Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Tidak Waras



"Di mana Agyaa!!" Seru Dev meninggikan suaranya hingga membuat Della terhenyak, begitu juga dengan sekertaris Kim.


"Nona Della, katakan di mana nona Agya." suara sekertaris Kim melunak, berharap Della segera memberitahu mereka keberadaan Agya sebelum amarah Dev semakin meluap.


"Apa yang harus aku katakan tuan Kim? Aku sama sekali tidak tahu di mana keberadaan Agya."


"Kau pikir aku bisa dibohongi oleh orang sepertimu? Tidak nona Della. Katakan di mana istriku? Kau yang membantunya untuk melarikan diri dariku!!" Emosi Dev tak dapat dihindari lagi, ia benar-benar sudah sangat marah.


"Istri? Hahaha." Della terbahak, "Sejak kapan kau menganggapnya istri, tuan Dev? Bukankah pernikahanmu dengan Agya hanyalah sebuah pernikahan kontrak? Kau bahkan mengatakan pada Agya jika statusnya sebagai istri anda sama sekali tidak berubah dan menyuruhnya untuk memnyembunyikan pernikahanmu dari publik. Tapi kenapa sekarang kau menyebutnya istri? Hahaha anda sangat lucu sekali Mr.Dev." Kedua bola mata Dev semakin menajam, ucapan wanita yang ada di hadapannya ini membuatnya kalah telak.


"Tidak hanya itu, kau bahkan menyembunyikan pernikahanmu dari keluarga anda bahkan orang tua anda sendiri. Kenapa Mr.Dev? Apa karena pernikahan anda dengan Agya hanya sebatas nikah kontrak? Ah, atau anda hanya ingin mempermainkan Agya seperti boneka lalu membuangnya setelah anda merasa bosan?" ucap Della tersenyum sinis, merasa sangat senang karena telah mengutarakan isi hati Agya selama ini kepada Mr. Dev.


Dev tidak menjawab, pria itu kembali terdiam, mencerna kata demi kata yang diucapkan oleh Della barusan.


"Kau sudah terlalu banyak bicara nona Della." Sekertaris Kim ikut berbicara setelah cukup lama terdiam.


"Kenapa? Apa yang aku katakan tidak benar hingga anda melarangku untuk berbicara? Tuan Kim, jika tuan mudamu ini tidak waras. Kenapa tuan ikut menjadi tidak waras sepertinya?"


"Nona Della." Bentak sekertaris Kim, memolotkan matanya hingga membuat Della tertegun, bersamaan dengan nyalinya yang langsung menciut. Bentakan sekertaris Kim lima kali lebih menakutkan dari pada Mr. Dev.


"Kita pergi sekarang." ujar Dev memutar tubuhnya lalu melangkah meninggalkan teras apartemen Agya, meninggalkan sekertaris Kim yang masih menghunuskan tatapan tajamnya pada Della.


"Nona Della, sepertinya kau ingin bermain-main denganku." seru sekertaris Kim menarik salah satu sudur bibirnya, membantuk senyuman sinis yang menakutkan.


"Segera katakan di mana kau menyembunyikan nona Agya!!"


"Aku tidak tahu. Harus berapa kali aku mengatakan pada anda jika aku tidak tahu Agya berada di mana!!" seru Della dengan sisa-sisa nyalinya.


"Benarkah? Kau dan pria brengsek itu adalah dalang yang membuat nona Agya melarikan diri."


"Maksudmu aku dan Darrel? Hahaha, kau sangat lucu dan linglung sekali tuan Kim, seperti anak ayam yang kehilangan induknya." Della kembali terbahak, walaupun sebenarnya nyalinya untuk menjawab sekertaris Kim hampir habis. "Yang membuat Agya melarikan diri seperti ini adalah tuan anda, tuan muda Deva Wilantara yang kau agung-agungkan." cetusnya.


"Jika saja tuan Dev mengingat apa yang dia lakukan di malam saat dirinya mabuk, Agya pasti tidak akan melarikan diri seperti ini. Kau tahu tuan Kim, tuanmu itu adalah pria yang sangat bejad dan tidak bertanggung jawab!!"


"Jaga ucapan anda nona Della, kau sudah sangat keterlaluan!!!" Emosi sekertaris Kim mulai terpancing. Tak segan ia mencengkram kuat kedua lengan Della hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Lepaskan!!" cetus Della berusaha melepas cengkraman tangan sekertaris Kim pada lengannya namun cengkraman tangan itu semakin terasa kuat dan menyakitkan.


"Kau menyuruh Darrel untuk membantu nona Agya melarikan diri bukan? Apa kau tahu nona Della, kau telah membuat nyawa nona Agya dalam bahaya besar."


Della terhenyak, "A-apa maksudmu?" tanyanya menatap wajah sekertaris Kim, tidak mengerti arah pembicaraan pria itu.


"Huh, kau benar-benar gadis bodoh!" Dengus sekertaris Kim, melepas cengkraman tangannya dari kedua bahu Della.


"Apa yang kau maksud tuan Kim?! Siapa yang mau membahayakan nyawa Agya?" Wajah Della langsung berubah panik.


"Keluarga Darrel! Ibu dan kekasihnya! Mereka yang selama ini meneror nona Agya. Dan dengan begitu bodohnya, kau menyerahkan nona Agya begitu saja pada Darrel?!!"


"Apaa?" Kedua bola mata Agya membeliak, benar-benar sangat terkejut.


"Ja-jadi selama ini yang meneror Agya, keluarga Darrel?"


"Iyaa, apa kau tidak dengar?! Cepat katakan di mana nona Agya sekarang?!" Della menggeleng kepalanya, "A-aku tidak tahu Darrel membawa Agya di mana, aku sama sekali tidak tahu."


"Huh sudah kuduga jika kau wanita yang sangat bodoh."


"Aku sama sekali tidak tahu kalau peneror Agya berasal dari keluarga Darrel. Aku sama sekali tidak tahu. Tuan Kim, tolong selamatkan Agya."


"Sekertaris Kim, cepatlah." pinta Dev menatap ke arah sekertarisnya yang masih berada di teras apartemen Agya.


"Tuan Kim." Della hendak berbicara lagi, namun terhenti tatkala sekertaris Kim sudah melangkah pergi dari sana.


***


Mobil yang dikemudi oleh sekertaris Kim melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman Dev, pria itu terlihat kebingungan mencari keberadaan Agya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu hasil pelacakan keberadaan wanita itu.


Sama halnya dengan Dev, sedari tadi pria itu hanya duduk melamun di belakang kursi kemudi, mengedarkan pandangannya keluar jendela, menatap langit yang begitu cerah di pagi itu. Gerombolan burung terlihat berterbangan di atas sana, saling berkejaran satu sama lain.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu setelah ini." gumamnya dalam hati. Melepas kaca mata hitam yang membingkai di matanya.


"Tuan Kim, kami berhasil melacak keberadaan Darrel." ucap seseorang di balik telpon.


"Di mana?" Melihat sekertaris Kim yang sedang menjawab telpon, Dev langsung mengalihkan perhatiannya ke arah sekertarisnya tersebut, menyuruhnya untuk meloudspeaker ponselnya agar ia bisa mendengar isi percakapan itu.


"Di kota Daegu tuan, di daerah Dalseong. Darrel membawa nona Agya di sana."


"Di daerah Dalseong?" gumam Dev, mengerutkan dahinya, jantungnya tiba-tiba berdebar, seolah telah mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata.


"Baiklah, segera kirimkan alamat detailnya ke email saya."


"Baik tuan, akan saya kirimkan." ucapnya mengakhiri panggilan telepon tersebut.


"Berhenti Kim." pinta Dev, seketika sekertaris Kim langsung menepikan mobilnya.


"Ada apa tuan?" tanyanya bingung, menatap tuan mudanya yang baru saja membuka pintu kemudi.


"Keluar, aku yang akan mengemudi sendiri."


"Ha?"


"Cepatlah!!"


"Baik tuan." Sekertaris Kim melepas seatbeltnya lalu keluar dari dalam mobil bergantian dengan Dev yang baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi kemudi.


"Kirimkan alamat detail Agya ke ponselku. Aku akan mencarinya sendiri di Daegu."


"Tapi tuan."


"Jemput aku besok pagi di sana." ucap Dev, melingkarkan seatbelt ke tubuhnya, "Aku tidak akan menjawab telpon dari siapapun. Jika Mamiku menghubungimu dan menanyakanku, katakan aku tidak akan kembali ke Jepang selama beberapa hari ini. Kau mengerti!"


"Mengerti tuan." jawab sekertaris Kim membungkukan badannya singkat.


"Baiklah, aku berangkat sekarang." ujarnya, melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal menuju kota Daegu yang berjarak 237 kilometer atau sekitar 4 jam perjalanan dari kota Seoul.


Sekertaris Kim menggeleng-gelengkan kepalanya menatap mobil milik Dev yang sudah hampir hilang dari pandangannya. Untuk pertama kalinya ia melihat tuan mudanya mengemudi sendiri, menempuh jarak yang tidaklah singkat.


"Antar saya ke Wilantara Groub." ujar sekertaris Kim pada supir taksi yang baru saja ia cegat.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...