
Lamunan sekertaris Kim menguap seketika di udara tatkala mendengar teriakan yang berasal dari ruangan Della. Ya, suara itu, suara serak Della yang kembali mengaung.
"Sus ada apa?" Sekertaris Kim yang baru saja memasuki ruangan Della tampak tercengang saat melihat dua orang perawat yang berupaya mencekal kedua tangan Della.
"Aku mau matii, aku mau mati bersama anakku. Kenapa kalian menyelamatkanku. Aku ingin mati. Lepaskan aku!!" Della terus memberontak berupaya membuka inpus dan juga perban di kepalanya, lagi air matanya kembali membanjiri wajahnya. Dadanya terasa sesak saat bebera waktu lalu ia menerima kabar jika anak yang dikandungnya telah tiada.
"Kenapa? Kenapa kalian menyelamatkanku? Aku seharusnya sudah pergi bersama anakku. Lepaskan!!"
"Nona Della." Sekertaris Kim segera menghampiri Della, meraih tubuh wanita itu ke dalam dekapannya. Entahlah, nalurinya yang menuntunnya menjadi seperti ini.
"Lepaskan akuu. Aku membencimu, aku membencimu pria bodoh. Kenapa kau menyelamatkanku!!" Lagi Della kembali berteriak, ia memukul-mukul kuat dada bidang sekertaris Kim. Sedangkan Dev, pria itu hanya berdiri mematung di dekat pintu seraya menggeleng-geleng kepalanya.
"Ternyata semua wanita sama saja? Dia tak jauh brutal dengan Agya." decaknya.
"Nona Della tenanglah. Kau baru saja siuman."
"Aku tidak perduli, aku ingin mati. Aku tidak ingin hidup lagi. Aku wanita kotor, tak sepantasnya kau memelukku seperti ini." Della hendak melepaskan dekapan sekertaris Kim di tubuhnya namun pria itu malah semakin mempereratnya seakan tak ingin melepaskannya.
"Yaaa, tak seharusnya aku menyelamatkanmu. Kau wanita bodoh, payah, dan sangat lemah. Kau mau mengakhiri hidupmu hanya karena seorang pria? Kenapa? Kenapa kau berpikir sependek ini?"
"Di-diaa telah merusak hidupku. Aku--."
"Dan karena itu kau ingin mengakhiri hidupmu dan membiarkan dia hidup dengan bebas di dunia? Seharusnya kau memanggilnya ikut denganmu. Mati bersama."
Glek, Della langsung terdiam. Ia menengadahkan kepalanya menatap lekat kedua manik mata Sekertaris Kim.
"Kau masih ingin mati? Aku akan mewujudkannya sekarang."
"Hei, dia mencuri kata-kata mutiaraku." gumam Dev dalam hati, ucapan sekertarisnya tersebut kembali mengingatkannya akan Agya yang juga ingin mengakhiri hidupnya dlu. Ah istrinya itu, dia sangat menggemaskan bukan.
"A-aku---."
"Apa? Aku bisa mengambilkan pisau untukmu. Mau kulakukan sekarang?" Sekertaris Kim kembali mengajukan pertanyaannya bersamaan dengan pelukannya yang perlahan terlepas.
Della menggeleng pelan, ia tidak ingin mati sekarang. Apa yang dikatakan sekertaris Kim benar adanya jika dirinya mati, Jio akan berkeliaran bebas di sini, dan entah akan sebanyak apa wanita yang akan ia rusak. Tapi anak...
"A-aku telah membunuh anakku. Aku seorang pembunuh." Della kembali terisak, ia memegangi perutnya yang sudah tampak rata. "Tidak, anakku tidak boleh mati. Dokter itu pasti berbohong---." teriaknya.
"Della. Tenanglah." Sekertaris Kim kembali memeluk tubuh Della. Hatinya ikut terluka melihat keadaan wanita itu seperti ini.
"Lakukanlah." pintanya kemudian kepada seorang perawat yang sudah memegang suntik berisi cairan bius.
Perlahan Della merasakan tubuhnya yang melemah, sayup-sayup matanya terasa berat dan ingin tertutup. Pun Sekertaris Kim yang segera membantu merebahkan tubuh Della di atas ranjang rumah sakit itu.
"Biarkan dia beristirahat lebih lama, mencegah nona Della agar tidak mengalami depresi." ujar dokter Choi yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Dok, apa biusnya tidak berbahaya?"
"Hei, kenapa kau menjadi bodoh sekarang? Sejak kapan bius berbahaya?" gerutu Dev tidak habis pikir dengan ucapan sekertarisnya.
"Tidak tuan Kim. Beberapa jam kemudian, nona Della akan kembali siuman. Semoga setelah siuman nanti, nona Della akan merasa lebih tenang. Kehilangan seorang anak bukanlah hal yang mudah, sebagian besar ibu yang kehilanhan anak mereka akan mengalami depresi, untuk itu mereka membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya."
"Ehm. Baik dok, terima kasih."
Dokter Choi mengangguk, "Kami permisi dulu." ucapnya berlalu pergi dari sana bersama dua orang perawat lainnya.
"Kau menyukai sahabat istriku?" tanya Dev mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Tidak, mana mungkin aku menyukainya. Aku tak memiliki waktu untuk itu."
"Syukurlah, kau akan terlihat semakin bodoh jika sedang jatuh cinta." ucap Dev menarik salah satu sudut bibirnya.
"Ehm." Sekertaris Kim berdehem, ia melonggarkan dasinya. Membawa tuan Dev dengan kondisi yang seperti ini bukanlah waktu yang tepat, seharusnya ia tidak membawanya tadi.
"Pria bajingan itu benar-benar menghamili Della?"
"Seperti yang tuan lihat."
"Shittt. Rasanya aku ingin melenyapkannya." dengus Dev. "Apa hebatnya pria itu? Kenapa banyak wanita yang menyukainya? Termaksud Nyonya Belinda. Dosen pembimbing Agya."
"Dia Istri tuan Tomson, paman nona Della."
"Whatt?" Dev tercenung, ia terkejut bukan main.
"Pria keparat itu? Sungguh dia seorang bajingan. Bagaimana dia bisa meniduri banyak wanita?!"
"Itulah kehebatannya tuan. Dia sangat hebat dalam menaman benih."
"Cihhh." Rasanya Dev ingin mengeluarkan isi perutnya setelah mendengar ucapan sekertaris Kim barusan.
Drrttt. Drrttt.
"Hallo Pa, ada apa?"
"Kau di mana?"
"Aku. Ehm, aku sedang bertemu klienku."
"Segeralah ke Wilantara Hospital."
"Siapa yang sakit?"
"Alenaa. Pelipisnya baru saja dijahit karena ulahmu."
"Shitt. Wanita itu mengadu pada papa?" gumam Dev dalam hati.
"Kenapa kau diam saja? Segeralah kemari sebelum tuan Alden ke sini. Apa kau ingin terlihat semakin buruk di hadapan tuan Alden."
"Paa, apa aku harus melakukannya? Terus berpura-pura seperti ini?"
"Kau sudah menyetujuinya Dev. Jangan membuat kesalahan lagi untuk kesekian kalinya."
"Huh. Aku akan ke sana sekarang." Dev memutuskan sambungan teleponnya, hendak melepar ponselnya tersebut ke lantai, namun ponselnya kembali berdering, panggilan masuk dari Agya.
Dev yang semula terlihat kesal kini menjadi girang. Ah tumben sekali istrinya itu menelponnya, apa dia merindukannya? Tentu saja, apalagi jika bukan itu.
"Hallo sayang. Ada apa?" tanya Dev lembut, kedua sudut bibirnya tampak merekahkan senyuman.
"Ehm, Dev. Apa kau melihat remote AC kamar kita?"
"Ha? Remote AC? Tidak, aku tidak melihatnya."
"Ah benarkah? Ya sudah, Bye--."
"Eh tunggu sebentar. Kau menghubungiku hanya untuk menanyakan remote AC?"
"Iyaa."
"Shittt. Hanya remote AC yang kau tanyakan? Tidak ada yang lain?"
"Tidak ada."
"Sungguh? Kau tidak ingin mengatakan sesuatu untukku?"
"Tidak. Sudah dulu yaa, aku masih mencari remote AC. Jangan menggangguku."
Tuttt.Tuttt..
"Shittt dia mematikan ponselnya. Aku tidak akan memaafkannya. Tunggulah, aku akan menghukumnya nanti malam." gerutu Dev beranjak dari duduknya.
"Kita pergi sekarang. Papaku menyuruhku ke Wilantara Hospital, gadis gila itu mengadukan kejadian tadi pada papa."
"Baik tuan. Aku mau menemui perawat nona Della dulu."
"Pergilah." pinta Dev.
***
Agya meletakan ponselnya lalu meraih remote AC yang ada di atas nakas, ia terlihat cekikikan dengan wajah yang memerah padam.
"Remote, maafkan aku. Aku sudah menjadikanmu alasan untuk menghubungi Dev. Sebenarnya aku sangat merindukannya, aku bosan berada di rumah sendirian. Aku ingin memeluknya, tapi itu tak akan terjadi. Dia tidak bisa pulang ke rumah ini." gumam Agya menatap lekat remote AC yang ada di tangannya.
"Apa dia juga merindukanku? Kurasa tidak, dia bahkan tidak menghubungi dari tadi. Aku tidak boleh merindukannya lebih dulu, seharusnya dia yang melakukannya."
"Ah sudahlah. Aku sangat bosan sekali." Agya meletakan remote ACnya ke sembarang tempat. Lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Entahlah, sejak pagi ia merasa tubuhnya sangat lelah padahal ia tidak melakukan pekerjaan berat ditambah lagi dengan napsu makanannya yang mendadak menurun. Melihat makanan yang tersaji di atas meja makan membuatnya sangat mual, perutnya terasa diaduk-aduk.
.
.
.
.
.
Bersambung....