Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Menuruti



Agya mengunyah makanannya dengan perasaan sedih, melihat senyuman di bibir kedua orang tuanya membuat Agya tidak sanggup untuk berbohong lagi, ia ingin menceritakan semua masalah yang ia alami. Tapi kondisi papanya yang saat ini sedang tidak sehat, memaksa dirinya untuk tetap bungkam dan menyembunyikan semuanya.


"Sayang, papa ingin bertanya sesuatu padamu." ujar papa Darwin menghentikan aktifitas makanannya.


"Apa pa?" Agya ikut menghentikan kunyahannya, menatap papanya yang duduk di hadapannya.


"Kenapa orang tua Dev tidak menghadiri pernikahan Dev? Apa Dev tidak memiliki orang tua lagi?" pertanyaan yang keluar dari mulut papa Darwin membuat Agya tertegun. Sungguh ia bingung bagaimana menjawab pertanyaan tersebut, sedangkan dirinya saja tidak tahu di mana keberadaan orang tua Dev.


"Gyaa." Mama Inaya ikut menolehkan kepalanya ke arah Agya seraya mengusap bahu anaknya itu, ia juga penasaran dengan keberadaan kedua orang tua Dev.


"Kedua orang tuaku masih hidup." suara seseorang yang berasal dari pintu masuk restoran, mengalihkan perhatian Mama Inaya, Papa Darwin dan juga Agya.


"Dev." gumam Agya.


"Ayahku sedang di rawat di rumah sakit dan ibuku harus menjaganya. Mereka tidak bisa menghadiri pernikahanku sehingga di wakili oleh Paman Lee." ujar Dev melangkah menghampiri meja makan tersebut. Tercipta satu kebohongan lagi untuk menutupi kebohongan lainnya. Padahal sebenarnya ayahnya sedang sehat walafiat.


"Astaga. Ayahmu sedang sakit nak?" tanya Mama Inaya.


Dev mengangguk, wajahnya dibuat sedih agar kedua orang tua Agya percaya padanya.


"Maafkan Papa, Papa hanya merasa ada yang mengganjal dengan ketidakhadiran orang tuamu." ujar Papa Darwin.


"Tidak apa-apa Pa. Papa tidak perlu meminta maaf."


"Baiklah nak. Ayo duduk dan makanlah."


Dev kembali mengangguk, pria itu menarik kursi yang berada di samping Agya lalu mendudukan tubuhnya di sana.


"Gyaa. Ambilkan makanan untuk suamimu." pinta Mama Inaya.


"Ehm, i-iya Ma." Agya meraih piring lalu menyendokan nasi dan beberapa lauk ke dalam piring tersebut.


"Aku tidak suka makan nasi."


"Lalu kau mau makan apa?"


"Udang." jawabnya.


"Baiklah." Agya meletakan nasi yang sudah terlanjur ia sendok ke atas piringnya, lalu mengambil beberapa potong udang dan menyodorkan ke hadapan Dev.


"Aku juga tidak tahu cara memakai sendok." ujar Dev sesaat setelah Agya meletakan sendok garpu di atas piringnya.


"Ha?!" Agya melongo, merasa ucapan suaminya barusan sangat tidak masuk akal.


"Suapi aku." Dev berucap seraya tersenyum tipis yang nyaris tak terlihat.


"Gyaa. Suamimu minta di suapi." ujar Mama Inaya tersenyum kegirangan. Pun papa Darwin yang ikut tersenyum, kecurigaannya terhadap sesuaru yang tidak beres dalam hubungan Agya dan Dev perlahan memudar.


"Suapi aku."


"Eh, i-iyaa." Dengan ragu-ragu Agya mengambil alih makanan Dev, meraih sendok dan mulai menyuapi pria itu.


Dari kejauhan terlihat sekertaris Kim yang tengah memantau tuan mudanya tersebut, seraya memegang lembaran-lembaran kertas yang akan ia serahkan pada Agya nanti. Kertas yang berisi peraturan selama pernikahannya dengan Dev. Berisi hal-hal yang disukai dan tidak di sukai oleh pria itu dan semua kebutuhan Dev yang harus di penuhi oleh Agya.


***


"Apa kau tidak mencuci tanganmu saat menyuapiku tadi?" celetuk Dev, menatap Agya yang berdiri di depan kamar mandi. Perut pria itu menjadi sakit setelah menyantap udang yang di suapi oleh Agya beberapa waktu lalu.


"Aku tidak menyentuh makanan itu."


"Tapi kenapa perutku mejadi sakit seperti ini?!" serunya meninggikan suaranya.


"Aku tidak tahu tuan Dev." ucap Agya dengan bibir yang bergetar menahan tangis. Bentakan yang keluar dari mulut Dev benar-benar menyakitinya. Selama ini ia tidak pernah dibentak, bahkan papanya sekalipun. Tapi kenapa setelah bersama Dev ia harus merasakan semua ini.


"Tuan Dev, sebentar lagi dokternya akan tiba." Sekertaris Kim melangkah masuk ke dalam kamar seraya membawa sesuatu di tangannya, kemudian membantu tuan mudanya itu menuju ke tempat tidur.


"Sekertaris Kim, katakan pada wanita itu jika semua ini salahnya." seru Dev menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Sorot matanya menatap Agya yang tengah tertunduk dalam.


"Dia tidak bertanggung jawab sekali, padahal aku seperti ini karena salahnya." Dev masih berceloteh, merasa senang bisa menindas Agya.


"Ambillah ini nona Agya." Menyerahkan minyak kayu putih kepada Agya lalu menyuruh wanita itu untuk mengoleskannya di perut Dev.


"Tentu saja nona." ujar sekertaris Kim.


"Lakukanlah jika nona tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada tuan Dev." sekertaris Kim kembali berucap dengan pelan. Hingga mau tidak mau Agya mengambil alih minyak kayu putih itu dari tangan sekertaris Kim.


"Baiklah." Agya melangkah mendekat ke arah ranjang dengan kepala yang masih tertunduk dalam, sungguh ia tidak tahu sama sekali kenapa Dev tiba-tiba mengalami sakit perut seperti ini.


"Sekertaris Kim keluarlah." ujar Dev mengedipkan salah satu matanya, menjentikan tangannya, mengusir pria itu dari sana.


"Huh sungguh merepotkan sekali." gumam sekertaris Kim, menutup rapat pintu kamar hotel tersebut. Merasa lelah dengan drama sakit perut yang dibuat oleh tuan mudanya.


"Kenapa kau masih berdiri di situ? Cepatlah, apa kau ingin aku mati karena sakit perut? Kau pasti merasa sangat senang bukan jika aku mati sekarang?"


"Ti-tidak." jawab Agya mengangkat kepalanya.


"Ya sudah oleskan sekarang!"


"Iyaa." Agya membuka tutup botol minyak kayu putih tersebut lalu menuangkan ke tangannya.


"Naiklah ke atas ranjang."


"Ta-tapi--."


"Agyaa!!" Rahang Dev mengeras bersamaan dengan matanya yang memelotot tajam.


"Ba-baiklah." Agya beranjak naik ke atas tempat tidur dengan perasaan was-was.


"Menurutlah padaku jika kau tidak ingin menyesal." ujar Dev melepas pakaianya hingga membuat Agya menelan salivanya dengan kasar.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Lihatlah air liurmu hampir jatuh."


"Apa?" Agya segera mengusap bibirnya, wajahnya langsung memerah malu. Ah sungguh sangat memalukan.


Melihat reaksi Agya membuat bibir Dev mengembang tipis, "Segera oleskan di perutku." ujarnya merebahkan tubuhnya.


Agya mengangguk, menarik napas singkat lalu mulai mengoleskan minyak kayu putih itu di atas perut Dev.


"Lakukan dengan ikhlas."


"Iyaa." ucap Agya, mengusap-usap perut sixpack pria itu. Demi apapun jatungnya sedang tidak baik-baik sekarang.


"Ah, kenapa perutku semakin sakit? Kau pasti tidak ikhlas."


"Aku melakukannya dengan ikhlas sungguh. Di sebelah mana yang sakit? Aku akan mengoleskannya lagi dengan minyak kayu putih."


"Semuanya. Semuanya terasa sakit." ucap Dev memekik seraya memegangi perutnya, padahal sebenarnya perutnya sama sekali tidak sakit.


"Aku harus bagaimana? Aku sudah mengoleskan minyak kayu putih keseluruh perutmu."


"Pijatlah. Sepertinya akan terasa nyaman jika kau memijatnya."


"Ba-aiklah." Agya menuruti perkataan suaminya itu, memijat perut Dev dengan lembut. Wajahnya yang terlihat panik membuat Dev ingin tertawa. Rupanya pura-pura sakit seperti ini sedikit menarik perhatian Agya.


.


.


.


.


.


Bersambung..



Perut sixpack Mr.Dev😌


Bagaimana Agya tidak klepek-klepek coba🤣