Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Tidak mengingat apapun



Keesokan paginya, dering panggilan masuk yang bersumber dari salah satu ponsel yang tergeletak di atas nakas memecah keheningan pagi itu, mengganggu tidur seorang pria yang masih berjibaku di bawah selimut.


"Menganggu sekali." Pria itu berucap dengan suara serak khas bangun tidur, merabah-rabah nakas mencari keberadaan ponselnya dengan mata yang masih tertutup rapat. Merasa begitu enggan untuk menjawab panggilan telepon yang entah dari siapa.


"Honeyy, kau di mana? Kau tidak pulang ke rumah semalaman. Kau juga meninggalkanku saat pesta pertunangan kita sedang berlangsung." gerutu Alena manja.


"Kau menelponku hanya untuk mengatakan hal itu? Sungguh sangat tidak penting sekali." seru Dev menutup panggilan teleponnya. Hendak melanjutkan tidurnya kembali, namun mata pria itu langsung membelalak, ia tersadar jika kamar yang saat ini ditempatinya bukanlah kamarnya.


Kedua kening Dev berkerut dalam, ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, merasa asing dengan furnitur kamar tersebut.


"Kamar Agya?" Sontak Dev langsung beranjak duduk, menatap bingkai foto yang tergeletak di atas nakas dengan kedua bola mata yang melebar.


"Bukankah semalam aku berada di bar? Kenapa aku bisa berada di sini?" gumamnya memegangi kepalanya yang terasa berat dan berkunang-kunang, mencoba memutar ingatannya kembali, namun tidak ada satupun kejadian yang ia ingat sama sekali, satu-satunya yang ia ingat hanyalah dirinya yang sedang minum di bar bersama sekertaris Kim.


Lagi Dev tertegun, matanya membola sempurna bahkan hampir lepas dari tempatnya tatkala melihat tubuhnya yang tidak tertutupi sehelai benangpun. "Sial apa yang sudah terjadi semalam?" Buru-buru ia beranjak turun dari atas tempat tidur, meraih handuk yang tergeletak di atas lantai lalu memakainya. Sebelum kemudian ia berlari keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Agya.


Langkah kaki Dev terhenti, pria itu mengatur napasnya yang saling menderuh, menatap Agya yang baru saja masuk ke dalam apartement. "Kau dari mana?" tanyanya menatap singkat ke arah kantung kresek yang di pegang oleh istrinya itu.


"Ehm, a-aku dari minimarket." Agya menjawab dengan kepala yang tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah padam sekaligus mengalihkan pandangannya dari wajah dan tubuh Dev yang mengingatkannya akan kejadian semalam. Ah sentuhan lembut itu, rasanya Agya dibuat gila karenanya.


Dev bergeming, sorot matanya masih menatap lekat wajah Agya, tatapannya terlihat menelisik dan penuh selidik. Mecoba mencari tahu apa yang terjadi semalam dengan membaca pikiran wanita itu.


"Sepertinya tidak terjadi apa-apa semalam. Huh, syukurlah." gumamnya menyimpulkan.


"Apa yang kau beli?" tanyanya, kini pandangannya mengarah ke arah kantung kresek yang berada di tangan kanan Agya.


"Eh, ti-tidak ada." Agya menjawab dengan terbata-bata, segera menyembunyikan kantung belanjaannya di belakangnya. Berharap Dev tidak melihat apapun.


"Segera siapkan sarapan untukku."


"Baik tuan." jawabnya menganggukan kepalanya pelan, masih menundukan kepalanya seolah begitu enggan menatap wajah suaminya.


"Apa sekertaris Kim sudah datang kemari?"


"Belum tuan." Lagi Agya menjawab tanpa menatap wajah Dev, hingga membuat pria itu mulai merasa kesal.


"Kau sedang berbicara denganku bukan dengan lantai! Kenapa kau menundukan kepalamu seperti itu saat menjawabku?!" ketusnya.


"A-aku--."


"Tidak sopan sekali." sungut Dev memutar tubuhnya seraya melangkah kakinya menuju kamar, meninggalkan Agya yang berdiri mematung di dekat pintu.


"Bagaimana bisa dia bersikap biasa saja seperti itu setelah kejadian semalam?"


"Ah. Rasanya aku ingin pindah planet saja." Agya bergumam menutup pintu apartementnya sebelum kemudian ia ikut meninggalkan ruang tamu tersebut menuju dapur.


***


1 jam berlalu, terlihat Agya yang tengah sibuk menata makanan di atas meja makan. Memindahkan sup rumput laut ke dalam mangkok dan meletakannya di atas meja, ah sungguh sangat melelahkan sekali, untuk kali pertamanya ia memasak makan dengan jumlah banyak seperti ini.


"Apa dia belum selesai mandi juga?" Mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamarnya yang tertutup rapat. "Ah, apa aku harus masuk ke dalam kamar untuk memanggilnya? Tapi aku masih sangat malu bertemu dengannya." Sekelebat kejadian liar semalam kembali menenuhi ingatan Agya hingga membuat wajahnya kembali memerah padam.


"Ah, sungguh memalukan." decaknya, melepas apron yang membungkus sebagian tubuhnya lalu meletakannya ke tempatnya semula.


"Kenapa lama sekali?" Agya terlonjat, segera menolehkan kepalanya saat suara berat milik Dev melengking di gendang telinganya.


"Kenapa dia hanya memakai handuk?" Kepala Agya langsung tertunduk, bersamaan dengan matanya yang terpejam singkat, sungguh ia tidak sanggup melihat dada bidang nan kekar milik Dev yang semalam ia sentuh habis-habisan.


Melihat sikap Agya yang begitu aneh, membuat Dev menyernyitkan dahinya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Gadis aneh." gumamnnya menarik kursi lalu mendaratkan tubuhnya di sana.


"Ambilkan makanan untukku."


"Ba-baik tuan." Agya mengangguk, meraih piring milik Dev lalu meyendokan makanan. Tak lupa ia menyodorkan sup rumput laut kepada suaminya itu.


"Kau makanlah juga."


"Ehm, tidak, nanti saja aku makan." ucapya menjauhkan tubuhnya.


Dev meraih makanannya lalu menyantapnya dengan penuh kebingungan. "Apa yang sudah terjadi semalam hingga dia terlihat sangat aneh seperti ini? Bahkan dia tidak menatap wajahku sedikitpun dari tadi." batinnya. Sorot matanya menatap Agya yang tengah berdiri di hadapannya dengan kepala yang tertunduk. Sungguh melihat hal itu membuat Dev kehilangan selera makanannya.


Dev meletakan sendoknya dengan kasar ke atas meja seraya bangun dari duduknya. Terlihat sangat kesal dengan sikap yang ditunjukan Agya padanya.


"Tu-tuan tidak jadi makan?"


"Aku sudah kenyang." ketus Dev hendak berlalu pergi dari sana namun terurungkan. "Lupakan apapun yang telah terjadi semalam!" imbuhnya menatap Agya dingin.


Gleg!


Agya tertegun, ia langsung mengangkat kepalanya, menatap wajah Dev dengan tatapan tidak percaya.


"Lupakan? Semudah itu?"


"Aku sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi semalam. Jadi lupakan saja jika aku melakukan sesuatu yang menganggumu." ujarnya berlalu pergi dari sana.


"Dia tidak mengingat apapun setelah memaksaku melakukan perbuatan liar itu semalam?" Memandang punggung belakang Dev yang bergerak menjauh. "Bahkan masih terlihat sangat jelas bekas cakaran kukuku di punggungnya. Bagaimana bisa dia tidak mengingat apapun?"


"Ah, harusnya aku tidak sebodoh ini!" Agya memukul kepalanya, mencengkram kuat rambutnya, "Dia dalam pengaruh alkohol semalam, tentu saja dia tidak mengingat apapun." Tiba-tiba ia merasakan dadanya yang begitu sesak. Ingin menangisi kebodohannya.


"Ahhh, siall." decaknya menjatuhkan tubuhnya di atas lantai. "Pantas saja dia merasa biasa saja, ternyata dia tidak mengingat apapun? Sedangkan aku? Jantungku terasa berdebar tak karuan jika dekat dengannya. Wajahku yang tanpa tahu malu memerah dengan sendirinya setiap kali aku menatap wajahnya."


"Ahhh. Kenapa aku sebodoh ini?!" Agya terus mengutuki kebodohannya, harusnya ia tidak berharap banyak setelah kejadian semalam. Pernikahanya dengan Dev hanya sebatas nikah kontrak. Ya, nikah kontrak sampai pria itu merasa puas dan cukup atas kinerja yang diberikan Agya untuknya dan memutuskan untuk berpisah.


"Ahh, semalam dia meminta izin dulu padaku untuk berbuat hal sejauh itu. Dan dengan begitu bodohnya aku mengizinkannya?!" Agya kembali mengacak-ngacak rambutnya. Rasanya ia ingin menangis meraung-raung.


**


"Kenapa kau masih berdiri di situ? Apa kau tidak mendengar apa yang barusan aku katakan?!" Dev melemparkan dasinya ke arah Agya yang berdiri mematung di dekat pintu kamarnya.


"A-aku mendengarnya."


"Ya sudah segera pakaian dasiku." Agya mengangguk, sejenak ia menghela napas panjang, sebelum kemudian ia berjalan menghampiri Dev dan memasangkan dasi pria itu dengan tangan yang gemetar.


"Aku akan ke Jepang selama 3 hari." Setelah terjadi keheningan di antara keduanya, tiba-tiba Dev berbicara tanpa diminta.


"Setelah pulang dari Jepang, kau akan ikut bersamaku untuk tinggal di rumahku." ujarnya menatap Agya yang baru saja selesai membuat simpul dasinya.


"Jangan membawa masuk pria lain saat aku tidak berada di sini!" Mendekatkan wajahnya ke wajah Agya. "Apalagi Darrel." ucapnya lembut namun penuh dengan penekanan.


"Kau mengerti?!" seru Dev mencengkram kuat lengan Agya saat wanita itu tidak menjawab satupun ucapannya.


"I-iyaa, aku mengerti." Agya menjawab seraya menepis tangan Dev yang semakin menyakiti lengannya.


"Jauhi Darrel jika kau tidak ingin ibu dan kekasihnya menerormu lagi!" Dev berucap dengan rahang yang mengeras, berharap Agya menuruti perintahnya untuk menjauhi Darrel, karena pria itulah yang menjadi penyebab Agya diteror seperti ini disetiap harinya.


"Ja-jadi ibu dan kekasihnya kak Darrel yang menerorku selama ini?" gumamnya, menatap wajah Dev dengan tatapan kosong.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau tidak percaya padaku?!" Agya menggeleng, ia sangat percaya.


Sejak awal ia sudah mencurigai jika orang yang menerornya memiliki hubungan dengan Darrel karena teror itu dimulai setelah Darrel membawanya ke pesta kakaknya malam itu, ditambah lagi dengan dirinya yang bertemu dan diantar pulang oleh Darrel beberapa waktu lalu. Dan kemarin, setelah Darrel pulang dari apartementnya. Ia kembali menerima bingkisan berisi burung merpati dengan kepala yang terpenggal dan berdarah-darah.


Mengingat isi bingkisan itu membuat Agya bergidik ngeri bersamaan dengan bulu kuduknya yang merinding, namun yang tak kala ngeri adalah perbuatan pria yang berada di hadapannya ini semalam.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...