
Jarum jam terus berputar hingga menunjukan pukul 3.15 pagi. Terlihat Agya yang masih belum tidur, wanita itu sibuk menghitung detik demi detik putaran jarum jam, mencoba menghalau kegelisahan yang menyelimuti tubuh dan pikirannya.
Tiba-tiba dahi Agya berkerut dalam, ia memasang telinganya dengan baik mendengar suara isakan yang terdengar samar-samar. Seketika bulu kuduknya merinding, ia hendak memejamkan matanya namun suara tersebut semakin terdengar jelas yang bersumber dari atas ranjang.
"Dev?" Menolehkan kepalanya ke arah suaminya seraya beranjak bangun.
"Dia mengigau?" Agya kembali mengerutkan dahinya, membawa tubuhnya menuju ranjang.
"Tuan Dev. Apa kau sedang bermimpi buruk?!" panggilnya pelan tepat di samping ranjang pria itu, tidak berani memdekat.
"Di-Din, apa kau tidak merindukanku? Kemarilah dan peluk aku." gumam Dev, namun gumaman itu tidak terdengar dengan jelas di telinga Agya hingga memaksa wanita itu untuk mendekatkan telinganya ke mulut Dev.
"Akhppp." Agya setengah berteriak, sangat terkejut saat Dev tiba-tiba menarik dan memeluknya. "Ja-jangan tinggalkan aku lagi Din, aku sangat mencintaimu. Ku mohon jangan pergi lagi." ucapnya, memeluk erat wanita yang sangat ia cintai tersebut. Pria itu kembali memimpikan hal yang sama lagi untuk kesekian kalinya.
"Tuan De---."
"Tidak Din, jangan pergi. Ku mohon." Dev merengek, pria itu menenggelamkan wajahnya di dada Agya seiring dengan air matanya yang mengalir deras pun peluh yang bercucuran di dahinya.
Sungguh Agya langsung terdiam, matanya membola dengan sempurna, ia bingung harus berbuat apa?
"Jangan pergi lagi. Berjanjilah Din." Semakin merengek seraya mengeratkan pelukannya, benar-benar tidak ingin kehilangan lagi.
"I-iyaa. A-aku janji." Agya menjawab dengan jantung yang berdebar kencang, ragu-ragu ia mengangkat salah satu tangannya dan mengusap puncak kepala Dev, berharap dengan melakukan itu Dev bisa lebih tenang.
"Aku sangat mencintaimu." ucap Dev pelan, sebelum kemudian napas pria itu kembali terdengar teratur.
"Dia sudah tidur?" Agya menjauhkan kepalanya menatap wajah Dev yang berada di atas tubuhnya. Dan benar saja pria itu sudah kembali tertidur, namun pelukannya terasa lebih erat dari sebelumnya hingga membuat Agya tidak bisa bergerak.
"Siapa Din? Apa dia kekasih Dev? Lalu di mana wanita itu sekarang? Apa dia pergi meninggalkan Dev hingga Dev memimpikannya seperti ini?" Pikiran Agya mulai menerka-nerka, tangannya masih bergerak mengusap-usap puncak kepala Dev seraya menatap wajah pria itu.
"Dia terlihat tampan juga saat tidur, menggemaskan sekali seperti alpaca. Tapi ketika terbangun dan dalam keadaan normal dia terlihat garang seperti macan gila." Agya terkekeh akan julukan barunya untuk Dev, namun sesaat kemudian kekehannya terhenti, pun mulutnya yang langsung terkatup rapat.
Pikirannya kembali normal, pelan-pelan ia mengubah posisinya untuk tidak terlentang, hendak melepas lingkaran tangan Dev di tubuhnya namun pria itu kembali mengeratkannya, "Jangan pergi." gumam Dev kembali, semakin menenggelamkan wajahnya di dada Agya, mencari kenyamanan di sana.
Rasanya Agya ingin membangunkan pria itu namun ia tak tega. Tapi jika tetap seperti ini sampai pagi, pasti Dev akan menyalahkannya nanti dan menuduhnya macam-macam.
"Ah, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Agya kembali menatap wajah teduh Dev, wajah yang masih di penuhi keringat.
"Kepalanya sangat berat sekali, dadaku terasa ingin kempes." gumamnya, namun ia tetap membiarkan kepala Dev berada di atas dadanya. Hingga tanpa sadar ia ikut terlelap, merasa sangat mengantuk dan begitu lelah.
***
Suara kicauan burung menyambut pagi bersamaan dengan matahari yang mulai naik di atas peraduannya, menyapa dan menyinari bumi hingga melelehkan embun yang menyelimuti dedaunan.
Ketukan pada salah satu pintu kamar VVIP di Swiss Hotel, menimbulkan suara yang menganggu sepasang suami istri yang sedang terlelap.
"Eumm." Agya menggeliat, menyembunyikan wajahnya dari jangkauan sinar matahari yang masuk melalui cela-cela jendela. Mengendus aroma tubuh seseorang yang cukup asing baginya. Tidak perduli dengan itu, Agya semakin menutup matanya dan kembali melanjutkan tidurnya. Namun tidak dengan Dev, pria itu kini tengah menghunuskan tatapam tajam pada Agya. Merasa terkejut dengan kehadiran wanita itu di sisinya, apalagi tangan nakalnya yang seenak jidat melingkar di atas tubuhnya.
"Hei, apa yang sedang kau lakulan?!" Dev mengambil tangan Agya yang hampir menyentuh tubuh sensitifnya lalu menghempasnya dengan kasar hingga membuat wanita itu terbangun.
"Kenapa kau bisa tidur di atas ranjang bersamaku? Apa kau sedang mencari kesempatan untuk menggodaku? Dasar rubah malam!!" suara celetukan Dev yang begitu keras terasa menggelegar di gendang telinga Agya.
"Eh, ke-kenapa aku bisa berada di sini?" Agya ikut bertanya, wanita itu belum sepenuhnya sadar.
"A-apa yang ingin kau lakukan tuan Dev?" tubuh Agya meringsut, berusaha menjauh dari jangkaun Dev seraya menelan salivanya dengan kasar.
"Bukankah kau yang menginginkan hal ini? Jangan berpura-pura polos di hadapanku." senyum di bibir Dev semakin menyeringai lebar hingga membuat Agya ketakutan dan terus menjauhkan tubuhnya.
Bug
"Awww."
"Hahaha." Dev terbahak menatap Agya yang baru saja terjerambah di atas lantai.
"Huhuh sakit." Agya meringis seraya memeganggi pinggangnya yang terasa ingin patah. Sontak Dev langsung menghentikan tawanya, wajahnya berubah panik, "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya beranjak turun dari atas tempat tidur.
"Pinggangku sangat sakit." ucap Agya meneteskan air matanya. Wajahnya terlihat sedang menahan sakit.
Tanpa berpikir panjang, Dev langsung menggendong tubuh Agya dan memindahkannya ke atas tempat tidur.
"Sebelah mana yang sakit? Apa sakit sekali?" Agya mengangguk, wajahnya semakin dibuat sedih. Namun tidak dengan hatinya yang sedang tertawa, "Hahaha rasakan, kau pikir hanya kau yang bisa mengerjaiku tuan Dev?" batinnya, menatap wajah panik dan bersalah Dev.
"Aww sakitt." Agya kembali merengek, memegangi sumber rasa sakit pada pinggangnya.
"Tunggu sebentar, aku akan menghubungi dokter." Dev hendak berlalu dari sana namun Agya mencegahnya. "Ti-tidak perlu tuan Dev, sepertinya rasa sakitnya akan hilang setelah dipijat."
"Dipijat?" Agya mengangguk cepat, "Iyaa."
"Tapi aku tidak tahu cara memijat, tunggu sebentar aku akan menghubungi sekertaris Kim untuk mencarikanmu tukang pijat."
"Awww." Agya kembali meringis, semakin mengada-ngada rasa sakitnya, hingga mau tidak mau Dev langsung turun tangan.
"Berbaliklah, aku akan memijatmu." ucapnya. Agya mengangguk, memutar tubuhnya membelakangi Dev lalu tertawa tanpa suara.
"Hahaha, puas sekali aku mengerjainya. Aku yakin semalam dia berpura-pura sakit perut untuk mengerjaiku juga."
"Pelan-pelan, kau semakin menyakitiku." keluh Agya.
"Iyaa." Dev melembutkan pijatannya, sama sekali tidak menyadari jika Agya hanya berpura-pura sakit. Seumur hidupnya baru kali ini menjadi tukang pijat seperti ini. Ya, CEO Wilantara Group yang biasanya hanya memerintah kini diperintah oleh seorang wanita bahkan dijadikan sebagai tukang pijat.
"Pijatannya tidak buruk." batin Agya, entahlah ia merasa sangat puas dan menikmati pijatan lembut Dev di pinggangnya. Sepertinya sesekali ia harus menjinakan macan gila seperti Mr.Dev ini.
.
.
.
.
.
Bersambung....