki ruang tamu apartemen. Pria itu tampak memasang raut wajah dinginnya seperti biasanya.
"Selamat pagi tuan Dev." sapa sekertaris Kim menatap Dev singkat, lalu beralih menatap Agya yang berdiri di belakang Dev dengan kepala yang tertunduk dalam.
"Kita berangkat sekarang."
"Baik tuan." Sekertaris Kim mengangguk, membungkukan lagi kepalanya singkat lalu berjalan mendahului Dev untuk membukakan pintu tuannya tersebut.
"Kenapa kau masih di situ? Kau tidak mengantar suamimu ke depan?" Dev menoleh ke arah Agya, menatap istrinya yang tengah diam mematung di tempatnya.
"Agya!" cetus Dev kesal, mengeraskan suaranya hingga membuat Agya terlonjat kaget.
"Eh, a-ada apa tuan?"
"Apa kau tidak mendengarkan apa yang aku katakan barusan?!" Agya menggeleng polos, ia tidak mendengar apapun karena sibuk dengan lamunannya tadi.
"Mendekatlah!" pintanya mengacungkan jarinya. Menatap Agya dengan sorot mata tajamnya.
Agya mengangguk, buru-buru ia melangkah mendekat ke arah suaminya tersebut. Benar-benar takut dengan sorot mata Dev.
"Katakan jika kau akan merindukanku nanti."
"Ha?" Agya tertegun bersamaan dengan kedua bola mata yang langsung melebar, "Merindukannya? Kenapa dia menyuruhku untuk merindukannya, aneh sekali."
"Cepat katakan." cetus Dev, menangkup leher Agya dengan kedua tangannya, hingga membuat bulu kuduknya merinding. Ah, demi apapun Agya kembali teringat kejadian semalam.
"Cepat katakan."
"Ehm, i-iyaa. A-aku akan merindukan tuan nanti." ucap Agya langsung menundukan kepalanya, sorot mata tajam Dev bak macan benar-benar membuatnya ketakutan.
"Katakan sekali lagi." Salah satu sudut bibir Dev terangkat ke atas, membentuk senyuman yang nyaris tak terlihat.
"A-aku akan merindukan tuan."
"Apa kau sudah mulai tertarik padaku sekarang? Kau benar-benar akan merindukanku kan." Bisik Dev lembut tepat pada salah satu telinga Agya.
"Ehm, i-iyaa." Agya mengiyakan, mencari jalan aman akan lebih baik dari pada semakin ditindas oleh pria aneh yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Sudah ku duga. Kau pasti akan tertarik padaku." Berbicara dengan penuh percaya diri, seraya tersenyum tipis.
"Antar aku ke depan sekarang."
"Ba-baik tuan." ucap Agya sebelum kemudian ia mengikuti langkah kaki Dev yang berjalan mendahuluinya.
Sekertaris Kim menggeleng-gelengkan kepalanya setelah mendengar percakapan tuan mudanya dengan Agya barusan. Selama 12 tahun ia mengenal Dev, baru kali ini tuan mudanya memaksa wanita untuk mencintainya, biasanya tanpa dimintapun Dev akan selalu dicintai oleh para wanita, tapi kenapa Agya berbeda?
"Aku hanya akan berada di Jepang selama 3 hari, jadi kau tidak perlu merindukanku." ujar Dev sesaat setelah dirinya duduk di dalam mobil.
"Siapa yang akan merindukanmu? Aku malah senang kau pergi." Rasanya, Agya ingin melontarkan kalimat itu, namun tidak ia lakukan karena nyalinya hanya sebesar butiran debu.
"Jangan membawa masuk pria lain di apartemenmu, apalagi Darrel. Seharusnya kau bersyukur sekarang karena telah memiliki suami setampan dan sekaya diriku. Tapi kenapa kau masih dekat dengan pria tidak tahu diri itu." celektuk Dev, terlihat kekesalan memenuhi wajahnya.
"Tuhan, kenapa kau menciptakan manusia sepercaya diri pria ini?" gumam Agya dalam hati. Ya, sepertinya ia hanya akan bisa mencerca Mr.Dev dalam dari dalam hati saja.
"Apa kau mendengarku?"
"I-iyaa tuan. Saya mendengarnya dan begitu sangat paham. Terima kasih atas kritik dan sarannya." ucap Agya mulai merasa jenuh.
"Bagus, jangan lupa untuk mempelajari buku peraturan dan semua tentangku. Kau masih memasukan bawang putih pada soup rumput laut yang kau masak tadi pagi."
"Ha? Astaga, aku lupa jika dia tidak suka dengan bawang putih. Pantas saja dia hanya memakan sesendok soup tadi."
"Ma-maaf tuan. Saya akan mempelajarinya lagi nanti." ucap Agya membungkukan badannya singkat seraya tersenyum. Senyum yang terkesan dipaksa.
"Sudah, masuklah ke dalam apartemenmu. Melihat wajahmu membuat mataku sakit."
"Ha? Eh, i-iyaa. Aku akan masuk sekarang, hati-hati di jalan tuan. Safe flight." Kembali membungkukan badannya cukup lama sampai mobil yang ditumpangi oleh suaminya itu berlalu dari sana.
"Aaagh, pria aneh, dingin, tidak bertanggung jawab dan tidak berperasaan. Sungguh aku sangat membencinyaa." Agya mencercah dengan sedikut berteriak, hingga dirinya menjadi pusat perhatian beberapa tetangga apartemennya.
*
"Sekertaris Kim, bagaimana dengan penampilanku sekarang? Apa aku sudah terlihat sangat tampan dan rapi?" tanya Dev menatap punggung belakang sekertaris Kim yang tengah duduk di kursi kemudi.
"Sudah tuan." Sekertaris Kim mengangguk seraya menatap singkat ke arah kaca spion yang menampakan wajah tuan mudanya.
Semenjak bertemu dengan Agya, Dev mulai tidak percaya diri lagi dengan penampilan dan ketampanan yang dimilikinya. Merasa jika ketampannya belum bisa memikat semua hati wanita, buktinya Agya sama sekali tidak tertarik dengannya, "Huh, wanita itu benar-benar aneh. Bagaimana bisa dia merasa biasa saja setelah melihat ketampananku?!" gumam Dev merapikan jasnya.
"Sekertaris Kim, kenpa Agya belum tertarik juga padaku sampai sekarang?!"
Pertanyaan yang diajukan Dev langsung membuat sekertaris Kim menurunkan laju mobil yang dikemudinya. Jika ia salah menjawab, pasti dirinya akan diamuk oleh Dev, "Ehm, mungkin karena nona Agya masih menutup hatinya tuan."
"Lalu apa yang harus aku lakukan agar dia membuka hatinya untukku?"
"Tuan, apa tuan Dev tidak salah bertanya padaku? Aku sama sekali tidak tahu perihal hati wanita. Selain karena aku bukan wanita, aku juga tidak pernah berurusan dengan hati mereka."
"Maaf tuan, saya tidak tahu perihal itu." jawab sekertaris Kim, kembali fokus akan kemudinya.
"Ya sudah, mulai sekarang kau harus cari tahu tentang hati wanita. Hal-hal apa saja yang membuat mereka tertarik pada pria, apa yang mereka sukai dan apa yang membuat hati mereka bahagia." pinta Dev.
"Sudah ku duga jika Tuan Dev menyuruhku untuk melakukan hal aneh itu. Ah, berurusan dengan wanita benar-benar sangat melelahkan."
"Sekertaris Kim, apa kau mendengarku?!"
"I-iyaa tuan. Saya akan mencari tahu nanti."
"Bagus. Aku akan membuat Agya jatuh cinta kepadaku dalam satu minggu ini." gumam Dev, terlihat senyuman tipis mengembang dari kedua sudut bibirnya.
"Oh iya sekertaris Kim, bagaimana aku bisa berada di apartemen Agya? Bukankah semalam kita berada di bar?"
"Tuan Dev yang memintaku untuk membawa tuan ke apartemen nona Agya."
"Benarkah? Kenapa aku tidak mengingatnya." ujar Dev tampak memutar otaknya, mencoba mengingat-ingat kembali kejadian terakhir di bar.
"Iyaa tuan. Tuan sendiri yang meminta untuk pulang di apartemen nona Agya karena di rumah tuan ada nona Alenaa."
"Ah, iyaa aku mengingatnya. Untung saja kau benar mengantarku di apartemen Agya. Aku tidak bisa membayangkan jika yang kulakukan semalam bukan berasama Agya melainkan Alenaa. Aku pasti akan menyesal seumur hidup."
"Memangnya apa yang tuan Dev lakukan?" tanya sekertaris Kim, melirik ke arah kaca spion yang menampakan wajah terkejut Dev karena baru saja keceplosan.
"Ehm, tidak ada. Sudah jangan membahasnya lagi." pintanya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Tuan Dev tidak memperkos* nona Agya kan." tanya sekertaris Kim penuh selidik setelah melihat perubahan wajah tuan mudanya.
"Mana mungkin. Aku tidak sebejad itu." seru Dev menendang kursi kemudi yang diduduki oleh sekertaris Kim.
"Ehm, ma-maaf tuan."
"Iyaa, aku tidak memperkos*nya, aku juga tidak memaksanya. Tapi dia sendiri yang mau." gumam Dev dalam hati, secarik senyuman penuh kebahagiaan tampak terbit dari kedua sudut bibirnya.
Melihat bekas kuku Agya pada punggungnya saat mandi tadi, membuat Dev menarik kesimpulan jika mimpi liarnya semalam bukan mimpi melainkan kejadian nyata yang benar-benar ia lakukan bersama Agya. Tapi ia harus berpura-pura untuk tidak mengingat apapun agar Agya tidak menjauhinya seperti yang dilakukan wanita itu di meja makan tadi.
.
.
.
.
Bersambung...