
Hari demi hari dilalui Agya dengan begitu berat. Sebelum melakukan transplantasi sumsum tulang belakang, wanita itu harus kemoterapi setiap harinya dengan tujuan untuk menghambat penyebaran sel kanker, dan menyembuhkan kanker secara keseluruhan. Namun dibalik itu, Agya harus menerima efek samping yang tidaklah ringan, perlahan tubuhnya terasa lemas dan melemah, pun rambutnya yang mulai berguguran.
"Dev, rambutku." Mata Agya berkaca-kaca tatkala melihat rambutnya yang sudah hampir habis, bahkan kulit kepalanya sudah terlihat sangat jelas kini.
"Sayang." tak kuasa melihat istrinya menangis, Dev langsung memeluk wanitanya itu seraya mengecup puncak kepalanya, membiarkan Agya menangis di dalam pelukannya.
Hampir setiap hari Agya selalu bersikap demikian, hingga sehari sebelum dirinya melakukan transplantasi sumsum tulang belakang. Agya memutuskan untuk mencukur habis rambutnya, walaupun sebenarnya ia tak merelakannya, namun tak ada pilihan lain lagi.
"Sudah." Dev meletakan alat cukur di atas nakas sebelum kemudian ia beralih menatap wajah istrinya itu, "Masih sangat cantik." katanya, membelai lembut wajah Agya dengan senyum hangat yang mengulas di bibirnya.
"Sekarang giliranku." Dev mengambil kembali alat cukur tersebut dan mulai mencukur rambutnya sendiri.
"Dev." Agya menggeleng kepala, matanya melebar karena keterkejutannya. "Jangan lakukan itu."
"Aku suamimu dan kau adalah istriku. Apapun yang kau rasakan, aku juga akan turut merasakannya."
Mendengar ucapan Dev barusan membuat Agya tak kuasa menahan air matanya. Secinta ini Dev padanya? Pria itu rela melakukan segalanya untuknya. Merawatnya tiap hari tanpa mengeluh, bahkan hari ini, dia juga mencukur habis rambutnya.
"Maafkan aku, Dev." Air mata Agya semakin mengalir deras, ia merasa sangat bersalah pada suaminya tersebut.
"Sstttt sayang, kau tak perlu meminta maaf. Bukankah sudah begini seharusnya? Aku sangat bahagia melihatmu bertahan hidup sejauh ini. Aku juga akan melakukan apapun agar kau bisa terus bersamaku selamanya." ucapnya meraih tubuh Agya ke dalam pelukannya. Sungguh ia amat sangat mencintai istrinya ini, mencukur rambutnya hingga habis bukanlah masalah besar baginya.
**
Kini, tibalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Agya dan keluarganya. Hari dimana ia akan melakukan transplantasi sumsum tulang belakang.
"Aku sangat mencintaimu." Dev berucap sembari mengecup kening Agya sebelum wanita itu dibawa masuk oleh perawat ke dalam ruang operasi. Namun sebelum itu Agya harus melakukan berbagai pemeriksaan mulai dari pemeriksaan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik secara keseluruhan hingga biopsi sumsum tulang.
Usai melakukan pemeriksaan tersebut Agya dinyatakan siap untuk menjalani transplantasi sumsum tulang belakang.
Atmosfer di depan ruang operasi terlihat begitu tegang dan mencekam. Pun Dev yang begitu gelisah, jantungnya berdebar dua kali lebih cepat.
"Agya akan baik-baik saja." ucap tuan Andhito menepuk pelan bahu Dev, berusaha untuk meredam kegelisahan di diri anaknya tersebut.
"Ehm. A-aku juga yakin Agya akan baik-baik saja." Walaupun sudah seyakin itu tetapi kegelisahan dan ketakutan masih melingkupi pria itu, mengingat kejadian satu bulan yang lalu dimana Agya hampir tiada.
"Bagaimana kabar anak-anakku Pa? Sudah lama kami tak melakukan panggilan video."
"Mereka baik-baik saja, mereka tumbuh dengan sangat baik dan semakin menggemaskan."
"Syukurlah. Mungkin setelah transplantasi ini berhasil, aku dan Agya tak bisa langsung pulang. Butuh waktu 3 bulan untuk proses pemulihannya."
"Tidak apa-apa. Fokuslah pada kesembuhan istrimu Dev, tak perlu mencemaskan anak-anakmu, banyak yang menjaga mereka."
"Terima kasih Pa." ucap Dev tersenyum. Sebelum kemudian ia kembali fokus pada pintu ruang operasi.
Setelah hampir tiga jam berada di depan ruang operasi dengan jantung yang terus berdebar kencang, akhirnya Dev bisa merasakan atmosfer kebahagiaan setelah mendengar penuturan dokter Axel yang baru saja keluar dari ruang operasi.
"Selamat tuan, transplantasi sumsum tulang nona Agya berhasil."
Mendengar kabar bahagia tersebut, Dev langsung melompat girang dengan senyum yang mengembang lebar.
"Pa, Agyaa." Dev beralih menatap papanya lalu memeluk pria paru baya itu bersamaan dengan cairan bening yang mengalir dari kedua pelupuk matanya. Setelah mengorbankan banyak hal dan melakukan usaha yang begitu besar akhirnyaa Agya akan sembuh, mereka akan terus bersama dan saling berbagi kasih. Dev bersumpah akan terus mencintai istrinya itu sampai kapanpun, ia tak akan memberinya luka sedikitpun.
***
"Kita berhasil sayang." ucap tuan Darwin dengan mata yang berkaca-kaca. Ia segera memeluk tubuh putri kesayangannya usai wanita itu dipindah ke ruang rawat.
"Terima kasih Pa. Jika papa tak mendonorkan sumsum tulang belakang papa. Mungkin aku tak bisa sembuh dan akan tiada."
"Sayang, sudah menjadi kewajiban papa untuk membantumu. Papa sangat bahagia." pelukan ditubuh Agya terasa semakin erat.
"Papa sangat meyayangimu. Semoga setelah ini, tak ada lagi masalah yang datang." ucapnya mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala anak kesayangannya lalu melepas pelukannya.
"Tapi Pa, apa aku masih terlihat cantik dengan penampilanku yang seperti ini? Aku takut Dev tak menyukaiku lagi."
"Mana mungkin aku tak menyukaimu." imbuh Dev berjalan masuk ke ruang rawat Agya diikuti oleh tuan Andhito di belakangnya.
"Setelah apa yang aku lakukan untukmu, kau masih meragukan cintaku?"
Agya menggeleng, "A-aku hanya tak percaya diri dengan penampilanku sekarang."
"Aku selalu mencintaimu Gyaa, tak perduli seperti apa penampilanmu." ucapnya mengusap puncak kepala istrinya itu seraya tersenyum. Berusaha meyakinkan Agya jika dirinya amat sangat mencintai istrinya itu.
"Maafkan aku Dev. Aku selalu merepotkanmu." Agya terisak, membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan suaminya tersebut. "Aku sangat mencintaimu, maafkan aku yang selalu meragukanmu Dev. Maafkan aku."
"Ssttt sayang." Dev mengusap punggung belakang Agya seraya mengecup bahu wanita itu. "Tak perlu meminta maaf." ucapnya.
Cukup lama keduanya saling berpelukan, sampai akhirnyaa pelukan itu perlahan terlepas saat seorang perawat masuk ke dalam ruang rawat Agya, menyuruh Agya untuk beristirahat dan memberikan beberapa obat untuknya.
"Beristirahatlah." ucap tuan Andhito mengusap bahu menantunya tersebut. Ia juga merasa bahagia, melihat menantunya yang bisa sembuh dari penyakit ganas yang dideritanya walaupun belum sepenuhnya karena wanita itu harus menjalani beberapa tahap lagi untuk pemulihannya.
Agya mengangguk pelan, "Terima kasih Pa."
"Sama-sama. Papa akan pulang ke Korea hari ini. Jaga dirimu baik-baik."
"Iyaa Pa. Ada Dev yang selalu menjagaku dengan sangat baik." ucap Agya menatap Dev yang berdiri di samping ranjang.
Sungguh, jika tak ada Dev di sana entah sudah seberantakan apa hidupnya. Dev benar-benar suami yang sangat bertanggung jawab, dia bak malaikat baik yang diutus tuhan untuk menjaganya.
Selama satu bulan lebih berada di rumah sakit, pria itu merawatnya dengan amat sangat baik hingga timbul rasa semangat untuk sembuh dalam dirinya.
.
.
.
.
Bersambung...