
"Sayang kau sudah datang." Valerie menyambut Dev dengan senyuman hangat di bibir merahnya. Memeluk singkat tubuh kaku anaknya tersebut seraya mengecup pipi kiri dan kanannya.
"Di mana Papa?" tanya Dev tanpa ekspresi.
"Ehm, Papamu sedang berada di ruang keluarga bersama tuan Alden. Ayo kita masuk ke dalam, papa dan calon mertuamu sudah menunggumu sejak tadi." Valerie menggandeng lengan Dev dan membawanya masuk ke ruang keluarga, senyuman di bibirnya masih mengembang lebar, berharap anniversary sekaligus pertunangan Dev akan berlangsung dengan lancar dan tanpa kendala malam ini sesuai dengan rencananya.
"Honeyy." Melihat kehadiran Dev di tengah-tengah mereka, Alena langsung beranjak dari duduknya dan berlari kecil ke arah Dev dan masuk ke dalam pelukan kekasihnya itu.
"Kenapa lama sekali? Aku menunggumu sejak tadi. Bagaimana dengan penampilanku malam ini? Apa aku terlihat sangat cantik?" tanyanya merapikan rambut dan dress putih panjang yang di pakaiannya.
"Kenapa kau berpenampilan seperti ini? Kau menghadiri acara anniversary pernikahan orang tuaku, bukan pertunangan mereka!" seru Dev mengecilkan suaranya.
Alena tersenyum, "Ah, apa kau tidak tahu honey." Mengusap dada bidang Dev yang terbalut jas berwarna hitam, namun pria itu langsung menangkap tangan Alena dan mencengkramnya kuat.
"Berani sekali kau menyentuhku seperti ini!!"
"Babyy, bisakah kau berbicara lembut padaku sekali saja? Kita sedang berada di depan orang tuaku dan orang tuamu yang sebentar lagi akan menjadi besan."
"Apa maksudmu?" Kedua alis Dev menaut tajam.
"Apa Mami Valerie belum memberitahumu sama sekali? Ah, sepertinya belum hingga wajahmu terlihat kebingungan seperti ini." Tanpa merasa segan, Alena mengusap wajah Dev dengan lembut, memamerkan kuku lentiknya yang sudah diberi cat kuku berwarna mint, warna kesukaan Dev.
"Apa? Katakan sekarang!"
"Devaku, bisakah kau berbicara lembut padaku. Tidak lama lagi kita akan menjadi pasangan suami istri, jadi perlakukanlah aku dengan baik."
"Apa maksudmu? Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menikahimu!!" Mendengar ucapan Dev membuat dada Alena terasa sesak namun sebisanya ia tahan dan tetap mengulaskan senyuman di bibirnya. Harus ekstra sabar dalam menghadapi Dev yang memiliki sikap dingin dan tak berperasaan.
"Honeyy, semua itu pasti terjadi. Kau pasti akan menikahiku setelah malam ini berlalu. Deva, malam ini malam pertunangan kita, dan setelah bertunangan kita akan menikah. Kan Mami?" Alena sedikit mengeraskan suaranya pada kalimat terakhirnya hingga sepasang kekasih itu menjadi pusat perhatian Mama Valerie dan juga lainnya.
"Iyaa sayang." Dengan senyum yang mengembang lebar, Mama Valeria beranjak dari duduknya, menghampiri Alena dan juga Dev yang berdiri cukup jauh dari sofa.
"Mami, kenapa Mami tidak memberitahuku sebelumnya?!" ketus Dev, tidak terima dengan acara pertunangannya yang begitu tiba-tiba bahkan tanpa sepengetahuannya.
"Deva sayang. Mami hanya ingin kau dan Alena bertunangan di hari anniversary Mami dan Papa, kami menginginkan hal ini sebagai kado darimu."
"Aku tidak bisa Ma!" tolak Dev seraya menggelengkan kepalanya.
"Deva!!" Tuan Dhito beranjak dari duduknya, menatap tajam ke arah Dev yang baru saja menyatakan penolakannya.
"Aku tidak bisa Pa!" Dev mengalihkan pendangannya, menatap Papanya dengan tatapan memelas. "Aku masih membutuhkan waktu untuk menerima wanita lain di dalam hidupku."
"Deva!! Harus sampai kapan?! Sudah 7 tahun berlalu tapi kau belum bisa melupakan wanita kampungan itu?! Jangan mempermalukan Mama dan Papa dengan kekonyolanmu ini. Mama tidak mau tahu kau harus bertunangan dengan Alena malam ini juga!" seru Valerie, merasa jengah dengan sikap Dev yang selalu menolak kehadiran Alena di hidupnya hanya karena masih mencintai mantan kekasihnya.
"Tapi Ma---."
"Ta-tante, jangan memaksa Deva lagi." ujar Alenaa, berpura-pura membela Dev untuk menarik simpati pria itu.
"Iyaa nyonya Valerie. Sepertinya Deva masih membutuhkan waktu untuk menerima Alena." Tuan Alden ikut menimpali seraya melangkah ke arah Alena yang mulai menangis terseduh-seduh.
"Tidak tuan Alden. Pertunangan ini akan tetap terjadi. Sebentar lagi para tamu dan kerabat kerja kita akan hadir untuk menyaksikan pertunangan anak-anak kita." ucap Tuan Dhito, wajah pria paru baya itu sudah tampak memerah menahan amarah yang bercampur dengan rasa malu.
"Ma--."
"Dev. Ayo kita bicara di kamar." Valerie menarik paksa tangan Dev dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.
*
"Maa. Aku tidak mencintai Alenaa, aku tidak akan pernah bisa mencintainya Maa." ucap Deva menatap maminya yang baru saja mengunci pintu kamar dengan rapat.
"Kenapa? Apa kau belum bisa melupakan Diandra? Mau sampai kapan Nak? Apa 7 tahun belum cukup untukmu melupakannya? Apa kau tidak ingat dengan penghiantannya padamu? Dia tidur dengan pria lain di dalam apartemenmu! Apa kau lupa dengan hal itu?"
"Dijebak? Bukankah wanita kampungan itu telah mengakuinya sendiri?! Lupakan dia nak, sampai kapan kau akan menjadi seperti ini? Bukankah Alena lebih cantik dari wanita kampungan itu? Alena sangat pantas untukmu Deva." cetus nyonya Valerie dengan napas yang terengah-engah, sangat kewalahan menghadapi sikap keras kepala anak bungsunya tersebut.
Deva terdiam, matanya terlihat berkaca-kaca. Ingatannya akan kejadian 7 tahun lalu kembali memenuhi kepalanya, kejadian di mana ia menyaksikan kekasihnya melakukan hubungan badan dengan pria lain di apartemennya. Ah sungguh menyesakkan dada jika mengingatnya, namun entah kenapa Dev masih sangat mencintai Diandra walaupun wanita itu telah menghianatinya. Penghianatan yang langsung merubah hidup Dev. Pria yang mulanya sangat ramah dan penyayang, kini menjadi pria dingin dan tak berperasaan.
"Aku akan mencoba melupakan Diandra, tapi aku tetap tidak akan bisa menerima Alena di dalam hati dan hidupku. Maa, aku sudah berusaha keras untuk menerima kehadiran Alena selama 5 tahun ini, tapi tetap saja tidak bisa Ma."
"Cobalah lagi Dev, mami akan memberimu waktu selama satu tahun, kau pasti bisa mencintai Alena." suara nyonya Valerie terdengar melunak, tangannya bergerak mengusap lembut bahu Dev. "Bertunanganlah dengan Alena, mulailah menerima kehadirannya dan belajarlah mencintainya. Mami akan menyuruh Alena untuk tinggal dan berkarir di kota ini agar dia selalu dekat denganmu. Mami mohon terimalah Alena nak, keluarganya sudah banyak berjasa pada keluarga kita. Jangan mempermalukan Papa dan Mami dengan melakulan penolakan seperti ini."
"Jika hanya untuk membayar jasa, kita bisa mengganti jasa keluarga tuan Alden dengan hal lain, bukan dengan cara seperti ini Ma!"
"Nak." Valerie menumpahkan air matanya berharap dengan melakukan hal itu hati Dev bisa luluh.
"Tidak apa-apa jika kau mempermalukan Mami dan Papa di hadapan Tuan Alden dan Nona Helena, tapi tolong jangan mempermalukan kami di hadapan para tamu undangan dan juga rekan kerja papamu. Terimalah pertunangan ini nak." ujar nyonya Valerie mengatupkan kedua tangannya di dadannya seraya menatap Dev dengan air mata yang terus mengalir.
"Huh." Dev menghembuskan napasnya dengan kasar ke udara, mengusap wajahnya gusar. Merasa tidak tega melihat maminya memohon seperti ini.
"Baiklah, aku menerima pertunangan ini. Tapi setelah itu, Mami tidak berhak mengatur hidupku lagi. Biarkan hubunganku dengan Alena mengalir dengan sendirinya, aku tidak ingin ada campur tangan dari Mami sedikitpun!" ujarnya penuh penekannya.
"Iyaa nak, setelah ini Mami tidak akan mengatur dan ikut campur dengan hubungan kalian. Tapi kau harus berjanji pada Mami untuk memperlakukan Alena dengan baik." Dev tidak menjawab, pria itu mengusap sudut matanya lalu keluar dari dalam kamar tersebut dengan langkah panjang. Pikirannya tiba-tiba dipenuhi oleh Agya, wanita yang telah ia nikahi dan telah sah menjadi istrinya.
*
Satu jam berlalu, kini prosesi pertunangan Deva dan Alena sedang berlangsung. Dihadiri sekitar dua ratus tamu undangan dan dilaksanakam secara tertutup sesuai permintaan Dev.
Acara pertunangan dengan tema outdoor itu terkesan sederhana namun begitu elegan. Terlihat wajah-wajah ceria para tamu yang memenuhi taman belakang kediaman tuan Andhito, tak terkecuali Alena. Sungguh ia masih merasa seperti mimpi, setelah sekian lama setelah mengorbankan banyak hal akhirnya Dev bisa menjadi miliknya seutuhnya, tidak ada wanita lain yang menganggunya lagi. Penantian selama 7 tahun yang membuahkan hasil yang begitu manis.
"Apa setelah ini kita akan menikah?" Alena menyandarkan kepalanya di bahu Dev memeluk lengannya erat, seraya memerhatikan cincin yang melingkar di jari manis pria itu. Pun senyum di bibirnya yang tidak pernah pudar semejak dimulainya acara pertunangan itu. Namun berbeda dengan Dev, pria itu hanya menampakan wajah dinginnya, tidak terlihat sedikitpun senyum di bibirnya.
Begitu juga dengan pria yang saat ini berdiri di sudut taman yang mengawasi dan memandangi tuan mudanya dengan wajah datarnya, pria yang tak lain adalah sekertaris Kim. Sedari tadi ia terus menggeleng-gelengkan kepalanya, masih tidak menyangkah Dev menerima permintaan nyonya Valerie.
"Andai saja nyonya Valerie tahu semua kebusukan nona Alena, pasti nyonya Valerie tidak akan memaksa tuan Dev melakukan semua ini. Bahkan mungkin dia akan mengusir dan menendang nona Alena dari hidupnya maupun hidup tuan Dev." batin sekertaris Kim. Benar-benar sulit mempercayai semua yang terjadi di malam itu.
"Ada apa?" Suara yang terdengar dari earphone yang terpasang ditelinganya membuat sekertaris Kim melangkah menjauh dari taman tersebut.
"Tuan Kim, ada yang mengirimkan paket burung dengan kepala terpenggal lagi pada nona Agya."
"Apa ada yang berkunjung ke rumah nona Agya sebelum paket itu di kirim?"
"Iyaa, ada tuan sekitar 2 jam yang lalu."
"Siapa?"
"Seorang pria yang memiliki rambut berwarna brown dengan tinggi badan sekitar 175 cm. Sepertinya pria itu sangat dengan dengan nona Agya."
"Ahh pria sialan itu lagi. Segera jauhkan paket tersebut dari apartement nona Agya."
"Baik tuan."
.
.
.
.
.
Bersambung...