
Aktivitas kampus mulai terlihat renggang, beberapa kelas sudah tertutup, begitu juga dengan lampu-lampu kampus yang mulai menyala. Sinar biasan senjaa pun tak luput menyinari Seol xx University tersebut.
"Kenapa Mr. Park belum juga datang? Ini sudah hampir pukul 6 sore." gumam Gya, menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sudahlah Gyaa, Mr. Park tak akan datang. Kita sudah berada di sini selama 4 jam. Membuang-buang waktu saja."
"Tidak, tunggulah sebentar lagi. Mr. Park, dosen yang sangat menghargai waktu dia juga tidak mungkin lupa dengan janjinya. Dia pasti akan datang dan menyetujui proposalmu. Aku yakin."
"Hah." Della menghela napas, ia sudah lelah, pinggangnya terasa sakit karena duduk di ruang tunggu itu berjam-jam.
Sebenarnya Agya juga merasakan hal yang sama, namun ia tetap gigih, ia ingin melihat kebahagiaan Della karena mungkin hari ini Mr. Park akan menyetujui proposal sahabatnya itu.
"Mr. Dev tak menelponmu lagi?"
Agya menggeleng lesu, "Tidak, terakhir pagi tadi, setelah itu dia tak menghubungiku sama sekali."
"Kenapa bukan kau saja yang menghubunginya?"
"Aku tak ingin menganggu pekerjaannya. Mungkin dia sedang sibuk sekarang."
"Mr. Park." ucap Agya girang saat melihat Mr. Park yang berjalan ke arah mereka, ia segera beranjak dari duduknya begitu juga dengan Della.
"Kalian masih menunggu? Maaf, bapak memiliki beberapa urusan tadi di Gwacheon."
"Tidak apa-apa pak."
"Mari silahkan ikut ke ruangan saya." ucap Mr. Park melangkah masuk ke dalam jurusan, diikuti oleh Della namun tidak dengan Agya karena wanita itu baru saja mendapat panggilan masuk dari suaminya.
Sungguh, kegirangan Agya langsung berubah berkali-kali lipat, ia menunggu panggilan telpon itu. Ia merindukan Dev.
"Kau di mana?!"
"A-aku masih di kampus. Sebentar lagi aku akan pulang."
"Pulang sekarang! Sekertaris Kim sudah menunggumu di parkiran."
"Ha? Eh, iyaa tunggulah sebentar. Aku masih menunggu Della."
"Kau tak menurutiku?! Kau mau ku hukum lagi? Sepertinya kau sudah kecanduan dengan hukumanku."
"Ti-tidak, tidak begitu Dev."
"4 ronde."
"Dev aku--."
"8 ronde."
"Iyaa, aku akan pulang sekarang!" gerutu Agya.
"Membantah saja lagi, aku selalu siap memberimu hukuman everytime." ucap Dev dari balik telpon, pria itu tampak menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya seraya tersenyum geli. Ia membayangkan wajah tertekuk Agya, dan ah bibir ranum itu. Jika saja Agya berada di hadapannya, bibir wanita itu pasti sudah akan diluma*nya habis-habisan.
"Bagaimana denganmu? Apa kau masih di kantor?"
"Hm."
"Kau tak pulang?"
"Hm."
"Dev! Bisakah kau menjawabku dengan benar?"
"Aku tak sabar bertemu denganmu. Aku merindukanmu."
"Merindukanku? pembohong. Tadi pagi kau mengabaikanku."
"Aku mengabaikanmu? Mana mungkin, kau pasti salah lihat."
"Oh tuhaan, ada apa dengan suamiku? Apa dia menjadi seorang pelupa sekarang?" batin Agya, ia terlihat frustasi kini.
"Yaa, kau mengabaikanku saat di ruang jurusan."
"Oh benarkah? Aku pasti sudah tidak waras karena mengabaikan istriku. Tapi kau pantas menerimanya karena kau mengabaikan panggilanku."
"Jadi kau balas dendam? Kekanak-kanakan sekali." celetuk Agya.
"Sudah. Pergilah ke parkiran, sekertaris Kim sudah menunggumu di sana."
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Kenapa kau masih berada di kantor? Apa pekerjaanmu masih begitu banyak?"
"Iyaa, masih sangat banyak. Aku tak yakin bisa menyelesaikannya segera. Mungkin aku akan lembur."
"Jadi kau tak pulang ke rumah?"
"Yaa, aku rasa begitu." ucap Dev, suaranya terdengar begitu lesuh.
"Kau mau aku menemanimu bekerja di kantormu?"
"Tak perlu, itu ide yang sangat buruk. Aku tak mau di ganggu olehmu."
"Hah, menyebalkan. Ya sudah, aku juga tak ingin menemanimu apalagi bertemu denganmu." gerutu Agya kesal, lalu memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
"Gyaa, ada apa? Kenapa kau cemberut seperti ini? Siapa yang bertukar suara denganmu barusan?" tanya Della menghampiri Agya.
"Dev."
"Oh, apa dia menyuruhmu pulang?"
"Iyaaa. Ah aku hampir lupa, bagaimana dengan proposalmu? Apa Mr. Park menyetujuinya?" tanyanya.
Della memgangguk, lalu ia menunjukan proposalnya yang sudah diberi tanda tangan oleh Mr. Park.
"Aaa congratulation." ucap Agya memeluk tubuh Della erat. "Aku sangat bahagia Della, sungguh. Waktu kita tak terbuang sia-siaa."
"Aku juga sangat bahagiaa. Terima kasih Agya, kau sahabat yang baik."
"Aku memang sangat baik, hahaha. Eh apa kita harus merayakan ini?"
"Tidak, itu ide yang buruk. Kau bukan lagi Agya yang dulu, kau sudah memiliki suami sekarang. Kau tidak pantas lagi berkeliaran dengan wanita yang belum menikah sepertiku."
"Hari ini saja. Aku akan meminta izin pada Dev."
"Oh astaga, aku lupa. Aku sudah memiliki janji dengan kak Jio dan keluarganya untuk makan malam bersama."
"Yaahhh kalau begitu lain kali saja."
Della mengangguk, "Ayo kita pulang sekarang. Apa Dev sudah menunggumu di parkiran?"
"Tidak, bukan Dev. Tapi sekertaris Kim, dia yang datang menjemputku."
"Sekertaris Kim?" Langkah kaki Della terhenti, mendengar Agya menyebut nama pria itu membuatnya tak ingin pergi ke parkiran, ia tak ingin bertemu dengan pria itu. Pria aneh yang selalu menerornya dan mengatakan jika Jio bukanlah pria yang baik. Dan videonya yang di kirim pria itu 2 hari yang lalu, ia tak pernah berniat untuk melihatnya.
"Della ayok." Agya menarik tangan Della menuju parkiran.
"Selamat sore nona Agya." sapa sekertaris Kim membungkukan badannya singkat, sebelum kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Della. Sejenak pandangan keduanya bertemu, namun Della segera memutusnya dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Sekertaris Kim, Della akan ikut bersama kita. Kita akan mengantarnya dulu ke rumahnya. Apa kau tidak keberatan?"
"Eh, tidak usah Gyaa. Aku akan pulang naik taksi saja."
"Tidak. Kau akan kami antar pulang."
"Gyaa, tidak perlu. Jio akan datang menjemputku."
"Silahkan masuk, nona Agya." ucap sekertaris Kim sesaat setelah ia membukakan pintu untuk nyonya mudanya itu. Wajah pria itu terlihat sangat dingin, apalagi ketika Della menyebut nama Jio di hadapannya. Sungguh, ia tak tahu harus dengan cara apalagi ia memberitahu Della jika Jio adalah seorang pria brengsek yang tak pantas menerima cinta dari wanita manapun apalagi dari Della.
"Tunggu sebentar. Della kau yakin kak Jio akan datang menjemputmu?"
"I-iya, aku sudah menghubunginya tadi." Della berusaha tersenyum untuk menutupi kebohongannya.
"Ahh, baiklah. Aku deluan ya, berhati-hatilah."
"Iyaa, sampai jumpa."
Setelah memastikan Agya masuk ke dalam mobil, sekertaris Kim langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, namun sebelum itu ia melemparkan tatapan tak terbaca pada Della.
"Aku tidak mengerti kenapa tuan Kim selalu mengatakan Jio pria brengsek dan tidak baik untukku? Apa aku harus menonton video yang dia kirim? Sebenarnya aku penasaran dengan isi video itu."
.
.
.
Bersambung ...